Akmal Sjafril | Cuma Dengan Satu Jari
1226
post-template-default,single,single-post,postid-1226,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-13.4,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Cuma Dengan Satu Jari

Cuma Dengan Satu Jari

17

Salam satu jari dapat dengan mudah dimengerti oleh umat Muslim sebagai pesan tauhid. Satu jari yang kita acungkan adalah satu jari yang sama yang kita gunakan dalam shalat ketika mengulang persaksian kita terhadap Allah sebagai satu-satunya Ilah, dan Nabi Muhammad saw sebagai utusan-Nya. Hanya dengan satu jari saja, engkau bisa menunjukkan siapa jati dirimu yang sesungguhnya.

Agama ini adalah shibghah (celupan) Allah. Bagaikan kain putih yang dicelup ke dalam zat pewarna merah, maka hasilnya takkan berwarna biru. Setiap Muslim adalah duta agamanya, sehingga setiap perbuatan dan karakter dalam dirinya akan memperlihatkan jati diri Islam, meski ia tidak berpanjang lebar memperkenalkan dirinya sebagai seorang Muslim. Saat berkata ia jujur, saat masuk dan keluar ruangan ia memilih kakinya yang akan melangkah duluan, bahkan saat bersin pun seorang Muslim pasti mudah diidentifikasi, karena lisannya refleks memuji Allah. Begitu banyak tuntunan agama ini dalam bersikap, sehingga sangatlah aneh jika seorang Muslim tak nampak keislamannya, apalagi jika perangainya tak ada bedanya dengan orang-orang kafir.

Meski demikian, paling tidak masih ada satu pertanyaan yang tersisa: sudah pantaskah kita menjadi duta-duta Islam? Jika kau tempatkan Islam di posisi yang tinggi, maka tempatkan pula dirimu di posisi yang terhormat. Berhentilah menghinakan diri dengan perbuatan-perbuatan yang rendah. Jangan sampai orang menolak Islam lantaran tidak menyukai apa yang dilihatnya dari dirimu.

No Comments

Post A Comment