Pesan Idul Adha: Berbanggalah, Wahai Para Pewaris!
1455
post-template-default,single,single-post,postid-1455,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-1.0.5,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-18.1,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.2,vc_responsive

Pesan Idul Adha: Berbanggalah, Wahai Para Pewaris!

Pesan Idul Adha: Berbanggalah, Wahai Para Pewaris!

18557336_10213024008533591_2865128815030752052_n
Ini foto kami sekeluarga saat mengantar kedua orang tua saya menunaikan ibadah Haji. Ada yang bisa menebak, saya yang mana? 🙂

assalaamu’alaikum wr. wb.

Pada tahun 2015 silam, situs Rappler meminta saya untuk membuat sebuah karangan tentang ibadah Haji. Tanpa sepengetahuan saya, rupanya situs yang sama juga meminta artikel dengan tema serupa kepada Ulil Abshar Abdalla, salah seorang pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL). Qadarullaah, dengan kuasa-Nya, tulisan saya secara langsung membantah isi tulisan Ulil, meskipun sejak awal hingga dimuat, kami tidak saling mengetahui isi tulisan masing-masing. Tulisan Ulil dimuat lebih dahulu, yaitu pada tanggal 23 September, sedangkan tulisan saya dimuat empat hari sesudahnya.

Sebagai latar belakang, perlu diketahui bahwa kedua artikel tersebut dibuat di tengah-tengah musim Haji yang pada tahun itu memang dirundung cukup banyak masalah. Musim Haji kali itu, ada dua musibah besar yang terjadi, yaitu runtuhnya crane di Masjidil Haram dan terinjak-injaknya banyak jemaah haji di Mina. Korban jiwa yang jatuh mencapai ratusan. Entah bagaimana, di Indonesia, muncul pembicaraan tentang pentingnya ibadah Haji, seolah-olah ibadah yang satu ini akan ditinjau ulang kewajibannya hanya karena ada cacat dalam pengelolaannya. Entahlah.

Dalam tulisannya, Ulil menyampaikan opini yang cukup unik. Menurutnya, ibadah Haji adalah semacam ‘mudik spiritual’. Yang dimaksud ‘mudik’ itu adalah kembalinya umat Muslim dalam sebuah ritual tahunan untuk mengunjungi Baitullah, yaitu rumah yang telah didirikan oleh Nabi Ibrahim as. Ulil, sebagaimana para pengikut orientalis lainnya, nampaknya sependapat dengan pandangan yang menyatakan bahwa Nabi Ibrahim as adalah bapak dari tiga agama besar (dan kesemuanya Ulil anggap sebagai monoteis), yaitu Islam, Nasrani dan Yahudi.

Saya sendiri, sejak paragraf pertama, telah membantah pandangan semacam ini. Baiklah saya kutip paragraf tersebut di sini, demi memperjelas duduk permasalahannya:

Siapa tak kenal Nabi Ibrahim as? Tidak hanya satu, bahkan ada tiga umat beragama yang mengklaim beliau. Ada yang menyebut Yahudi, Nasrani dan Islam sebagai ‘Abrahamic faiths’, yang maknanya adalah bahwa ketiga agama ini berasal dari Nabi Ibrahim as. Akan tetapi, baik Yahudi dan Nasrani sama-sama tidak melestarikan warisan sunnah beliau, yaitu beribadah di Ka’bah yang beliau muliakan, atau menyembelih hewan qurban sebagaimana yang beliau lakukan. 

Jika Ulil menganggap bahwa ibadah Haji semestinya menjadi ajang penumbuhan ‘toleransi’ yang bisa menyatukan tiga agama besar, maka saya berpendapat bahwa justru Haji-lah yang menunjukkan bahwa sesungguhnya hanya satu agama — bukan tiga — yang sungguh-sungguh merupakan pewaris Nabi Ibrahim as. Memang benar, di jaman sekarang, tidak ada orang kafir yang boleh memasuki Makkah, dan karenanya, orang Nasrani dan Yahudi tak bisa turut melaksanakan ibadah Haji. Akan tetapi, janganlah lupa bahwa ibadah Haji itu sendiri telah disyariatkan sejak lama, yaitu sejak jaman Nabi Ibrahim as dan Nabi Isma’il as, dan terus dilestarikan hingga diutusnya Rasulullah saw, meski masyarakat jahiliyah Arab telah merusak ajaran Nabi Ibrahim as itu di sana-sini. Pada masa-masa itu, kita tidak mendengar ada usaha dari kaum Nasrani dan Yahudi untuk melestarikan sunnah Nabi Ibrahim as yang satu ini.

Berpegang pada klaim memang sebuah pilihan yang teramat rapuh. Kalau cuma membuat klaim, semua orang bisa melakukannya. Dalam dua ayat berturut-turut, Allah SWT melaknat orang yang mengatakan sesuatu yang tidak ia kerjakan:

Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah karena kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash-Shaaff [61]: 2-3)

Selisih dua-tiga ayat berikutnya, Al-Qur’an menjelaskan sikap buruk Bani Israil kepada Nabi Musa as dan Nabi ‘Isa as. Mereka adalah kaum yang telah mendustakan para Utusan Allah SWT, meskipun mereka mengaku beriman.

Pada kenyataannya, Nabi Ibrahim as dalam pandangan umat Muslim memang berbeda dengan imej yang dibayangkan oleh kaum Bani Israil. Nama mereka pun sudah memberikan petunjuk terhadap perbedaan tersebut. Mereka menyebut diri mereka Bani Israil, sedangkan Israil adalah nama Nabi Ya’qub as. Mereka membanggakan dirinya tidak semata sebagai keturunan Nabi Ibrahim as, melainkan secara spesifik sebagai keturunan Nabi Ya’qub as, yang merupakan anak dari Nabi Ishaq as.

Membedakan perlakuan kepada Nabi Ishaq as dengan Nabi Isma’il as memang merupakan ciri khas mereka. Jika memang benar mereka adalah pewaris Nabi Ibrahim as, tentunya mereka takkan menolak Nabi Muhammad saw hanya karena beliau adalah keturunan Nabi Isma’il as, dan bukannya Nabi Ishaq as. Jika kini ada semacam ‘paksaan’ agar umat Muslim mengakui Nabi Ibrahim as sebagai bapak dari tiga agama, maka hendaknya kita tidak melupakan fakta bahwa sejak awal Islam telah mengundang orang-orang Nasrani dan Yahudi untuk kembali kepada ajaran Nabi Ibrahim as; dan itu artinya adalah mengikuti ajaran Rasulullah saw yang merupakan pewaris ajaran beliau.

Tidak seperti Bani Israil yang selalu berusaha mengistimewakan Nabi Ishaq as ketimbang Nabi Isma’il as, Islam tidak membedakan satu pun di antara Nabi dan Rasul. Nabi Musa as, misalnya, tidak dipandang rendah hanya karena ia keturunan Nabi Ishaq as, bukan keturunan Nabi Isma’il as sebagaimana Rasulullah saw. Malah sebaliknya, Nabi Musa as adalah salah satu Ulul ‘Azmi dan merupakan Nabi yang paling banyak dikisahkan di dalam Al-Qur’an. Tidak ada diskriminasi terhadap keturunan Nabi Ibrahim as dalam agama Islam.

Sebagai pewaris Nabi Ibrahim as yang sejati, umat Muslim melestarikan tradisi ibadah Haji, dan juga memuliakan dua masjid sekaligus, yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha; dua masjid yang dibina oleh Nabi Ibrahim as bersama kedua putranya yang mulia. Lagi-lagi, untuk persoalan memakmurkan kedua warisan Nabi Ibrahim as ini, hanya umat Muslim-lah yang terus konsisten melakukannya. Sementara sebagian Muslim berhaji, sebagian lainnya juga menyembelih hewan qurban, meneruskan syari’at yang diawali dengan perintah penyembelihan Nabi Isma’il as. Kaum Bani Israil, yaitu Nasrani dan Yahudi, juga meyakini peristiwa penyembelihan ini, namun mereka meyakini bahwa yang hendak disembelih adalah Nabi Ishaq as. Perbedaan yang lebih fundamental lagi, menurut saya, adalah bahwa Bani Israil memandang keterpilihan Nabi Ishaq as tersebut menunjukkan kelebihannya dibanding Nabi Isma’il as, sedangkan umat Muslim tidak melebihkan siapa pun di antara para Nabi. Pada akhirnya, peristiwa penyembelihan ini hanya menjadi argumen atas klaim keunggulan diri bagi kaum Bani Israil, sedangkan ia menjadi syari’at yang terus dijalankan dari masa ke masa oleh umat Muslim.

Jika semua ini belum dianggap cukup, maka ingatlah bahwa umat Muslim tak perlu diajari oleh yang lain caranya memuliakan Nabi Ibrahim as. Kalau umat lain mau mengaku diri sebagai pewaris Nabi Ibrahim as, maka tidak ada yang melarang klaim demikian. Bagi umat Muslim, cukuplah shalawat untuk beliau di setiap raka’at akhir shalat sebagai saksi di hadapan Allah SWT.

Di Hari Raya Idul Adha ini, berbahagialah umat Muslim di mana pun mereka berada. Kita adalah pewaris Nabi Ibrahim as nan sejati, dan kita mampu memberi bukti, bukan sekedar kata-kata!

wassalaamu’alaikum wr. wb.

5 Comments
  • Ichwanzein
    Posted at 16:24h, 12 August Reply

    saya suka tulisannya Bang Akmal! terima kasih`

    • malakmalakmal
      Posted at 16:38h, 12 August Reply

      Maasyaa Allaah 🙂

  • Eko
    Posted at 19:37h, 12 August Reply

    Masya Allah tabarakallah

  • Isnan Abriyatman Budjang
    Posted at 00:37h, 13 August Reply

    Mencerahkan. Alhamdulillah

  • Hilfan
    Posted at 09:21h, 15 August Reply

    10 tahun yang lalu hampir tidak ada rekan-rekan saya yang non muslim yang mengucapkan selamat idul adha, tetapi semakin kesini semakin bertambah banyak yang mengucapkan idul adha, utamanya setelah dikirimi daging qurban. Semoga syiar Islam semakin tersebar dengan kahlak yang baik…

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.