Akmal Sjafril | Hobi Itu Penting
783
post-template-default,single,single-post,postid-783,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-12.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.2,vc_responsive

Hobi Itu Penting

Hobi Itu Penting

assalaamu’alaikum wr. wb.

Dr. Adian Husaini, salah seorang cendekiawan Muslim terkemuka di negeri ini, menggugat apa yang disebutnya sebagai ‘sekolahisme’. Menurut beliau, pendidikan tidak identik dengan sekolah, sebab pendidikan bisa didapatkan di berbagai tempat, bukan hanya di sekolah.

Pada kenyataannya, pendidikan yang ada dalam benak mayoritas orang barangkali malah lebih sempit daripada ‘sekolahisme’, melainkan ‘raporisme’ atau ‘bangkuisme’. Ilmu direduksi menjadi apa yang tertera di dalam rapor, dan pembelajaran direduksi menjadi apa yang dipelajari sambil duduk di bangku. Padahal ada banyak ilmu yang tak dicantumkan nilainya di dalam rapor, dan banyak yang bisa dipelajari di luar kelas.

Jika kita melihat isi rapor, misalnya, kita takkan menemukan indikasi apakah seorang siswa mampu menjadi teman yang baik bagi rekan-rekannya, padahal perkara yang satu ini bisa jadi lebih penting dan bermanfaat ketimbang menghapal rumus-rumus trigonometri atau stoikiometri. Seseorang bisa saja mendapat nilai terbaik karena otaknya sedemikian encer, namun memberi pengaruh buruk kepada teman-temannya lantaran berbagai perilakunya yang tidak terhormat.

Bahkan apa yang sudah dicantumkan dalam rapor pun kadang-kadang tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Seorang anak bisa saja mendapatkan nilai bagus dalam pelajaran agama, padahal batang hidungnya tak pernah terlihat di mushola. Sebab, yang dinilai dalam pelajaran itu adalah jawaban-jawaban yang diberikannya di kelas atau di lembar ujian, bukan dalam keseharian. Demikian juga seorang siswa bisa jadi mendapatkan nilai bagus dalam pelajaran matematika, meski pelajaran itu hanya menyisakan trauma dalam hatinya. Karena itu, ketika hendak meneruskan studi ke perguruan tinggi, ia malah mencari jurusan yang sejauh-jauhnya dari matematika.

Betapa banyak orang cerdas yang tunduk pada tokoh yang lebih berwibawa. Tapi ‘berwibawa’ ini adanya di pelajaran apa? Banyak pula orang yang lebih pintar namun bisa diatur oleh mereka yang pandai bergaul dan mengelola tim. Lantas, kepandaian berorganisasi ini diajarkan dalam mata pelajaran apa?

Keterampilan-keterampilan di atas banyak diperoleh dari berorganisasi, sedangkan berorganisasi tidak mendapat penilaian yang begitu teliti di dalam rapor. Begitu banyak hal yang dipelajari siswa justru bukan di bangku sekolah, melainkan di lapangannya, di sekretariat organisasinya, di mushola, dan sebagainya.

Singkat cerita, banyak kepandaian yang belum dihargai di dunia akademis di negeri ini. Padahal, dunia menghargainya. Itulah sebabnya banyak orang yang terheran-heran melihat rekannya yang di sekolah dulu biasa-biasa saja, tapi kemudian menonjol setelah lulus. Hal itu bisa jadi bukan karena orang itu mengalami pencerahan mendadak atau melakukan perubahan besar dalam hidupnya, melainkan karena kecerdasan yang mengantarkannya sukses adalah kecerdasan yang masih gagal diapresiasi oleh sekolah.

Seorang sarjana lulusan matematika, misalnya, bisa jadi suatu saat akan terkenal di seantero negeri sebagai ahli hidroponik, karena memang sejak dahulu hobinya adalah berkebun. Perjalanan hidupnya mengantarkannya ke jalan yang tidak pernah disangka-sangka, baik oleh dirinya maupun oleh orang-orang di sekitarnya. Bukankah memang manusia suka membuat rencana, namun Allah juga yang kemudian memutuskan?

Apa jeleknya seorang sarjana matematika jadi ahli hidroponik? Apa salahnya seorang sarjana kedokteran hewan jebolan IPB memutuskan untuk menjadi seorang sastrawan, sebagaimana yang dilakukan oleh Taufiq Ismail? Di seberang lautan sana, Karl Anthony Towns Jr., pebasket profesional muda yang sangat berbakat, menjalani karirnya di NBA sambil melanjutkan studi untuk menjadi seorang dokter. Pilihan ini dianggap cerdas oleh banyak orang, mengingat karir sebagai olahragawan tak mungkin dijalani sampai usia lanjut. Ketika Towns gantung sepatu, karir sebagai dokter telah menantinya.

Banyak orang menjalani studi dengan sangat baik, namun akhirnya karirnya justru terbangun oleh hobinya. Tidak ada yang salah dari itu, kecuali kalau hobinya adalah bermaksiat.

