Akmal Sjafril | Maulid Semestinya Mempersatukan Kita
999
post-template-default,single,single-post,postid-999,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-12.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.2,vc_responsive

Maulid Semestinya Mempersatukan Kita

Maulid Semestinya Mempersatukan Kita

assalaamu’alaikum wr. wb.

Meski selalu mendapat bimbingan langsung dari Allah SWT, bukan berarti dakwah Rasulullah saw tidak menemukan kesulitan, tantangan dan bahaya. Beliau menggantungkan dirinya pada Allah, namun tetap melakukan ikhtiar semampunya, karena ikhtiar itu pun merupakan bagian dari perintah Allah.

Pada awalnya, beliau memproyeksikan Kota Thaif sebagai lokasi hijrah. Setelah terus-menerus menerima gangguan di Mekkah, apalagi setelah wafatnya Abu Thalib, beliau berusaha mencari basis dakwah yang baru. Pilihan jatuh pada Thaif; kota perbuktian yang subur dan didominasi oleh Bani Tsaqif, sebuah kabilah yang kekuatannya nyaris setara dengan Quraisy di Mekkah. Qadarullaah, apa yang diusahakan tidak membuahkan hasil sesuai harapan. Thaif menolak Rasulullah saw.

Kembali ke Mekkah, Rasulullah saw terus berusaha mendakwahi manusia, termasuk mendatangi setiap tenda kabilah yang hadir di Tanah Suci pada musim haji. Pada tahun kesebelas kenabian, setelah mendatangi sekian banyak kabilah bersama Abu Bakar ra, akhirnya seruan beliau mendapatkan sambutan dari Bani Khazraj dari Kota Yatsrib. Enam pemuda Bani Khazraj ini kemudian mengucap syahadatain dan resmi memeluk Islam, kemudian berjanji untuk datang kembali setahun kemudian untuk menemui Rasulullah saw di tempat yang sama.

Setahun berikutnya, datanglah serombongan orang dari Yatsrib berjumlah dua belas orang. Lima dari enam orang yang setahun lalu memeluk Islam kembali hadir, ditambah tujuh orang baru, sehingga jumlahnya menjadi dua belas orang. Menariknya, di antara tujuh orang yang baru itu, dua di antaranya berasal dari Kabilah Bani Aus. Padahal, kedua kabilah ini (Bani Khazraj dan Bani Aus) adalah musuh besar yang selama bertahun-tahun terlibat konflik dalam Perang Bu’ats yang telah menelan banyak korban, termasuk para pemimpin dari masing-masing kabilah. Di ‘Aqabah, kedua belas orang ini berbai’at kepada Rasulullah saw, kemudian beliau mengutus Mush’ab bin ‘Umair ra sebagai muqri’ (secara harfiah: orang yang membacakan Al-Qur’an) untuk Kota Yatsrib.

Kita tidak pernah tahu pasti sebanyak apa ilmu yang diserap oleh keenam orang dari Bani Khazraj pada kedatangannya yang pertama. Ada dialog cukup panjang yang terekam dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah, namun bisa jadi masih banyak dialog yang tidak terkisahkan. Yang pasti, keenam orang ini bisa dikatakan cukup sukses karena dalam waktu setahun bisa menggandakan jumlahnya, bahkan termasuk juga mengajak ‘musuh bebuyutannya’, yaitu dua orang dari Bani Aus. Ketika Islam datang, bahkan sebelum kedatangan Mush’ab ra, apalagi Rasulullah saw, ternyata perdamaian bisa tercipta di Kota Yatsrib.

Demikianlah Islam mengeluarkan manusia dari kejahilan. Sebelum kedatangan Rasulullah saw, masing-masing kabilah di Arab hanya mementingkan kelompoknya masing-masing. Jika kehormatan kabilah sudah tercoreng, perang bisa berkobar, dan darah bisa dipastikan tertumpah. Benar atau salah, kabilah adalah segalanya. Karena itu, semua terkejut ketika Rasulullah saw mendakwahi putra-putra terbaik dari setiap kabilah (sebagai rujukan, silakan melihat daftar para sahabat yang pertama memeluk Islam dari berbagai kabilah di buku Manhaj Haraki karya Syaikh Munir Muhammad al-Ghadhban). Sebelumnya tak pernah ada pergerakan yang meliputi semua kabilah.

Sementara itu, Quraisy, sebagai kabilah terkuat dan yang paling merasa bertanggung jawab untuk melibas gerakan dakwah Rasulullah saw (karena beliau berasal dari Kabilah Quraisy), justru terperangkap dalam egonya sendiri, sehingga selama bertahun-tahun lamanya berusaha mengalahkan Rasulullah saw dengan tenaganya sendiri. Sikap ini baru berubah di Perang Ahzab, ketika Quraisy secara terbuka meminta pertolongan dari kabilah-kabilah lain untuk memerangi Madinah. Akan tetapi, saat itu, semuanya telah terlambat. Umat Muslim sudah terlalu kuat. Setelah Perang Ahzab, pertempuran tak lagi terjadi di Madinah, melainkan terus mendekati Kota Mekkah. Umat Muslim pada saat itu tidak lagi menjadi pihak yang diserang, melainkan sudah menjadi pihak yang mampu menekan lawannya.

Islam hadir di tengah-tengah masyarakat yang telah ratusan tahun tenggelam dalam ashabiyah (fanatisme golongan), dan kemudian menghapus ashabiyah itu dari hati manusia. Fanatisme pada kabilah berganti dengan kesetiaan pada kebenaran, sehingga tak ada lagi darah yang tertumpah sia-sia hanya karena mempertahankan gengsi kelompok. Di Indonesia, kita pun banyak menyaksikan kejadian serupa. Jika kita menganggap peristiwa Kongres Pemuda 1928 sebagai tonggak sejarah yang melahirkan pandangan kebangsaan (bukan lagi kedaerahan), maka janganlah lupa bahwa kelompok-kelompok yang hadir pada saat itu hampir semuanya masih membawa nama kedaerahan (Jong Java, Jong Soematranen Bond, Jong Celebes, dll), namun ada juga yang seperti Jong Islamieten Bond (JIB), yang membawa panji Islam, tanpa membeda-bedakan suku dan kedaerahan lagi. JIB justru lahir dari keresahan seorang anggota Jong Java yang kemudian berkonsultasi dengan Haji Agus Salim. Di hadapan Islam, tak perlu ada gengsi di antara orang Jawa dan orang Minang, dan juga dengan suku bangsa lainnya. Ada tempat untuk semua, di bawah panji Islam.

Islam hadir untuk mempersatukan manusia. Allah SWT menjelaskan realita ini pada QS. Al-Hujurat [49]: 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.” Kita semua memiliki nenek moyang yang sama, namun kemudian umat manusia berpencar ke seluruh penjuru muka bumi, dan kemudian membentuk berbagai bangsa dan suku. Kini, kita diperintahkan bukan untuk saling bersaing, apalagi saling memerangi, melainkan untuk saling berkenalan. Kita bisa belajar memiliki dedikasi yang tinggi seperti orang Jepang, gigih dalam berdagang seperti orang Cina, hidup harmonis bersama alam seperti orang Afrika, tangguh menghadapi kerasnya hidup seperti orang Eskimo, berlayar seperti orang Bugis, atau belajar caranya merantau ke berbagai negeri dan selalu rukun dengan pribumi seperti orang Minang. Kita bisa banyak belajar dari orang lain, asal saja kita mau melepaskan ashabiyah dari hati kita dan menggantinya dengan Islam.

Betapa menyedihkan kiranya jika di negeri yang kita cintai ini, di tanah tumpah darah kita, Rasulullah saw justru menjadi obyek perdebatan tajam di kalangan umat Muslim, bahkan kemudian menumbuhkan kebencian di dalam hati mereka. Ada yang begitu berlebihan menolak tradisi Maulid, ditingkahi pula dengan sikap berlebihan dalam mempraktikkan Maulid. Yang menolak Maulid bersikap seolah-olah mereka yang merayakan Maulid itu sudah tidak lagi mengikuti Rasulullah saw, bahkan sudah rusak ‘aqidah-nya, dan tenggelam bersama para ahlu bid’ah seperti Khawarij, Mu’tazilah, Murji’ah dan sebagainya. Di sisi lain, ada yang terlalu sensitif dalam masalah Maulid ini sehingga menganggap orang yang tak hadir dalam perayaan Maulid itu adalah orang yang ekstrem, radikal, dan merusak keutuhan bangsa.

