Mu’min, Saintis dan Ulul Albaab
1584
post-template-default,single,single-post,postid-1584,single-format-standard,bridge-core-1.0.5,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-18.1,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.2,vc_responsive

Mu’min, Saintis dan Ulul Albaab

Mu’min, Saintis dan Ulul Albaab

16 Agustus 2019, bersama seluruh peserta OSKM ITB, di Sabuga ITB, Bandung.

assalaamu’alaikum wr. wb.

Jum’at, 16 Agustus 2019, saya diberi kehormatan untuk menyampaikan Khutbah Jum’at untuk para mahasiswa baru peserta OSKM ITB. Di area parkir Sabuga, saya menyampaikan sedikit kajian tentang sekelompok manusia yang disebut oleh Al-Qur’an sebagai ‘Ulul Albaab’. Ayat ke-191 dalam Surat Ali ‘Imran memberi petunjuk bahwa Ulul Albaab itu memiliki ciri-ciri selalu mengingat Allah SWT dan senantiasa memikirkan penciptaan langit dan bumi. Mahasiswa ITB, yang dapat dipastikan tidak awam dengan persoalan sains, memiliki kesempatan yang sangat baik untuk mencapai derajat tersebut.

Ada masa-masanya ketika Baitul Hikmah di Baghdad menjadi kiblat literasi dunia. Pada masanya, orang Eropa belum dianggap belajar kalau belum berstudi ke Qurthubah (Cordova), Al-Andalus. Dahulu, mustahil bicara Sosiologi tanpa Ibn Khaldun, membahas Geodesi tanpa Al-Biruni, dan mengembangkan optik tanpa menyebut-nyebut Ibn al-Haytsam. Namun kini, setelah Barat menguasai dunia dan sekularisme menguasai alam pikiran kita, agama dan sains diceraikan, sehingga orang terus menuntut ilmu (al-‘ilm) tanpa pernah mencapai pengenalan yang baik terhadap Allah SWT (Al-‘Aliim). Berkembanglah ‘ilmu-ilmu palsu’. Barat dipersepsikan maju, padahal Amerika dilanda lebih dari 150 kasus penembakan masal pada paruh awal 2019, dan kaum feminis Irlandia dipimpin oleh seorang pelacur yang berteriak lantang, “Hoes need abortions!” Sekiranya para saintis muda yang kini baru diterima melanjutkan studinya ke ITB itu sungguh-sungguh beriman dan memutuskan untuk membela agama ini, maka insya Allah mereka beroleh kehormatan menjadi bagian dari generasi yang mengembalikan kejayaan Islam.

Dalam perjalanan menuju Sabuga, saya teringat masa-masa ketika saya tinggal sementara di kosan kakak saya di Ciumbuleuit. Sepekan itu, saya berangkat setiap hari, selepas Subuh, menuju ITB. Pada tahun 1999, saya adalah salah seorang peserta OSKM. Tepat dua puluh tahun yang lalu.

Betapa banyak yang telah berubah, namun banyak pula yang masih sama dan mudah dikenali. Saya masih mencintai sains, dan hati ini tak pernah benar-benar pergi meninggalkan ITB. Kampusku, rumahku.

Teks lengkap khutbah ini bisa Anda dapatkan di sini.

wa’alaikumussalaam wr. wb.

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.