Akmal Sjafril | Islam dan Nasionalisme
1233
post-template-default,single,single-post,postid-1233,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-13.4,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Islam dan Nasionalisme

Islam dan Nasionalisme

photo6314417844808427581assalaamu’alaikum wr. wb.

Masih ada yang menganggap bahwa Islam dan nasionalisme tak dapat bersatu. Menurut saya, bukan konsep nasionalisme itu yang asing bagi umat Muslim, melainkan sikap mempertanyakan nasionalisme itulah yang terlalu janggal. Memangnya, masih ada yang perlu dibuktikan?

Sejak Republik Indonesia berdiri, mayoritas rakyat Indonesia telah memeluk agama Islam. Mereka telah berjuang untuk bangsa ini dengan darah dan hartanya, membina keturunan dan hidup bermasyarakat sejak puluhan tahun, bahkan ratusan tahun yang lalu. Benar, umat Muslim tidak hidup sendiri. Tapi untuk menempatkan Islam pada posisi yang sama dengan kelompok animisme, dinamisme, politeisme, apalagi ateisme, adalah sikap orang yang tak peduli akan sejarah.

Di bulan Agustus 2018 ini, saya memutuskan untuk banyak membahas seputar kontribusi Islam dan umat Muslim bagi Indonesia. Selain kajian yang digelar di berbagai tempat, saya juga telah menulis hal yang berkaitan dengan masalah ini beberapa waktu yang lalu, ada juga yang dimuat di Majalah Suara Hidayatullah, Surat Kabar Republika, dan juga telah saya sampaikan dalam sebuah diskusi on-air bersama Radio Dakta FM.

Mudah-mudahan, semua bahan ini dapat bermanfaat, dan umat Muslim tak perlu bersikap (atau disikapi) sebagai warga kelas dua di negeri ini.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment