Dua Sisi Sunnatullaah
1734
post-template-default,single,single-post,postid-1734,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-1.0.5,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-18.1,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.2,vc_responsive

Dua Sisi Sunnatullaah

Dua Sisi Sunnatullaah

photo_2019-06-25 08.00.29

assalaamu’alaikum wr. wb.

Pandemi Covid-19, tidak diragukan lagi, adalah sebuah ujian yang tidak ringan bagi umat Muslim di tanah air. Fenomena ini bukan hanya menuntut kesigapan para ulama untuk memberikan solusi-solusi dari perbendaharaan syari’at, melainkan juga membangkitkan perhatian setiap orang pada kondisi perekonomian umat, penyelenggaraan pendidikan dasar dan tinggi, dan sebagainya.

Kondisi berat akan mengungkap ‘wajah asli’ seseorang atau sebuah bangsa. Dalam situasi selepas Perang Uhud yang menyakitkan, Allah SWT berfirman melalui sejumlah ayat Al-Qur’an, di antaranya:

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kemenangan dan kekalahan) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim. (QS. Ali ‘Imran [3]: 140)

Meskipun hasil dari Perang Uhud tidak sesuai dengan harapan, namun tidak ada celaan kepada mereka yang berjuang di sana. Justru, Allah SWT memberikan kabar gembira bahwa kejayaan dan kekalahan itu memang dipergilirkan di antara manusia sebagai bagian dari rencana-Nya jua. Kekalahan, sebagaimana kemenangan, juga mengandung kebaikan, meski kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Dalam ayat di atas, pergiliran nasib manusia tersebut dinyatakan memiliki dua tujuan, yaitu untuk membedakan orang-orang yang beriman dan yang ingkar, dan juga supaya sebagian di antara kaum mu’minin beroleh kesempatan untuk mati syahid. Yang pasti, menang atau kalah, sebagaimana ditegaskan di akhir ayat, Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang zhalim. Artinya, orang zhalim pun bisa menang, namun keberpihakan Allah SWT tidaklah berubah.

Kekalahan atau kemalangan adalah alat yang sangat efektif untuk memisahkan siapa yang beriman dan siapa yang tidak. Beriman dalam situasi lapang tentu lebih mudah ketimbang beriman dalam situasi sempit. Itulah sebabnya mereka yang pertama-tama beriman (As-Saabiquun al-Awwaluun) tidak disamakan dengan mereka yang beriman setelah peristiwa Fathu Makkah. Di Perang Uhud, ketika perang belum lagi dimulai, ‘Abdullah bin Ubay sudah mundur dengan membawa tiga ratus orang pasukannya lantaran merasa keder melihat musuh yang jauh lebih banyak. Sebaliknya, di Perang Uhud pula kita saksikan banyak kepahlawanan di antara para sahabat yang tidak meninggalkan medan jihad, apa pun yang terjadi.

Serupa dengan hal di atas, pandemi Covid-19 pun rupa-rupanya secara efektif telah mengekspos kelemahan umat Muslim tanah air. Sejak 16 Maret 2020, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebenarnya telah menerbitkan fatwa tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi wabah Covid-19. Dalam fatwanya yang bernomor 14 Tahun 2020 itu, MUI menjelaskan beberapa hal, termasuk kebolehan untuk meninggalkan shalat berjama’ah di masjid dalam situasi merebaknya wabah. Sayangnya, fatwa tersebut banyak dibantah, justru oleh masyarakat awam!

Salah satu bantahan yang menyebar luas (tanpa diketahui asal-muasalnya) itu menyebutkan bahwa melarang umat Muslim beribadah di masjid adalah absurd, sebab masjid adalah Rumah Allah, dan mereka yang berada di dalamnya berarti ada dalam lindungan Allah. Karena itu, umat Muslim semestinya tidak takut dengan bahaya wabah apa pun saat beribadah di masjid.

Logika semacam ini nampaknya berangkat dari keyakinan bahwa ‘jika Allah SWT berkehendak, maka apa pun bisa terjadi’. Tentu saja seorang Mu’min takkan mengingkari kalimat tersebut, karena memang tak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa izin Allah SWT. Akan tetapi, meski segalanya bisa saja terjadi, pada kenyataannya toh tidak segala hal terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Allah SWT bisa saja membalikkan gunung-gunung, namun hal itu tidak dilakukan-Nya dalam kondisi normal. Mungkin, hal semacam itu akan terjadi pada kondisi yang sangat khusus, misalnya pada Hari Kiamat kelak.

Kekeliruan dalam memahami persoalan nampaknya berakar dari kesalahan dalam memahami sunnatullaah. Sunnatullaah adalah sesuatu yang biasa disebut sebagai ‘hukum alam’; umat Muslim tidak menyukai istilah ini, sebab pada kenyataannya hukum-hukum yang terdapat di alam tidaklah ditulis oleh alam itu sendiri, melainkan oleh Allah SWT. Karena itu, digunakanlah istilah “sunnatullaah”, yang lebih dekat maknanya dengan ‘hukum Allah’.

Frase “sunnatullaah” terdiri dari dua kata, yaitu “sunnah” dan “Allah”. Kata pertama berarti ‘kelaziman atau kebiasaan’. Dengan demikian, maknanya kurang lebih adalah ‘kelaziman yang terjadi di alam semesta berdasarkan ketetapan Allah SWT’. Dua kata yang menyusun frase ini sekaligus juga menunjukkan dua sisi yang harus dipahami manakala kita membicarakan sunnatullaah itu.

Sisi pertama dari sunnatullaah adalah statusnya sebagai sebuah kelaziman. Artinya, dalam kondisi normal, segala sesuatunya berjalan sesuai dengan sunnatullaah. Jika dikatakan bahwa menurut sunnatullaah api itu panas, es itu dingin, gunung itu berat, garam itu asin, dan makhluk hidup akan mati jika tidak makan, maka itu artinya hal-hal tersebutlah yang lazimnya terjadi.

Jika sisi pertama menekankan pada kelaziman, maka sisi kedua menunjuk kepada ‘otoritasnya’. Karena sunnatullaah adalah kelaziman yang ditetapkan oleh Allah SWT, maka Allah SWT sendirilah yang berhak mengubahnya sewaktu-waktu. Meskipun lazimnya api itu panas, namun Allah SWT bisa memisahkan api dengan panas, sebagaimana yang terjadi ketika Nabi Ibrahim as hendak dibakar hidup-hidup. Laut bisa terbelah, orang mati bisa hidup kembali; itulah sebagian kecil dari mukjizat para Nabi, dan kita pun mengimaninya sebagai sebuah kebenaran.

Meski umat Muslim beriman kepada yang ghaib, namun dalam kehidupan sehari-hari, kita tidaklah diajarkan untuk membuat asumsi berlandaskan keajaiban. Artinya, jika api berkobar di hadapan mata, tidaklah dibenarkan jika kita menerjangnya begitu saja hanya karena api telah dibuat dingin untuk Nabi Ibrahim as. Sebab, peristiwa ‘dinginnya api’ itu memang terjadi karena adanya konteks khusus, yaitu menyukseskan risalah yang diemban oleh Nabi Ibrahim as. Jika kita — yang bukan Nabi, dan bukan pula dalam rangka memperjuangkan dakwah — melompat ke dalam api, maka kemungkinan besar kita akan terbakar, sama seperti kertas atau daun yang dilempar ke dalam api juga. Nabi Yunus as ditelan ikan dan hidup, namun selain beliau belum pernah ada lagi manusia yang hidup setelah ditelan ikan Hiu, misalnya. Jika Anda mampu memahat patung unta dari sebuah batu, sebaiknya tak usah terlalu berharap ia akan menjelma unta sungguhan sebagaimana dalam peristiwa Nabi Shalih as.

Keajaiban memang bisa terjadi atas kehendak Allah SWT, namun Allah SWT pula yang berkehendak agar segala proses di alam semesta ini berjalan dengan penuh keteraturan. Tanpa keteraturan, dapatkah Anda membayangkan adanya sains? Jika api bisa panas dan bisa dingin tanpa aturan sama sekali, bagaimana kita bisa memanfaatkannya? Jika sifat segala sesuatunya bisa berubah kapan saja, bagaimana kita akan mengenali pola-pola kejadian di alam semesta dan menggunakannya?

Covid-19, sesuai penelaahan para ahli, adalah virus yang sangat mudah penularannya melalui interaksi hidup kita sehari-hari. Interaksi di sekolah, kantor dan pasar sama-sama berisiko. Masjid tidak mendapat pengecualian, karena kita tidak memiliki alasan untuk berpikir sebaliknya. Jika ada yang mengatakan bahwa semua yang di masjid pasti dilindungi Allah SWT mungkin lupa bahwa pada 15 Maret 2019 silam kita baru saja berduka atas terjadinya peristiwa penembakan masal di Masjid Al-Noor di Kota Christchurch, Selandia Baru. Dalam kejadian tersebut, terhitung ada 51 korban jiwa dan 49 yang terluka. Jelaslah bahwa, sesuai sunnatullaah, manusia yang ditembak dengan sebutir peluru akan terluka atau bahkan mati, dan sunnatullaah itu tidak berubah begitu saja hanya karena kita sedang berada di masjid.

Barangkali kita telah menemukan satu penghambat kembalinya kejayaan Islam. Jika kita melihat kemegahan sejarah Qurthubah (Cordoba) di Al-Andalus dan Bayt al-Hikmah di Baghdad, maka ilmu jelas merupakan landasan dari kokohnya sebuah peradaban. Ketidakmampuan kita dalam memahami dan merespon sunnatullaah akan menyebabkan rasionalitas berganti dengan cara berpikir yang ‘serba ajaib’, penuh takhayul, mudah percaya dengan mitos, dan seterusnya. Akibatnya, lahirlah umat yang tidak mampu berpikir logis dan lebih suka berangan-angan. Ketika membaca hadits-hadits tentang Akhir Zaman, mereka berkesimpulan bahwa yang perlu dilakukan hanyalah menunggu kedatangan Imam Mahdi. Saat membahas ghazwul fikri (perang pemikiran), mereka lebih suka membahas teori konspirasi dan betapa dahsyatnya tipu daya berbagai kelompok rahasia (secret society) dalam mengebiri potensi umat Muslim; mereka tidak membahas bagaimana membalas serangan musuh, melainkan diam-diam justru mengaguminya.

Cara berpikir yang mengandalkan keajaiban, barangkali, adalah semacam kombinasi yang janggal dari keputusasaan dan harapan. Di satu sisi, ada rasa putus asa untuk berkompetisi di medan ilmu pengetahuan, namun di sisi lain, masih ada harapan untuk mendapatkan kemenangan. Yang pertama perlu dibasmi, yang kedua perlu dipupuk. Bagaimana pun, kemenangan itu telah dijanjikan, dan kita hanya perlu ber-ikhtiar. Kita yang mengayun langkah, Allah SWT yang menyampaikan kepada tujuan.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

1 Comment
  • Zaynaskar Saleh
    Posted at 12:49h, 09 May Reply

    “Cara berpikir yang mengandalkan keajaiban, barangkali, adalah semacam kombinasi yang janggal dari keputusasaan dan harapan”

    Itu bukan janggal, itu merefleksikan kondisi psikis seseorang, pendapat yang bilang “Rumah Allah jadi aman” sebenarnya adalah pendapat yang dibuat2, tapi dia dibuat untuk memancing dan memperparah kondisi tersebut, banyak orang yang putus harapan di dunia ini dan menemukan Allah sebagai ‘solusi’ sehingga akhirnya dunia jadi tidak penting buat mereka, “this world can go to hell and I really don’t care as long as I have God”. Sekarang kejadian di ‘dunia’ memaksa mereka tidak bisa beribadah ke masjid, ditambah kondisi media sosial yang parah ya jadilah kita ada di kondisi ini.

    Orang yang percaya kepada Sunatullah seharusnya percaya juga bahwa wabah ini adalah Sunnatullah juga, tapi yang terjadi orang orang banyak yang denial, “this is not happening, I’m always good, why is this happening to me?” Dan seperti kita ketahui bersama bahwa ada jalan panjang diantara denial dan acceptance, dan banyak juga yang tidak pernah sampai, seperti Abdullah bin Ubay, sebagian besar sudah kalah bahkan sebelum berperang

    “Di satu sisi, ada rasa putus asa untuk berkompetisi di medan ilmu pengetahuan, namun di sisi lain, masih ada harapan untuk mendapatkan kemenangan”

    You’re talking about manufacturing hope, then we have a really long road ahead karena di benak sebagian besar masyarakat kita adalah: “you can’t eat hope”

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.