Lima Problem Bagi Pembela Iblis
1759
post-template-default,single,single-post,postid-1759,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-1.0.5,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.6,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-6.2.0,vc_responsive

Lima Problem Bagi Pembela Iblis

Lima Problem Bagi Pembela Iblis

assalaamu’alaikum wr. wb.

20191005_034823Dari masa ke masa memang ada saja orang-orang yang memilih bersikap ‘asal beda’. Memang ada banyak cara untuk terkenal, dan hal-hal konyol termasuk di antaranya. Musailamah al-kadzdzab, si pendusta yang mendakwakan dirinya sebagai nabi dengan berbekal surat al-fiil versinya sendiri (yang sungguh-sungguh bercerita tentang gajah), pada akhirnya memang terabadikan dalam lembaran sejarah, meski hanya sebagai bahan tertawaan saja.

Upaya-upaya curang untuk mendapatkan perhatian sejarah semacam ini biasanya tumbuh dari kepercayaan diri yang sangat rendah atau haus akan perhatian yang tak pernah didapatkan sebelumnya. Orang-orang yang memiliki prestasi sungguhan, tentu saja, tidak perlu menonjol-nonjolkan diri, karena semua orang dapat dengan mudah menyaksikan keunggulannya. “Biarkan kebolehanmu berbicara lebih lantang daripada mulutmu,” kurang lebih begitulah motto mereka.

Memang aneh tapi nyata, dari sebuah perguruan tinggi yang namanya begitu besar di seantero Dunia Islam, muncullah segelintir mahasiswa yang masih dilanda haus sensasi. Dari tangan mereka, saya menemukan sebuah tulisan yang mengangkat kembali pemikiran yang sebenarnya sama sekali tidak baru bagi pemerhati aliran sesat, yakni pemikiran yang berupaya sedapatnya melakukan pembelaan terhadap Iblis. 

Ya, membela Iblis! Silakan berhenti sejenak di titik ini.

Untuk membela Iblis, rupa-rupanya memang tidak dibutuhkan metode ilmiah sedikitpun. Yang dibutuhkan adalah sebuah kemampuan untuk bernarasi secara bombastis dan imajinasi yang terus melanglang buana. Hasilnya? Tentu saja fiksi!

Dengan menggunakan pakem tragedi dalam drama Yunani kuno, mulailah ia bercerita. Konon, selama entah berapa lama, Iblis adalah makhluk Allah SWT yang paling shalih. Akan tetapi, semuanya berakhir dengan kedatangan manusia pertama, yaitu Nabi Adam as. Kononnya lagi, kehadirannya merusak tradisi yang telah berlangsung sekian lama di Surga, yaitu tradisi untuk hanya menyembah Allah SWT. Gara-gara Bapaknya seluruh manusia itu, Iblis berhadapan dengan sebuah dilema; bersujud kepada Nabi Adam as dengan risiko merelakan tauhid, atau menolak bersujud dengan risiko mendapatkan murka Allah SWT? Iblis, sebagaimana kita ketahui bersama, mengambil jalan yang kedua. Jadilah Iblis sebagai makhluk yang paling terkutuk.

Kisah-kisah semacam ini memang umum dijumpai dalam mitologi Yunani, dan nampaknya sang ‘mufassir posmo’ ini ingin lebih Yunani ketimbang orang Yunani. Meski demikian, baiklah kita uraikan sedikitnya lima hal yang membuat penelaahannya tersebut menjadi sangat problematis sehingga sulit diterima akal sehat.

 

Bukan karena Tauhid

Bersusah payah menggambarkan Iblis secara heroik sebagai pembela tauhid sebenarnya percuma belaka. Pasalnya, hal itu dengan mudah terbantahkan dari kata-kata Iblis itu sendiri, sebagaimana yang diabadikan di dalam Al-Qur’an (tentu dengan asumsi kita semua masih beriman kepada Al-Qur’an). Ketika Allah SWT mempertanyakan alasan di balik penolakan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam as, Iblis tidak menjawab, “Ya Allah, sujudku hanya kupersembahkan untuk-Mu saja! Tak sudi aku menyembah selain-Mu!” Jika itu yang dikatakan, maka jelaslah bahwa akar permasalahannya adalah salah paham saja. Kalau memang demikian, maka mudah saja bagi Allah SWT untuk mengoreksi pandangan Iblis, yaitu dengan menjelaskan bahwa sujud yang diperintahkan ini bukan dalam konteks penyembahan, melainkan penghormatan. Masalahnya beres, kemudian semuanya hidup bahagia untuk selamanya.

Kenyataannya, Iblis sendiri tidak pernah menjadikan tauhid sebagai pembenaran. Di hadapan Allah SWT, Iblis mengatakan bahwa dirinya merasa tak perlu bersujud kepada Nabi Adam as karena ia merasa lebih baik darinya; Iblis diciptakan dari api, sedangkan manusia dari tanah (lihat QS. 7: 12). Di tempat lain, Al-Qur’an-lah yang membongkar motif sejati di balik penolakan Iblis, yaitu karena ia enggan untuk mentaati Allah SWT dan merasa lebih hebat atau takabbur, bahkan kemudian ia dicap kafir (lihat QS. 2: 34).

 

Malaikat adalah Malaikat

Masalah berikutnya adalah menyangkut status Malaikat. Tentu sudah diketahui umum bahwa Malaikat adalah makhluk-makhluk Allah SWT yang taat dan tak pernah menyelisihi-Nya. Apapun yang Allah SWT perintahkan niscaya akan dilakukannya. Dengan demikian, mereka dianggap sebagai makhluk yang beriman. 

Sebenarnya, pada titik ini pun kita sudah dapat menghukumi Iblis sebagai pembangkang, lantaran tidak mentaati perintah Allah SWT sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para Malaikat. Kalaupun logika pembelaan terhadap Iblis tadi masih mau dipaksakan juga, dan Iblis hendak diakui sebagai makhluk yang paling baik ‘aqidah-nya dengan menolak bersujud, maka para Malaikat itulah yang kini harus divonis sebagai pihak yang tersesat. Tentu saja menempuh jalan ini sangat besar sekali kesulitannya, sebab konsekuensinya besar sekali. Penyampaian wahyu kepada para Nabi dan Rasul biasanya melalui Malaikat Jibril. Jika Malaikat itu sesat, apakah bisa dijamin bahwa wahyu yang disampaikannya itu tidak sesat? Kemudian, setelah wahyunya dianggap sesat, kita pun dengan terpaksa harus meragukan sang penerima wahyu, yaitu para Nabi dan Rasul itu sendiri.

Sebagai ujian terakhir, bolehlah kita bertanya agak nakal pula: tanpa wahyu, tanpa Kitab-kitab Suci dari Allah SWT, tanpa para Nabi dan Rasul-Nya, bagaimana kita akan mengenal Iblis? Barangkali, para pembela Iblis lebih suka merujuk kepada para filsuf Yunani, karena mereka lebih mahir mengarang tragedi. Wallaahu a’lam bish-shawaab.

 

Tidak Ada Revisi

Jika kita membaca retorika Allah SWT dalam QS. 7: 12 dengan teliti (“Apa yang menghalangimu bersujud ketika Aku memerintahkanmu?”), kita akan melihat bahwa pada pertanyaan itu Allah SWT memperjelas setidaknya tiga hal. Pertama, yang diperintahkan adalah untuk bersujud. Kedua, yang diberi perintah adalah Iblis. Dan yang ketiga, pemberi perintahnya adalah Allah SWT sendiri. Kalau kita hendak mengatakan bahwa Iblis menghadapi dilema antara memelihara tauhid dengan perintah sujud, maka itu sama saja kita mengatakan bahwa Allah SWT telah bersikap kontradiktif.

Pada kenyataannya, perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam as tidak pernah mengalami revisi (Maha Suci Allah SWT dari persangkaan mereka). Memang tidak ada keperluan untuk revisi, sebab Iblis tidak mampu memberikan alasan yang bagus. Karena sejak awal masalahnya adalah kesombongan, maka tidak ada kesalahan pada perintah Allah SWT, melainkan pada sikap takabbur itu. Pada QS. 7: 13, Allah SWT malah menegaskan kembali bahwa apa yang diperlihatkan oleh Iblis adalah sikap takabbur; suatu sikap yang tidak pantas untuk diperlihatkannya di seluruh alam ciptaan Allah SWT, apalagi di Surga.

Mungkin sang pembela Iblis menyangka bahwa Allah SWT langsung memberi cap terkutuk kepada Iblis sesaat setelah ia menolak perintah-Nya. Akan tetapi, jika kita membaca dialog-dialog yang panjang di antara Allah SWT dan Iblis, misalnya di Surat Al-A’raaf atau di Surat Al-Hijr, kita akan mengetahui bahwa Allah SWT telah memberi Iblis kesempatan yang cukup panjang untuk menjelaskan atau — lebih baik lagi — mengubah sikapnya. Akan tetapi, Iblis pun tak pernah merevisi sikapnya. Kalau benar ia menjunjung tinggi tauhid, maka di tengah-tengah dialog tersebut, semestinya ia bisa menyadari bahwa ia telah melakukan sebuah kesalahan besar, sebab Allah SWT tidak mengubah pendirian. Di puncak pembangkangannya, Iblis bahkan terus terang menyebut dirinya sendiri sebagai pihak yang tersesat dan bahwa jalan Allah SWT itulah yang lurus (lihat QS. 7: 16). Pada titik ini pun wajar bila kita bertanya-tanya: mengapa para pembela Iblis bersikap ‘lebih gigih’ ketimbang Iblis itu sendiri?

 

Permusuhan Itu Diperintahkan

Perjuangan membela Iblis niscaya akan percuma saja, sebab Al-Qur’an justru memerintahkan manusia untuk memusuhinya, sebagaimana yang dinyatakan dalam QS. 35: 6. Sekiranya ayat itupun masih dipandang ‘belum jelas’ (karena yang disebut adalah syaithan, bukan Iblis), maka QS. 7: 27 memerintahkan manusia untuk tidak tertipu oleh tipuan Iblis — yang juga disebut sebagai syaithan — dengan menjadikan pengalaman Nabi Adam as sebagai pelajaran.

 

Sesatnya Mayoritas?

Membawa sebuah pemikiran yang sepenuhnya baru ke dalam khazanah pemikiran Islam yang telah mapan tentu tidak mudah. Sudah empat belas abad lamanya Al-Qur’an dan As-Sunnah didiskusikan, namun tak ada ulama yang menyimpulkan bahwa Iblis itu tidak bersalah, bahkan tauhid-nya paling murni. Ini sama saja seperti seorang mahasiswa Fisika yang tiba-tiba mengatakan bahwa gravitasi itu tidak ada, dan semua ilmuwan yang mengatakan sebaliknya itu salah!

Memang perbedaan pendapat seringkali muncul dan diskusi itu perlu dibudayakan, namun tidak semua hal perlu ditinjau ulang kembali. Sebagai Muslim, misalnya, harus memiliki keyakinan yang final terhadap enam hal yang disebutkan dalam Rukun Iman. Kalau meragukan Allah SWT, meremehkan para Malaikat, mengabaikan Kitabullaah, tidak mempedulikan para Nabi dan Rasul-Nya, tidak percaya taqdir dan Hari Akhir, maka wajarlah jika muncul pemikiran-pemikiran liar yang berpotensi membongkar ajaran Islam dari fondasi terdalamnya. Hasilnya adalah pemikiran baru yang boleh diberi nama apa saja, asalkan bukan Islam.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.