‘Isa Putra Maryam
1776
post-template-default,single,single-post,postid-1776,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

‘Isa Putra Maryam

‘Isa Putra Maryam

assalaamu’alaikum wr. wb.

118530538_1621167828046313_4351403152903876623_n

Foto edisi Majalah Suara Hidayatullah yang dikirimkan kepada saya, menunjukkan bahwa majalah ini benar-benar telah sampai ke tangannya dan dibacanya, meskipun ia bukan seorang Muslim.

Sebuah pesan masuk ke dalam inbox laman akun fanpage saya di Facebook. Pesan itu berbunyi singkat saja, “Anda memang pengarang sejati!” Pesan itu disertai foto majalah Suara Hidayatullah edisi Desember 2018 yang terbuka tepat pada artikel yang saya buat. Judul artikel itu adalah Natal dan Inferioritas Umat Islam. Selain itu masih ada gambar lain berupa tangkapan layar dari QS. Ali ‘Imran ayat ke-45 dan terjemahannya.

Saya tidak mengenal orang ini. Nama yang tercantum adalah Bonar. Tapi di zaman ketika media sosial dibanjiri oleh akun-akun provokator yang mengaku ‘Pancasilais’ ini, tentu saya tak bisa memastikan keaslian akun ini. Karena itu, saya tidak menyimpulkan apapun tentang pengirim pesan ini. Sayangnya, saya juga sulit memastikan maksud dari pesannya. Apa pesan yang ingin disampaikannya dengan mengatakan bahwa saya adalah pengarang sejati?

Saya tahu bahwa kata “mengarang” seringkali dimaknai sebagai tindakan membuat cerita fiksi, dan karenanya, kadang ia digunakan dalam konteks berbohong. Tapi jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maka mengarang itu adalah “menulis dan menyusun sebuah cerita, buku, sajak, dan sebagainya”. Mengarang tidak mesti fiksi, dan tentunya tidak berarti berbohong. Jika kita membaca karya-karya para penulis klasik, kita juga akan menemukan kesan yang sama. Buya Hamka pun menyebut dirinya sebagai seorang pengarang, dan karyanya yang non-fiksi jauh lebih banyak ketimbang yang fiksi.

Ayat yang dikutipnya pun belum memberikan kejelasan tentang maksud dari pesan ringkasnya tadi. Terjemahan dari ayat tersebut adalah sebagai berikut:

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al-Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). (QS. Ali ‘Imran [3]: 45)

Sebenarnya sudah muncul pula kecurigaan — menilik nama akun dan ayat yang dikutipnya, juga artikel saya yang dipermasalahkannya itu — bahwa orang ini hendak mempromosikan (katakanlah demikian) ajaran Kristiani kepada saya. Akan tetapi, ayat yang dikutipnya saya rasa sama sekali tidak mendukung pendapatnya. Sebab, di situ tertulis jelas — dan ini merupakan ciri khas konsistensi Al-Qur’an perihal Nabi ‘Isa as — penyebutan nama beliau sebagai ‘Isa putra Maryam. Penyebutan ini adalah penegasan dari dua sisi. Pertama, penegasan bahwa beliau tidak memiliki ayah, melainkan hanya seorang ibu. Kedua, penegasan pula bahwa ia adalah manusia, bukan Tuhan atau anak Tuhan. Nabi ‘Isa as adalah putra Maryam, sesederhana itu!

