Demi Babi
1449
post-template-default,single,single-post,postid-1449,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-1.0.5,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-18.1,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.2,vc_responsive

Demi Babi

Demi Babi

assalaamu’alaikum wr. wb.

Dalam sebuah buku, saya pernah membaca sebuah teori menarik. Menurut sang penulis, seseorang takkan dengan sengaja melakukan sesuatu yang dianggapnya sebagai sebuah kesalahan. Tentu saja setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Hanya saja, sebelum ia dengan sengaja melakukan dengan tangannya, ia akan terlebih dahulu mencarikan pembenaran dengan akalnya.

Sebelum mencuri, seorang calon pencuri akan meyakinkan dirinya sendiri bahwa pencurian itu memang wajar, atau minimal ‘tidak terhindarkan’. Mungkin ia menganggapnya sebagai tindakan terpaksa, lantaran sudah beberapa hari tak makan. Mungkin ia melakukannya karena menganggap dirinya terlalu miskin, sedangkan orang-orang kaya perlu diberi pelajaran agar tidak berlebih-lebihan. Mungkin juga ia menyalahkan taqdir, dengan ‘berfilsafat’ bahwa Tuhan-lah yang telah menempatkannya pada posisi itu dan ‘memaksanya’ untuk menjadi pencuri.

Pengguna khamr mungkin akan berargumen bahwa masalah hidupnya sudah terlalu berat sehingga hanya alkohol dan narkoba yang bisa membantunya menjalani cobaan. Pezina mungkin akan mengatakan bahwa tindakannya memang didasari cinta, dan cinta (katanya) tak pernah salah. Betapa banyak pembunuh yang meyakini bahwa korbannya memang layak dibunuh, dan sejarah telah mencatat sejumlah diktator yang membantai ribuan manusia hanya karena merasa ras mereka layak dibasmi.

Mungkin kita akan terkejut bila mengetahui betapa banyak pembenaran yang bisa dikarang manusia untuk kemaksiatannya. Di negeri ini, ada orang yang secara terbuka menyatakan dirinya Muslim, namun dengan bangga menyantap daging babi, mengunggahnya ke media sosial, membanggakannya dan juga mencarikan pembenarannya. Demi babi, ia tak takut mengorbankan akalnya sendiri.

Membenarkan sebuah kesalahan pastinya hanya dilakukan oleh akal yang penuh dengan kontradiksi. Ada sejumlah kesalahan logika yang sangat mengganggu dari fenomena ‘Muslim makan babi’ ini, dan saya meresponnya melalui podcast yang saya beri judul: “Orang Baik Nggak Makan Babi”.

Semoga Allah SWT melindungi kita dari cara berpikir yang kontradiktif.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

3 Comments
  • Apriyanto Wibowo
    Posted at 10:05h, 08 August Reply

    assalamu ‘alaikum

    • malakmalakmal
      Posted at 11:10h, 08 August Reply

      wa’alaikumussalaam wr wb

  • Yudhit Ingsam
    Posted at 13:27h, 08 August Reply

    assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh bro akmal, boleh minta folbek donk di twitter @yudhitingsam, Di FB udah gak kebagian ane untuk jd ‘friend’ karena quota sudah penuh, ane satu sekolahan dulu dengan antum di SMP dan SMA adik kelas cuman… Jazakallah

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.