Setiap jaman memang memiliki tantangan yang berbeda. Di masa kepemimpinan Abu Bakar ra, hampir tak ada yang bertanya tentang cara shalatnya Rasulullah saw. Sebab, masa Abu Bakar ra sangat berdekatan dengan Rasulullah saw, sehingga orang yang hadir pada masa itu kebanyakannya juga pernah shalat di belakang Rasulullah saw. Para sahabat pun masih banyak, sehingga orang bisa meniru cara shalat mereka. Akan tetapi, di masa-masa selanjutnya, para sahabat seperti Abu Hurairah ra perlu meriwayatkan banyak hal dari kehidupan Rasulullah saw, sebab pada masa itu telah lahir sebuah generasi yang belum pernah berjumpa dengan Rasulullah saw, dan para sahabat pun sudah semakin sedikit jumlahnya.

Jauh sepeninggal Rasulullah saw, Maulid adalah sebuah opsi yang sangat masuk akal untuk membangkitkan kecintaan umat Muslim kepada Nabi dan agamanya. Esensinya bukan perayaan, karena Islam tidak mengenal Hari Raya kecuali ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha’. Lagipula, tanggal pasti kelahiran Rasulullah saw sebenarnya masih diperdebatkan juga. Di Indonesia, umumnya meyakini kelahiran beliau pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Akan tetapi, pada praktiknya di lapangan, Maulid seringkali diadakan pada tanggal-tanggal lain di bulan Rabi’ul Awwal, bahkan tidak jarang juga di bulan lain. Hal itu terjadi karena memang esensinya bukan perayaan, apalagi hura-hura, melainkan mengenang Rasulullah saw.

Karena itu, setuju atau tidaknya kita pada tradisi Maulid, hadir atau tidaknya kita pada acara Maulid, hendaknya tidak membuat kita mudah menuduh yang bukan-bukan kepada sesama Muslim. Yang menghadiri Maulid melakukannya karena cinta, dan yang tidak hadir pun mencintai beliau dengan caranya yang lain. Yang menghadiri Maulid janganlah dituduh ‘hanya mengenang Rasulullah saw pada satu hari’, dan yang tidak hadir tak usah membesarkan diri, sebab pada dasarnya setiap Muslim mengenang Rasulullah saw setiap hari, bahkan mereka lebih sering menyebut nama beliau ketimbang nama-nama mereka sendiri.

Islam mampu mendamaikan Bani Khazraj dan Bani Aus, meskipun Rasulullah saw baru hadir ke Yatsrib dua tahun sesudahnya. Islam telah melenyapkan visi kedaerahan dalam Kongres Pemuda, meski Republik Indonesia itu baru diproklamasikan tujuh belas tahun kemudian. Semestinya, Islam adalah alasan yang cukup untuk mempersatukan hati kita di jaman ini.

Janganlah lupa bahwa peringatan Allah “…dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim” dilanjutkan di ayat berikutnya dengan ungkapan “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (lihat QS. Ali ‘Imran [3]: 102-103). Bagaimana kita bisa yakin akan mati dalam keadaan Muslim, jika kita bercerai-berai dengan saudara-saudara seiman kita? Jika orang-orang terdekat kita adalah orang-orang kafir, munafiq, fasiq, zhalim, zindiq dan sebagainya, dan malah sibuk berdebat dan bertengkar dengan sesama mukmin, apa kita yakin akan tetap mati sebagai seorang Muslim? Selain itu, dengan memperhatikan hubungan antara “tali (agama) Allah” dan “bercerai-berai”, kita patut pula bertanya: bagaimana kita akan menghindar dari perpecahan jika kita tidak berpegangan pada agama Allah? Di dunia ini, ada begitu banyak alasan untuk bersatu, mulai dari solidaritas kedaerahan, kesukuan, ras, bahkan hingga hobi dan klub sepakbola favorit. Akan tetapi, pada akhirnya, hanya agama Allah-lah yang dapat mempersatukan manusia dengan sebenarnya.

Jika kini kita berpecah-belah karena Maulid Rasulullah saw, bagaimanakah kelak kita akan bertatap wajah dengan beliau di akhirat? Jika Islam tak mampu melembutkan hatimu, lantas apa lagi yang bisa?

wassalaamu’alaikum wr. wb.

 

No Comments

Post A Comment