Saya memutuskan untuk sedikit meladeni orang ini, sekaligus ingin menggali apa sebenarnya yang ia inginkan dari saya. Maka saya minta ia untuk merujuk kepada Surat Maryam ayat 88-93 dan Surat Al-Ma’idah ayat 72-73. Sengaja hanya saya sebutkan nomor ayatnya saja, tidak saya kutip isinya, sekadar ingin mengetahui apakah ia benar-benar mengecek atau tidak. Kedua rangkaian ayat tersebut terjemahannya adalah sebagai berikut:

Dan mereka berkata, “Yang Maha Pengasih mengambil (mempunyai) anak!”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat munkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Yang Maha Pengasih mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Yang Maha Pengasih selaku seorang hamba. (QS. Maryam [19]: 88-93)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS. Al-Ma’idah [5]: 72-73)

‘Pancingan’ saya berhasil. Setelah membaca pesan balasan saya, ia kembali mengirimkan balasannya lagi keesokan hari. Jawabannya adalah sebagai berikut: “Ternyata kamu memang betul-betul pengarang. Al-Masih itu Firman Allah, dan juga Roh Allah, apa roh Allah tak pantas di sebut Tuhan, kenapa kitab sendiri tak difahami?” Maka jelaslah letak kekeliruannya. Saya pun menjawab, “Qur’an itu firman Allah. Sejak kapan firman Allah disebut Tuhan?”

Harus diakui, saya memang berniat untuk sedikit menggoda akun yang kurang sopan ini dengan tidak mau berpanjang-panjang kalam. Pasalnya, saya tidak menemukan kebaikan dari perdebatan dengan akun yang tak dapat dipastikan keasliannya, apalagi melayani serangan di jalur pribadi. Kalau mau menyerang, seranglah di forum terbuka, agar saya pun mendapatkan hak saya untuk balas menjatuhkan di forum terbuka. Tentu saja, yang saya maksud ‘forum terbuka’ itu pun bukan di medsos, karena bagian penting dari keterbukaan itu adalah diungkapnya identitas yang asli.

Di sini saya menemukan dua persoalan. Pertama, akun ini menggunakan pemahamannya terhadap ajaran Kristen untuk memaknai ayat Al-Qur’an. Saya menghormati keyakinan orang, tapi jika ingin berdebat, maka saya pun akan berargumen bahwa logikanya salah. Firman Allah SWT bukanlah Allah SWT itu sendiri, sama seperti kata-kata kita bukanlah diri kita sendiri. Pemahamannya yang seperti itu tentu saja akan berbenturan dengan prinsip tauhid dalam ajaran Islam yang dapat dengan mudah ditemukan dalilnya di seluruh bagian Al-Qur’an. Allah SWT tidak ‘membelah diri’, tidak sudi diduakan, atau bahkan diperbandingkan, dengan apapun. Kedua, nampaknya ia juga tidak mau repot-repot memeriksa dua rangkaian ayat yang saya rujuk sebelumnya, atau bisa jadi ia sudah memeriksa, namun tidak mau membahasnya. Ini adalah kelemahan metodologinya, karena menganggap ayat-ayat Al-Qur’an bisa diterima sebagian dan diabaikan sebagiannya. Padahal, ayat-ayat itu justru ‘saling menafsirkan’. Jika di ayat yang satu Nabi ‘Isa as disebut sebagai ‘kalimat Allah’ (QS. 3: 45), sedangkan di ayat-ayat lain dinyatakan bahwa Nabi ‘Isa as bukan anak Allah (QS. 19: 88-93 dan QS. 5: 72-73), maka dapat dipastikan bahwa ‘kalimat Allah’ itu artinya bukan Allah SWT itu sendiri.

Si penantang ini kemudian mengajukan sebuah ayat lain sebagai (semacam) argumennya. Kali ini, ia tidak mau berpanjang-panjang kalimat pula, hanya menyebutkan nama surat dan nomor ayatnya, yaitu Surat Al-Baqarah ayat ke-253. Beginilah kurang lebihnya terjemahan dari ayat tersebut:

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]: 253)

Sulit menangkap argumen orang yang tidak sungguh-sungguh berargumen. Saya khawatir, ia hanya menjalankan saja perintah dari orang lain, atau mungkin argumen orang lain yang mencomot satu-satu ayat Al-Qur’an untuk kepentingan misionarisme, kemudian melemparkannya begitu saja ke dalam perdebatan. Tapi baiklah.

Seperti yang sudah-sudah, ayat yang dikemukakannya kali ini sebenarnya sangat tidak tepat untuk digunakan sebagai argumen untuk mendukung pandangan bahwa ‘Isa as adalah anak Tuhan. Sedari awal, ayat ini berbicara tentang para Rasul, bahkan diperjelas pula bahwa para Rasul itu memiliki kelebihan semata-mata karena pemberian Allah SWT, bukan karena kehebatannya sendiri. Di antara kelebihan-kelebihan itu, ada yang berupa hak istimewa untuk berbicara langsung dengan-Nya, dan ada pula yang diberi kelebihan beberapa derajat di antara yang lainnya, meski semuanya adalah Rasul. Oleh karena itu, jika kemudian dikatakan bahwa Nabi ‘Isa as diberikan beberapa mukjizat dan diperkuat dengan Ruhul Qudus, maka jelaslah bahwa ia adalah seorang Rasul yang menerima kelebihan, bukan Tuhan yang memberikan kelebihan itu. Saya mengerti bahwa dalam ajaran Kristen, Ruh Kudus itu adalah sebutan bagi satu bagian dari Trinitas, namun logika yang sama tidak bisa diterapkan dalam Islam, dan ayat ini telah cukup sebagai penjelasan. Apapun yang dimaksud dengan Ruhul Qudus di ayat ini, ia bukanlah Ruh Allah SWT yang masuk ke dalam tubuh seorang manusia.

Persoalan utamanya, seperti yang sudah saya kemukakan juga, orang ini bersikap pilih-pilih dalam memahami Al-Qur’an. Ia hanya mau membaca sebagian ayat yang maknanya ia setir ke arah yang ia inginkan, kemudian mengabaikan begitu saja ayat-ayat yang begitu jelas menolak keyakinan umat Nasrani yang menganggap bahwa Nabi ‘Isa as adalah anak Tuhan.

Dalam upayanya yang makin sembrono karena kepepet, ia pun mengomentari ayat ke-88 dalam Surat Maryam yang sebelumnya telah saya rujuk. Menurutnya, Nabi ‘Isa as itu memang anak tapi bukan sembarang anak. Ia pun menjadikan tangga sebagai analogi. Yang namanya tangga itu, dari atas sampai bawahnya, terdiri dari anak-anak tangga. Pada hakikatnya, anak-anak tangga itu adalah tangga itu sendiri. Jadi, setelah sebelumnya berusaha memanfaatkan Al-Qur’an, kali ini ia membantahnya! Sebab, ayat yang dibicarakannya ini justru tegas-tegas menyatakan bahwa Allah SWT tidak memiliki anak, baik secara harfiah maupun kiasan. Nampaknya, pikiran yang sudah terjebak dalam kebingungan memang takkan sanggup diajak berlogika.

Saya pun akhirnya mengajukan sebuah ayat lain sebagai bahan perbandingan, yaitu ayat ke-59 dalam Surat Ali ‘Imran. Ayat tersebut terjemahannya adalah:

Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. Ali ‘Imran [3]: 59)

Ayat ini menjelaskan bahwa, seajaib-ajaibnya kelahiran Nabi ‘Isa as, sesungguhnya tidak lebih ajaib ketimbang penciptaan Nabi Adam as. Jika Nabi ‘Isa as dianggap anak Tuhan hanya karena ia tidak berayah, maka Nabi Adam as bahkan tak berayah dan tak pula beribu. Sebagaimana penciptaan Nabi Adam as yang sulit dinalar itu tidak membuatnya menjadi seorang anak Tuhan, maka semestinya penciptaan Nabi ‘Isa as di dalam rahim Ibunda Maryam tanpa keterlibatan seorang lelaki pun tidak membuatnya lebih spesial dalam hal itu.

