Akhlaqul Karimah
1451
post-template-default,single,single-post,postid-1451,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-1.0.5,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-18.1,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.2,vc_responsive

Akhlaqul Karimah

Akhlaqul Karimah

Artikel berikut adalah materi Tatsqif Online yang diselenggarakan oleh LDK Al-Fatih LIPIA yang saya pandu pada hari Kamis, 8 Agustus 2019 silam. Tema yang disampaikan adalah Akhlak Seorang Aktivis Dakwah“. Semoga bermanfaat!

 


 

photo_2019-08-10 21.35.44assalaamu’alaikum wr. wb.

Ada persoalan sangat fundamental yang dilupakan Iblis ketika ia menolak perintah bersujud kepada Nabi Adam as, yaitu bahwa ini bukan hanya soal bersujud, bahkan sama sekali bukan soal bersujud kepada siapa. Andaikan saja ia lebih memperhatikan kata-kata Allah SWT ketika Dia bertanya: “Apa yang menghalangimu bersujud ketika Aku memerintahkanmu?” (lihat QS. 7: 12).

Begitu jauh Iblis teralihkan perhatiannya, lantaran kedengkian yang menancap begitu kuat di dalam hati. Padahal, jika ia menyimak pertanyaannya dengan baik, ia akan menyadari beberapa hal yang Allah nyatakan secara implisit. Pertama, yang mendapatkan perintah cukup jelas, yaitu Iblis. Kedua, perintahnya sendiri juga cukup jelas, yaitu untuk bersujud. Dan ketiga, dan ini yang paling penting, yaitu bahwa yang memberinya perintah adalah Allah SWT, bukan selain-Nya. Nabi Adam as, yang menjadi obyek kedengkian Iblis, justru tidak disebut-sebut. Iblis-lah yang mengungkit-ungkit soal Nabi Adam as dengan jawabannya: “Aku lebih baik daripada dirinya!”

Iblis semakin kelihatan kontradiktif dan hipokrit ketika ia melanjutkan ungkapannya dengan “Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” Jika tadi ia ngotot mengatakan bahwa dirinya lebih baik daripada Nabi Adam as, maka kini ia justru memperlihatkan keburukannya dengan menyombongkan diri. Ini sama seperti orang yang menyombongkan diri sebagai lulusan pesantren yang sehari-harinya membaca kitab; kesombongannya justru membuktikan bahwa masa-masa yang dihabiskannya di pesantren dan membaca kitab itu percuma. Buat apa nyantri kalau masih sombong?

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini. Iblis berasal dari golongan jin yang, seperti manusia juga, memiliki akal dan dikendalikan oleh akalnya. Manusia tidak sama dengan binatang yang hidup mengikuti instingnya saja; saat lapar harus makan (kalau perlu makan teman), saat haus harus minum (meski harus berebut dengan teman), dan saat birahi harus kawin (walaupun harus berbunuhan dengan teman). Karena itu, perbuatan manusia akan tergantung dengan isi kepalanya. Dengan kata lain, sesuai pepatah yang telah dikenal luas: wadah hanya akan menumpahkan isinya!

Di sinilah pentingnya akhlaq. Ia adalah gambaran dari isi kepala kita yang sebenarnya. Anda bisa bicara puluhan ribu kata dengan fasih, namun pada akhirnya akan dinilai berdasarkan perbuatan juga. Kalau sekedar mengaku sebagai pembela Pancasila, misalnya, maka tokoh-tokoh PKI seperti Aidit dan Nyoto pun sudah sejak dahulu melakukannya. Akan tetapi, semua klaim itu menguap seperti debu ketika PKI membantai semua lawan-lawan politiknya. Seribu klaim lebih murah ketimbang satu bukti.

Mungkin itulah sebabnya Rasulullah saw pernah bersabda: “Jika tak lagi merasa malu, perbuatlah semaumu!” (HR. Bukhari). Aturan dan argumen tidak bermanfaat bagi mereka yang tidak punya rasa malu. Bagaimana kita mau mengajak shalat orang yang merasa berhak saja menerima segala rahmat Allah SWT secara ‘gratisan’? Yang akalnya tidak mengenal malu takkan bisa diajak untuk taat dengan segenap tubuhnya.

Selain menunjukkan isi kepala, akhlaq juga mencerminkan ‘aqidah, yang terletak di lubuk terdalam jiwa manusia. Renungkanlah sabda Rasulullah saw: “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Iman kepada Allah dan Hari Akhir adalah perkara ‘aqidah, sedangkan berkata baik atau diam adalah perkara akhlaq. Akhlaq mencerminkan ‘aqidah; karenanya, tidak dibenarkan bagi seorang Mu’min untuk membiarkan dirinya memiliki akhlaq yang buruk.

Untuk mendidik manusia, Allah SWT mengutus para Nabi dan Rasul yang akhlaq-nya jauh di atas rata-rata. Pertimbangkanlah bagaimana rasanya menjadi Nabi Nuh as yang harus bersabar mendakwahi umatnya hingga 950 tahun hingga akhirnya sebagian besar di antara mereka (termasuk putra Nabi Nuh as sendiri) dimangsa oleh adzab yang mereka undang sendiri. Bayangkan bagaimana rasanya menjadi Nabi Ibrahim as yang harus berdebat dengan ayahnya sendiri, kaumnya sendiri, dan penguasa negeri, hingga harus dibakar hidup-hidup, kemudian melanglang buana di antara dua negeri dan meninggalkan dua keturunan di dua negeri yang berjauhan itu. Kenanglah baik-baik perjuangan Nabi Musa as yang harus menyelamatkan kaumnya dari cengkeraman Fir’aun, kemudian menghadapi kekeraskepalaan mereka yang ternyata jauh lebih rumit ketimbang kesombongan Fir’aun. Lihatlah bagaimana Nabi ‘Isa as yang dibekali dengan banyak mukjizat luar biasa, namun pada akhirnya sebagian kaumnya malah mempertuhankan dirinya, sementara sebagiannya lagi mengejar-ngejar hendak membunuhnya. Tidak ada Nabi yang jalan hidupnya ‘lurus-lurus saja’ dan bebas masalah. Meski demikian, mereka harus tetap menjaga akhlaq-nya tetap dalam keadaan prima. Dalam kasus Nabi Muhammad saw, bermuka masam pun dianggap tidak layak.

Dari kisah Iblis yang telah dibahas pertama kali, kita dapat menyimpulkan bahwa rusaknya akhlaq memang didahului oleh rusaknya hubungan jiwa dengan Allah SWT. Iblis lupa bahwa masalahnya yang sesungguhnya bukan karena ia menolak bersujud kepada Nabi Adam as, melainkan karena ia menolak perintah langsung dari Allah SWT. Hal yang sama juga berlaku kepada kita dalam segala kondisi. Kualitas akhlaq kita tidak ditentukan dengan siapa kita berhadapan, melainkan dengan siapa kita berurusan. Bisa saja kita berhadapan dengan teman, saudara, guru, orang tua, pemimpin, musuh, orang munafiq dan sebagainya, namun pada hakikatnya kita tetaplah berurusan dengan Allah SWT.

Untuk memahaminya dengan lebih mudah, ingatlah bahwa lidah, tangan, kaki dan seluruh tubuh kita ini sesungguhnya bukan milik kita, melainkan milik Allah SWT semata. Karena itu, mereka hanya boleh dipergunakan dengan cara yang diperkenankan oleh-Nya. Sementara Allah SWT dan Rasul-Nya menghendaki lisan kita untuk bicara baik atau diam, apa hak kita untuk berkata-kata kasar dengan menggunakan lisan tersebut? Mungkin suatu waktu kita berhadapan dengan orang yang perbuatannya terlaknat, namun melaknat tetaplah bukan akhlaq seorang Mu’min. Toh, keadaan kita di akhirat takkan bergantung pada penilaian orang tersebut, melainkan pada penilaian Allah SWT. Meski demikian, di sisi lain, benar pula bahwa tidak selamanya kita bisa berkata-kata manis. Ada situasi-situasi tertentu di mana kita harus mampu juga berbicara agak keras, dan ini pun dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Penting juga untuk dicatat bahwa persoalan akhlaq tidak sebatas masalah kesopanan belaka. Rasulullah saw telah memberikan contoh bagaimana seorang Mu’min menjalani hidup dengan semestinya. Cara jalan Rasulullah saw yang cepat semestinya menjadi contoh bagi para aktivis dakwah; kalau memang serius berdakwah, berjalanlah dengan gesit. Demikian pula cara beliau memelihara kebersihan tubuh, cara beliau memilih kata-kata dalam pembicaraannya, cara beliau membesarkan hati para sahabatnya, dan sebagainya.

Wajarlah kiranya jika Rasulullah saw pun bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Bukhari). Akhlaq memang parameter segalanya. Kalau akhlaq-nya baik, tandanya ‘aqidah sudah baik. Sebaliknya, jika akhlaq buruk, janganlah menyangka ‘aqidah dalam keadaan baik.

Karena akhlaq adalah ‘pembuktian’ dari isi kepala dan hati manusia, maka akhlaq adalah ‘muara’ dari seluruh ajaran Islam. Oleh karena itu, misalnya, shalat dinyatakan bermanfaat untuk mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar. Paling tidak ada dua hal yang perlu kita temukan kenyataannya di lapangan. Pertama, kalau sudah shalat tapi masih berbuat keji dan munkar, itu bukan berarti shalatnya tidak berguna, hanya saja belum cukup sehingga belum mempengaruhi akhlaq-nya. Ini sama seperti perkataan “banyak makan buah bisa mencegah banyak penyakit”, tapi orang yang makan buah masih bisa terkena penyakit.

Hal kedua yang juga harus diperhatikan, terutama oleh para aktivis dakwah, adalah bahwa begitu banyak orang yang terpesona pada Islam bukan karena melihat shalat seorang Mu’min, melainkan karena akhlaq-nya. Memang yang demikian itu wajar. Sebab, akhlaq adalah petunjuk dari seberapa mendalam ajaran agama menghujam ke dalam hati seseorang.

Karena itu, mentang-mentang kerjanya dakwah dan membela agama, bukan berarti akhlaq-nya boleh dibiarkan rusak. Justru sebaliknya: kalau benar aktivis dakwah, maka jadilah yang pertama untuk memperbaiki akhlaq diri. Jika akhlaq seorang da’i tidak mulia, bagaimana ia akan meyakinkan orang lain bahwa yang dibicarakannya itu memang agama yang benar?

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.