Akmal Sjafril | Huru-hara Akhir Jaman dan Mimpi untuk Selamat Sendiri
1040
post-template-default,single,single-post,postid-1040,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-13.4,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Huru-hara Akhir Jaman dan Mimpi untuk Selamat Sendiri

Huru-hara Akhir Jaman dan Mimpi untuk Selamat Sendiri

assalaamu’alaikum wr. wb.

Ada yang lebih mengherankan ketimbang klaim sepihak Donald Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota negara ilegal yang bernama Israel, yaitu betapa leluasanya kaum zionis berkuasa atas negeri Palestina, jauh sebelum Trump diangkat menjadi Presiden AS. Ada pula yang lebih menyedihkan dibanding kesewenang-wenangan kaum zionis ini, yaitu diamnya negeri-negeri Muslim selama puluhan tahun di hadapan kezaliman itu. Di balik kegembiraan kita menyambut bangkitnya warga Muslim dunia, terselip juga sebuah pertanyaan penuh kepiluan: ke mana saja umat Muslim selama ini?

Seiring berlalunya masa, umat manusia tidak semakin menjauh dari akhir jaman. Akhir jaman itu sudah dinyatakan ‘dekat’ di jaman Rasulullah saw, dan kini, empat belas abad sesudahnya, ia hanya bertambah dekat saja. Oleh karena itu, kajian tentang tanda-tanda akhir jaman semakin menjamur. Kajian semacam ini memang menambah keyakinan, sebab semakin kita mempelajari tanda-tanda yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw dan melihat kecocokannya dengan masa kini, maka semakin yakinlah kita akan kebenaran Islam. Apa yang telah dinyatakan oleh Allah dan Rasul-Nya niscaya akan terbukti kebenarannya, cepat atau lambat.

Akan tetapi, agaknya sebuah kritik perlu diajukan di sini, sebab sebagian kajian tentang akhir jaman tidak melangkah lebih jauh daripada sekedar mencocok-cocokkan peristiwa dengan tanda-tanda kiamat. Kalau sekedar mencocokkan, insya Allah mereka yang beriman tak perlu diyakinkan lagi. Banyak kebenaran Islam yang sudah terbukti, tanpa harus merujuk pada tanda-tanda akhir jaman. Demikian juga, dahulu, Rasulullah saw menyampaikan tanda-tanda ini kepada para sahabatnya, bukan karena mereka kurang yakin dengan kebenaran Islam, malahan para sahabat itu adalah hamba-hamba pilihan yang paling beriman dan menjadi suri tauladan bagi umat Muslim hingga masa kini. Jelaslah bahwa tanda-tanda akhir jaman itu dijelaskan oleh Rasulullah saw bukan sekedar untuk mempertebal iman umat Muslim, melainkan juga karena ada pesan penting lain yang tersirat di dalamnya.

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan melalui berbagai jalur (At-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad dan Hakim), Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth.” Kekhawatiran Rasulullah saw itu tentulah bukan sekedar kecemasan tanpa alasan, apalagi celetukan kosong, sebab di lain kesempatan, beliau juga menjelaskan bagaimana hukuman yang harus diberikan kepada mereka yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth as, yaitu hubungan sejenis alias homoseks. Karena itu, dalam pernyataan tersebut di atas, kita dapati sebuah pesan implisit yang mengajarkan kita untuk berhati-hati agar tidak mengikuti perbuatan kejinya kaum Nabi Luth as.

Pesan tersebut juga berarti bahwa memang akan ada sejumlah orang dari umat Rasulullah saw yang akan terjerumus dalam kemaksiatan yang sama sebagaimana kaum Nabi Luth as. Ini adalah suatu hal yang tak terhindarkan, dan sudah terbukti kenyataannya. Kita tidak bisa menghapusnya sebagai fakta sejarah, dan fenomena ini malahan masih terus berlangsung.

Penjelasan tentang tanda-tanda akhir jaman pun pada hakikatnya demikian pula. Dajjal, misalnya, adalah figur menakutkan yang akan menimbulkan kekacauan di masa-masa menjelang kiamat. Ada banyak interpretasi dan perdebatan seputar Dajjal, namun seluruh ulama sepakat bahwa ia akan menyebabkan terjadinya huru-hara, karena memang demikianlah ia digambarkan oleh Rasulullah saw. Akan tetapi, betapa pun kita tidak menyukai kehadirannya, kita pun mesti paham bahwa kedatangan Dajjal itu pun merupakan sesuatu hal yang tak terhindarkan. Kita tidak bisa mencegah kedatangannya, tidak pula mempercepat atau memperlambatnya, sebab Rasulullah saw sudah banyak bercerita tentangnya, dan apa yang dikatakan oleh beliau niscaya akan terjadi.

Sabda Rasulullah saw tentang tanda-tanda Dajjal bukan untuk meyakinkan umatnya (apalagi para sahabatnya) akan kebenaran Islam, melainkan untuk memahamkan umat Muslim hingga akhir jaman akan sosok Dajjal itu. Semua informasi itu haruslah kita pelajari secara mendalam, sehingga ketika saatnya tiba, yaitu ketika Dajjal akhirnya datang, kita tidak ikut termakan oleh fitnahnya.

Selain soal Dajjal, bagian lain dari tanda-tanda akhir jaman yang menjadi perhatian banyak orang adalah tentang kondisi negeri Syam, yang di masa kini meliputi Suriah, Yordania, Lebanon dan Palestina. Jika Palestina telah menderita sejak puluhan tahun silam, maka pembantaian di Suriah beberapa tahun terakhir telah membuka mata umat Muslim dan mengingatkan mereka bahwa ada sejumlah episode penting dalam rangkaian akhir jaman yang terjadi di negeri Syam. Oleh karena itu, mereka mengatakan bahwa apa yang terjadi di Suriah dan Palestina adalah sebuah kesatuan yang tak dapat dipahami secara parsial, dan tanda-tanda akhir jaman itu semakin terlihat jelas di kedua negeri ini. Perang di Syam, menurut mereka, adalah awal dari rangkaian perang akhir jaman. Pada akhirnya, umat Muslim akan menjadi pemenang, dan setelah itu barulah Hari Kiamat terjadi.

Di tengah-tengah bangkitnya semangat menjemput kemenangan Islam di akhir jaman, yang sudah pasti kita syukuri, juga terselip kesalahpahaman yang menghantui banyak orang. Betapa pun kita menangis karena bersedih melihat apa yang dialami oleh umat Muslim di Palestina dan Suriah, namun, jika kita meyakini bahwa semua yang terjadi ini memang mengantarkan kita ke akhir jaman yang telah pasti, maka sebenarnya kejayaan umat Muslim (termasuk juga pembebasan negeri Syam) adalah suatu hal yang juga tak terhindarkan, tak bisa dicegah, tak bisa pula dipercepat atau diperlambat.

Dengan menggunakan perspektif ini, dapatlah kita pahami bahwa kepedulian kita pada negeri Syam, kehadiran kita dalam kajian-kajian yang membahasnya, harta yang kita infaq-kan untuk saudara-saudara kita di sana, atau bahkan kehadiran kita secara langsung sebagai relawan, tidaklah akan mempercepat pembebasannya. Sebaliknya, ketidakhadiran kita pun takkan membatalkan taqdir Allah atas negeri Syam, atau dunia Islam dan umat Muslim secara umumnya. Pembebasan Syam dan kemenangan umat Muslim niscaya terjadi, dengan atau tanpa kita.

Persoalannya bukan mempercepat kemenangan, sebab semua itu ada ‘jadwalnya’. Bukan pula soal menyelamatkan Islam, karena Allah SWT-lah yang akan selalu menjaga eksistensinya hingga Hari Kiamat tiba. Hanya saja, setelah kita meyakini bahwa akhir jaman, huru-hara dan kemenangan umat di ujungnya itu niscaya akan terjadi, tinggallah kita mempertanyakan diri sendiri: saat segalanya terjadi, di manakah posisi kita? Akankah kita tetap berada di barisan umat ini, ataukah kita menjadi orang yang lari dari perjuangan, atau bersama orang-orang munafiq, ataukah (na’uudzubillaah) kita justru akan merengkuh kekafiran setelah mengecap keimanan?

Tidak sedikit orang yang menyangka bahwa kiat untuk selamat di akhir jaman adalah dengan berdiam diri dan ‘mencari aman’. Padahal, fitnah di akhir jaman akan sedemikian kencangnya, sehingga mereka yang hanya berdiam diri saja dapat dipastikan takkan selamat. Huru-hara yang telah diceritakan dalam banyak hadits Rasulullah saw telah menunjukkan betapa beratnya hidup dengan menanggung ‘beban keimanan’ di akhir jaman. Mereka yang tetap dalam keislaman bukanlah sembarang hamba Allah, sebab Rasulullah saw sendiri telah bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu jaman, ketika orang yang berpegang teguh pada agamanya itu seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi). Takkan semua orang mampu melakukannya. Mereka yang sanggup bertahan adalah hamba-hamba pilihan yang telah lulus dari sekian banyak ujian sebelumnya, bukan mereka yang hanya berdiam diri dan tak berbuat apa-apa. Selain itu, dalam hadits lain yang sangat dikenal luas, Rasulullah saw telah menggariskan bahwa sikap seorang Mu’min di hadapan kemunkaran adalah menolaknya dengan tangan dan lisan, atau dengan hati, sedangkan yang terakhir itu adalah cerminan dari iman yang paling lemah. Di tengah-tengah kekalutan akibat huru-hara akhir jaman, sanggupkah kita bertahan dengan iman yang paling lemah? Bukankah lebih rasional untuk berpendapat bahwa yang akan selamat pada masa-masa itu adalah mereka yang imannya kuat?

Akhir jaman niscaya akan datang, demikian pula huru-hara yang begitu menakutkan, dan begitu pula kemenangan Islam menjelang Hari Kiamat. Jika Anda telah beriman, semestinya Anda telah meyakini semua ini. Tak ada yang bisa mencegah ketetapan Allah SWT, tidak pula seluruh umat manusia meski mereka bersepakat sekalipun. Akan tetapi, tanyakanlah pada diri sendiri: saat kemenangan itu tiba, ketika ‘bangunan Islam’ telah berdiri tegak dan megah, adakah engkau rela jika tak ada sebongkah batu pun dalam bangunan itu yang kau letakkan dengan kedua belah tanganmu?

Kemenangan itu, duhai saudaraku, tak pernah menjadi hak mereka yang berpangku tangan.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment