Akmal Sjafril | Merdeka!
820
post-template-default,single,single-post,postid-820,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-12.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.2,vc_responsive

Merdeka!

Merdeka!

20901481_1415967025156132_1929008638160299699_oassalaamu’alaikum wr. wb.

Tujuh puluh dua tahun sudah Indonesia merdeka, namun masih banyak yang menganggap bahwa sebenarnya kemerdekaan itu belum digapai sepenuhnya. Faktanya, negeri ini masih terbelenggu dengan banyak hal, mulai dari hutang luar negeri sampai korupsi, yang menyebabkan rakyatnya seringkali krisis percaya diri. Bangsa ini masih dikuasai asing, baik modalnya, asetnya, dan yang lebih fatal lagi, pemikirannya.

Inilah negeri yang KUHP-nya warisan Belanda, gaya hidupnya meniru Barat, produknya didominasi Cina, anak-anaknya dimabuk budaya populer Korea Selatan, sedangkan salah seorang pejabatnya malah berharap bangsa ini meniru Korea Utara. Indonesia kini bagaikan jasad yang mengingkari sejarah dan jiwanya sendiri, sehingga kini ia tak lagi mengenali dirinya sendiri.

Para pendahulu bangsa ini telah menuliskan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai landasan berpijak bangsa ini, namun setelah itu bangsa ini kehilangan arah. Ada masa-masanya kaum yang tak beragama menguasai negara, ada masa-masanya ketika agama disuruh tunduk dan dikebiri, ada pula saatnya manusia berceramah kesana-kemari untuk meyakinkan orang bahwa semua agama itu benar dan merasa benar itu salah.

Dahulu, bangsa ini merdeka semata karena rahmat Allah, setelah melalui perjuangan panjang para mujahid, di atas genangan darah para syuhada, dikomandoi oleh para ulama yang menjaga api perlawanan tetap hidup dengan nasihat-nasihatnya yang tak takut mati, dari langgar ke langgar. Dengan semangat pengorbanan dan menjemput surga-Nya, Pangeran Diponegoro rela meninggalkan kenyamanan keraton dan memimpin perlawanan dari belantara. Orang-orang pergi berhaji dan pulang dengan membawa semangat jihad. Setiap orang berkorban dengan caranya sendiri-sendiri, hingga akhirnya tunai sudah harga yang harus dibayarkan untuk sebuah kemerdekaan. 

Kini, orang sudah merasa asing dengan rahmat Allah, meski rahmat itu masih terus dicurahkan. Agama dianaktirikan dalam pendidikan, dipinggirkan di ruang publik, dipandang sinis dalam dunia politik, ditertawakan di panggung hiburan, bahkan dicaci maki di media sosial. Siapa saja tak boleh dihina, kecuali agama. Siapa saja berhak dibela, kecuali agama.

Ketika agama dinista, banyak yang terbelalak keheranan. Anehnya, mereka keheranan bukan karena menyaksikan penistaan itu, melainkan keheranan mengapa orang marah ketika agamanya dinista. Sudah bertahun-tahun lamanya para akademisi di negeri ini bersilat-filsafat dan mendoktrin para mahasiswanya untuk membenci agama, atau minimal tidak mencintainya. Yang taat berarti tidak kritis, yang beriman berarti tak berpikir. Mungkin mereka tak pernah bertanya kepada para pejuang yang memerdekakan negeri ini dahulu; apakah mereka taat dan beriman, atau kritis dan berpikir?

Sudah lama para politisi negeri ini berusaha menanamkan logika bahwa toleransi itu harus diwujudkan dalam partisipasi. Kalau belum merayakan hari raya agama lain, tandanya belum toleran. Pemuka agama yang hebat itu adalah yang berani khutbah di rumah ibadah agama lain, dan toleransi itu benar-benar terbukti kalau semua sudah menikah dengan pasangan yang berbeda agama, kalau perlu yang tidak beragama.

Kini, para idola fatwanya dicari-cari. Mereka adalah penentu kebenaran, mulai dari gaya hidup, filosofi hidup, sampai urusan jati diri negeri. Semua mengaku paling Indonesia, padahal mereka entah hidup di dimensi mana. Di dunianya, barangkali subsidi tak berkurang sedemikian cepat, harga-harga tak terus meroket, dan garam tak pernah hilang dari pasar. Ah, apa itu pasar? Apa itu hidup susah? Apa itu agama dan Tuhan? Apa itu kemerdekaan?

Tujuh puluh dua tahun sudah bangsa ini merdeka, namun kita masih dihalang-halangi dari kepribadian kita nan sejati. Kita adalah bangsa yang taat beragama, namun kini agama itu dijauhkan dari kehidupan kita. Kita merdeka karena rahmat Allah, namun sekarang kita bersama-sama menjauh dari rahmat-Nya. Kita singkirkan agama dari seluruh aspek kehidupan, namun setiap kali ada masalah, agamalah yang kita tuduh telah gagal. Dan ketika agama dinista, dan semua orang marah, dikerahkanlah semua media, diajaklah seluruh dunia untuk terkejut, seolah-olah agama memang wajar untuk dinista.

Kini, agama masih terus dinista. Pelakunya tidak berkurang, malahan bertambah. Negeri ini memang sudah memiliki nama, namun kemerdekaan sudah lama dilupakan. Rakyatnya tidak lagi mengenali sejarahnya, lupa dengan kepribadiannya. Mereka berpikir dengan kerangka berpikir para penjajahnya, mengulangi kata-kata para pengisap darahnya. Agama hanya jadi pelarian, dicari-cari ketika sudah kena batunya. Para pewaris negeri semakin jauh dari kemuliaan, sebab kemuliaan itu tak dapat ditemukan kalau bukan atas berkat rahmat-Nya.

Perjuangan belum selesai.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment