Qarun dan yang Terinspirasi Olehnya
1372
post-template-default,single,single-post,postid-1372,single-format-standard,bridge-core-1.0.5,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-18.1,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.2,vc_responsive

Qarun dan yang Terinspirasi Olehnya

Qarun dan yang Terinspirasi Olehnya

IMG20181023131544assalaamu’alaikum wr. wb.

Nama Qarun sudah tersohor ke mana-mana. Yang pasti ia adalah orang yang sangat kaya-raya, namun tak pandai bersyukur. Karena keburukan sikapnya, Allah SWT menghukumnya dengan membenamkan diri beserta harta bendanya ke dalam tanah. Sampai sekarang, kalau ada harta tertimbun di dalam tanah, disebutlah ia: harta karun!

Kisah terbenamnya Qarun bersama harta bendanya memang secara akurat dapat ditemukan di dalam Al-Qur’an, yaitu di ayat ke-81 dalam Surat al-Qashash. Bila Anda beriman kepada Al-Qur’an, maka niscaya kisah ini tidak akan dianggap sebagai isapan jempol. Hanya, tentu saja, bukan berarti setiap harta benda yang terkubur di muka bumi ini adalah hartanya Qarun yang dahulu itu.

Kisah Qarun dalam Surat al-Qashash diawali pada ayat ke-76. Dalam ayat tersebut, Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaumnya Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS. al-Qashash [28]: 76)

Hal pertama tentang Qarun yang disebutkan dalam ayat di atas adalah fakta bahwa Qarun bukanlah bangsa Mesir atau sebangsa dengan Fir’aun, melainkan ia merupakan bagian dari kaumnya Nabi Musa as. Padahal, di jamannya Nabi Musa as, kaum Bani Israil hidup melarat. Tapi di antara kemelaratan yang luas dan sistemik itu, ada juga seorang yang menjadi kaya-raya. Di kalangan Bani Israil pada masa itu, Qarun-lah orangnya. Sayangnya, bukannya membantu bangsanya untuk selamat dari tekanan bangsa Mesir, atau membantu dakwah Nabi Musa as, Qarun malah berbalik mengkhianati kaumnya.

Pengkhianatan sama sekali bukan tema baru dalam sejarah kemanusiaan. Dari masa ke masa, ada saja pengkhianat yang menjual kaumnya demi kepentingannya sendiri. Walaupun pengkhianatan itu bisa menyelamatkan kehidupannya, namun ia tidak memberikan hasil yang baik bagi dirinya setelah kematian. Buktinya, mereka tetap saja disebut sebagai pengkhianat atau komprador; predikat yang terus melaknat seseorang setelah ia lama meninggal. Adapun urusannya di akhirat, maka Allah Maha Mengetahui dan Maha Adil. Tak usah kita ragukan atau campuri peradilan-Nya.

Pengkhianatan karena godaan harta juga bukan suatu hal yang baru. Kata orang, godaan harta, tahta dan wanita itu memang sangat berat menghindarinya. Apalagi, ketiganya bisa datang bersamaan dan muncul dalam rantai sebab-akibat. Karena berharta, maka ia bertahta, dan kalau sudah ada harta dan tahta, biasanya akan datang wanita-wanita yang tertarik pada dua yang pertama.

Nasihat yang disampaikan kepada Qarun dilanjutkan pada ayat ke-77, kemudian dijawab oleh Qarun pada ayat ke-78. Saat itu, Qarun menjawab:

(Qarun) berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (QS. al-Qashash [28]: 78)

Persangkaan Qarun terhadap dirinya adalah persoalan klasik manusia: ia menyangka segala yang diperolehnya adalah karena ilmu yang ada pada dirinya. Padahal, tak ada manusia yang memperoleh segalanya sendiri. Qarun gagal memahami bahwa ilmu itu pun ada pada dirinya tidak serta-merta, dan ia tidak lahir dengan segala ilmu yang ada dalam dirinya pada saat itu. Qarun, sebagaimana manusia lainnya, belajar setahap demi setahap, menapaki jenjang ilmu yang tidak bisa dipintas atau diringkas. Ketika melalui jenjang-jenjang itu, ada banyak tangan yang membimbingnya. Pernahkah Anda menjumpai manusia yang sejak bayi belajar sendiri caranya berjalan? Atau bayi yang tidak menangis ketika haus, melainkan datang sendiri menghampiri ibunya untuk minum ASI? Kalau tidak ada yang memberikan ASI, apakah akan sama pertumbuhannya kelak? Kalau tidak dibantu orang, akankah ia selamat dari hari-hari pertamanya di dunia?

