Akmal Sjafril | Pekerjaan Rumah Kita Begitu Banyak
1283
post-template-default,single,single-post,postid-1283,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-13.4,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Pekerjaan Rumah Kita Begitu Banyak

Pekerjaan Rumah Kita Begitu Banyak

photo6186250364223858742assalaamu’alaikum wr. wb.

Berdasarkan pengalaman mengerjakan tesis dahulu, saya berkesimpulan bahwa hal terpenting untuk menjamin terselesaikannya tugas akhir kuliah adalah kemampuan untuk memaksakan diri. Alhamdulillaah, waktu S2 dulu, tanpa memaksakan diri pun saya sudah dipaksa oleh keadaan.

Qadarullaah, kantor tempat saya bekerja dulu mengirim saya ke Surabaya selama tiga bulan. Sementara Bogor (kota asal saya) adalah Kota Hujan, selama tiga bulan penuh saya di Surabaya tidak bertemu hujan setitik pun. Citarasa makanan pun sangat berbeda, kecuali di pusat-pusat perbelanjaan (dan waktu itu saya jarang ke mal, demi berhemat) atau di warung Nasi Padang. Karena tak ada hiburan, selama tiga bulan itu praktis saya ‘mengasingkan diri’ dari segala hal selain urusan pekerjaan, dan alhasil, tesisnya kelar sebelum saya kembali ke Bogor. Sekarang, tesis itu telah diterbitkan menjadi sebuah buku yang amat saya banggakan.

Lain dulu, lain sekarang. Saya sudah tidak bekerja kantoran lagi, tapi jadwal sehari-hari selalu penuh kesibukan. Bahkan akhir pekan kalau tidak dikosongkan dengan sengaja niscaya tak kosong juga. Sementara itu, tantangan menyelesaikan disertasi tentu saja berbeda dengan tesis. Karena itu, saya perlu strategi baru. Kalau dulu strateginya adalah mengasingkan diri (karena keadaan), maka kini saya mencoba menerapkan strategi ‘mencicil’. Ya, mencicil memang strategi yang paling masuk akal. Sedikit demi sedikit menjadi bukit; sama sekali tidak sulit untuk dimengerti. Persoalannya, konsistensi itu memang jauh lebih mudah diperbincangkan ketimbang dilakukan. Kali ini, saya akan berbagi beberapa hal yang saya temui dalam perjalanan mengerjakan disertasi yang belum selesai (lebih tepanya: baru dimulai) ini.

Apa yang perlu dicicil? Seperti biasa, saya memulai dengan hal yang paling sederhana. Sebelum menulis, tentu harus membaca. Sebagai penulis, saya paham betul bahwa wadah hanya menumpahkan isinya. Kalau ada teko yang penuh berisi kopi, niscaya ia takkan bisa menuangkan susu, kecuali dalam pertunjukan sulap. Mereka yang tak banyak membaca sudah pasti tak bisa banyak menulis. Karena itu, yang pertama-tama harus dicicil adalah membaca.

Ya, tentu saja, untuk menyelesaikan sebuah disertasi yang serius dan bermartabat, ada begitu banyak bacaan yang harus dicerna. Di jurusan lain, saya dengar, untuk membuat proposalnya saja, setiap orang diwajibkan membaca tidak kurang dari lima belas makalah yang telah dimuat di jurnal. Sekilas memang kedengarannya terlalu teknis. Tapi menurut penjelasan seorang dosen, itu karena penelitian kita harus menjadi bagian dari sebuah ‘dialog ilmiah’ seputar topik yang hendak kita bicarakan. Misalnya kita ingin membahas tentang karya-karya seorang sastrawan dari Perancis. Sulit untuk membayangkan bahwa tak seorang pun pernah membuat penelitian tentang sastrawan yang sama (sebab, kalau sampai kita ingin menelitinya, pasti karena ia sastrawan yang baik, dan banyak orang yang ingin meneliti pemikiran dan karya-karya orang hebat), atau tentang ragam corak sastra di Perancis, atau tentang sastra secara umumnya. Kita toh tidak membuat penelitian dari ‘ruang kosong’. Dengan menyertakan penelitian-penelitian lain dalam pembahasan kita, itu tandanya kita memberikan pengakuan yang sudah semestinya kepada para pendahulu. Itulah adab yang benar.

Maka, mulailah saya berburu bahan bacaan. Kebijakan saya simpel, sebagaimana semua yang saya putuskan sejauh ini selalu simpel: satu hari satu makalah dan satu bab. Artinya, setiap hari saya akan membaca satu makalah dan menyelesaikan membaca satu bab dari sebuah buku yang relevan dengan penelitian saya. Tentu saja, saya memberi kesempatan untuk ‘libur’ di akhir pekan (setiap manusia normal butuh istirahat!). Adakalanya, target satu makalah per hari tidak tercapai, sebab kadang ada makalah yang sampai puluhan halaman, dan bahasanya sulit. Tak mengapa. Ada target pun bisa meleset. Apalagi kalau tak punya target?

Cukup banyak makalah yang berhasil saya kumpulkan. Dan, amboi, betapa ramainya perbincangan akademis di luar sana! Untuk keperluan disertasi, saya mencari makalah seputar Buya Hamka, Sumatera Barat, Minangkabau, Muhammadiyah dan topik-topik lain di sekitarnya. Ternyata ada banyak sekali hal yang bisa diteliti dari topik-topik ini, yang belum terbayangkan sebelumnya.

Dari sebuah jurnal yang berjudul Indonesia, saya menemukan sebuah makalah karya ahli sejarah yang sangat banyak menulis tentang Indonesia, terutama sekali Sumatera Barat, yaitu Audrey R. Kahin. Makalahnya yang berjudul “The 1927 Communist Uprising in Sumatra: A Reappraisal” membahas tentang suatu episode sejarah yang sebelumnya tak saya ketahui sedikit pun, ketika kelompok komunis memberontak di tiga daerah, yaitu Banten, Batavia, dan terakhir di Sumatera Barat. Ketiga upaya pemberontakan ini bisa dibilang jauh dari sukses, namun banyak kisah menarik di belakangnya, antara lain penolakan yang keras yang justru datang dari salah seorang tokoh komunis Sumatera Barat yang saat itu sedang dalam pengasingan, yaitu Tan Malaka. Pada tahun 1927, Buya Hamka baru berusia 19 tahun. Yang pasti, ayahanda beliau, H. Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul, punya peranan penting dalam menentang komunisme di Sumatera Barat. Sebab, ajaran komunisme yang sangat ditentangnya itu justru pertama-tama dibawa oleh murid-muridnya sendiri di Sumatera Thawalib.

Dari jurnal yang sama, saya juga menemukan makalah “Home, Fatherhood, Succession: Three Generations of Amrullahs in Twentieth-Century Indonesia” karya Jeffrey Hadler. Makalah yang sangat tebal ini, menurut saya, bercerita tentang tiga generasi di keluarga Buya Hamka dengan cara yang amat sinis. Penulisnya memandang Hamka sebagai tokoh yang oportunis, namun tak berdaya di bawah bayang-bayang ayahnya. Memang benar, ketokohan Hamka baru benar-benar menemukan klimaksnya ketika Sang Ayah wafat (Haji Rasul wafat di tahun 1945, sebelum beliau sempat merasakan kemerdekaan negerinya). Tapi hal itu sangat bisa dipahami, mengingat Haji Rasul memang merupakan tokoh yang sangat dominan pada masanya. Bagaimana pun, sang penulis menemukan beberapa hal yang menarik, di antaranya adalah kenyataan bahwa Hamka menulis dua biografi, yaitu Ayahku (biografi ayahnya) dan Kenang-kenangan Hidup (otobiografi). Buku Ayahku memang sangat pantas ditulis, sebab ayahnya adalah seorang tokoh besar. Akan tetapi, mengapa Hamka menulis Kenang-kenangan Hidup pada masa yang sangat berdekatan, padahal pada masa-masa itu Hamka belum lagi menjadi tokoh besar, bahkan kehidupannya saat itu tengah diliputi kemalangan? Pertanyaan yang menarik, bukan?

