Akmal Sjafril | Industri Hoax
771
post-template-default,single,single-post,postid-771,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-12.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.2,vc_responsive

Industri Hoax

Industri Hoax

Buku Islamophobia ini dapat dipesan ke Malami Bookstore melalui SMS/WA ke 0812-3457-6852.

assalaamu’alaikum wr. wb.

Saksikan, Syi’ah & Liberal akan ditelanjangi di TVOne!” Awal pesan broadcast yang sudah cukup bombastis itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kelanjutannya. “Ummat Islam di seluruh penjuru dunia, baik dunia nyata maupun dunia ghaib, penduduk langit maupun penduduk bumi, saksikanlah…

Perlu dicatat, sampai detik ini, belum ada klarifikasi dari TVOne apakah memang siarannya bisa dinikmati di seluruh penjuru dunia, di langit dan alam gaib. Barangkali, informasi itu akan disampaikan pada pesan broadcast berikutnya. Barangkali.

Tanpa disengaja, mata saya tertuju pada tanggal yang tertera pada pesan tersebut ketika ia muncul di layar ponsel saya pertama kali. Saya bilang tak sengaja, karena hampir semua pesan broadcast saya abaikan, terutama yang panjang, dan yang diakhiri dengan bujuk rayu (“jangan biarkan berhenti di HP Anda”, “viralkan!”, “hanya butuh semenit untuk menyebarkan pesan ini”; sounds familiar?). Tapi kali ini, entah kenapa, saya membacanya sampai habis, dan saya ingat tanggalnya; tanggal tayang acara yang konon akan disiarkan di TVOne tersebut, yaitu 12 Juli 2015. Kenapa tanggal ini segera saya ingat? Ya, karena ini 2017! Dari satu poin itu saja, kita sudah bisa memasukkannya ke dalam kategori hoax alias berita bohong. Kalau lebih update berita lagi, tentu kita akan tahu bahwa Dr. Daud Rasyid, yang diceritakan akan hadir dalam acara tersebut, kini masih mengalami masalah dan ditahan oleh pihak berwajib di AS karena masalah administratif.

Tidak ada yang menarik lagi dari hoax, saking banyaknya. Tapi beberapa jam kemudian, pesan broadcast yang sama muncul lagi di grup Whatsapp lain yang saya ikuti. Well, nyaris sama. Ada perbedaan yang sangat kecil, yang entah kenapa, lagi-lagi tertangkap radar penglihatan saya yang begitu alergi dengan pesan broadcast. Kali ini, tanggal yang tertera adalah 12 Juli 2017.

Back To The Future? Bukan, dari tadi juga masih 2017, kok!

Begitu cepatnya perubahan di negeri ini, sehingga 2015 pun bisa digeser ke 2017. Jangan bilang waktu semakin singkat lantaran kiamat sudah dekat, karena ini masalah hoax, bukan akhir jaman (walaupun memang iya kiamat semakin dekat, tidak semakin jauh). Peristiwa yang membuat dahi saya berkerut-kerut selama beberapa menit ini pun mengantarkan saya pada sebuah kesimpulan bahwa (setidaknya sebagian dari) hoax yang beredar memang diproduksi secara profesional. Ini sudah bukan buah keisengan dari pemuda alay kurang kerjaan yang sedang galau dikejar masa lalu, melainkan memang secara sistematis diciptakan. Untuk apa? Wallaahu a’laam. Mungkin untuk membuat umat akhir jaman ini kebingungan saja.

Kita memang hidup di jaman ketika mencari informasi menjadi suatu hal yang teramat mudah, semudah anak SD melakukan pencarian dengan sebuah kata kunci di Google. Masalahnya, sekritis apa anak SD? Apa siswa SD sudah dilengkapi dengan keterampilan untuk memilah mana berita benar dan mana hoax? Apa boleh buat, kita pun perlu lagi bertanya, apakah orang-orang dewasa di negeri ini sudah mampu kritis, atau kita ini tidak jauh beda dengan anak-anak SD?

Ketika milis menjamur, beredar info tanggal sekian kita akan memiliki ‘dua bulan’, karena Mars akan bertambah dekat sedemikian rupa sehingga terlihat sebesar bulan. Di eranya BlackBerry Messengger, muncul info bahwa di Tol Cipularang ada tikungan berbahaya setajam delapan puluh derajat (!!!). Dan sampai jelang Ramadhan kemarin, masih ramai dibicarakan orang tentang pahala bagi yang menyampaikan kabar gembira akan datangnya Ramadhan, yaitu tebusan dari api neraka. Sampai tahun lalu, menurut pantauan saya, pesan yang terakhir ini improvisasinya sudah meluas hingga ke bulan Sya’ban, Rajab, atau Safar. Fantastis!

Jika Anda menganggap ini semua hanya lucu-lucuan, atau bahwa kezaliman yang terjadi maksimal hanya membuat orang menghabiskan waktu untuk cek dan ricek kebenaran berita yang diterimanya, maka belajarlah dari Amerika Serikat. Dalam bukunya, The Islamophobia Industry: How the Right Manufactures Fear of Muslims, Nathan Lean menunjukkan bahwa Islamofobia di AS (dan juga di dunia) ternyata dapat direkayasa melalui berita bohong. Yang lebih mengerikan lagi, ini semua sudah menjadi industri rumah tangga, alias dilakukan di depan layar komputer, laptop atau gadget di kamar setiap orang.

Dalam bukunya yang telah diterbitkan di Indonesia dengan judul Islamophobia itu, Lean secara panjang lebar menceritakan bagaimana kemarahan masyarakat AS bisa dipicu hanya dengan sebuah gosip yang berjudul ‘Ground Zero Mosque’. Kenyataannya, paska Peristiwa 9/11, masyarakat AS belum sepakat untuk membenci Islam. Mereka yang meyakini bahwa teroris yang meluluh-lantakkan WTC itu adalah Muslim pun umumnya masih bersikeras bahwa tidak semua Muslim itu teroris. Bagaimana pun, sebuah inisiatif rekonsiliasi muncul dari komunitas Muslim yang mengajukan usulan proyek Park51, sebuah proyek pembangunan pusat komunitas Muslim di New York, dua blok dari bekas lokasi berdirinya menara kembar WTC.

Park51 menggunakan sebuah bangunan tua yang disulap menjadi pusat komunitas 13 lantai yang memiliki sebuah auditorium berkapasitas 500 buah tempat duduk, bioskop, kolam renang, fasilitas olah raga, rumah makan, tempat bemain anak dan, tentu saja, sebuah masjid (pusat komunitas Muslim mana sih yang tak punya tempat shalat?). Masjid adalah bagian dari pusat komunitas itu, dan ruang yang diambilnya tentu saja hanya sebagian kecilnya saja. Akan tetapi, Pamela Geller, seorang blogger pembenci Islam kelas kakap di AS, tiba-tiba saja menebarkan ketakutan setelah pembangunan Park51 berjalan beberapa bulan lamanya. Geller menyebutnya sebagai ‘masjid monster’, kemudian berubah menjadi ‘Ground Zero Mosque’, dan berulang kali menekankan bahwa Peristiwa 9/11 adalah serangan Islam terhadap AS; Islam, bukan teroris Muslim! Sudah melakukan aksi terorisme yang mengakibatkan jatuhnya korban ribuan nyawa, sekarang malah hendak mendirikan masjid yang relatif dekat jaraknya dari lokasi kejadian. Berita ini bagaikan tetesan cuka di atas luka bagi masyarakat New York, dan juga AS secara keseluruhan, yang begitu terpengaruh oleh hasutan Geller.

Tapi Geller tidak bekerja sendiri, dan ia bukan bekerja semata untuk ideologi. Nathan Lean menjelaskan secara sistematis bagaimana Geller dan sejumlah tokoh lainnya yang membangun Islamofobia secara masif di AS mengeruk banyak keuntungan dari provokasi-provokasinya. Dana yang mereka terima dari kampanye-kampanye kebencian terhadap Islam itu sudah sangat lebih dari cukup untuk menghidupi diri sendiri.

Oh ya, sudah tahu ‘kan bahwa WTC sebenarnya runtuh bukan karena ditabrak pesawat yang dibajak oleh teroris? Ah, tapi itu bahasan yang lain!

Hoax memang berbagai macam skalanya, berdasarkan akibat yang ditimbulkannya. Ada yang bikin ketawa, ada yang bikin pusing, ada yang bikin cemas, tapi ada juga yang menyalakan api permusuhan di tengah-tengah masyarakat, atau membuat orang semakin pusing dan apatis dengan berita yang beredar saking bingungnya. Yang pasti, ada yang mengambil keuntungan dari semua kekacauan ini.

Mungkin memang inilah tantangan terbesar kita. Dahulu, saat Rasulullah saw masih ada, kapan saja ada masalah, tinggal bertanya kepada beliau. Setelah beliau memberi fatwa, apalagi kalau sampai turun ayat karenanya, maka case closed. Sekarang, beginilah dunia yang kita hadapi. Jangan khawatir, karena Allah Maha Adil.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment