Akmal Sjafril | Mereka yang Menghilang
1216
post-template-default,single,single-post,postid-1216,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-13.4,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Mereka yang Menghilang

Mereka yang Menghilang

IMG-20170108-WA0002

 

assalaamu’alaikum wr. wb.

Ramainya dialog di dunia maya memang kadang mengaburkan apa yang sudah pasti, membuat orang ragu tentang hal-hal yang sebelumnya telah ia yakini. Akibatnya, sesekali kita perlu juga menjelaskan beberapa hal yang sebenarnya sudah cukup jelas. Singkatnya, gara-gara medsos merajalela, semua ini menjadi penting untuk dibicarakan dengan gamblang!

Media sosial memang menawarkan satu hal yang belum pernah ada di dunia sebelumnya. Untuk pertama kalinya, semua orang benar-benar mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. Siapa pun bisa angkat bicara, dan kalau beruntung, akan ada yang mendengarkan. Kalau dulu hanya kaum cendekiawan, para pemimpin, atau minimal sekali selebriti, yang kata-katanya diperhatikan, maka kini manusia dengan berbagai macam latar belakangnya dapat ikut melibatkan diri dalam setiap perbincangan.

Tentu saja sisi positifnya banyak. Sekarang, Anda dapat menemukan aktivitas Ust. Adian Husaini melalui akun Twitternya. Para tokoh muda seperti Ust. Salim A. Fillah juga sangat aktif berdakwah melalui akun Instagram-nya. Tokoh-tokoh ini tidak perlu repot-repot mempelajari bahasa pemrograman, karena sekarang ada banyak sekali media sosial yang dapat dimanfaatkan. Tinggal menulis atau merekam, lalu posting. Untuk memotret, kamera di ponsel sudah sangat cukup, apalagi ada aplikasi filter, bahkan masing-masing media sosial pun banyak yang sudah menyediakan fasilitas filter-nya sendiri. Demikian juga untuk merekam atau mengunggah video, sama saja mudahnya.

Di sisi lain, kesempatan yang terbuka luas ini bisa juga dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Mereka yang bukan ahli bisa berkomentar seperti ahli, yang tak tahu masalahnya bisa berlagak bagaikan penyidik, jaksa dan hakim sekaligus. Jika dulu orang perlu bekerja keras untuk mencari informasi, maka kini kita dipaksa untuk bekerja lebih keras untuk memilah-milahnya, sebab ada begitu banyak hoax yang mengaburkan fakta sesungguhnya.

Tidak ada kucing yang lupa akan kodratnya dan berlagak menjadi harimau, tapi banyak orang yang garang di dunia maya, padahal aslinya penakut di dunia nyata. Memang begitulah risikonya jika terlalu lama mengarungi dunia yang serbapalsu. Pada akhirnya, mereka tak bisa lagi membedakan mana yang asli dan palsu, bahkan topeng yang dikenakannya sendiri pun disangka sebagai wajahnya yang sejati.

Belasan tahun yang lalu, ketika perkembangan internet mulai menemukan momentumnya di tanah air, saya aktif di dunia blogging melalui situs Multiply yang kini sudah menghentikan layanannya. Muncullah jaringan pertemanan baru yang biasanya direkatkan oleh hobi, kegemaran atau ketertarikan yang sama. Perlahan-lahan, muncullah kelompok para blogger yang memiliki kepedulian akan Islam, terutama dalam menghadapi pemikiran-pemikiran menyimpang seperti Islam liberal dan juga isu-isu lainnya seputar Islam.

Sayangnya, dalam perkembangan berikutnya, muncullah sejumlah akun milik para pemuda yang nampaknya terlalu bersemangat, sehingga lebih suka dengan ide-ide yang radikal. Mereka menghendaki perubahan yang mengakar, dan perubahan itu harus terjadi dengan cepat. Akibatnya, mereka bukan hanya bersikap keras kepada musuh-musuh Islam, tapi juga terhadap saudara-saudaranya sendiri.

Ada salah satu akun yang menarik perhatian saya, saking kasarnya. Tanpa ragu, ia memaki orang lain, termasuk orang-orang yang sudah cukup senior dan dikenal baik oleh banyak orang. Ia menganggap mereka tidak berkomitmen terhadap Islam karena tidak menolak sepenuhnya sejumlah realita yang berlaku di dunia Islam saat ini, misalnya demokrasi. Akibatnya, ia lebih banyak berdebat dengan sesama aktivis Muslim ketimbang musuh yang sebenarnya. Betapa kagetnya saya ketika mengetahui bahwa pemilik akun itu sebenarnya baru saja lulus SMA.

