Akmal Sjafril | Akhlaq Adalah Penanda
1164
post-template-default,single,single-post,postid-1164,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-13.4,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Akhlaq Adalah Penanda

Akhlaq Adalah Penanda

IMG_20160122_091219assalaamu’alaikum wr. wb.

Ada sebuah konsep menyesatkan yang cukup populer beberapa waktu lalu, terutama di ibukota. Sebagian orang mengatakan bahwa kata-kata dan perilaku kasar itu tak mengapa, yang penting tak korupsi. Sementara korupsi atau tidaknya itu belum terbukti (karena semua orang tak bersalah sebelum terbukti kejahatannya), namun fenomena ini menunjukkan adanya kebingungan di tengah-tengah masyarakat perihal konsep akhlaq itu sendiri.

Rahasia utama di balik kebingungan itu sendiri adalah pada kecepatan narasi. Belum sempat orang mencerna frase “Tak mengapa bersikap kasar”, sudah ditingkahi dengan frase lanjutan “asal tak korupsi”. Karena korupsi adalah kejahatan luar biasa di negeri ini, maka orang dengan segera menyetujui frase terakhir dan, tanpa mau payah berpikir, langsung saja menelan frase yang awal. Padahal, tanpa harus menjadi seorang psikolog, pasti kita pun tahu bahwa orang yang suka marah-marah atau bersikap kasar adalah orang yang tengah menyembunyikan sesuatu, bukan yang jujur.

Banyak alasan di balik pemahaman yang kontradiktif ini. Pada dasarnya, kesalahpahaman terjadi karena banyak orang lupa bahwa jiwa manusia tidak terkotak-kotakkan, dan karenanya, kontradiksi adalah suatu hal yang tak wajar. Sayangnya, film-film Hollywood dan dunia hiburan justru menawarkan banyak hal yang kontradiktif semacam itu; pahlawan yang mesum, perempuan berpakaian seksi yang peduli sesama, pemabuk yang bermoral, pezina yang bertanggung jawab, dan negeri Paman Sam yang mampu menyelesaikan semua masalah, mulai dari terorisme hingga kiamat. Di dunia nyata, semuanya itu tak pernah ditemukan. Tetapi di dunia fiksi, semua bisa dikarang. Adapun di dunia dalam benak manusia, khayalannya bisa lebih liar lagi.

Mereka yang berpikir dualis kerap lupa bahwa jiwa dan tubuh saling berhubungan. Lebih tepatnya, jiwa itulah yang ‘mengendarai’ tubuh. Karena itu, kondisi jiwa dan tubuh senantiasa berhubungan. Masalah dalam jiwa dapat menyebabkan sakit pada badan, demikian pula penderitaan fisik dapat mengakibatkan tekanan pada jiwa. Meski demikian, persoalan jiwa dipandang lebih penting bagi para psikolog Muslim, misalnya Syaikh Abu Zayd al-Bakhli. Alasannya sederhana saja: kita bisa melalui hidup berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, tanpa mengalami sakit secara fisik, namun permasalahan pada jiwa terjadi setiap hari. Manusia telah terlatih mengamati perubahan pada jiwa orang lain dengan melihat apa yang dilakukan oleh tubuhnya; mulai dari ekspresi wajah, bahasa tubuh dan sebagainya.

Ada kesalahpahaman lain yang kerap terjadi ketika membicarakan soal akhlaq, yaitu banyaknya kegagalan dalam membedakan antara akhlaq dan pencitraan. Agaknya, kejengahan masyarakat akan pencitraan yang kerap terjadi di ranah politik itulah yang melahirkan pandangan kontradiktif terhadap akhlaq itu sendiri. Memang benar, orang dapat saja berpura-pura baik untuk pencitraan. Kalau musim kampanye, semua orang bisa bersorban, datang ke masjid atau singgah ke pesantren. Tapi kata kunci bagi akhlaq adalah “konsistensi”. Karena itu, yang akhlaq-nya benar adalah yang konsisten dengan perilakunya, misalnya tetap datang ke masjid meski pemilu sudah usai, tetap rendah hati ketika berhadapan dengan orang kecil, dan tetap menjaga lisan meski sedang marah. Soal konsistensi ini sudah pernah saya bahas dalam artikel saya yang lain, Akhlaq Bangsa dan Inkonsistensi Kita.

Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa akhlaq itu sendiri merupakan muara dari seluruh ajaran agama. Deskripsi ini sejalan dengan gambaran Islam sebagai shibghah (celupan pewarna) yang menunjukkan bahwa identitas agama ini akan terlihat dari perilaku seseorang. Dalam konteks yang demikian, dapatlah kita pahami sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq” (HR. Ahmad). Kita tidak dapat menafsirkan kata-kata ini dengan kesimpulan bahwa akhlaq lebih penting daripada fiqih, misalnya, sebagaimana yang kerap dikatakan oleh kalangan liberalis. Sebenarnya, akhlaq yang baik adalah buah dari agama itu sendiri. Karena itu, jika akhlaq seseorang sudah baik, maka tandanya agamanya pun baik. Mengajarkan agama yang benar sehingga akhlaq manusia menjadi baik, itulah tugas Rasulullah saw.

Jika akhlaq merupakan muara, maka mata airnya adalah ‘aqidah. Lihatlah bagaimana Rasulullah saw menyandingkan ‘aqidah dengan akhlaq secara langsung, misalnya dalam sabda beliau, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Memang, iman kepada Allah tentu bukan dengan meyakini eksistensi-Nya saja, melainkan dengan menyadari pengawasan-Nya yang menyeluruh dan pertanggung jawaban yang akan kita berikan di hadapan-Nya kelak. Karena itu, siapa pun yang beriman kepada Allah sebaiknya menjaga lisannya dari kata-kata buruk. Demikian juga berlaku sebaliknya: mereka yang tak menjaga lisannya tidaklah beriman, atau imannya masih jauh dari sempurna.

Akhlaq, dengan demikian, lebih daripada sekedar sikap baik yang bisa saja dilakukan karena pencitraan. Akhlaq adalah karakter; suatu sifat yang melekat kuat pada diri seseorang dan tidak lepas darinya dengan mudah. Ia melekat karena kuatnya iman, dan karenanya, ketinggian akhlaq adalah penanda dari ketinggian iman atau kesempurnaan agama seseorang. Tentu saja, karena kata kuncinya adalah “konsistensi”, maka akhlaq itu sendiri akan teruji pada saat-saat tersulit.

Sulitnya mempertahankan akhlaq yang baik itu tergambar dari sabda Rasulullah saw yang lain, “Orang yang hebat bukanlah orang yang selalu menang dalam pertarungan. Orang hebat adalah orang yang bisa mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, ketika datang seseorang yang meminta wasiat kepada beliau, Rasulullah saw menjawab singkat saja, “Laa taghdhab (jangan marah)” (HR. Bukhari). Jika Anda tahu betapa sulitnya mengendalikan amarah, maka Anda pasti tahu bahwa wasiat ini tidaklah dangkal.

Ketika tiba saatnya menentukan sikap, kita pun dapat menjadikan akhlaq sebagai tolok ukur. Kelompok yang benar pastilah terdiri dari orang-orang yang akhlaq-nya baik, dan yang salah, buruk, tidak jujur, keji dan korup, pastilah terdiri dari orang-orang yang akhlaq-nya rusak. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk memilih teman yang baik. Pilihlah berdasarkan akhlaq-nya.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment