Tujuh Selepas Ramadhan
1750
post-template-default,single,single-post,postid-1750,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-1.0.5,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-18.1,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.2,vc_responsive

Tujuh Selepas Ramadhan

Tujuh Selepas Ramadhan

IMG20190403140845assalaamu’alaikum wr. wb.

Di tahun 2004 yang lalu, umat Muslim di Thailand dipersekusi. Kedua tangan mereka terikat, kemudian mereka ditumpuk begitu saja di dalam truk. Sebagian menjemput ajalnya dalam keadaan itu itu. Dengan entengnya, pemerintah Thailand mengatakan bahwa mereka mati karena sedang shaum. Menjelang Ramadhan kemarin, di tanah air pun ada yang mewacanakan agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) memfatwakan tidak perlunya shaum Ramadhan dalam rangka menghadapi Pandemi Covid-19. Begitulah pandangan orang-orang yang tidak mengerti Ramadhan. Mereka pikir, umat Muslim lemah saat melaksanakan shaum. Kita semua tahu persis bahwa yang terjadi justru sebaliknya.

Di tahun yang sama ketika shaum Ramadhan pertama kali disyari’atkan, yaitu pada tahun 2 H, Perang Badar terjadi. Persis sembilan puluh tahun kemudian, Thariq bin Ziyad memimpin dua belas ribu pasukannya untuk menaklukkan Rodrigo, Sang Raja Gotik penjajah negeri Andalusia yang membawa seratus ribu pasukannya. Perang itu berkecamuk sejak akhir Ramadhan, dan baru berakhir pada tanggal 5 Syawal. Hasil akhirnya, Rodrigo menghilang dan pasukannya kocar-kacir, sedangkan Andalusia (meliputi sebagian Spanyol dan seluruh Portugal hari ini) menjadi negeri Islam selama lebih dari tujuh ratus tahun. Sekitar empat setengah abad sesudahnya, Republik Indonesia diproklamasikan tanpa restu Jepang, tanpa mempedulikan pula perasaan para pemenang Perang Dunia II, lagi-lagi di Bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan, umat Muslim hanya bertambah kuat, bertambah gesit, dan bertambah berani.

Mereka yang sudah merasakan manisnya Ramadhan pasti ingin agar Ramadhan itu terus berlangsung selamanya saja. Kita menemukan ‘versi terbaik’ dari diri kita di Bulan Ramadhan. Pada masa-masa itu, setan dibelenggu, dan semua amal shalih terasa begitu ringan untuk dijalankan. Yang biasanya susah bangun di akhir malam ternyata enteng saja melaksanakan sahur. Yang punya sakit maag pun jarang mengeluh saat melaksanakan shaum, dan yang biasanya merasa berat shalat empat raka’at tiba-tiba saja bisa bertahan hingga sebelas atau bahkan dua puluh tiga.

Kenyataannya, Ramadhan hanyalah satu dari dua belas bulan. Kita tidak mungkin mengharapkannya berlangsung sepanjang tahun. Karena itu, orang pun mengarahkan harapannya kepada hal yang lebih realistis: mereka ingin mempertahankan kondisi keimanannya seperti di saat Ramadhan, meski Ramadhannya sudah berakhir! Untuk itu, ada beberapa tips yang hendak saya bagikan, diiringi doa agar si penulis pun diberikan kekuatan untuk menerapkan tips-tips yang diberikannya.

 

1. Mintalah!

Anda melakukan sebuah kekeliruan yang sangat besar jika menyangka bahwa keadaan seseorang adalah hasil dari jerih payahnya sendiri. Jika Anda berada dalam keadaan yang baik, maka itu adalah karena kasih sayang Allah SWT. Misalnya, jika Anda kini rajin shalat, maka itu tidak lain karena Allah SWT telah menitipkan Anda kepada orang tua yang mencontohkan komitmen yang kuat pada shalat, membimbing Anda untuk mencintai masjid, dan juga karena teman-teman sepermainan yang juga baik. Bahkan ada orang yang tadinya ahli maksiat namun kemudian Allah SWT pertemukan dengan teman yang shalih, dan keshalihannya itu ‘menular’ kepada dirinya.

Karena itu, sebelum berusaha, termasuk berusaha untuk istiqamah, janganlah lupa meminta kepada Allah SWT. Mintalah sungguh-sungguh agar Allah SWT tidak mengembalikan kita kepada kondisi kita yang dahulu, atau kepada kemaksiatan yang telah kita tinggalkan. Ummu Salamah ra, salah seorang istri Rasulullah saw, pernah mengatakan bahwa doa yang paling sering diucapkan oleh Rasulullah saw adalah “Wahai Yang Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu” (Yaa muqallibal-quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika). Kalau Rasulullah saw saja sampai merasa perlu memohon keteguhan hati, bukankah kita lebih memerlukannya daripada beliau?

