Akmal Sjafril | Apa Kabar Islam Liberal?
1193
post-template-default,single,single-post,postid-1193,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-13.4,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Apa Kabar Islam Liberal?

Apa Kabar Islam Liberal?

assalaamu’alaikum wr. wb.

Ini pertanyaan yang banyak dialamatkan kepada saya, terutama karena aktivitas saya di komunitas #IndonesiaTanpaJIL (ITJ). Pandangan ITJ terhadap Jaringan Islam Liberal (JIL) dan pemikirannya sudah jelas, namun berbagai macam kegaduhan yang terjadi di tanah air beberapa tahun belakangan ini membuat nama JIL tenggelam, sehingga orang mempertanyakan eksistensinya. Tokoh-tokohnya sendiri tidak lenyap ditelan bumi, namun belakangan mereka lebih rajin menanggapi persoalan politik ketimbang mengusung label ‘Islam liberal’ yang dulu mereka orbitkan sendiri; suatu kenyataan yang bahkan menimbulkan lebih banyak pertanyaan tambahan.

Satu hal yang paling mencolok adalah menghilangnya nama JIL itu sendiri, bahkan dari profil sebagian besar punggawanya. Di Twitter, kita dapat melihat bagaimana cara tokoh-tokoh ini merepresentasikan dirinya. Ulil Abshar Abdalla, yang namanya sudah kadung identik bahkan diasosiasikan dengan JIL itu sendiri, tidak menyebut nama JIL dalam profil akunnya (@ulil). Dalam deskripsinya, Ulil menulis: “Muslim scholar/writer. I grew up in Sunni, Shafi’i, Ash’ari and traditional Muslim family. Now, I move beyond madzhabic boundaries. Big fan of Roger Federer.” Akun M. Guntur Romli (@GunRomli) menjelaskan jati dirinya sebagai “Caleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI)”, seraya menuliskan sejumlah tagar. Dalam profil di laman situs pribadinya, Guntur Romli banyak menuliskan aktivitasnya di berbagai organisasi, tanpa sekalipun menyebut JIL. Luthfi Assyaukanie (@idetopia) menulis singkat saja: “Homo deus.” Hanya Saidiman Ahmad (@saidiman) dan Nong Darol Mahmada (@nongandah) yang menyebut JIL dalam profilnya, itu pun dalam bahasa Inggris (“Liberal Islam Network”).

Laman situs Islamlib lebih mengundang tanda tanya lagi. Pasalnya, setelah bertahun-tahun situs ini dikenal luas sebagai laman situs resmi milik JIL, tiba-tiba saja identitas JIL menghilang darinya. Seorang teman saya pernah menjadi ‘korban’ dari perubahan diam-diam ini. Suatu hari, ia menulis di akun Facebook-nya tentang keterkejutannya ketika menyadari adanya wacana pelaksanaan ibadah Haji di bulan-bulan lain. Rupanya, ia merujuk pada sebuah artikel wawancara di situs Islamlib yang diberi judul Masdar F. Mas’udi: ‘Waktu Pelaksanaan Haji Perlu Ditinjau Ulang. Ketika saya jelaskan bahwa yang dirujuknya adalah situs JIL, barulah ia tersadar, seraya mengatakan, “Ooh Islamlib itu Islam liberal. Saya kira Islamic Library!”

Apakah kebingungan semacam di atas memang sengaja ditimbulkan atau tidak, wallaahu a’lam bish-shawab. Yang jelas, jika kita membuka situs Islamlib, kita memang tidak lagi menemukan rubrik “Tentang JIL” yang akan menjelaskan kaitan langsung situs tersebut dengan JIL. Sebagai gantinya, ada rubrik Tentang Kami yang menjelaskan:

Islamlib adalah tempat mencari informasi dan pengetahuan apa saja tentang Islam, Islam dengan seluas-luasnya makna. Di website ini, Anda bisa menemukan beragam pandangan dan pendapat tentang Islam, dari berbagai aliran dan mazhab pemikiran.

Islamlib tidak ingin menghakimi suatu pemikiran. Kami berusaha menampung semua keyakinan yang ada dalam Islam, baik itu Sunni, Syi’ah, Ahmadiyah, dan kelompok-kelompok lain yang pernah ada dalam sejarah Islam.

Rubrik tadi juga menyertakan tautan menuju halaman lain yang menjelaskan struktur redaksi situs tersebut. Empat nama yang tercantum adalah Ulil Abshar-Abdalla (Pemimpin Redaksi), Nong Darol Mahmada, Novriantoni Kahar, dan Saidiman Ahmad. Menariknya, rubrik “Tentang Kami” tadi juga menyertakan tautan ke akun Twitter milik situs lainnya, yaitu @qureta.

Setelah melakukan penelusuran dengan pertolongan Internet Archive Wayback Machine, saya menemukan bahwa perubahan pada situs Islib terjadi di antara tanggal 3 dan 29 Juli 2015 (Archive tidak memiliki arsip harian, sehingga kita hanya bisa mengira-ngira kapan perubahan itu terjadi). Pada arsip 3 Juli 2015, kita dapat melihat bahwa situs Islamlib jelas-jelas menggunakan logo JIL dan Rubrik “Tentang JIL” dapat terlihat dan diakses dengan mudah. Pada arsip 29 Juli 2015, perubahan besar sudah terjadi, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Dari arsip, kita dapat membaca rubrik Tentang JIL yang telah hilang itu. Judul besarnya sangat jelas: “Tentang Jaringan Islam Liberal”. Selanjutnya, rubrik ini menjelaskan enam landasan Islam liberal, mulai dari membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam, hingga memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagaaman dan politik. Rubrik ini juga kemudian menjelaskan alasan dari penamaan Islam liberal, yaitu karena “…pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Kami memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu ‘liberal’.” Tentu penjelasan ini sangat berbeda dengan yang disebutkan dalam rubrik “Tentang Kami” di situs Islamlib versi baru, yaitu bahwa rubrik tersebut menampung semua pendapat dari setiap aliran, madzhab dan keyakinan. Situs Islamlib versi lama benar-benar meyakini kebenaran tafsir Islam liberal, dan menolak selainnya. Meski demikian, konten situs nampaknya tidak banyak berubah.

Sementara itu, situs pribadi Ulil Abshar-Abdalla (http://ulil.net) sudah benar-benar menghilang. Dengan memanfaatkan bantuan archive seperti sebelumnya, kita dapat melihat bahwa laman situs ini aktif sejak 2007 hingga 2017, sebelum akhirnya lenyap. Ada catatan tersendiri tentang Ulil, karena aktivitasnya belakangan ini, terutama karena salah satu tulisannya yang menjelaskan sikap terbarunya terhadap kitab suci, telah membuat banyak orang berspekulasi: apakah Ulil telah meninggalkan pemikiran Islam liberal dan taubat sepenuhnya? Persoalan taubat ini sendiri telah ditampik langsung oleh Ulil melalui akun Twitter-nya. Ulil mengatakan, saat mengomentari sebuah pemberitaan tentang pertaubatan dirinya, “Berita ini menyesatkan. Seorang pemikir mengalami perkembangan pemikiran itu biasa. Kok konstruksinya taubat. Ngawur!” Jadi, jelaslah sudah, bahwa Ulil menolak menyebut apa yang dilakukannya itu sebagai taubat. Selain itu, sebagaimana yang telah ditegaskan sebelumnya, situs Islamlib yang ia pimpin pada kenyataannya masih memiliki karakter yang sama dengan situs Islamlib yang dulu (yang masih menggunakan identitas JIL).

 

Ulil tobat

 

Tokoh JIL lainnya yang rajin menulis di situs pribadinya, Luthfi Assyaukanie, juga mengalami hal yang sama. Situs pribadinya, http://assyaukanie.com, yang aktif sejak 2006, ikut lenyap pada tahun 2017 (sekali lagi: gunakan archive!). Kini, jika kita mengetik alamat situs tersebut, kita akan dibawa ke situs Qureta, yang tadi akun Twitter-nya juga dirujuk oleh situs Islamlib versi baru.

Situs Qureta, berdasarkan penelusuran arsip, mulai aktif pada tahun 2015, yaitu tahun yang sama ketika situs Islamlib mengalami perubahan yang cukup radikal. Jika kita menelusuri rubrik Tentang Qureta, kita akan menemukan jati diri situs ini sebagai laman situs yang memuat berbagai macam bentuk tulisan dari penulis yang berasal dari berbagai latar belakang. Di bagian bawah laman tersebut, kita dapat menemukan nama Luthfi Assyaukanie sebagai founder/chief editor Qureta. Jika kita meneruskan penelusuran ke rubrik Kontak, kita akan menemukan alamat yang digunakan untuk pemasangan iklan dan penawaran kerja sama, yaitu: Jl. Utan Kayu No. 68H, Jakarta. Alamat yang persis sama dengan yang digunakan oleh JIL selama bertahun-tahun.

Dari penelurusan singkat ini, kita dapat melihat bahwa kalau pun JIL memang tak pernah kedengaran lagi kiprahnya, namun tokoh-tokohnya masih sangat aktif menyebarluaskan pemikiran Islam liberal. Hanya saja, nampaknya strategi yang kini digunakan memang sangat berbeda dengan yang sudah-sudah.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

9 Comments
  • Rambey
    Posted at 21:58h, 25 June Reply

    Ada beberapa kemungkinan metamorfosa JIL, Jualan nggak laku jadi harus bikin JIN, atau kehabisan support dollar.

    Pada akhirnya banyak yg Sadar akan ide usang mereka

    • malakmalakmal
      Posted at 22:08h, 25 June Reply

      Saya sendiri kurang yakin akan teori ‘kehabisan support’, karena nyatanya mereka masih bergerak (dan saya nggak yakin mereka mampu bergerak sendiri tanpa sokongan dari luar). Nah, bentuk pergerakannya, memang kelihatannya berubah.

  • Farid Khusnul Mujib
    Posted at 23:42h, 25 June Reply

    ITQ : Indonesia Tanpa Qureta 😀

  • Puguh
    Posted at 06:21h, 26 June Reply

    Saya Kira kalo @ulil kalo ngga suka dengan istilah taubat, lebih cocok “kembali ke habitat asal” . Dimana beliau belakangan mengisi rubrik Al Hikam di laman FB, setelah sebelumnya aktif juga dalam gempita politik dengan mendukung calon tertentu dalam pilkada. Untuk @gunrumli agaknya mulai menyesuaikan dengan kebutuhan politiknya dalam mendekati konstituante yang berbasis masa Islam tradisional misalnya ada perubahan dalam berbusana terutama ketika berkunjung ke daerah (kafiyeh,sorban, gamis) yg dulu mereka katakan ke arab2an ternyata mereka butuhkan juga. Ini belum termasuk pola pikir aneh yg dulu sering mereka lontarkan sekarang hampir jarang keluar, yang sering disampaikan malah hal2 yg membenturkan umat misalkan protes kunjungan yai staquf ke Israel bisa mereka rekayasa menjadi perseteruan antara NU vs PKS. Tetapi Saya haqul yakin bahwa perubahan mereka hy kamuflase dan sementara (semacam TAQIYAH), Kalo sudah waktunya mereka akan kembali. “Ini hanya masalah kebutuhan politik”

    • malakmalakmal
      Posted at 12:46h, 26 June Reply

      Sudah tabiatnya orang2 sekuler utk pragmatis dlm berpolitik. Kalau jelang musim pemilihan, berlagak Islami. Setelah menang, menginjak2 agama. Mestinya umat Muslim Indonesia sudah cukup banyak belajar dan memahami tabiat mereka ini ya 🙂

  • Kendy Aditya Sumbogo
    Posted at 09:48h, 26 June Reply

    Mungkin mereka memilih untuk menjadi OTB (Organisasi Tanpa Bentuk) sehingga menyulitkan publik untuk menjadikannya satu entitas yang wujud sebagai common enemy.

    Dari sini, mereka memilih menjual racun-racun pemikiran mereka secara eceran. Yang, meskipun tidak masif, tapi efektif menyelusup kemana-mana. Apalagi jika itu di-endorse, minimal dibiarkan, oleh para tokoh yang memiliki basis massa.

    • malakmalakmal
      Posted at 12:47h, 26 June Reply

      Dengar2 sih ada suatu penelitian yg menunjukkan bahwa mayoritas Muslim sudah alergi dgn istilah ‘Islam liberal’, makanya mereka berusaha lolos dari label itu hehe 🙂

  • ranu sandi putra
    Posted at 10:33h, 26 June Reply

    Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi, tapi “tobat” bagi aktivis JIL sudah dibantah oleh Mas Ulil. Apalagi ada situs Qureta – rasa2nya – mereka menggunakan cara dan trik baru – nyemplung ke ranah pemikiran politik, bahkan politik praktis spt Guntur Romli – diamnya mereka seperti yang Ustadz Akmal bilang bentuk pergerakannya berubah. Kami berharap banyak kepada ITJ nya Ustadz. Saya pribadi punya dua anak ABG dan ABG jaman Now kan selalu main internet, takutnya nemu dan membaca artikel di situs Qureta misalnya, itu merisaukan saya Tadz. Tetap berjuang Tadz, oh ya Ceramah Ustadz terbaru sdh diunggah di Youtube belum, anak sy mo sy kasih Ceramah Ustadz Akmal saja. Terima kasih

    • malakmalakmal
      Posted at 12:50h, 26 June Reply

      Maasyaa Allaah, mohon doanya agar kami bisa istiqamah dan diberi kemampuan utk memenuhi harapan umat. Insya Allah saya akan mulai menggarap juga ranah Youtube, tapi sekarang masih dalam tahap persiapan. Hari ini baru saja launching channel pribadi saya di IG TV, bisa disimak di https://www.instagram.com/tv/Bkd9c1zAVJd/ 🙂

Post A Comment