Setelah itu, nampaknya orang ini sudah ‘membentur tembok’. Hal itu terlihat dari sikapnya yang berubah seratus delapan puluh derajat terhadap Al-Qur’an; jika sebelumnya ia menggunakan ayat-ayatnya, maka kini ia menolaknya. Saya telah pula menyampaikan bahwa sampai kapanpun logika Trinitas akan tertolak, sebab penolakan terhadap Tuhan yang beranak itu sangat fundamental dalam ajaran Islam. Kalau tak mau payah mencari, ia boleh merujuk ke Surat Al-Ikhlash yang sangat ringkas itu. Pada titik ini, ia malah mengajak untuk meninggalkan Al-Qur’an dan merujuk saja kepada kitab miliknya.

Saya asumsikan, perdebatan sudah usai. Saya mengerti bahwa mengakui kekalahan itu sulit baginya, tapi bagi saya kesimpulannya sudah jelas. Ia pun tidak banyak berkomentar lagi setelah saya katakan bahwa perdebatan ini akan saya publikasikan. Tak lupa, saya pun berterima kasih karena ia telah membantu saya membuktikan keteguhan ‘aqidah Islam dan kerapuhan konstruksi logika yang dibangunnya sendiri.

Masih ada hikmah yang bisa dipetik. Majalah Suara Hidayatullah adalah majalah Islam, dan rasanya tak mungkin ada orang yang akan keliru soal itu. Artikel saya yang dimuat di sana pun tidak berupaya mencampuri urusan agama orang lain. Meskipun berbicara soal Natal, tapi yang saya bicarakan adalah bagaimana umat Muslim harus menyikapi Natal, bukan bagaimana umat Kristiani harus mengubah pandangan mereka tentang Natal. Tapi rupanya, sebuah artikel yang mengulas pandangan tentang ajaran Islam di majalah yang jelas-jelas bernuansa Islam pun bisa sampai di tangan seorang Non-Muslim, dan ia cukup nekat untuk menggugatnya! Barangkali, seperti itu pula yang terjadi ketika tujuh kata dalam Piagam Jakarta — yang hanya berhubungan dengan umat Muslim — malah digugat (kononnya) oleh masyarakat Non-Muslim.

Semakin kuatlah keyakinan saya pada kandungan ayat ke-120 dalam Surat Al-Baqarah. Semoga Allah SWT berkenan mewafatkan kami dalam agama ini, agama yang dibawa oleh pewaris sah ajaran Nabi ‘Isa as putra Maryam, yaitu Nabi Muhammad saw. Ya Allah, kumpulkanlah kami di dalam Surga-Mu bersama para Nabi, shiddiiqiin, syuhadaa’ dan shaalihiin. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin…

wassalaamu’alaikum wr. wb.

10 Comments
  • Adhi
    Posted at 08:02h, 08 September Reply

    Barakallah, ustadz.

  • Herfano Effendi twitter @herfan0
    Posted at 08:47h, 08 September Reply

    Alhamdulillah, tjakeup da. Ijin share ya.

    • malakmalakmal
      Posted at 09:59h, 08 September Reply

      Wajib 😀

  • Hasnil Afrizal Muttaqien
    Posted at 10:04h, 08 September Reply

    Salam kenal tadz. Semoga kita semua istiqomah. Juga lagi belajar menulis blog.

    • malakmalakmal
      Posted at 10:18h, 12 September Reply

      Semangat! Banyak-banyaklah menulis, karena jam terbang tidak akan bohong. 😀

  • Aliya
    Posted at 10:30h, 08 September Reply

    Menarique ya cara cherry picking-nya. :3

    • malakmalakmal
      Posted at 10:18h, 12 September Reply

      Kalau nggak cherry picking, susah 😀

  • Billy
    Posted at 12:49h, 08 September Reply

    Batakallah

  • Fahmi hidayati
    Posted at 16:25h, 08 September Reply

    Assalamu’alaikum ustadz akmal..nderek nyimak

  • Hestanisyar Basyir
    Posted at 17:38h, 08 September Reply

    Hamdulillah..tep lah istiqomah

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.