Akmal Sjafril | Berhentilah Memuja Bayangan
1289
post-template-default,single,single-post,postid-1289,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-13.4,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Berhentilah Memuja Bayangan

Berhentilah Memuja Bayangan

20

Pada dasarnya manusia itu lemah; ada begitu banyak hal di luar kendalinya. Mereka yang tidak menghamba kepada Allah niscaya akan menghamba juga kepada selain-Nya. Bahwasanya Rasulullah saw memperingatkan tentang celakanya hamba dinar, itu karena memang ada yang menghamba kepada dinar, dirham, euro, dolar atau rupiah. Yang lebih menakjubkan daripada uang tentu ada, antara lain manusia.

Manusia menghamba kepada manusia sama sekali bukan perkara baru. Fir’aun menjadi Fir’aun bukan karena dirinya sendiri; ia semata bayangan yang dibangun oleh rakyatnya sendiri. Fir’aun sendiri tak menyadari betapa absurd permintaannya kepada Haman untuk membangunkan bangunan setinggi langit agar ia bisa melihat Tuhannya Musa as. Fir’aun mendakwakan bahwa dirinya tuhan, tapi ia butuh Haman untuk membuktikan ketuhanannya. Tidak semua yang dipuja seburuk Fir’aun, namun manusia memuja manusia terus berlanjut hingga kini; mulai dari memuja manusia karena ketampanan atau kecantikannya, kekuasaannya, kekayaannya, hingga kemampuannya untuk menari mesum di layar gadget untuk disebarluaskan di jagat medsos.

Yang lebih malang lagi, tentu saja, adalah mereka yang memuja diri. Lima menit memandang orang, lima puluh kesalahan telah dicatatnya. Setengah jam mematut diri di depan cermin, tak satu pun cela yang direnungkannya. Memang kesadaran itulah yang direnggut dari manusia-manusia malang yang bahkan tak menyadari kemalangannya sendiri ini.

No Comments

Post A Comment