Telah banyak orang memahami bahwa seorang anak tak dibesarkan di dalam ruang hampa. “It takes a village to raise a child,” kata sebagian. Seseorang tidak hanya hidup sendirian, tapi juga di tengah-tengah keluarganya, bersama teman-teman sepermainan dan sepergaulannya, belajar bersama siswa-siswi lainnya di sekolah, menimba ilmu dari para guru, berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya, dan seterusnya. Setiap lingkaran pergaulan itu memberikan pengaruh pada dirinya. Sulitlah terbayang bagaimana seorang anak yang tumbuh di tengah-tengah keluarga pecandu narkoba kemudian tumbuh menjadi penghapal Al-Qur’an. Bukan mustahil, bila ia bisa keluar dari lingkungan buruk tersebut dan menemukan lingkungan baru yang jauh lebih baik, kemudian ia memutar roda nasibnya seratus delapan puluh derajat. Hanya saja, di situ pun kita menemukan peranan sebuah lingkungan, yang ujung-ujungnya mengembalikan kita pada satu kesimpulan: kita banyak dibantu oleh orang lain.

Manusia, sebagai mahluk yang pelupa, memang paling pandai melupakan kebaikan yang diberikan kepada dirinya. Itulah sebabnya, menurut Prof. M. Naquib al-Attas, hakikat utama dari keberagamaan adalah kesadaran akan keberhutangan. Mereka yang tak merasa berhutang kepada Allah takkan bisa diajak memenuhi kewajiban agamanya, sebab mereka tak merasa menerima kebaikan-kebaikan Allah. Mereka berteriak, “Saya tak minta dilahirkan!” Padahal justru kehidupan inilah yang mesti kita syukuri kepada Allah, sebab dalam kehidupan ini lebih banyak nikmatnya ketimbang deritanya, dan kebaikan yang sedikit di dunia akan dibalas dengan kebaikan nan abadi di akhirat. Memang syukur adalah lawannya kufur. Karena itu, Rasulullah saw sejak dahulu telah bersabda:

Jika engkau tak malu, maka perbuatlah semaumu! (HR. Bukhari)

Ya, kalau tak punya malu, silakan saja mengakui bahwa engkau telah melakukan semuanya sendiri. Kalau sudah kebal malu, katakan saja kepada seluruh dunia bahwa tidak pernah ada yang membantumu untuk mendapatkan apa yang kau miliki sekarang. Kalau orang sudah tak punya malu, maka agama tak mampu menolongnya. Jika Rasulullah saw saja ‘angkat tangan’ dengan orang semacam ini, lantas kita bisa apa selain menyampaikan kebenaran?

Ayat ke-79 mengisahkan bagaimana perangai Qarun ketika tampil ke hadapan publik, yaitu dengan memamerkan segala perhiasan yang dimilikinya. Al-Qur’an menyebutkan:

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan segenap perhiasannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mendapatkan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. al-Qashash [28]: 79)

Soal Qarun, kita sudah sama-sama paham. Menariknya, ayat ini tidak hanya bercerita tentang Qarun, melainkan juga orang-orang yang terinspirasi dengan Qarun. Mereka yang terperangah menyaksikan kekayaan Fir’aun berharap sekiranya mendapatkan apa yang Qarun telah dapatkan. Di sini, mereka diberi predikat negatif: alladziina yuriiduuna al-hayaat ad-dunyaa (orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia). Dengan kata lain, bukan semata-mata Qarun saja yang buruk, melainkan juga mereka yang diam-diam ingin seperti Qarun.

Kesalahan orang-orang ini memang tidak sama persis dengan Qarun. Pertama, mereka belum melakukan apa yang Qarun lakukan, yaitu mengkhianati agamanya karena harta. Kedua, mereka masih menyadari bahwa apa yang Qarun miliki adalah apa yang telah diberikan kepadanya. Artinya, mereka masih memiliki kesadaran bahwa Allah-lah yang telah memberi semua kenikmatan itu. Mata hati mereka belum dibutakan sepenuhnya seperti Qarun. Akan tetapi, mereka tengah melangkah menuju arah yang sama.

Banyak orang tidak korupsi hanya karena belum ada kesempatan untuk korup, atau tidak selingkuh hanya karena belum ada yang berminat mengajaknya selingkuh. Manusia memang baru menunjukkan kelasnya ketika ujian itu muncul di hadapannya. Qarun telah diuji dengan harta, dan ia gagal naik kelas. Sementara itu, ada orang-orang di luar sana yang menyangka bahwa Qarun justru naik kelas karena kekayaannya.

