Harga Diri
333
post-template-default,single,single-post,postid-333,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Harga Diri

Harga Diri

assalaamu’alaikum wr. wb.

Merasa tidak berhak walaupun sudah diberi hak, mungkin itulah kebodohan yang sejati. Manusia di jaman jahiliyyah konon begitu memuliakan Tuhan, sehingga merasa terlalu kotor untuk berhubungan dengan-Nya. Beragam filsafat mereka kemas, kebodohan pun diberi jubah kesucian. Karena Allah begitu suci, maka manusia harus berhubungan dengan berhala-berhala yang mereka buat dengan tangan-tangan mereka sendiri. Orang-orang cerdas di masa itu mungkin pernah pula bertanya-tanya mengapa manusia terlalu kotor untuk bicara dengan Allah, tapi kemudian menggantung nasib pada berhala yang dibuat oleh tangan-tangan kotornya sendiri. Atau tak ada Buya Hamka yang mempertanyakan: kalau yang disembah itu dibuat dari kayu dan tanah, mengapa tidak pohonnya saja yang disembah, atau bukit tempat mereka mengambil tanah?

Janganlah heran jika manusia bisa terjerumus dalam kebingungan yang begitu mendalam (menurut Hamka, mengetahui keberadaan Allah dan merasakan kedekatan dengan-Nya adalah hal mudah yang tak perlu diperdebatkan panjang lebar). Di jaman modern, pemimpin-pemimpin dunia pun tergelincir berjamaah karena tak punya pegangan. Soekarno tidak sendirian ketika ia berkilah bahwa agama itu begitu mulia, sehingga tak perlu dibawa-bawa untuk mengurus politik. Mungkin pemahamannya memang sengaja dibikin unik, karena umumnya orang mengetahui bahwa politik itu mengurus manusia, sedangkan manusia adalah wakil Allah di muka bumi. Kalau Allah itu Maha Mulia, apakah wakil-wakil-Nya boleh direndahkan? Sayang sejuta sayang, tak banyak manusia yang tahu dirinya mewakili siapa, sehingga bertingkah laku seolah ia bukan siapa-siapa.

Sudah sejak lama orang berkumpul di masjid untuk mencari ilmu. Anak-anak muda berkumpul dalam lingkaran-lingkaran kecil, mempelajari setiap detil dari ajaran agamanya dengan teliti. Mulai dari hal-hal yang paling sederhana, seperti urgensi syahadat(ahammiyat asy-syahaadah) sampai hal-hal besar seperti perang pemikiran (ghazwul fikriy). Sejak awal telah dijelaskan bahwa dua kalimat syahadat yang begitu ringan di lidah itu sebenarnya memiliki kekuatan dahsyat yang menjadi dasar perubahan (al-asaas al-inqilaab). Generasi sahabat adalah potret perubahan sempurna, yang membuat bangsa Arab yang orang maupun alamnya sama sekali tidak menarik untuk dijajah menjadi ancaman global bagi Romawi dan Persia sekaligus. Bangsa yang tadinya mengundi nasib dengan anak panah (termasuk untuk urusan menyembelih anak sendiri) kemudian menjadi bangsa intelek yang sudah meneliti peredaran bintang sementara orang-orang Eropa masih berdebat apakah perempuan itu manusia atau bukan.

Barangkali hanya Bilal ra. yang memahami kesendiriannya. Dibawa jauh dari kampung halamannya di Ethiopia, Bilal terdampar sebagai budak di Mekkah. Terdengarlah olehnya ajaran ‘agama baru’ yang membuat seisi kampung gempar. Ajarannya sederhana saja. Tidak perlu setor uang untuk beli kapling surga, cukup menjadikan Allah sebagai satu-satunya Ilah, dan berkomitmen untuk mengikuti Rasul-Nya. Lepaskan diri dari segala ketergantungan, lenyapkan segala kelemahan. Jangan merasa tak mampu, karena kepada Yang Maha Perkasa-lah kita meminta, dan jangan merasa tak berhak, karena kepada Yang Maha Kaya-lah kita meminta. Bilal ra. telah lama terdampar sendirian di Mekkah, sebelum akhirnya ia menyatakan keislamannya tanpa minta ijin majikan. Maka ia disiksa sendirian, dipaksa berbaring di pasir yang amat panas, sementara dadanya dihimpit batu besar. Tapi Bilal ra. tak lagi merasa sendirian. Orang-orang dibuat bingung menyaksikan budak mereka yang tak tahu caranya meronta, malah memanggil-manggil nama bagaikan sedang berdua bersama kekasih: “Ahad… Ahad… Allaahu Ahad…

Untuk memerdekakan budak yang satu ini, tak kurang dari Abu Bakar ra. sendiri yang datang. Majikannya yang sudah muak menghinanya dengan mengatakan bahwa ia akan melepaskan budaknya dengan harga murah, sehingga Abu Bakar ra. membalas celaannya dengan mengatakan bahwa budaknya itu akan ia beli meskipun harganya lebih tinggi lagi. Setelah itu, Bilal ra. tak pernah lagi menjadi budak.

Tak ada lagi sisa-sisa kelemahan dan kerendahdirian seorang budak ketika lembah Badar menggemakan rintihan Bilal ra. yang telah disulap menjadi teriakan pembangkit semangat. Tak ada sungkan yang menghalangi persendiannya saat mengayun senjata maupun ketika menghadang mantan majikannya yang kini telah mengemis-ngemis belas kasihan. Bilal ra. telah merdeka jauh sebelum ia ditebus oleh Abu Bakar ra. Dua kalimat syahadat itulah proklamasi kemerdekaannya; yang menjelaskan siapa dirinya dan siapa yang sebenar-benar memilikinya. Tidaklah wajar memelihara mentalitas budak setelah dimerdekakan. Bagi orang-orang sekelas Sayyid Quthb, sungguh najis bagi jari yang setiap hari memperingati kemerdekaan diri untuk tunduk pada perintah kezaliman, walau sekedar untuk menandatangani secarik surat.

Berjuta orang memproklamirkan kemerdekaannya setiap hari, namun hidup dalam penjara. Mereka merintih-rintih minta surga, namun merasa kurang pantas (baca: terlalu pengecut) untuk bersaing memperebutkan kursi di perguruan tinggi yang baik. Mereka menginginkan kemuliaan, tapi mundur setiap kali ada tantangan. Mereka berteriak-teriak menggugat dominasi musuh atas teknologi, tapi melarikan diri ketika disodori persamaan matematika. Mereka senang mengintip gerhana matahari dan suka berlama-lama mengagumi bintang, tapi tak ada yang siap untuk diserahi tugas membangun teleskop.

Orang-orang bermental budak ini mengelus-elus dada mengasihani saudara-saudaranya di belahan dunia lain yang tak bisa makan tiga kali sehari, susah mencari air, sekolah-sekolahnya dibom, rumah-rumahnya dibuldoser, dan tak ada satu keluarga pun yang tak punya anggota keluarga yang mati dibunuh penjajah. Sementara itu, yang dikasihani malah tak merasa dijajah. Mereka makan seadanya, tapi tak pernah kehabisan energi untuk bersyukur. Sekolah dan rumah dibombardir, tapi mereka masih punya waktu untuk tertawa bersama anak-anaknya, dan orang-orang tak kehabisan semangat (apalagi mahar) untuk menikah. Biarpun hidup dikelilingi blokade, mereka masih menyisihkan sebagian hartanya untuk korban musibah di benua lain, yang barangkali tak pernah mereka perhatikan posisinya di peta. Orang-orang ini sudah merdeka sebelum dunia mengakuinya.

Kalau hatimu tak hidup karena agama ini, maka takkan ada yang dapat melakukannya!

wassalaamu’alaikum wr. wb.

 

Artikel ini pernah dimuat di sini.

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.