Dari Jurnal Brill, saya menemukan makalah berjudul “The Rupture Between The Muhammadiyah and the Ahmadiyya” karya Herman L. Beck. Sebagaimana yang terlihat jelas dari judulnya, makalah ini membahas bentrokan yang terjadi antara Muhammadiyah dan Ahmadiyah di masa lampau. Sebagaimana yang pernah diceritakan oleh Hamka dalam buku Pelajaran Agama Islam dan juga di buku Ayahku, Ahmadiyah pertama kali masuk ke Indonesia melalui murid-murid Sumatera Thawalib yang beru pulang setelah menuntut ilmu ke India. Yang menghadapi mereka pertama kali adalah guru besarnya sendiri, yaitu H. Abdul Karim Amrullah. Beliau pula yang dengan segera menyelesaikan sebuah buku kecil berjudul Al-Qaulun Shahih untuk membantah pemikiran Ahmadiyah. Akan tetapi, setelah ‘terbuang’ dari Sumatera Barat, Ahmadiyah justru menyusup ke tubuh Muhammadiyah di Yogyakarta. Pada tahun 1925, Haji Rasul bertandang ke Pekalongan dan mampir ke Yogyakarta. Kunjungannya ini pun berakhir dengan debat panjang dan terbuka menghadapi para pemuka Ahmadiyah, yang disaksikan langsung oleh para pengurus Muhammadiyah di sana. Setelah itu, Muhammadiyah dan Ahmadiyah tak pernah lagi sejalan.

Jurnal Cambridge University Press menawarkan bahan bacaan yang tak kalah menariknya; sebuah makalah yang diberi judul sangat ‘nakal’, yaitu “Indonesia’s Salafist Sufis”, karya Julia Day Howell. Tokoh ulama di masa lampau, yang dikategorikan di dalam makalah ini sebagai ‘sufi yang salafi’, adalah Buya Hamka. Saat saya membaca makalah ini untuk pertama kalinya, sesekali saya tergelak sendirian. Ya, karena baru kali inilah saya menyadari bahwa ada satu perspektif menarik yang dapat kita gunakan untuk memandang figur Buya Hamka, yaitu sufi yang salafi, atau salafi yang sufi. Sebelum Muhammadiyah diperkenalkan di Sumatera Barat, pertentangan antara Kaum Tuo dan Kaum Mudo sudah terjadi. Kaum Mudo, yang sangat anti taqlid dan sangat kritis kepada para ulama pendahulunya, direpresentasikan oleh Haji Rasul. Sebelumnya, Perang Paderi yang berkobar juga disebut-sebut karena tiga orang haji yang disebut beraliran ‘wahabi’; mereka juga membawa semangat yang sama, yaitu semangat reformasi. Dengan kedatangan Muhammadiyah, lengkaplah sudah citra Haji Rasul dan Buya Hamka sebagai pengusung aliran wahabi, atau kadang juga dikenal dengan sebutan ‘salafi’. Akan tetapi, nampaknya kedua istilah ini tidak bisa serta-merta saja dianggap ekivalen dengan istilah yang sama di masa kini. Sebab, berbeda dengan kaum wahabi atau salafi di masa kini, Haji Rasul dan Buya Hamka justru sangat akrab dengan tashawwuf, pemikiran Imam Al-Ghazali, karya-karya Ibn Rusyd dan sebagainya. Jadi, bagaimana sejatinya pemikiran Buya Hamka? Ah, Anda harus mengikuti diskusi lengkapnya!

Ada sebuah makalah lain yang relatif ringkas bila dibandingkan dengan makalah-makalah sebelumnya, dan tidak mengikuti topik yang saya butuhkan secara langsung. Saya membacanya karena makalah ini ditulis oleh salah seorang dosen senior saya, yaitu Dr. Mohammad Iskandar. Makalah “Islam Fobi dan Aksi-Aksi Radikal” yang dimuat di Jurnal Paradigma ini bercerita tentang suatu episode sejarah di Garut pada tahun 1919. Pada saat itu, sejumlah petani memberontak akibat ketidakadilan Belanda. Uniknya, entah bagaimana, Belanda justru mengumumkan bahwa pemberontakan itu diprovokatori oleh Serikat Indonesia (SI). Pada akhirnya, tak pernah ada bukti nyata terhadap tuduhan tersebut. Meski demikian, laporan keterlibatan SI itu sudah cukup untuk membuat Belanda membekukan keanggotaan H.O.S. Cokroaminoto (pimpinan puncak SI) dari jabatannya di Volksraad. Dari masa ke masa, rupanya penjajah sering menggunakan isu ‘radikalisme Islam’ untuk membungkam masyarakat. Padahal, seringnya, pemberontakan terjadi karena masalah ketidakadilan, misalnya masalah ketimpangan ekonomi. Kita yang hidup di masa kini mungkin banyak yang tak tahu bahwa Belanda kerap menggunakan taktik pengalihan isu semacam ini.