 

2. Shaum Syawal

Salah satu hikmah dari pelaksanaan shaum Syawal, menurut pengalaman saya pribadi, berkaitan dengan kegembiraan ‘Idul Fithri dan sesudahnya yang berpotensi melenakan. Setelah sebulan lamanya melaksanakan shaum, memang kita diharamkan untuk shaum di Hari Raya, akan tetapi bukan berarti kita bisa membiarkan syahwat perut kita tanpa kendali di hari-hari sesudahnya. Shaum Syawal, meskipun cuma enam hari saja, mengajari kita bahwa kita tidak perlu terjerumus dalam kesalahan yang sama seperti yang dilakukan banyak orang. Dengan melakukan shaum Syawal, maka seolah-olah kita mengatakan kepada diri sendiri, dan juga kepada dunia, bahwa shaum itu mudah, dan kita tidak perlu menjadi budak dari perut kita sendiri.

 

3. Shaum Sunnah di Sepuluh Bulan Berikutnya

Kalau sudah melaksanakan shaum Syawal, yang insya Allah dimudahkan, maka lanjutkanlah dengan shaum sunnah lainnya di bulan-bulan berikutnya. Jangan remehkan shaum sunnah. Mungkin kita membutuhkan sedikit matematika untuk mendapatkan perspektif yang pas. Jika sebulan ada sekitar tiga puluh hari, maka jika Anda melaksanakan Shaum Senin-Kamis, itu berarti Anda telah shaum sebanyak seperempat bulan. Jika ditambah dengan Shaum Ayyamul Bidh pada setiap tanggal 13, 14 dan 15, itu artinya Anda telah shaum sepertiga bulan. Dan tentu saja, jika Anda melaksanakan Shaum Daud, maka Anda telah shaum setengah bulan. Luar biasa, bukan? 

 

4. Pilihlah!

Hidup adalah sebuah proses belajar, dan yang namanya belajar takkan bisa dilahap sekaligus. Karena itu, programlah peningkatan ibadah secara bertahap. Yang belum pernah shaum sunnah jangan nekat mencanangkan program shaum Daud. Yang belum pernah qiyamullail jangan langsung mewajibkan diri shalat delapan raka’at plus tiga di akhir malam. Dua raka’at yang istiqamah lebih disukai ketimbang sebelas raka’at yang hanya bertahan beberapa malam saja. Anda tidak punya kewajiban menjalankan semua ibadah sunnah sekaligus (namanya saja ibadah sunnah!), tapi pilihlah satu-dua, kemudian jalankan secara istiqamah. Perjalanan sepanjang apa pun toh dilalui selangkah demi selangkah juga.

 

5. Takkan Sebagus Ramadhan

Mereka yang teliti pasti menyadari bahwa artikel ini sejak awal tidak menjanjikan amal ibadah yang sebagus Ramadhan, karena memang hal semacam itu sangat jarang (untuk tidak mengatakan tidak pernah dan tidak mungkin) terjadi! Kalau tidak percaya, silakan cari orang yang i’tikaf sepanjang tahun di masjid, sebagaimana ia i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Tidak ada, ‘kan? Bahkan Rasulullah saw dan para sahabatnya pun tidak demikian. Pada dasarnya, Ramadhan memang bulan spesial yang harus kita perlakukan secara spesial pula. Kalau Anda bertekad untuk beribadah sekuat Ramadhan di bulan-bulan lain, kemungkinan besar Anda akan kecewa. Pasanglah target realistis, dan janganlah menyiksa diri dengan menjadi seorang perfeksionis!

 

6. Siapkan Target Berkala

Susunlah rencana kemajuan. Di Bulan Ramadhan, rasanya mudah saja menamatkan tilawah 1 juz per hari. Selepas Ramadhan, banyak yang tidak mampu. Maka cobalah pasang target, dimulai dari target Ramadhan berikutnya. Jika Ramadhan berikutnya kita berharap bisa khatam Qur’an dua kali, itu artinya kita harus bisa membaca dua juz per hari. Itu artinya, di luar Ramadhan, katakanlah di Bulan Rajab, kita harus sudah terbiasa membaca satu juz per hari. Jika di Bulan Syawal ini kita hanya bisa membaca seperempat juz per hari, maka kita sudah bisa menyusun target dari Syawal hingga Rajab. Sebagai contoh, kita biasakan seperempat juz per hari hingga Dzulhijjah. Di Bulan Dzulhijjah, targetnya menjadi setengah juz per hari. Beberapa bulan kemudian, targetnya naik lagi menjadi tiga perempat juz. Begitu seterusnya. Ketika kita bertemu Ramadhan berikutnya, maka kita dalam keadaan yang lebih siap daripada setahun sebelumnya.

 

7. Kita Hanya Manusia

Tips terakhir ini juga berkaitan dengan upaya kita menjauhkan diri dari benih-benih perfeksionisme. Jika Anda tak bisa menerima kegagalan, maka Anda takkan mengecap keberhasilan selamanya. Manusia itu pelupa, imannya naik-turun, hatinya terbolak-balik. Apa yang Anda harapkan? Jadi, kalau sekali-sekali performa Anda di bawah target, jangan terlalu lama terpuruk dalam kesedihan. Allah SWT saja masih menerima taubat manusia sampai matahari terbit dari Barat. Ingatlah Nabi Ibrahim as dan cucunya, Nabi Ya’qub as, yang berpesan bahwa yang berputus asa itu hanyalah orang-orang sesat dan kafir (lihat QS. 15:56 dan 12:87).

Semoga Allah SWT pertemukan kita kembali dengan Bulan Ramadhan berikutnya dalam keadaan yang lebih baik daripada saat kita bertemu dengan Bulan Ramadhan tahun ini!

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.