Covid-19: Alat Ukur Islamisasi di Negeri Kita
1710
post-template-default,single,single-post,postid-1710,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-1.0.5,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.6,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-6.2.0,vc_responsive

Covid-19: Alat Ukur Islamisasi di Negeri Kita

Covid-19: Alat Ukur Islamisasi di Negeri Kita

WhatsApp Image 2020-04-02 at 10.53.52Berikut ini adalah materi kajian online yang saya sampaikan via Whatsapp bersama #IndonesiaTanpaJIL Chapter Bogor pada hari Ahad, 5 April 2020. Judul kajiannya sama dengan judul tulisan ini, yaitu “Covid-19: Alat Ukur Islamisasi di Negara Kita”.

 

——-

assalaamu’alaikum wr. wb.

Meskipun kasak-kusuk soal virus Corona sudah mengemuka sejak akhir tahun 2019, namun tak ada yang memprediksi kondisinya akan seperti ini setelah beberapa bulan saja. Di awal tahun, bangsa Indonesia disibukkan dengan problem banjir di beberapa tempat, termasuk di ibukota dan sekitarnya, kemudian perhatian dunia tersedot oleh kasus Reynhard Sinaga. Setelah itu, kasus megaskandal Jiwasraya.

Ketika kita menyaksikan bagaimana Kota Wuhan terdampak oleh Covid-19, kita pun belum membayangkan penyakit itu akan datang ke Indonesia. Berbagai video rekaman warga Wuhan yang memakan binatang liar, bahkan sebagiannya dalam keadaan hidup-hidup, membuat kita maklum mengapa virus ini muncul, walaupun ada pula teori lain yang menyebutkan bahwa virus ini adalah hasil buatan manusia, alias senjata biologis yang entah bagaimana merajalela. Cina menuduh AS, AS menuduh Cina, dan kini telah jatuh korban jiwa begitu banyak di kedua negara (perlu dicatat bahwa banyak orang meragukan jumlah korban versi resmi yang disampaikan oleh pemerintah Cina). Di luar kedua negara tersebut, Italia, Spanyol dan Iran menjadi negara-negara yang mengalami hantaman paling keras sebagai dampak dari virus tersebut.

Teori manapun yang akan kita pilih (apakah Covid-19 muncul akibat kebiasaan makan binatang liar atau senjata biologis yang sengaja dikembangkan), kita dituntut untuk memberikan respon terhadap permasalahan di depan mata. Indonesia adalah negara yang sangat luas, dan sayangnya, ketika pertama kali virus ini dibicarakan orang di tanah air, pemerintah justru membuka keran pariwisata lebar-lebar. Sejak pertengahan Maret 2020, sebagian orang sudah work from home, sekolah-sekolah diliburkan, meski pemerintah belum juga tegas menerapkan lockdown.

Manusia tidak selalu memperlihatkan karakter sejatinya, bahkan tidak sedikit orang yang sehari-harinya terbiasa menyembunyikan wajah aslinya. Ujian-ujian berat yang menimpa manusia dalam kehidupannya seringkali berhasil mengungkapkan siapa dirinya sesungguhnya. Tentu saja, perlu juga dipahami bahwa salah satu ciri yang khas dari manusia adalah kemampuannya untuk berubah. Itulah sebabnya segala cobaan dan musibah kita sebut sebagai ujian; selalu ada peluang untuk lulus dengan gemilang dan naik level, jika kita bisa melewatinya dengan baik.

Banyak orang yang akan menjadi sahabat baik ketika kita berkelapangan harta, namun lihatlah berapa banyak yang membersamai kita ketika kita dalam keadaan payah. Sebaliknya, tidak sedikit pula yang pada awalnya shalih, namun ketika Allah SWT beri kelapangan harta, ia malah lupa diri dan lupa daratan. Yang terakhir itu diwakili secara paripurna di dalam Al-Qur’an oleh Qarun; salah seorang kerabat Nabi Musa as yang ketika sudah kaya malah memilih untuk berpihak kepada Fir’aun. Kesulitan dan kelapangan, kemiskinan dan kekayaan, semuanya adalah ujian.

Tak pelak lagi, Covid-19 pun telah mengekspos ‘wajah’ umat Muslim Indonesia yang sebenarnya. Bukan hanya mereka yang terpapar virus saja yang mengalami cobaan, tapi seluruh elemen bangsa. Betapa banyak orang yang tidak bisa work from home dan terpaksa menghadapi risiko setiap harinya. Ada pula yang penghasilannya harian, sehingga tidak bisa meninggalkan rutinitasnya. Sekiranya itu dilakukan, maka ia tak bisa makan. Tabungan pun tak ada. Kota tempatnya mengadu rizki mendadak sepi, karena masyarakat mengurung diri di rumahnya dan tak keluar jika tak benar-benar perlu. Dagangannya tak laku. Sekarang, mudik pun dilarang.

Sungguh merugi jika ujian yang berat terlewatkan begitu saja dan kita tidak mendapatkan apa-apa. Keadaan serbasulit ini bisa membantu kita mengukur sudah sejauh mana proses Islamisasi di negeri kita. Tentu saja kita sudah beragama Islam; tapi pertanyaannya, sudah se-Islami apakah kita? Pertanyaan ini, tentunya, ditujukan kepada kita bersama sebagai bangsa, bukan kepada individu.

Islamisasi, menurut Prof. M. Naquib al-Attas, dalam karyanya yang paling dikenal luas, Islam and Secularism, dijelaskan sebagai berikut:

Islamization is the liberation of man first from magical, mythological, animistic, national-cultural tradition opposed to Islam, and then from secular control over his reason and his language.

[Islamisasi adalah pembebasan manusia, pertama dari tradisi magis, mitologis, animis dan kebudayaan bangsa yang bertentangan dengan Islam, dan kemudian dari kendali sekuler atas akal dan bahasanya.]

Jadi, Islamisasi bukan hanya mengantarkan manusia untuk memasuki Islam, karena hal itu bisa dilakukan hanya dengan mengucap syahadatain. Lebih daripada itu, Islamisasi adalah proses mengubah cara berpikir manusia kepada yang diajarkan oleh Islam. Karena tabiatnya sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia, maka Islam senantiasa memperingatkan bahayanya sikap berlebihan. Ada yang malas shalat, ada juga yang berlebihan sehingga mau semalaman shalat, tanpa tidur sama sekali. Keduanya sama-sama dilarang. Dengan demikian, Islamisasi juga harus membawa manusia pada sikap yang tidak berlebihan, yaitu sikap di antara dua ekstrem. Dalam hal ini, Prof. Al-Attas menggarisbawahi dua ekstrem, yaitu cara berpikir yang takhayul dan irasional dengan cara berpikir sekuler dan sok rasional; yang pertama sama sekali tidak menggunakan logika, yang kedua sama sekali menolak keimanan kepada yang ghaib, termasuk kuasa Allah SWT dalam segala sesuatunya.

Paling tidak ada tiga hal yang semestinya menjadi perhatian kita bersama dalam mengukur seberapa jauh proses Islamisasi telah dilaksanakan di negeri kita, dalam kaitannya dengan persoalan Covid-19. Dalam pembahasan ketiga faktor tersebut, akan diperlihatkan realita di lapangan, dan kemudian juga secara akan terlihat secara implisit kondisi idealnya, sehingga kita mengetahui agenda Islamisasi kita ke depannya.

 

Menjaga Kehidupan

Pandemi Covid-19 menyadarkan kita bagaimana Islam sangat menghargai manusia, dan mengajarkan manusia untuk menghargai dirinya sendiri. Allah SWT tidak menciptakan manusia tanpa tujuan, dan Allah SWT tidak pernah menyesali perbuatan-Nya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Manusia diciptakan bukan sebagai binatang yang hanya mondar-mandir saja di muka Bumi, melainkan sebagai khalifah-Nya. Adapun “khalifah” maknanya adalah wakil. Ketika para Malaikat mempertanyakan alasan di balik penciptaan manusia, Allah SWT memang tidak memberikan penjelasan, namun kata-kata-Nya menunjukkan bahwa Dia tidak menyisakan celah untuk keraguan terhadap keputusan-Nya itu.

Karena manusia diciptakan sebagai khalifah-Nya, maka Islam mengajarkan manusia untuk bersikap layaknya khalifah. Seorang khalifah tidak sepantasnya bertindak serampangan. Ia harus mengatur sikap, perbuatan dan kata-katanya, bahkan juga pikirannya. Sebagian orang menganggap bahwa Islam mengatur manusia dengan terlalu mendetil, hingga mengajarinya cara bersiwak, berwudhu’, mandi, hanya mengkonsumsi makanan yang halal lagi thayyiban, dan seterusnya. Akan tetapi, dari hal-hal mendetil seperti itulah kita bisa membedakan mana khalifah dan mana rakyat jelata. Sekarang, dari hal-hal ‘kecil’ itu pula dunia menggantungkan harapan untuk menghindarkan diri dari Covid-19. Sementara seluruh dunia mengkampanyekan gerakan cuci tangan setelah keluar rumah, Islam telah lama mengajarkan manusia untuk mencuci tangannya setiap bangun tidur:

Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka jangan mencelupkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali. Karena ia tidak mengetahui di mana letak tangannya semalam. (HR. Bukhari)

Perhatikanlah kembali perintah Rasulullah saw di atas. Ia tidak hanya sekadar mengajari kita untuk mencuci tangan setelah bangun tidur, melainkan juga menunjukkan cara berpikir yang benar. Kita dianjurkan mencuci tangan setelah bangun tidur karena kita tidak tahu ke mana saja tangan kita menjelajah ketika tidur. Kalau pertimbangan yang sama kita gunakan, tentu tak perlu mempertanyakan perlu-tidaknya mencuci tangan setelah kita melakukan perjalanan jauh, keluar-masuk gedung perkantoran, menaiki kereta api atau bus kota, dan seterusnya hingga sampai ke rumah.

Jika Islamisasi telah berlangsung dengan baik, semestinya tercipta masyarakat yang mampu berpikir rasional tanpa mengabaikan keimanan kepada yang ghaib, dengan gaya hidup yang sehat. Itulah adab seorang khalifah kepada dirinya sendiri. Jangan samakan dengan binatang ternak.

 

Otoritas Ilmu

Masyarakat yang mengenal adab adalah yang memahami hirarki, termasuk di antara manusia itu sendiri. Setiap orang memiliki tempatnya masing-masing. Di rumah sakit, misalnya, ada direktur, manajer, dokter, perawat, petugas kebersihan, teknisi dan sebagainya. Para dokter pun bermacam-macam tugasnya; ada dokter umum, dokter gigi, dokter kandungan, dokter anak, dokter penyakit dalam, dokter bedah, dokter anestesi, dan seterusnya. Masing-masing hanya ‘berfatwa’ sesuai kapasitas keilmuannya. Seorang pasien diperbolehkan mencari pendapat kedua (second opinion), ketiga, bahkan lebih. Akan tetapi, dokter yang ditinggalkan pendapatnya itu tetaplah dokter, dan ia tetaplah pasien.

Ketika orang-orang diseru untuk tinggal di rumah, para ulama segera merespon. Sebab, yang terpengaruh bukan hanya urusan pekerjaan, melainkan juga ibadah seperti Shalat Lima Waktu yang sangat dianjurkan untuk dilakukan di masjid bagi kaum lelaki, dan juga Shalat Jum’at. Keluarlah fatwa yang melarang orang untuk datang ke masjid bagi daerah-daerah yang sudah terpapar virus. Sayangnya, banyak yang tidak terima.

Marilah berbicara mengenai aspek rasionalitas terlebih dahulu. Ketika sekarang slogan “Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah” begitu ramai dikumandangkan, pahamilah bahwa secara implisit ia juga bermakna “kembali kepada bimbingan ulama”. Sebab, Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sumber hukum. Untuk memahami Al-Qur’an, orang harus secara intens mempelajari ‘Ulumul Qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an), dan untuk hadits ada pula ‘Ulumul Hadits (ilmu-ilmu hadits). Ada obyeknya, ada ilmunya, maka pasti ada ahlinya. Keberadaan para ahli itu secara implisit sudah menunjukkan bahwa tidak semua orang akan menjadi ahli; sebagian besar hanyalah awam.

Ketika muncul fatwa larangan untuk ke masjid, muncullah para ‘fuqaha palsu’ yang setia mengikuti ‘Madzhab Broadcastiyyah’. Dengan serampangan, ada yang mengatakan bahwa mati dan hidup itu kuasa Allah SWT, bukan karena virus. Padahal, orang yang mengatakan demikian terbiasa mengenakan jaket ketika cuaca dingin dengan alasan ‘tak ingin sakit’. Ada juga yang mengatakan bahwa dengan pergi ke masjid, ia justru akan berada dalam lindungan Allah SWT. Pernyataan ini misleading setidaknya dari dua perspektif. Pertama, seolah-olah Allah SWT tak melindungi hamba-hamba-Nya di luar masjid. Kedua, pada kenyataannya, orang di dalam masjid belum tentu aman dari musibah. Dahulu, PKI melakukan pembantaian terhadap umat Muslim di masjid-masjid. Di masa awal reformasi, ketika terjadi kerusuhan berdarah di Ambon, Maluku, pembantaian itu juga terjadi di masjid, bahkan di Hari Raya ‘Idul Fithri.

Masih banyak argumen irasional lainnya yang tidak akan dibahas di sini. Silakan merujuk kepada tulisan saya yang lain, Jadi, Kita Kembali Kepada Jabriyyah? sebagai bacaan tambahan. Ini semua adalah akibat dari diabaikannya otoritas keilmuan, sehingga orang awam berlagak bagai fuqaha, dan broadcast disamakan dengan kitab-kitab para ulama. 

 

Hak-hak Saudara

Betapa banyak yang terpesona pada kisah tiga orang mujahid yang menemukan kesyahidannya di Perang Yarmuk. Pada saat itu, seseorang yang sedang terluka parah meminta air minum barang seteguk untuk meringankan penderitaannya. Ketika air dibawakan, ia mendengar orang lain mengerang kesakitan, sehingga ia meminta air itu diberikan kepadanya saja. Tapi orang kedua pun mendengar orang lain mengerang, sehingga air itu dioper lagi kepada orang ketiga. Pada akhirnya, ketiga orang tersebut syahid tanpa sempat meneguk minumannya; mereka wafat dalam keadaan saling mendahulukan saudaranya. Salah satu di antara ketiga orang tersebut adalah Ikrimah ra, anaknya Abu Jahal. Ikrimah ra, dalam peristiwa Fathu Mekkah, masih menjadi buronan yang Rasulullah saw perintahkan untuk dieksekusi jika tertangkap. Setelah mendapatkan pengampunan dari Rasulullah saw, ia masuk Islam, mengejar syahid di Perang Yarmuk, dan benar-benar mendapatkannya.

Kini, ke manakah tradisi mendahulukan (itsar) itu pergi? Covid-19 telah mengungkap betapa kita telah lupa memikirkan orang lain, apalagi mendahulukannya. Mereka yang tidak peduli dengan himbauan hidup sehat dan menghindari keramaian dengan alasan tidak akan mati kalau belum takdirnya mati nampaknya lupa bahwa ada juga orang yang berumur panjang meski merokok. Sebenarnya itu bukti bahwa Allah SWT telah memberinya tubuh yang kuat, namun sayang tidak disyukuri. Meski ia hidup panjang dengan kebiasaan merokoknya, tetap saja keluarganya harus menderita karena menjadi perokok pasif. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak mempedulikan anak-anaknya. Virus yang kita hadapi kini pun demikian. Tak semua orang akan jatuh sakit atau mati karenanya. Sebagian orang mungkin akan mengembangkan kekebalan tubuh terhadapnya, atau bahkan ada yang sudah kebal duluan. Akan tetapi, ketika virus itu dibawa ke rumah, belum tentu seluruh keluarganya memiliki antibodi sekuat dirinya. Pada akhirnya, kepedulian kepada orang lainlah yang akan menentukan sikap kita.

Kita dapat pula melihat tabiat manusia yang hanya mempedulikan kepentingannya sendiri di masa-masa krisis. Di sejumlah daerah, ketika terjadi bencana alam yang besar, dalam waktu beberapa hari saja bisa terjadi penjarahan. Hal yang sama tidak terjadi pada daerah-daerah lain, padahal masyarakatnya sama-sama menderita kelaparan. Bukanlah rasa laparnya yang berbeda, melainkan kapasitas jiwanya yang tidak setara. Ketika Covid-19 mulai menerpa Indonesia, dengan segera terjadi penimbunan masker, gula pasir menghilang diborong orang, dan seterusnya. Padahal, semua itu adalah hal-hal yang sangat dibutuhkan orang. Dengan membelinya dalam jumlah banyak, kita telah menghalangi orang lain dari mendapatkannya. Kini, orang bahkan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang semestinya hanya digunakan oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit. Dampaknya, para perawat dan dokter justru tidak terlindungi dengan baik. Jatuhlah korban dari kalangan tenaga kesehatan, padahal mereka berada di baris terdepan untuk menghadang virus ini.

Tentu saja, Islamisasi adalah proses yang terus berkelanjutan. Tak ada individu yang boleh mengaku bahwa dirinya telah Islami, karena tabiat manusia adalah pelupa. Kita meyakini bahwa pasti ada hikmah di balik segala tindakan Allah SWT. Di antara sekian banyak hikmah yang datang bersama Covid-19, mungkin, adalah peringatan dari Allah SWT agar kita membenahi kembali cara kita berpikir dan bertindak sebagai umat dan melanjutkan estafet Islamisasi ini dari para pendahulu kita.

Insya Allah, kita akan lulus dari ‘sekolah Corona’ ini dalam keadaan lebih kuat dari sebelumnya, asalkan kita berjuang dari sekarang, dan berjuang bersama-sama!

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.