Ada dua buku yang tengah saya baca juga, demi menjaga ritme agar tidak monoton. Yang pertama, buku Dr. H. Abdul Karim Amrullah: Pengaruhnya dalam Gerakan Pembaruan Islam di Minangkabau pada Awal Abad ke-20 karya Murni Djamal. Buku ini mengupas tuntas pengaruh figur Haji Rasul di Sumatera Barat, terutama melalui Sumatera Thawalib dan Muhammadiyah. Buku kedua adalah Sumatera Barat di Panggung Sejarah: 1945-1995 karya Mestika Zed, Edy Utama dan Hasril Chaniago. Buku ini membagi analisisnya ke dalam lima periode, yaitu pada masa revolusi fisik (1945-1950), sesudah revolusi (1950-1960), sesudah PRRI (1961-1965), masa transisi (1966-1971) dan masa orde baru.

Jika Anda mencermati foto di atas, Anda akan melihat bahwa semua makalah saya print dan ditempatkan dalam map-map terpisah dengan rapi. Walaupun saya mengunduh semua makalah itu dalam format PDF, tapi saya tidak membacanya dalam format itu. Sejak dulu, saya (dan setahu saya kebanyakan orang juga) tidak terlalu suka membaca e-book. Bagaimana pun, hardcopy lebih enak dibaca. Ada yang bilang, itu karena ada ‘sentuhan fisik’ saat membaca buku, yang tidak ada ketika kita menikmati e-book. Awalnya, saya pikir, itu karena saya orang yang konservatif alias old school saja. Tapi belakangan, saya rasa itulah berkah dari adab yang baik.

Bagi orang yang belum mengenal adab, mungkin akan menganggap sikap Imam Malik yang tidak mau meriwayatkan sebuah hadits sebelum mandi sebagai sikap yang berlebihan. Atau seperti Imam Bukhari yang – setelah memastikan keshahihan sebuah hadits melalui proses yang sangat panjang – mendirikan shalat dua raka’at sebelum akhirnya menuliskan hadits tersebut dalam Kitab Jami’ush-Shahih-nya. Mungkin bagi kita, sebuah hadits hanyalah sebuah hadits. Akan tetapi, bagi Imam Malik dan Imam Bukhari, sebuah hadits adalah sepenggal riwayat tentang Sang Kekasih Tercinta, Rasulullah saw. Melalui periwayatan hadits itu, mereka tidak mengharapkan kemewahan dunia, melainkan kehidupan di akhirat.

Apa yang saya kerjakan jelas tak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang telah dikerjakan oleh para ulama besar di masa lampau. Akan tetapi, seringkali, yang membedakan hasil akhirnya adalah perspektif di awalnya. Jika kita menganggap sebuah makalah hanya sebagai kertas dan tinta, maka ia bisa diletakkan di mana saja, bahkan bisa dicampakkan ke tempat sampah setelah kita puas membacanya. Akan tetapi, jika makalah itu adalah alat untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dan ilmu itu dapat membawa kita lebih dekat kepada Allah, maka tentu ia berharga jauh lebih mahal daripada secarik kertas dan seberkas tinta. Penghargaan kita kepada makalah mencerminkan penghargaan kita kepada ilmu, dan penghargaan itu akan berbanding lurus dengan keseriusan kita di jalan para pencari ilmu.

Banyak orang yang bertekad ingin mengembalikan kejayaan Islam, namun saya berkeyakinan bahwa kejayaan itu takkan tercapai tanpa ilmu. Untuk mengembalikan tegaknya tradisi ilmu itu, nampaknya tak ada jalan pintas. Pekerjaan rumah kita sungguh banyak. Mari memulainya dengan adab yang benar, yaitu dengan memuliakan ilmu pada martabat yang sepantasnya.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment