Cinta dan Boikot
1755
post-template-default,single,single-post,postid-1755,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Cinta dan Boikot

Cinta dan Boikot

assalaamu’alaikum wr. wb. IMG20190409204831

Yasir bin ‘Amir ra tadinya adalah budak milik Bani Makhzum. Walaupun sudah dimerdekakan, masih ada hubungan baik dan loyalitas yang terjaga. Ketika dakwah Islam datang, Yasir ra beserta istri dan anaknya — Sumayyah ra dan ‘Ammar ra — turut menyambut hidayah.

Bani Makhzum, yang merupakan salah satu kabilah yang kuat di Mekkah, tiba-tiba sikapnya berbalik seratus delapan puluh derajat setelah mengetahui keislaman keluarga Yasir. Persis seperti Abu Lahab yang tadinya sangat sayang kepada Rasulullah saw namun kemudian berubah menjadi pembenci (hater) yang paling keji. Salah seorang tokoh senior Bani Makhzum, yaitu Abu Jahal, yang di kemudian hari dijuluki oleh Rasulullah saw sebagai ‘Fir’aun-nya umat ini’, menyiksa keluarga ini dengan keji; Yasir ra, Sumayyah ra dan ‘Ammar ra-nya sekalian!

Situasi yang tidak memungkinkan membuat Rasulullah saw hanya bisa menyaksikan dari jauh penderitaan keluarga Yasir ra. Ketika Rasulullah saw memastikan bahwa Surga telah menanti mereka, hati mereka terobati sehingga tabah kembali. Di puncak kekejiannya, kaum musyrikin membunuh Sumayyah ra dan Yasir ra, sehingga keduanya menjadi syuhada pertama dalam sejarah Islam.

Pada suatu hari, ‘Ammar bin Yasir ra datang kepada Rasulullah saw dan mengeluhkan keadaan dirinya. Menurut pengakuannya, kaum musyrikin telah menyiksanya seraya memerintahkannya untuk mencela Rasulullah saw dan menyanjung-nyanjung sesembahan mereka. Begitu pedih siksaan yang diterima sehingga ia pun melakukan apa yang mereka perintahkan. ‘Ammar cemas karena khawatir perbuatannya itu menyebabkan timbulnya noda dalam keimanannya, meskipun ia melakukannya hanya karena tak tahan menghadapi siksaan, bukan karena hatinya mengatakan hal yang sama. Rasulullah saw menenangkannya dengan mengatakan, “Kalau mereka memaksa lagi, silakan engkau mengulanginya lagi seperti tadi.”

‘Ammar ra tidak sendiri. Ada Khabbab bin Arats ra yang juga menerima siksaan yang sangat keji hanya karena memeluk Islam. Khabbab ra, yang tadinya seorang budak, tubuhnya diseterika dengan besi membara. Kepada Rasulullah saw ia sampaikan keluhannya. Kepada Khabbab ra-lah Rasulullah saw menyampaikan salah satu pesan agungnya:

Wahai Khabbab, orang-orang sebelum kalian pernah disisir kepalanya dengan sisir besi, sehingga terlepas tulang dari dari daging dan uratnya, tetapi ia tidak berpaling dari agamanya. Ada pula yang dipenggal lehernya hingga kepalanya putus, namun ia tetap teguh dengan agamanya. Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla akan memenangkan perjuangan agama ini sehingga suatu saat nanti, orang akan berkendaraan dari Shan’a hingga Hadramaut tanpa merasa takut kecuali hanya kepada Allah. (HR. Bukhari)

Adapun Bilal ra, apa lagi yang hendak diperkatakan tentang dirinya? Semua menyaksikan bagaimana budak dari Habasyah (Ethiopia) itu harus menderita karena keimanannya yang sangat menyinggung perasaan majikannya, yang kebetulan adalah salah seorang paling jahat di Mekkah. Umayyah bin Khalaf — Rasulullah saw pernah berdoa di dekat Ka’bah untuk mendoakan azab baginya — membaringkannya di atas pasir panas, kemudian menimpakan sebuah batu besar di atas dadanya, sehingga tak ada lagi yang terucap dari lisannya kecuali “Ahad… Ahad…!”

Khabbab ra dan Bilal ra sama-sama dibeli dan dimerdekakan oleh Abu Bakar ra. Khabbab ra menjadi guru Al-Qur’an, dan dialah orang yang sedang mengajari adik Fathimah binti Khaththab ra dan suaminya saat kepergok oleh ‘Umar ra yang saat itu belum memeluk Islam. Adapun Bilal ra menjadi muadzin Rasulullah saw dan salah seorang kepercayaan beliau. Beliau termasuk orang-orang yang pertama beriman dan Rasulullah saw pernah bermimpi bahwa suara terompahnya sudah terdengar di Surga, meskipun orangnya masih di dunia.

Khabbab ra dan Bilal ra sama-sama tidak mengambil keringanan yang telah diambil oleh ‘Ammar bin Yasir ra, sedangkan ‘Ammar ra tidaklah tercela karena pilihannya itu. Islam adalah agama yang diperuntukkan bagi semua orang, dengan keadaannya yang berbeda-beda. Kalau tak mampu berhaji, maka Allah SWT tidak mewajibkannya. Kalau tak mampu berqurban, tak usahlah sampai memaksakan diri, apalagi menghalalkan segala cara. Dan kalau tubuh terasa kurang sehat, maka berbuka lebih utama ketimbang meneruskan shaum. Hal yang sama juga berlaku dalam menyikapi kemunkaran, sebagaimana yang telah Rasulullah saw tegaskan dalam sabdanya:

Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim)

Sungguh wajar orang terkagum-kagum menyaksikan sikap ‘Umar bin Khaththab ra yang langsung mengumumkan keislamannya meski harus menerima taqdir dikeroyok orang hingga babak belur. Akan tetapi, pada kenyataannya, tidak semua orang mampu menempuh jalan itu. Para ulama pun sejak dahulu memperlakukan episode tersebut sebagai kisah yang menggambarkan salah satu keutamaan ‘Umar ra, dan bukannya dalil untuk mewajibkan setiap orang melaksanakan hal yang sama. Demikian pula ketika Abu Bakar ra — satu-satunya sahabat yang ‘Umar ra merasa tak bisa ungguli amal-amalnya — menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah SWT, maka tak ada ulama yang menyimpulkan bahwa setiap Muslim harus melakukan hal yang demikian. Duhai, sekiranya umat Muhammad saw diperintahkan untuk bersaing dengan ‘Umar ra dan Abu Bakar ra, maka bisa jadi umat ini hanya tinggal mereka berdua saja!

Jangankan manusia biasa, para Nabi dan Rasul pun menempuh jalan yang berbeda-beda. Lagipula, mereka pun manusia juga, yang mendapatkan keutamaan-keutamaannya dari Allah SWT semata. Nabi Yusuf as, yang hadir di Mesir saat negeri itu menghitung hari-harinya sebelum menghadapi tahun-tahun paceklik, memiliki tugas untuk menyelamatkan seluruh kerajaan itu dengan kemampuannya. Sangat berbeda dengan Nabi Musa as, yang harus berhadapan dengan kedigjayaan Fir’aun, Qarun dan Haman. Kepada beliau, Allah SWT amanahkan tugas untuk membawa lari Bani Israil ke negeri lain dan mendidik mereka sebatas kemampuannya. Di kemudian hari, Nabi Sulaiman as, yang Allah SWT berikan kemampuan untuk berkuasa atas manusia, jin dan hewan, tidak bisa berdiam diri saja mendengar kabar tentang sebuah negeri makmur yang menyembah matahari, meski negeri itu baru beliau dengar kabarnya dari seekor burung yang baru tiba dari perjalanan panjangnya.

Hadits Rasulullah saw tentang sikap kita semestinya di hadapan kemunkaran menunjukkan sebuah pelajaran yang tersembunyi. Hadits ini menunjukkan berbagai level manusia sesuai dengan kemampuan dirinya. Akan tetapi, kalimat Rasulullah saw ‘dikunci’ dengan pernyataan “…dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” Pembacaan pada kedalaman pertama menyadarkan kita bahwa sikap yang terakhir, yaitu mengingkari kemunkaran dengan hati, adalah bukti kondisi iman yang selemah-lemahnya, tapi bagaimanapun, ya iman juga namanya. Dengan demikian, pelakunya masih disebut sebagai mu’min dan tidak diingkari keimanannya. Implikasinya, kita juga tidak berhak mewajibkan setiap orang beriman untuk menolak kemunkaran dengan tangan dan lisan, sebab tidak akan semua orang mampu melakukannya. Akan tetapi, di sisi lain, kita juga harus menyadari bahwa mengingkari kemunkaran dengan hati adalah level terendah dari iman, dan dengan demikian, yang kurang dari itu, tidaklah diterima keimanannya. Sebagai contoh, jika ada teman yang kita ketahui mengkonsumsi narkoba, maka kita bisa menghentikan perbuatannya dengan tangan kita, menasihatinya dengan lisan, atau berpaling dan menunjukkan ketidaksukaan kita kepada perbuatannya itu. Akan tetapi, jika kita justru duduk dan bergabung dengannya, kemudian tidak mempermasalahkan sama sekali perbuatannya itu — meski kita tidak ikut melakukannya — maka kita tidak bisa menjadikan hadits tadi sebagai pembenaran. Orang yang hatinya mengingkari sesuatu tidak akan menunjukkan sikap ‘netral’ kepadanya.

Pada kedalaman berikutnya, kita akan menyadari bahwa hadits tadi bukan hanya menenangkan hati orang-orang yang keadaannya lemah, namun juga memotivasi mereka agar tidak menjadikan kelemahannya itu sebagai ‘zona nyaman’. Sebab, jika dikatakan bahwa iman seseorang lemah, maka itu juga berarti bahwa imannya belum tentu sanggup mempertahankan diri manakala menghadapi gangguan, ancaman atau godaan. Padahal, keadaan kita di akhir perjalanan hidup ini adalah suatu hal yang mesti kita pastikan (lihat QS. 3: 102). Buat apa banyak beramal shalih sepanjang hidup namun dijemput kematian dalam keadaan kafir?

Memanglah Allah SWT itu Maha Adil. Kalau hanya ingin masuk Islam, selepas membaca syahadatain, sahlah sudah. Akan tetapi, sesudah itu, ia memiliki kewajiban lain, dimulai dari Shalat Lima Waktu, kemudian kewajiban-kewajiban berikutnya. Sekiranya ia melaksanakan segala kewajibannya, maka selamatlah ia di akhirat. Akan tetapi, siapa yang bisa meramal apa yang akan terjadi dalam kehidupan? Siapa yang tahu gangguan, ancaman dan godaan yang akan dihadapinya di masa depan kelak? Kalau manusia bisa menjamin bahwa dirinya akan mati sebagai Muslim, maka bolehlah tenang-tenang saja. Kalau tidak bisa menjamin — dan pasti takkan bisa — maka persiapkanlah diri dengan baik, tebalkanlah keimanan dengan ilmu dan amal shalih. Jangan biarkan keimanan kita hari ini sama saja dengan kondisinya kemarin, pekan lalu, bulan lalu, apalagi tahun lalu!

Belakangan, ramai perdebatan di tanah air lantaran sebuah perusahaan besar terang-terangan menyatakan dukungannya kepada kaum LGBT. Ini bukan yang pertama, tentu saja. Sebelumnya, sebuah kedai kopi yang gerainya ada di mana-mana pun telah menyatakan dukungan yang serupa. Dalam setiap kasus semacam itu, Umat Muslim yang ghirah-nya kuat selalu menjadi yang pertama terusik; haruskah kita membiarkan? Atau, bolehkah kita memboikot?

Keinginan memboikot produk perusahaan-perusahaan yang mendukung kemunkaran sangatlah mudah dipahami. Jika ada cinta, maka pastilah ada cemburu. Mereka yang mencintai kebenaran pasti akan gelisah melihat kebathilan dibela-bela. Akan tetapi, yang tidak kalah kencang suaranya kini adalah suara-suara yang beropini sebaliknya dari kalangan Muslim. Apakah memboikot itu bijaksana? Bukankah Rasulullah saw dahulu juga berniaga dengan orang-orang kafir? Kalau perusahaan-perusahaan itu diboikot, lantas bagaimana nasib saudara-saudara kita yang mendapatkan penghidupannya di sana? Akankah mereka mendapatkan kemalangan, bahkan kehilangan mata pencahariannya?

Apa yang terjadi saat ini (di negeri kita) tidaklah lebih berat ketimbang apa yang telah dialami oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya sebelum hijrah dahulu. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana perasaan ‘Ammar ra, Khabbab ra dan Bilal ra dahulu? Kalau cobaan yang mereka alami harus menimpa kita, barangkali tidak sedikit yang akan meminta agar Rasulullah saw berhenti saja berdakwah dan Abu Bakar ra berhenti melakukan perekrutan agar orang-orang yang lemah posisinya tidak bertambah sulit hidupnya. Tapi seburuk-buruknya keadaan, tak pernah para sahabat itu berkata-kata kepada Rasulullah saw dengan ucapan semisal, “Sudahlah jangan cela terus berhala orang Arab! Mungkin mudah bagimu, karena engkau berasal dari Bani Hasyim. Tapi akibat dari giatnya dakwahmu itu, kamilah yang menanggungkan akibatnya!”

Seruan memboikot perusahaan-perusahaan yang mendukung penyimpangan atau berkontribusi terhadap penindasan kaum Muslimin di belahan dunia manapun adalah seruan yang patut untuk dijawab, sebab ia tidaklah lahir kecuali dari perasaan cinta. Semua orang tahu, penjajahan di masa kini seringkali tidak dimulai dari operasi militer, melainkan dari penguasaan ekonomi. Kini, dunia Islam bagaikan sebuah pasar besar, sedangkan Umat Muslim hanya bertindak sebagai konsumennya saja. Akan tetapi, perjuangan tak boleh berhenti. Kalau tak bisa bersaing dengan produk, minimal cerdaslah dalam menggunakan hak sebagai konsumen. Bukankah pembeli adalah raja? Kalau raja tak mau kembali lagi ke lapak, penjual mau makan apa?

Adapun mereka yang belum memiliki kelapangan untuk melakukan pemboikotan, misalnya karena berhutang atau bekerja di tempat-tempat itu, maka mereka dimaklumi. Solusi bagi para budak seperti Khabbab ra dan Bilal ra memang tidak lain adalah kemerdekaan. Karena itu, betapa besarnya jasa Abu Bakar ra yang telah membeli dan memerdekakan mereka, sehingga merekapun merdeka dalam menjalankan dan membela agamanya. Di Perang Badar, Bilal ra sudah mampu untuk ‘berdiri tegak dengan kedua kakinya sendiri’ menghadapi mantan majikannya, Umayyah bin Khalaf, yang kemudian terbunuh sesuai doa Rasulullah saw di depan Ka’bah saat masih di Mekkah dahulu.

Meski dimaklumi, namun janganlah menjadikan kondisi lemah itu sebagai zona nyaman untuk menghindari kewajiban yang lebih berat. Seorang mu’min itu wajib meyakini bahwa ia bergantung hanya kepada Allah SWT saja. Memang kita bekerja untuk mendapatkan rizki dari Allah SWT, namun Allah SWT tak pernah mengatakan bahwa rizki itu hanya ada di perusahaan tempat kita bekerja sekarang saja. Ketergantungan kita secara ekonomi kepada mereka yang memusuhi Islam hendaklah dipandang sebagai kondisi sementara saja, sedangkan cita-cita biarkanlah terbang tinggi bersama burung-burung di langit sana.

Seruang boikot sejak awal tidaklah dimaksudkan untuk mencela mereka yang belum mampu melakukannya. Oleh karena itu, janganlah perburuk keadaan dengan memancing perpecahan di tengah-tengah umat. Yang kuat hendaklah memaklumi yang lemah, sedangkan yang lemah janganlah merasa aman dengan keadaannya. Bimbinglah yang lebih lemah agar kuat, tirulah yang lebih kuat agar engkau dapat menyaingi kebaikan-kebaikannya!

wassalaamu’alaikum wr. wb.

2 Comments
  • Putri Rizki Amelia
    Posted at 06:36h, 21 July Reply

    Masya Allah. Mantadz; Mantapp, Ustadz!

    • malakmalakmal
      Posted at 10:04h, 21 July Reply

      Ada istilah baru rupanya 😀

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.