Susahnya Hidup (ab)Normal
1418
post-template-default,single,single-post,postid-1418,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-1.0.5,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-18.1,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.2,vc_responsive

Susahnya Hidup (ab)Normal

Susahnya Hidup (ab)Normal

photo6253585164978465265

assalaamu’alaikum wr. wb.

Sekularisme mendorong manusia untuk selalu berpikir dualis. Ada urusan dunia, ada urusan akhirat, meskipun semua orang yang beragama pasti meyakini bahwa kehidupan manusia di akhirat bergantung pada kehidupannya di dunia. Agama dan sains tidak boleh ‘bertemu’, padahal agama diturunkan oleh Tuhan, sedangkan sains itu menyelidiki alam ciptaan Tuhan juga. Kalau akalnya sudah dualis, lama-lama hatinya pun mengalami dualisme. Ia beriman kepada satu agama, namun melarang dirinya sendiri untuk menyatakan bahwa agamanya itu pasti benar. Ia menyaksikan orang berbuat kemunkaran, namun atas nama kebebasan, ia tekan jiwanya sendiri sehingga tak mampu mengatakan kebenaran.

Hanya satu Dzat yang tidak terpengaruh oleh selain-Nya, yaitu Tuhan. Dengan demikian, aturan dan petunjuk yang pasti dan takkan berubah adalah aturan dan petunjuk dari-Nya saja. Karena orang sekuler bersikap dualis terhadap Tuhan (di ruang privat taat, di ruang publik ingkar), maka bagi mereka tak ada aturan yang tak mungkin berubah. Harvey Cox menyebutnya sebagai salah satu karakter sekularisme, yaitu “deconsecration of values” (penghilangan keabadian nilai). Sesuatu yang telah berabad-abad diyakini sebagai kebenaran bisa jadi kemudian disimpulkan sebagai sebuah sikap primitif. Sebaliknya, sesuatu yang telah lama dilaknat sebagai kejahilan bisa jadi kini dianggap sebagai sebuah kewajaran.

Janganlah heran kiranya jika di abad kedua puluh satu ini bermunculan kaum intelek (yang intelektualitasnya diterima sebagai sebuah kebenaran absolut oleh kalangannya sendiri) yang mampu memahami arah ‘program kerja Tuhan’ yang lebih pas untuk masa kini. Dengan proses pengambilan kesimpulannya yang misterius, ia pun mengumandangkan teorinya bahwa dahulu kaum homoseks dilaknat karena perilakunya berpotensi memunahkan umat manusia; adapun sekarang, karena ‘proyek Tuhan menciptakan manusia sudah berhasil’, bahkan ‘kebablasan’, maka sudah saatnya laknat tersebut ditinjau ulang. Para pengikutnya, dengan berbagai orientasi seksualnya, bersorak-sorai penuh kegembiraan. Sayup-sayup, terdengar juga ada yang bertanya: “Memangnya siapa bilang homoseksualitas dilarang karena bisa bikin manusia punah?” Sayangnya, sorak-sorai tadi dengan sengaja dibikin bergemuruh, ditambah tepuk tangan dan ledakan petasan, sehingga pertanyaan penting itu tak pernah menemukan jawabannya.

Sibuklah orang-orang sekuler di seluruh penjuru dunia untuk memikirkan ulang segalanya. Mungkin, pikir mereka, Tuhan yang disembah di semua agama itu sama, cuma beda nama panggilannya saja. Mungkin, ujar mereka lagi, agama-agama ini pun tak diperlukan lagi, karena sudah ada spiritualisme. Ketika mereka melihat ke arah cermin, mereka pun berpikir bahwa mungkin mereka bukanlah manusia yang selama ini dipikirkannya.

Mulailah manusia berpikir ulang tentang dirinya sendiri. Mereka pun membangun sebuah ‘teori konspirasi’ yang sangat hebat. Barangkali, pikirnya, laki-laki tak mesti maskulin, dan perempuan tak mesti feminin, sebab kedua sifat itu hanyalah sebuah dogma yang ditanamkan oleh masyarakat kepada seluruh anggotanya. Mereka yang lebih hebat lagi imajinasinya mulai membangun teori bahwa mungkin tubuh dan jiwa manusia bisa jadi tak kompak; tubuhnya lelaki, jiwanya perempuan, atau sebaliknya! Tuhan telah memberinya tubuh dengan jenis kelamin tertentu, namun jiwanya berkata lain. Ajaib, hanya butuh waktu sepersekian detik bagi akalnya untuk menyalahkan Tuhan dan membenarkan diri sendiri. Ada yang menyebut dirinya sebagai perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki, ada pula yang sebaliknya. Pokoknya, Tuhan salah! Perasaan manusialah yang benar! Tuhanlah yang menciptakan manusia, namun manusia kemudian mengoreksi Tuhan.

Di sejumlah negara Barat, kebenaran telah berkali-kali direvisi, bersamaan dengan upaya manusia untuk ‘mengoreksi’ ciptaan Tuhan pada dirinya sendiri. Sebagian memulainya dengan mengenakan pakaian yang semestinya diperuntukkan bagi lawan jenisnya. Para penerusnya bertindak lebih ekstrem dan radikal dengan mengoperasi kelaminnya sendiri, menggantinya dengan jenis kelamin yang diinginkannya, walaupun tentu saja tak pernah benar-benar sama dengan produk asli ciptaan Tuhan. Mereka menyebut dirinya sebagai ‘petualang’ yang telah melalui sebuah perjalanan, menyeberang dari satu gender ke gender lainnya; seorang transgender!

photo6255949312546678872

Meski demikian, masalah muncul dari tempat yang tak diduga-duga. Rupa-rupanya, jenis kelamin dan persoalan maskulin-feminin itu memang sangat fundamental bagi kehidupan manusia, misalnya di toilet. Pertanyaan awalannya: seorang laki-laki transgender yang ‘memutuskan’ bahwa dirinya adalah seorang perempuan harus masuk toilet mana? Di toilet laki-laki, ia akan merasa tidak nyaman (karena ia sendiri merasa dirinya perempuan) dan kemungkinan besar juga akan membuat para lelaki lain pengguna toilet tersebut menjadi tidak nyaman pula. Di toilet perempuan, belum tentu semua perempuan tidak akan histeris jika mengetahui bahwa yang masuk adalah seorang lelaki (meski mengaku perempuan). Haruskah dunia mengalah pada keinginan kaum transgender ini?

Sebagian orang yang merasa dirinya cerdas lalu mengajukan sebuah gagasan yang disangkanya brilian: berikan saja mereka jenis toilet ketiga! Sebutlah ia toilet unisex! Laki-laki dan perempuan, semua boleh masuk, termasuk juga laki-laki yang merasa dirinya perempuan, atau perempuan yang merasa dirinya lelaki. Pada titik ini, barangkali ada yang iseng bertanya: jika seorang laki-laki transgender merasa dirinya perempuan, apakah ia tidak merasa malu masuk ke toilet bersama para laki-laki (baik lelaki sejati maupun perempuan yang merasa lelaki)? Jika tidak ada rasa malu, maka itu berarti ada satu lagi nilai kemanusiaan yang telah direvisi oleh akal manusia sekuler yang tak pernah salah.

Tentu saja, solusi ini tidak segampang kedengarannya. Itu tandanya, semua gedung perkantoran, mal, sekolah, kampus dan sebagainya pun harus menyesuaikan diri. Di gedung-gedung besar, yang sudah dibangun dua toilet (yaitu toilet laki-laki dan perempuan) di setiap lantainya, kini harus ditambah lagi dengan toilet ketiga. Bagi para pengusaha, ini adalah persoalan serius, karena menyangkut dana yang tidak sedikit.

Persoalan lainnya yang lebih filosofis sebenarnya masih mengintai, meski jumlah toilet sudah ditambah. Jika tujuan awalnya adalah menolak diskriminasi, bukankah pembuatan toilet ketiga ini justru telah mencederai semangat itu? Menyuruh kaum transgender untuk menggunakan toilet ketiga itu sama artinya dengan mengatakan bahwa mereka memang tidak sama dengan yang lainnya, alias mereka bukan laki-laki dan bukan pula perempuan, sebab kedua jenis tersebut telah memiliki toiletnya masing-masing. Jika demikian, maka tujuan awal tadi sama sekali tak tercapai, karena seorang lelaki yang berkhayal bahwa dirinya seorang perempuan tetaplah tidak diakui sebagai seorang perempuan (dan tidak pula diterima di kalangan lelaki), demikian pula berlaku pada kaum transgender yang sebaliknya.

Alternatif dari solusi pembuatan toilet, tentu saja, adalah pemaksaan kepada seluruh warga dunia untuk menerima dogma kaum transgender, yaitu untuk menerima mereka sesuai klaimnya. Kalau demikian, lantas apa bedanya dengan dogma dan konstruk sosial yang hendak mereka runtuhkan selama ini? Mereka hanya mengganti dogma dengan dogma, mengganti konstruk sosial dengan konstruk sosial. Bedanya, yang pertama sejalan dengan kehendak Tuhan, sedangkan pengganti yang mereka tawarkan itu bertentangan dengan kehendak-Nya. Kira-kira, di hadapan Tuhan nanti, apa yang hendak dikatakan? Ataukah sosok Tuhan itu sendiri hendak diklaim sebagai sebuah konstruk sosial? Teori bahwa ‘manusialah yang menciptakan Tuhan’ sama sekali bukan barang baru, demikian pula penolakannya.

Sementara khayalan manusia sekuler terus berkembang, permasalahan kaum transgender tidak juga berkurang. Di suatu sekolah, para siswi yang menekuni dunia atletik mengeluh karena ada sejumlah laki-laki transgender yang mengaku perempuan mendaftarkan diri ke dalam lomba lari untuk kelas perempuan. Seperti dapat dengan mudah ditebak, mereka selalu menjadi juara. Apakah ini adil?

Di tempat lain, sejumlah kaum transgender menyampaikan kisah pilunya kepada dunia. Mereka mengaku menyesal telah mengubah jenis kelaminnya. Sebab, yang dilakukannya itu adalah proses yang tak dapat dibalik. Kini, hanya penyesalan yang tersisa. Ke mana para pembela aksi perubahan kelamin ketika kaum transgender ingin bertaubat dan mengubah kelaminnya ke jenis yang semula?

Semuanya berlangsung sesuai pakem tragedi dalam tradisi seni panggung Yunani kuno; manusia memiliki keinginan, menentang Tuhan, kemudian terpaksa menelan pil pahit, sebab pada akhirnya manusia hanyalah manusia, dan tak ada yang bisa mengganggu-gugat rencana Tuhan. Itu pula sebabnya Prof. M. Naquib al-Attas menyebut perjuangan manusia sekuler sebagai tragedi. Sebuah pemberontakan yang tak mungkin membuahkan hasil, namun dipaksakan juga.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.