Berbohong Itu Gampang
437
post-template-default,single,single-post,postid-437,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Berbohong Itu Gampang

Berbohong Itu Gampang

assalaamu’alaikum wr. wb.

Believe it or not, lying is not that difficult! Terbukti, yang gemar berbohong biasanya adalah orang-orang yang tidak terlalu pintar. Biasanya kebohongan memang dilakukan untuk menutup-nutupi sesuatu, dan yang memiliki banyak hal untuk ditutup-tutupi biasanya adalah orang-orang yang tidak pintar.

Di era serba instan ini, orang menghendaki segala jawaban yang serba instan. Ketika bertanya tentang suatu permasalahan, misalnya, kawula muda yang sehari-harinya ‘menghuni dunia maya’ biasanya akan segera bertanya: “Ada link, nggak?” Seolah-olah jawaban dari segala permasalahan di dunia ini bisa dijawab dengan link yang biasanya mengantar orang kepada sebuah artikel pendek saja. Banyak orang yang sudah tak terbiasa lagi menelusuri permasalahan dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengannya, atau melakukan penelusuran pustaka hingga ke sumber aslinya.

Pagi ini, saya dikejutkan dengan sebuah komentar ‘berani’ dari sebuah akun anonim di Twitter bernama @Nabilah90210. Dalam tweet-nya, ia mengatakan :

“Non muslim apakah bs masuk surga? dpt pahala? ini dia tafsir dari buya hamka”

Pada tweet yang sama, akun ini juga menyertakan link menuju sebuah artikel. Di sinilah kesalahan pertama terjadi. Ternyata, Nabilah (sebut saja demikian, meski itu bukan nama aslinya) tidak merujuk pada Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka yang sebenarnya, melainkan pada sebuah artikel pendek karangan Syafi’i Maarif. Memang artikel tersebut berusaha mengupas pandangan Buya Hamka, namun bagaimana pun ia tetaplah artikel Syafi’i Maarif, bukan Buya Hamka sendiri. Mengatakan bahwa isi artikel tersebut mewakili pemikiran Buya Hamka adalah sebuah ketidakjujuran akademis.

Sang pengunggah artikel yang dituju itu pun sesungguhnya telah bertindak tidak jujur, karena telah mengganti judul artikel. Saya sudah sangat mengenali artikel tersebut, karena ia menjadi bagian penting dalam pembahasan tesis saya. Judul aslinya adalah “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah”, namun diganti menjadi “Non Muslim Apakah Bisa Masuk Surga? Tafsir Buya Hamka”. Apakah sang pengunggah (di laman situsnya tertulis “ArifBijaksana”) telah meminta ijin perihal penggantian judul ini?

Mari beralih pada isi artikelnya. Setelah artikel ini dimuat di Rubrik Resonansi surat kabar Republika, terjadilah polemik yang sangat tajam, melibatkan beberapa nama cendekiawan Muslim seperti Dr. Adian Husaini dan Dr. Syamsuddin Arif. Perdebatan terjadi karena artikel tersebut memberikan kesan seolah-olah Buya Hamka berpendapat bahwa umat Non-Muslim bisa masuk surga (dan kesan ini semakin ‘diperparah’ dengan adanya penggantian judul sebagaimana yang dijelaskan di atas). Secara eksplisit, Syafi’i Maarif tidak mengatakan hal demikian. Hanya saja, cara Syafi’i memotong-motong penjelasan Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar memang mengarahkan pembaca pada kesimpulan yang demikian.

Artikel ini bukanlah tempat yang tepat untuk mendudukkan persoalan ini secara tuntas. Mereka yang menginginkan pembahasan komprehensif dapat membaca tesis saya yang kini sudah dibukukan dengan judul Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme. Hanya saja, perlu dicatat di sini bahwa QS. Al-Baqarah [2]: 69 dan QS. Al-Maaidah [5]: 62 memang selalu dimanipulasi oleh kaum pluralis, yaitu dengan menariknya keluar konteks dengan mengabaikan asbabun nuzul-nya. Jika ingin mengetahui dengan jelas pandangan Buya Hamka mengenai hal ini, maka sebaiknya kita merujuk langsung pada Tafsir Al-Azhar, dengan memberi perhatian khusus pada penjelasan soal asbabun nuzul dan tentang nama agama Yahudi, Nasrani dan Shabi’in sebagaimana yang telah beliau jelaskan sendiri. Sebagai data tambahan, bagus juga bila merujuk pada sejumlah buku dan artikel karya Buya Hamka yang banyak berbicara tentang pandangan-pandangan beliau terhadap agama-agama lain, terutama sekali agama Kristen. Beberapa buku seperti Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam atau Dari Hati ke Hati yang merangkum artikel-artikel beliau dapat menjadi pilihan.

Adapun mengenai pandangan pluralisme yang menganggap semua agama itu sama-sama benar dan sama-sama baiknya, pendapat Buya Hamka agaknya dapat diwakili dari pernyataannya dalam Tafsir Al-Azhar ketika beliau menafsirkan ayat ke-9 dari Surah Al-Mumtahanah. Berikut ini kutipannya:

…orang yang mengaku dirinya seorang Islam tetapi dia berkata; “Bagi saya segala agama itu adalah sama saja, karena sama-sama baik tujuannya.” Orang yang berkata begini nyatalah bahwa tidak ada agama yang mengisi hatinya. Kalau dia mengatakan dirinya Islam, maka perkataannya itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena bagi orang Islam sejati, agama yang sebenarnya itu hanya Islam.

Hal yang ingin saya garisbawahi sebagai pelajaran penting di sini adalah perihal mudahnya berdusta di era cyber seperti sekarang ini. Dengan membanjirnya informasi di dunia maya, ironisnya, justru membuat banyak orang kehilangan arah, bahkan sebagian lagi menjadi malas untuk merunut permasalahan secara ilmiah. Semua mengharapkan penjelasan instan yang cukup dibaca dua-tiga menit saja, dan bacaan yang cuma dua-tiga menit itulah yang diharapkan mampu menjawab semua persoalan!

Di sinilah para pembohong ‘mendapat angin’. Di tengah-tengah masyarakat yang sudah kehilangan tradisi intelektualnya, mereka mampu menemukan kesempatan. Sementara masyarakat sudah tidak lagi mau melakukan check & recheck, berbagai informasi bohong bertebaran. Parahnya lagi, berita-berita bohong ini cenderung lebih kencang berhembusnya, sebab biasanya ia lebih bombastis. Berita manakah yang lebih menarik perhatian: Buya Hamka menegaskan bahwa hanya Islam agama yang haq, ataukah Buya Hamka menyatakan semua Non-Muslim bisa masuk surga?

Itulah sebabnya saya kurang suka meladeni perdebatan di Twitter. Pembatasan 140 karakter tidak memungkinkan kita untuk memberikan penjelasan yang komprehensif. Sebaliknya, 140 karakter terbukti sangat cukup untuk menebar berita bohong. Oleh karena itu, para cendekiawan yang memegang teguh tradisi ilmiah dan berusaha untuk tetap jujur dalam kerjanya akan merasakan kepayahan jika harus berdebat di media sosial semacam Twitter. Sebaliknya, para penebar berita dusta dapat dengan mudah eksis, apalagi dengan dimungkinkannya pembuatan akun anonim sebanyak-banyaknya, ditingkahi dengan rendahnya budaya literasi dan tradisi ilmiah masyarakat kita.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

 

Artikel ini pernah dimuat di sini.

3 Comments
  • Bagus
    Posted at 15:58h, 16 January Reply

    Teknik copywriting kang akmal. Memaksa pembacanya untuk bertindak dengan headline yang mengejutkan. Entah apa yang ada di balik link bit.ly nya itu. Yang jelas lewat penulisan judulnya sudah jelas kalau itu maksudnya memaksa pembacanya untuk mengeklik dan bukan untuk mengkaji isinya.

    • malakmalakmal
      Posted at 05:24h, 17 January Reply

      Ya saya sudah menelusuri link-nya dulu, isinya seperti yg saya jelaskan di artikel. Link itu mengarahkan pada artikel karya Syafii Maarif, persis sama tanpa diedit, hanya saja diganti judulnya dan di awal disebut-sebut sebagai pemikiran Hamka, padahal itu adalah PENDAPAT Syafii Maarif tentang pemikiran Hamka, dan itu pun sudah saya buktikan bahwa pendapatnya sangat keliru.

  • Febrianto Z Mooduto
    Posted at 11:31h, 17 January Reply

    Luar biasa fitnah dan kedustaan yang terjadi saat ini….
    Budaya literacy ternyata jadi salah satu akar maslahnya.

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.