Ucapan yang sangat kontras muncul dari lisan mereka yang memiliki ilmu:

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu. Pahala Allah itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (QS. al-Qashash [28]: 80)

Ada jurang logika yang perlu dijembatani. Mereka yang pandangannya terhijab oleh dunia mengira bahwa kekayaan dunia adalah kemenangan sejati, sedangkan mereka yang telah menemukan ilmu nan hakiki memahami bahwa kemenangan sejati bukanlah di dunia. Sebelumnya, ayat ke-77 dengan sengaja tidak ditampilkan. Ayat tersebut berisikan nasihat yang disampaikan kepada Qarun, yang menjadi kunci persoalan di sini. Allah SWT berfirman:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. al-Qashash [28]: 77)

Apa yang Allah anugerahkan kepada manusia pada hakikatnya adalah alat untuk mencari kebahagiaan di akhirat. Itulah yang dilupakan oleh Qarun. Seindah-indahnya kehidupan di dunia, ia hanyalah sementara. Kekayaan dan kemiskinan itu sementara, senang dan sedih itu sementara, kemenangan dan kekalahan itu sementara, demikian seterusnya. Oleh karena itu, tidak sepatutnya dunia dijadikan ukuran atas kebenaran.

Kalau kita hidup pada tahun 1939, mungkin kita akan bergabung bersama jutaan orang lainnya yang menganggap bahwa Hitler adalah pemimpin dunia yang paling digjaya. Apa dinyana, beberapa tahun kemudian ia tumbang. Kekayaan Qarun mungkin membuat orang berpikir bahwa ia akan kaya selamanya, namun pada akhirnya toh ia mati juga, tertimbun di bumi Allah. Bahkan Iblis pun diberi umur panjang, namun karena digunakannya untuk terus bermaksiat, kelak ia akan menjadi pesakitan juga di Neraka.

Jangankan di kalangan masyarakat awam, di antara para da’i pun banyak yang memiliki pandangan keliru terhadap harta. Mereka pikir, karena umat Muslim dimiskinkan selama ini, lantas solusinya adalah kekayaan. Ada yang lebih suka berbisnis dengan pembenaran bahwa kalau bisnisnya sukses, maka kelak ia akan mendukung dakwah dengan kekayaannya. Untuk melengkapi justifikasi, didomplenglah nama besar ‘Utsman bin ‘Affan ra dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra. Keduanya memang saudagar besar, kaya-raya, dan shalih tak tercela. Hanya saja perlu diingat bahwa keduanya tidak pernah mengatakan bahwa dirinya mendahulukan bisnis ketimbang dakwah. Saat adzan memanggil, keduanya sigap mengejar shaf terdepan. Saat perintah hijrah dan panggilan jihad berkumandang, mereka tak pernah mangkir. Mereka bukan pebisnis yang menyokong dakwah, melainkan da’i penuh totalitas yang siap menyumbangkan apa saja, namun kebetulan Allah titipkan lebih banyak harta kepadanya, dan mereka pun menggunakan segenap hartanya untuk mendapatkan kebaikan sebanyak-banyaknya di akhirat, sebagaimana yang Allah kehendaki.

Ada orang yang berpandangan bahwa dengan bersugesti akan mendapatkan sesuatu, maka kita pasti akan mendapatkannya kelak. Akan tetapi, persoalan harta bukan persoalan bisa atau tidaknya mendapatkannya, melainkan tentang amanah di baliknya. Bagaimana sikap kita setelah meraih apa yang kita inginkan; syukur atau kufur? Prioritasnya akhirat atau dunia? Membuatmu merendah di hadapan Allah atau malah menjadikanmu ‘ujub dan takabbur? Kalau persoalannya cuma dapat atau tidak dapat, bukankah banyak orang kafir yang juga mendapatkan kekayaan dunia? Dan bukankah semua kekayaan dan kejayaan itu hanya sementara saja? Jika kita hanya mengejar yang sementara, apalah bedanya kita dengan Qarun?

Maafkanlah! Jika kita menyaksikan orang memiliki mobil mewah, misalnya, maka tidak sepatutnya kita menginginkan kekayaan yang sama hanya karena alasan gengsi atau ingin merasakan kenikmatan yang sama. Tidak sepatutnya kita sampai mengusap-usap mobil tadi atau bershalawat karena menginginkannya, karena kurang lebih perasaan yang persis sama seperti itulah yang dialami oleh mereka yang terinspirasi dengan Qarun; mereka belum persis sama dengan Qarun, namun tengah meniti jalan menuju ke tempat yang sama.

Jangan samakan ‘Utsman bin ‘Affan ra dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra, dua sahabat nan mulia, dengan mereka. Keduanya tidak menghendaki dunia, namun dunia dijadikan sebagai ujian bagi mereka. Dan keduanya telah lulus dengan gemilang dari ujian nan berat itu.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

1 Comment
  • Ferian
    Posted at 18:41h, 08 June Reply

    Ustadz kondang di Indonesia, bacalah 🙂

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.