Tentu saja, tidak semuanya adalah tentang karir dan uang. Manusia adalah makhluk spiritual, hakikat dirinya adalah jiwa yang bersemayam di dalam tubuhnya. Tubuh bisa sakit, melemah, bahkan mengalami musibah sehingga salah satu bagian badannya tercerai. Akan tetapi, selama jiwanya masih perkasa, maka masih ada saja yang bisa ia perbuat. Buya Hamka dan Sayid Quthb dapat menyelesaikan kitab tafsirnya di balik jeruji penjara, sedangkan Syaikh Ahmad Yassin bisa membangkitkan semangat perjuangan rakyat Palestina meski tubuhnya lumpuh dan selalu di atas kursi rodanya.

Kelelahan fisik tidaklah sefatal kelelahan jiwa. Ketika fisik didera kelelahan, namun jiwanya masih bersemangat, maka ada saja kekuatan yang bisa dibangkitkannya. Namun ketika jiwa sudah kehabisan napas, maka tubuh pun akan menyerah sebelum bertanding. Itulah sebabnya manusia tidak diperbolehkan berlebihan dalam segala sesuatunya. Bahkan dalam menjalankan ibadah pun ada yang disebut ‘berlebihan’, yaitu ibadah yang mengabaikan hak-hak diri, misalnya shaum sunnah setiap hari, atau shalat sepanjang malam, dan sebagainya. Hal-hal itu dilarang oleh Rasulullah saw, sebab dapat menyebabkan jiwa kelelahan, dan akhirnya bisa jadi malah berbalik arah; yang tadinya terlalu bersemangat, akhirnya malah jadi malas.

Di situlah pentingnya hobi, yaitu kegiatan yang kita minati, dan kita miliki bakatnya dalam diri. Dunia ini bukan hanya seputar matematika, fisika, atau kimia, tapi ada begitu banyak ragam nuansanya, banyak pula ragam persoalannya. Jiwa manusia membutuhkan istirahat, dan istirahat tidak berarti harus tidur, apalagi jalan-jalan ke mal. Salah satu rekreasi yang penting bagi jiwa adalah mengerjakan hobinya.

Ya, bisa saja kepenatan pikiran seorang astronom bisa diselesaikan dengan dua jam bermain futsal. Sangat mungkin seorang perwira polisi yang hatinya gundah mengobati dirinya dengan mengarang beberapa sajak. Atau seorang ibu rumah tangga yang mendapatkan ‘me time’ bukan dari berbelanja, melainkan dengan lari pagi keliling komplek.

Memiliki hobi itu penting bagi jiwa, karena jiwa benar-benar merasa bahagia ketika disibukkan dengan hal-hal yang disenanginya. Memang jiwa itu sendiri adalah salah satu misteri terbesar dalam hidup manusia, sebab imannya naik-turun, hatinya terbolak-balik, dan dirinya adalah insan yang kerap lupa dengan hakikat dirinya sendiri. Jika jiwa tak diberi istirahat, maka ia bisa terjerumus dalam kekejian.

Jika Anda terkagum-kagum dengan pendidikan di beberapa negara maju, maka ketahuilah bahwa pendidikan itu sendiri memang bebas didefinisikan. Penyakitnya sama, yaitu sekolahisme, raporisme dan bangkuisme. Finlandia, misalnya, yang digadang-gadang sebagai negeri dengan pendidikan terbaik, ternyata memiliki tingkat bunuh diri yang relatif tinggi berdasarkan data WHO tahun 2015, yaitu 21,4 kasus dari 100.000 jiwa. Tidak jauh beda dengan Jepang yang memiliki angka 21,7. Perancis dan Amerika Serikat memiliki poin yang berdekatan, yaitu 19 dan 19,5. Rusia dan Polandia lebih fantastis, yaitu sekitar 32. Bagaimana dengan Indonesia, negeri yang kerap dijelek-jelekkan oleh rakyatnya sendiri? Alhamdulillaah, hanya 4,5!

Apakah kita dapat mengatakan pendidikan di suatu negeri telah sukses, sementara anak-anak negeri justru doyan menghabisi diri sendiri? Apa yang menyebabkan orang-orang yang sangat intelektual itu mengalami keletihan jiwa sedemikian rupa sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidup?

Permasalahannya terletak di kedalaman jiwa. Manusia memang bukan hanya darah, daging dan tulang, bukan pula robot yang bisa melakukan tugas yang sama terus-menerus tanpa jeda. Solusi permanennya tidak lain adalah agama. Untuk jangka pendeknya, meski tak semua masalah bisa diselesaikan dengan hobi, namun dapatlah kita katakan bahwa jiwa yang mengenali minat dan bakatnya adalah jiwa yang lebih mampu berdamai dengan keadaan.

Patutlah kiranya kita mengubah paradigma kita tentang pendidikan. Jangan biarkan anak-anak negeri ini memaksakan dirinya untuk menjadi robot. Mereka adalah manusia yang berjiwa, dan jiwanya butuh istirahat. Hargailah minat dan bakat mereka, dan bersiaplah untuk terpesona dengan keunikan mereka.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment