Akmal Sjafril | #BeginAgain
816
post-template-default,single,single-post,postid-816,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-12.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.2,vc_responsive

#BeginAgain

#BeginAgain

Begin Again

 

assalaamu’alaikum wr. wb.

#IndonesiaTanpaJIL (ITJ) adalah komunitas yang paling saya banggakan. Salah satu alasannya adalah karena para aktivis ITJ saya temukan di banyak tempat, eksis dan berpengaruh di berbagai komunitas kebaikan lainnya. Ibaratnya sekolah, maka ‘lulusan ITJ’ itu kelihatannya sukses di mana-mana.

Salah satu momen yang paling membuat saya bangga adalah saat Aksi Super Damai 212. Pada hari itu, ketika saya berkeliling bersama rekan-rekan GNPF-MUI lainnya, banyak sekali yang datang menyapa saya dan menyebut dirinya ‘aktivis ITJ’. Ada yang pernah aktif di ITJ Makassar, ada yang dari ITJ Jogja, dan sebagainya. Jadi, meskipun sebagian chapter ITJ mengalami masalah, non-aktif atau mati suri, namun para aktivisnya masih terus bergerak, dan ITJ tetap ‘membekas’ dalam hati mereka. Oleh karena itu, di mana pun mereka berada, mereka tetap merasa sebagai bagian dari ITJ.

Alasan utama mengapa ‘sekolah ITJ’ ini mampu menghasilkan pribadi-pribadi tangguh adalah karena memang perjuangan ITJ tidak mudah. Pertama, yang kita hadapi adalah golongan intelektual. Kelompok Islam liberal ini memang intelektual, hanya saja seperti yang dikatakan oleh Dr. Syamsuddin Arif, mereka ini intelektual diabolis. Diabolis itu artinya seperti Iblis.

Iblis juga intelek. Dia tahu siapa Allah. Dia menyebut Allah ‘Rabbi’, artinya “Rabb-ku” (QS. [15]:39). Ucapannya masih lebih bagus daripada Bani Israil jaman Nabi Musa as yang menyebut Allah ‘Rabbuka’ (“Rabb kamu”, QS. [5]: 24). Jadi, Iblis bukannya tidak tahu, tapi sangat tahu siapa Allah. Lalu kenapa dia membangkang? Dalam kasus Iblis, problemnya adalah ‘abaa wastakbar’ (“enggan dan takabbur”, Q.S. [2]: 34).

Dalam kasus manusia yang munafiq, permasalahannya juga bukan tidak tahu, melainkan ‘fii quluubihim maradhun’ (“dalam hati mereka ada penyakit”, Q.S. [2]: 10). Ada penyakit yang menggerogoti hati mereka. Penyakit hati ini jenisnya macam-macam; ada riya’, takabbur, hasad, dan banyak lagi.

Masalah kedua yang kita hadapi adalah fakta bahwa masyarakat kita juga telah lama menjadi korban pembodohan. Banyak yang tidak peduli pada masalah Islam liberal ini. Berapa banyak yang peduli pada kajian seputar bahaya Islam liberal? Nggak banyak! Coba kalau kita bicara soal cinta, bikin kajian pranikah, insya Allah rame terus. Bahas soal hijrah, insya Allah ramai yang datang, karena tema hijrah ini memang dekat dengan siapa saja. Ketika kita ingin bahas pemikiran, berapa banyak yang peduli? Dari sekian yang peduli, berapa banyak yang siap menghadapi?

Berbaris Bersama yang Sedikit
ITJ itu diharapkan oleh banyak orang, namun tak banyak orang yang siap berbaris bersama kita. Memang begitu kenyataannya, dan ini hal lain yang ingin saya garisbawahi dalam Silatnas kali ini. Saya rasa dalam kurun waktu lima tahun ini kita telah banyak belajar bahwa tidak semua orang siap berkorban.

Banyak yang mengeluh kepada saya, dan ini bukan terjadi di ITJ saja, melainkan di semua gerakan dakwah, yaitu bahwa gerakan dakwah ini diemban oleh 4L, alias lu lagi, lu lagi. Memang begitulah keadaannya. Jalan dakwah ini takkan diemban oleh banyak orang. Kalau pun, misalnya, kita telah merebut atensi banyak orang, dan semakin banyak orang yang paham bahayanya Islam liberal, tetap saja yang mau berlelah-lelah dalam barisan ini takkan semuanya. Tapi ini semua bukan alasan bagi kita untuk berputus asa.

Kita memang datang dengan pesan yang ‘tidak enak’. Membahas ghazwul fikri itu tidak enak. Ghazwul fikri beda dengan teori konspirasi. Banyak kajian soal teori konspirasi yang tidak sampai membahas solusi. Gampang saja kita bilang tugu seperti Monas, misalnya, adalah petunjuk konspirasi kaum Freemason. Tapi bagaimana mengalahkan kaum Freemason ini? Nggak banyak yang mau bahas ke sana. Sebab memang tidak enak. Ujung-ujungnya, memenangkan ghazwul fikri ya harus dengan ilmu. Tapi tidak semua siap untuk diajak menuntut ilmu dengan gigih. Nggak enak. Capek! Dengar kata “ilmu” saja sudah malas duluan.

Ada juga yang memberikan saran, agar kajian ini disenangi orang, ya sudah tak usah bahas soal ilmu dan belajar dulu. Tapi saya tidak setuju dengan cara seperti itu, karena itu namanya menipu. Sesantai-santainya kajian soal ghazwul fikri, harus kita sampaikan bahwa perang pemikiran ini hanya bisa dimenangkan dengan ilmu. Selama ilmu kita masih kurang, maka kita akan selalu kalah oleh musuh. Itu kenyataan pahit, namun harus dikatakan.

Kita membawa bahasan yang pahit, tidak mudah untuk dikatakan, apalagi dicerna. Saat bahas ghazwul fikri, tidak mungkin kita menyalahkan musuh. Kalau kita hanya ingin bilang, “Ah, ini semua gara-gara musuh berkonspirasi!”, apa susahnya? Buat apa menyalahkan musuh yang berkonspirasi? Memang itu tugas mereka! Tapi kita harus sampaikan kepada umat ini bahwa kita kalah karena memang tidak layak menang. Jika ingin menang, maka kita harus memenuhi kelayakan untuk jadi pemenang dulu. Ini semua harus kita sampaikan dengan jelas kepada umat. Ya, penyesuaian di sana-sini bisa kita lakukan, tapi jangan sampai menipu umat dengan menjauhkan mereka dari kata-kata yang indah, padahal masalahnya tidak kunjung diselesaikan.

Di negeri ini banyak guru, banyak ustadz, banyak da’i, banyak ulama dan banyak kyai. Ceramah-ceramah agama digelar setiap hari. Tapi kenapa masalah umat tak kunjung selesai? Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena yang disampaikan hanyalah yang ingin didengar oleh audiensnya. Masyarakat mau dengar soal apa, itulah yang disampaikan. Padahal bisa jadi kita tidak menyukai sesuatu, padahal yang tidak kita sukai itu yang baik untuk kita (Q.S. [2]: 216). Kita nggak suka dengan segala hal yang bikin kita capek, padahal yang bikin capek itulah yang harus kita lakukan untuk mengubah keadaan.

Membangun Kebersamaan
Jalan dakwah ITJ memang tidak mudah. Saya memahami jika setelah perjalanan lima tahun ini ada yang berkata bahwa ITJ mengalami kemunduran, tapi saya tidak berpendapat demikian. Menurut saya, memang seleksi alam terus berjalan. Dulu, ketika dakwah kita hanya sebatas hashtag, siapa saja bisa menyambut. Ketika ada tuntutan harus berdakwah di daerah masing-masing, mulai ada yang surut. Ketika tuntutannya lebih berat lagi, maka berkurang lagi jumlahnya.

Kepada para aktivis ITJ, saya selalu berpesan agar kita selalu ngumpul. Nasihat ini sering sekali saya berikan, mungkin yang paling sering kepada rekan-rekan ITJ Bogor, karena saya tinggal di Bogor. Yang penting kita ngumpul. Tidak mesti bikin kajian melulu. Kita bisa agendakan acara piknik kek, ngerujak bareng kek, terserah. Yang penting ngumpul, sebab kalau tidak ngumpul maka tidak ada tukar pikiran. Ide-ide bagus itu datang saat kita bertukar pikiran. Dakwah ITJ harus kreatif, karena itu kita harus sering-sering berdiskusi.

Jangan gantikan interaksi langsung ini dengan Whatsapp (WA). Sejak ada WA, banyak orang cenderung melakukan segala sesuatunya di WA. Ngobrol pake WA, syuro di WA, menyampaikan belasungkawa via WA juga, udah gitu cuma copas lagi! Jangan begitu. Fasilitas semacam ini membantu untuk komunikasi saja, tapi kebersamaan itu penting. Kita yang di chapter minimal harus kumpul sekali sebulan. Bikin acara bertajuk “Hura-hura bersama ITJ”, atau “Hedon bareng ITJ”, padahal yang disediakan cuma air putih, ya nggak apa-apa. Yang penting ngumpul.

Sabar Bersama Umat
Kembali pada masalah umat, kadang-kadang memang tidak mudah mengurusi umat. Tidak jarang ada masalah-masalah sampingan juga. Beberapa waktu yang lalu saya sempat bernostalgia bareng Gatse (Gatot Prasetyo, mantan Korpus ITJ yang pertama – pen.) tentang keadaan ITJ dari dulu sampai sekarang. Baru beberapa bulan ITJ didirikan, sudah ada yang memfitnah. Kadang yang memfitnah kita juga kehidupan pribadinya jauh lebih buruk. Ada yang di Twitter bicara soal syari’at melulu, padahal tongkrongannya sendiri masih jauh dari syar’i. Difitnah, dicaci maki oleh saudara sendiri itu sudah biasa. Saya ingat ada seseorang yang memuji habis-habisan buku Islam Liberal 101 setelah dirilis, tapi beberapa waktu setelah ITJ berdiri, predikat saya sudah berubah jadi ‘anjing neraka’. Ada aktivis ITJ yang pernah disebut ‘muka sablon’, dan pelakunya adalah saudara kita sendiri, yang sama-sama menentang Islam liberal juga.

Ada yang di Twitter dan Facebook galak bukan main pada ITJ, tapi ketika bertemu langsung di sebuah acara INSISTS, menatap mata saya saja dia nggak bisa. Dulu, Indra (Indra Yogiswara, salah satu aktivis ITJ – pen.) biasa menelpon orang-orang yang seperti itu, sampai mengajak mereka untuk bertemu langsung. Biasanya sih saat dihubungi langsung, mereka ketar-ketir juga.

Poin pentingnya, mengurusi umat ini butuh kesabaran tingkat tinggi. Bekal utama kita untuk berdakwah, menurut saya, bukan dalilnya, bukan pengetahuannya, bukan wawasannya atau apa, melainkan kesabarannya. Harus lapang dada, karena bisa jadi ada yang malah berbalik menyerang kita. Dulu ada yang sesumbar mau melaporkan saya ke INSISTS, sampai sekarang tak ada kabarnya. Malah dia sendiri yang secara terbuka mengatakan pensiun berdakwah dan sekarang berbisnis saja. Ya, sudahlah. Memang di tengah-tengah umat ini ada karakter yang bermacam-macam.

Saya banyak belajar di ITJ. Tahun 2012 dulu, ketika saya diundang untuk berdebat dengan JIL di acara Hard Rock FM, apa kalian kira saya nggak takut? Saya sampai stres, karena dulu dijadwalkan untuk melawan Abdul Moqsith Ghozali, yang kemudian diganti dengan Luthfi Assyaukanie. Keduanya akhirnya nggak jadi datang. Saya sempat stres juga karena harus berhadapan dengan yang sekelas doktor. Tapi dengan ketidakhadiran mereka, saya jadi tahu bahwa mereka sendiri lebih takut daripada kita. Itu pelajaran penting buat saya.

Kru Hard Rock FM sendiri pada saat itu kecewa, karena kubu JIL berulang kali menanyakan keamanan, kemudian narasumbernya berganti-ganti sampai akhirnya batal. Sudah begitu, di Twitter, Guntur Romli malah menyerang Hard Rock FM, karena dituduhnya memberikan undangan secara dadakan. Padahal pihak JIL sendiri yang membatalkan secara mendadak. Akhirnya, ada kru Hard Rock FM yang bilang bahwa ia lebih respek kepada ITJ ketimbang JIL. Pengalaman ini mengajari saya untuk tidak takut lagi menghadapi tantangan, karena insya Allah musuh kita merasakan takut yang lebih besar.

Membuka Lembaran Baru
Pada Silatnas kali ini, kita menggunakan tagline ‘#BeginAgain’. Tentu semangat yang hendak dibangun adalah semangat starting over, memulai lembaran yang baru. Tapi ini bukan berarti apa yang kita lakukan selama lima tahun ini percuma, karena saya yakin tak ada yang percuma. Kita belajar banyak. Ada chapter yang sudah ‘mati suri’, tapi di Silatnas kali ini utusannya datang juga. Artinya, sebenarnya chapter tersebut masih hidup, karena semangatnya masih membara. Dengan semangat inilah kita memulai sesuatu yang baru.

Tantangan yang menunggu ITJ di depan sana akan semakin berat, dan takkan semua orang siap menanggung beban ini. Saya perlu mengingatkan akan adanya suatu kondisi di mana kita mungkin akan merasa benar-benar kehabisan energi, capek karena beratnya tugas dakwah. Jika saat itu datang, maka ingat-ingatlah alasan mengapa kita berjuang di ITJ.

Apakah kita berjuang untuk melawan tokoh-tokoh JIL seperti Guntur Romli, Saidiman Ahmad, Luthfi Assyaukanie, Ulil Abshar Abdalla? Bukan itu. Supaya kita bisa merasakan sensasi kemenangan setelah mengalahkan mereka? Bukan itu juga. Tapi coba pikirkan, kira-kira setelah kita punya anak nanti, kira-kira mereka akan hidup di dunia seperti apa? Apa yang kita bicarakan sejak ITJ berdiri, sekarang semuanya telah terbukti. Dulu orang merasa tidak peduli, menganggap pluralisme agama itu masalah kecil dan wacana yang elitis, tapi sekarang betapa susahnya kita meyakinkan masyarakat bahwa seorang mu’min itu berbeda dengan orang kafir.

Semestinya hal ini tidak membuat kita menjadi lemah. Malahan sebaliknya, ini adalah alasan yang menguatkan kita untuk terus bergerak. Kita harus semakin yakin bahwa apa yang diperjuangkan oleh ITJ selama ini memang benar. Kalau kita sekarang diam saja, maka hancurlah Indonesia, hancur umat Muslimnya, hancur pula anak-anak kita.

Jadi kalau stamina kita rasanya sudah mau habis, ingat saja nanti anak-anak kita mau bagaimana. Kita ingin mereka hidup di dunia seperti apa? Kita ingin dikenang oleh mereka seperti apa? Anak saya umurnya persis seperti ITJ. ITJ lahir bulan Februari 2012, dia lahir bulan Maret. Waktu itu ada kajian bedah buku Islam Liberal 101 di Bogor, banyak anak ITJ yang datang, dan saya datang bukan dari rumah, sebab istri masih di rumah sakit, baru saja melahirkan. Kalau saya capek, tinggal bayangkan saja anak saya mau tinggal di dunia macam apa. Apa saya mau biarkan dia hidup di negeri yang liberal? Apa saya mau dia hidup di negara yang para penguasanya mengatakan bahwa semua agama sama?

Kita harus berpikir agak jauh, jangan hanya memikirkan yang dekat-dekat saja. Ketika terasa lelah, kita harus memikirkan tujuan kita yang sebenarnya, agar kita diingatkan kembali bahwa tujuan perjuangan kita di ITJ ini dahsyat sekali.

Dulu, banyak yang menganggap apa yang kita lakukan ini kecil. “Ah, cuma mengurusi JIL itu kecil!”, begitu kata mereka. Padahal dari dulu urusan ini nggak kelar-kelar juga. Sekarang kita lihat sendiri bahaya liberalisasi begitu nyata, dan masalah ini tidak sekecil yang mereka katakan. Dulu, saat saya mengisi kajian di berbagai tempat, saat sesi tanya-jawab ada saja yang bertanya, “Bukannya JIL udah nggak ada?” Sekarang, mereka nggak bisa lagi nanya begitu. Semua yang kita bicarakan sejak 2012 kini sudah terjadi.

Niat kita adalah menyelamatkan sebuah bangsa. Menyelamatkan anak-anak kita. Kalau merasa lelah, ingat-ingat saja itu. Insya Allah tenaga akan muncul lagi.

Hal yang kedua, dalam menempuh jalan yang tidak mudah ini, kita harus menerima kodrat kita sepenuhnya sebagai manusia. Kita ini cuma manusia yang bisa merasa lelah, bisa jenuh, bisa futur. Kita ingin merasakan kelezatan yang dirasakan oleh orang lain. Saya pun ingin merasakan kelezatan yang sama seperti yang dinikmati oleh orang lain.

Kita lihat banyak orang hidupnya senang, gajinya puluhan juta, pikirannya tidak dipusingkan dengan urusan umat. Mereka bisa membelikan anak-anaknya mainan yang harganya ratusan ribu, bahkan jutaan. Kita juga menginginkan hal yang sama. Kita semua butuh duit, yang mungkin kita akan mampu memperolehnya dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada sekarang, kalau saja kita fokus pada karir, bukannya sibuk ngurusin dakwah sampai begadang segala.

Lalu mengapa kita mau bersusah payah di jalan dakwah? Buat apa kita menderita di jalan yang tidak menjanjikan keuntungan finansial kayak begini? Kalau kita bilang bahwa kita tidak menginginkan kenikmatan duniawi, maka itu bohong. Menurut saya, jawaban yang benar adalah bahwa kita menginginkan kenikmatan, tapi yang kita inginkan adalah kenikmatan yang tak bisa diberikan oleh dunia. Kita ingin kenikmatan seperti manusia lain menginginkannya, tapi yang kita cari adalah sesuatu yang tak bisa ditawarkan oleh dunia. Kita ingin memberikan sesuatu kepada anak-anak kita, namun yang kita inginkan itu adalah sesuatu yang tak bisa diberikan oleh dunia kepada mereka.

Oleh karena itu, kalau orang-orang menginginkan dunia, silakan saja. Saya ingin yang lebih mahal daripada itu. Belum lama ini saya diingatkan kembali oleh Ustadz Ugi (Dr. Ugi Suharto, salah seorang pendiri INSISTS – pen.) bahwa Allah SWT melarang kita untuk menjual ayat-ayat-Nya dengan harga yang murah (“tsamaanan qaliilan“, Q.S. [5]: 44). Ini bukan berarti ayat-ayat-Nya boleh dijual dengan harga mahal, sebab para ulama menjelaskan bahwa yang disebut dengan ‘harga yang murah’ itu adalah dunia dan seisinya. Dunia dan seisinya ini murah di sisi Allah.

Selama kita masih kelaparan melihat dunia ini, maka takkan ada puasnya. Harus pergi ke tempat-tempat yang ‘instagrammable’ baru bisa rileks, atau harus makan makanan yang level tertentu baru kita merasakan nikmat. Kalau begini cara kita menghadapi dunia, maka kita takkan menemukan apa yang kita cari.

Kalau masih mencari dunia, pasti takkan tahan. Bukan tidak tahan di ITJ saja, tapi tidak tahan di jalan dakwah. Pasti bakal sakit hati. Sakit hati sama siapa? Adakalanya sama saudara sendiri! Di antara kita ada sifat-sifat saudara kita yang tidak kita sukai. Kadang-kadang dengan sesama aktivis ITJ pun bisa sakit hati. Tapi apa kita mau biarkan sakit hati itu merusak dakwah? Karena kita sakit hati dengan satu orang, lantas ITJ ditelantarkan. Apa tega berbuat begitu? Apa kita siap mempertanggung jawabkan sikap seperti itu di hadapan Allah nanti?

Jangan Korbankan Dakwah
Dunia itu murah, seisinya juga murah. Bukan kita tidak ingin, tapi kita ingin yang lebih daripada itu. Kalau hanya dunia tujuannya, maka kita akan cepat capek.

Belum lama ini saya dengar ada seorang ustadz yang menerapkan tarif sekian juta sekali ceramah, alasannya karena dulu pernah dikerjain oleh panitia di suatu daerah. Hanya karena itu saja lantas ia batasi dirinya dengan umat. Fenomena kehilangan adab kepada seorang ustadz memang sering terjadi di mana-mana. Orang lebih menghargai artis ketimbang ustadz, itu biasa. Tapi kalau itu terjadi, masak kita mau ninggalin dakwah? Ustadz macam apa itu? Kalau ada hal tidak mengenakkan terjadi pada kita di jalan dakwah, mestinya kita angkat tangan kita, bilang kepada Allah, “Ya Allah, saya meminta sesuatu yang tak bisa mereka berikan, sesuatu yang hanya Engkau yang bisa berikan.” Begitu sikap seorang da’i semestinya. Jangan korbankan dakwah untuk alasan apa pun, apalagi karena ego dan kepentingan pribadi. Kalau mau minta sesuatu, mintalah kepada Allah. Sekarang malah ada ustadz yang meminta kepada jamaahnya. Murahan sekali!

Mereka mencari yang murah, kita mencari yang mahal. Kita mencari sesuatu yang harganya tak bisa dibayar oleh orang lain, bahkan seluruh dunia tidak bisa memberi kita apa yang kita inginkan itu.

Kalau kita tetapkan harga untuk apa yang kita perbuat, maka kita bisa dibeli orang. Memangnya mereka yang kini mengasongkan Islam liberal itu tidak mengerti apa-apa? Banyak di antara mereka yang tadinya orang shalih. Tapi kalau jiwanya sudah terbeli, ya sudah. Itulah akibatnya jika kita telah dipalingkan oleh dunia.

Itulah sekelumit pelajaran yang dapat kita ambil dari sejarah. Sejarah itu asal katanya adalah “syajarah” yang artinya “pohon”. Daun di pucuk pohon tidak bisa hidup jika tidak berhubungan dengan akarnya. Jika akar dipotong, maka lama-lama batang dan daun pun mati. Kalau kita mau selamat, harus berpegang erat kepada masa lalu kita. Semua sakit dan pengorbanan kita di masa lampau harus diingat-ingat terus, harus di-review ulang. Mungkin ada episode sejarah yang antum tidak terlibat di dalamnya, kini kita ceritakan ulang. Ketimbang menghadapi JIL, lebih sakit menghadapi saudara sendiri yang memfitnah. Itu sejarah, dan ada pelajaran yang bisa kita petik darinya.

Kita semua ingin mewariskan negeri yang lebih baik, dan kita ingin sesuatu yang jauh lebih mahal daripada dunia dan seisinya. Mudah-mudahan obrolan kali ini bermanfaat, dan kita semua dimantapkan langkahnya di jalan dakwah bersama ITJ. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin

 

— Ditulis berdasarkan taushiyah yang disampaikan pada hari Sabtu, 5 Agustus 2017, di Villa Dolken, Cisarua, Bogor, dalam rangkaian acara Silatnas ITJ 2017, dengan beberapa penyesuaian. —

 

wassalaamu’alaikum wr. wb.

1Comment
  • Dewi Sukma
    Posted at 19:20h, 15 August Reply

    Terima kasih Pak Ustadz

Post A Comment