Sulit bagi saya membayangkan bagaimana remaja tanggung yang masih berseragam putih abu-abu saat mulai nge-blog itu menjadi demikian brutal menyerang siapa saja yang tidak sepaham dengannya. Indoktrinasi macam apa yang telah ia lalui? Dan, yang membuat saya sangat penasaran, seperti apa pribadinya sesungguhnya? Saya ingat betul, dalam salah satu postingannya, ia pernah menulis (kurang lebihnya): “Umat Islam ini, nggak radikal pun dituduh radikal juga. Jadi kenapa nggak sekalian aja radikal beneran?” Logika sederhana yang terlalu naif, bahkan untuk ukuran anak SMA. Tapi bagaimana kalau memang benar ia meyakini logika yang demikian? Berapa banyak pemuda yang berpikir seperti itu?

Lama tak saya pedulikan, tiba-tiba muncul berita miring tentang dirinya. Rupanya, kiprahnya di dunia maya jauh lebih hebat daripada yang saya sangka. Di depan layar, ia menyerang siapa saja yang dianggapnya kurang kuat berkomitmen terhadap syari’at. Tapi di belakang layar, rupanya ia aktif mendekati para akhawat, bahkan sebagian mengaku didesak-desak olehnya untuk janjian bertemu. Singkatnya, menggunakan istilah yang populer sekarang: dia lelaki modus!

Itu baru dua sisi kepribadiannya. Masih ada sisi yang lain, yang sangat jauh dari agresivitas yang biasanya terlihat. Beberapa teman yang pernah bertemu dengannya melaporkan bahwa anak ini sesungguhnya pemalu, bahkan pendiam. Saat berkumpul dengan yang lain, ia jarang berbicara, dan hanya diam saja di pojokan. Jangankan berdebat seperti kebiasaannya di dunia maya, terdengar suaranya saja tidak, meski sekedar untuk obrolan atau bercanda.

Jauh setelah masanya Multiply, barulah saya melihat wujud aslinya. Ia hadir sebagai seorang reporter di sebuah acara yang saya terlibat di dalamnya sebagai salah seorang panitianya. Agaknya, deskripsi yang terakhir tentang dirinya memang sangat akurat. Ia cuma anak muda yang menemukan kesempatan untuk mengekspresikan dirinya melalui medsos. Tidak lebih dari itu. Sedihnya, kehidupannya tak banyak berubah sejak bertahun-tahun lalu ia menyerang saya di Multiply. Padahal, sejak terakhir kali berinteraksi dengannya, saya sudah menikah, kuliah S2, lulus kuliah, menulis buku, punya anak, dan seterusnya. Tapi waktu seolah ‘berhenti’ untuknya.

Pengalaman ini sangat banyak mendewasakan saya. Setelah itu, saya tak pernah menganggap serius para hater. Dalam pandangan saya, representasi terbaik untuk para pembenci ini adalah Abu Lahab. Ia sebenarnya punya kesempatan untuk menjadi tokoh pembesar yang dihormati orang seperti Abu Jahal, al-Walid bin Mughirah atau Umayyah bin Khalaf. Tapi sayang kerjanya hanya mengikuti ke mana Rasulullah saw pergi, menebar berita bohong dan caci maki terhadap beliau. Sementara orang-orang berangkat ke Perang Badar, ia tertinggal di Mekkah. Tak lama setelah Perang Badar, ia mati begitu saja dengan cara yang jauh dari gagah; dilaknat oleh umat Muslim, tidak dibanggakan oleh kaum musyrikin. Ia tidak pernah mengancam dakwah dengan ketajaman argumennya, tidak pula dengan kekuatannya.

Meski demikian, karena ramainya perdebatan di jagat medsos, banyak orang yang tak memahami sikap abai saya terhadap mereka ini. Sebagian di antara mereka mempertanyakan sikap saya yang tidak suka berdebat di dunia maya. Sebenarnya, saya sudah pernah menjalani hidup semacam itu. Satu jam dapat dengan melayang begitu saja kalau kita asyik berselancar di dunia maya, apalagi bila asyik berdebat. Satu jam yang kita habiskan di sana sama saja dengan satu jam yang bisa kita gunakan untuk menamatkan satu-dua bab buku atau menyelesaikan tilawah satu juz, atau bahkan satu jam yang bisa digunakan untuk refreshing dengan berolahraga, dan bisa juga untuk tidur siang. Sejam berdebat di dunia maya, memangnya dapat apa?

Saat #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) baru lahir, saya masih bertemu dengan orang-orang yang rajin menyerang sesama Muslim ini. Tidak satu pun di antara mereka yang masih eksis hari ini. Ada sih iya. Tapi keberadaannya hampir sama saja dengan ketiadaannya. Polanya sama. Biasanya anak muda, teriak-teriak soal syari’at, mencela-cela orang yang dianggapnya tidak berkomitmen dengan syari’at, kemudian ada yang kesal dan membongkar kehidupan pribadinya, maka ketahuanlah bahwa ia malah lebih jauh dari syari’at ketimbang orang-orang yang ia cela. Sebenarnya saya tak sampai hati melihat aib-aib itu terbuka lebar, namun saya rasa memang tak mungkin dicegah. Begitulah sunnatullaah-nya; jika Anda suka menyerang orang lain, bersiaplah akan serangan baliknya.

Ada juga orang yang dengan gagahnya menyusun teori konspirasi dengan menjadikan saya sebagai tokoh konspirator utama dalam fantasinya. Tiba-tiba saja saya dituduh tidak menentang ajaran Syi’ah, bahkan menyusup ke dalam INSISTS. Konon lagi, ia bertekad akan datang langsung ke INSISTS untuk melabrak atau melaporkan saya. Separuh dekade berlalu, ancaman itu tak pernah diwujudkannya. Tentu saja, sejak awal saya juga tidak menganggap serius kata-katanya. Sebab, saya sudah sering berjumpa dengan orang semacamnya. Terakhir, ia malah menyatakan pensiun dari dakwah, whatever that means.

Masih ada banyak macam pribadi di dunia maya. Ada orang yang bersekolah di SMA yang sama dengan saya, hanya saja jauh lebih senior, yang mengatakan ia tak respek dengan almamaternya sendiri dan tidak merasa berhutang budi kepada guru-gurunya, sebab sekolah itu (menurutnya) masih menerapkan sistem pendidikan yang tidak Islami. Kasarnya bukan main. Tapi tidak mudah menjumpainya di dunia nyata, sebab ia ‘tak ada di mana-mana’. Ada juga yang sangat anti demokrasi, sehingga mengatakan bahwa sebenarnya bagus kalau orang kafir memimpin ibukota. Sebab, dengan demikian, mereka tinggal angkat senjata dan berjihad. Tentu saja, apa yang dikatakannya tidak pernah dilaksanakan. Orangnya menghilang begitu saja, menguap seperti kata-katanya.

Belakangan, demi membela figur yang dipuja bak dewa, ada juga orang-orang yang kehilangan adab kepada guru-gurunya sendiri. Mereka bukan ‘orang lain’. Sebagian di antara mereka dulunya aktif di sejumlah komunitas kebaikan, turut membela agama dari penyerang-penyerangnya. Ada juga yang masih bergaul rapat dengan para asatidz nan mulia, termasuk di lingkaran terdekat saya sendiri. Akan tetapi adab telah meninggalkan mereka, dan manakala adab telah pergi, ilmu pun minggat. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada menyaksikan orang-orang yang tadinya berjuang di jalan dakwah, namun kini melaju di lajur yang berlawanan.

Tidak ada yang baru dari semua ini. Semestinya, semua ini tak perlu dibicarakan, karena menuliskannya lebih menyakitkan ketimbang membacanya. Hanya saja, perbincangan di dunia maya telah membuat banyak orang bingung, sehingga ada hal-hal yang kini perlu dijelaskan secara gamblang.

Janganlah keliru menafsirkan agresivitas dan sikap kasar sebagai keyakinan diri. Yang semacam itu bukan sikap orang-orang yang berada di jalan yang benar, dan itu adalah sebuah kepastian. Jika sekarang mereka kelihatan eksis, maka setahun, dua tahun, lima tahun ke depan, mereka takkan relevan lagi. Kalau tidak percaya, silakan buktikan sendiri. Saya sih sudah sering.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

5 Comments
  • Abu Btf
    Posted at 13:27h, 07 August Reply

    The first word I get from other people on the internet is ‘F.A.G’

    Internet 1 Real life 0

  • Tarmizi
    Posted at 06:04h, 08 August Reply

    “Hakadzaa ‘allamatnaa alhayaah”

    Ya, itulah pengalaman dr penggalan sejarah. Yg menebar kebaikan akan bertahan, adapun keburukan ibarat buih hilang …

    Ambo sepakat dengan tuanku…

    • malakmalakmal
      Posted at 21:13h, 08 August Reply

      Benar sekali. Yg susah adalah bersabar menghadapinya (atau dlm hal ini mengabaikannya). Karena kadang2 kita geregetan pengen meladeni, pdhal itu cuma buang2 waktu kita yg berharga 🙂

  • gurilem
    Posted at 19:10h, 08 August Reply

    Ini baru anak ITB… tahu dan bisa memisahkan mana yang signal dan mana yang noise… mana yang perlu ditanggapi dan mana yang cukup diabaikan saja… btw an dulu orang2 yg disebutkan diatas itu kaum khawarij bukan ya?

    • malakmalakmal
      Posted at 21:14h, 08 August Reply

      Ya, ada bbrp sisi dari kaum Khawarij yg jg ada pada diri mereka.

Post A Comment