Keterasingan Manusia di Era Global
439
post-template-default,single,single-post,postid-439,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Keterasingan Manusia di Era Global

Keterasingan Manusia di Era Global

assalaamu’alaikum wr. wb.

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak (semestinya) hidup sendirian. Banyak hal yang tak bisa kita lakukan sendirian, namun dimungkinkan dengan adanya kerja sama. Demikian juga sebuah bangsa tak mungkin maju jika semuanya kerja sendiri-sendiri.

Arus globalisasi semestinya – atau lebih tepatnya, kita asumsikan – mampu menerobos batas-batas geografis, membawa informasi dari belahan dunia yang satu ke belahan dunia yang lainnya dalam waktu sekejapan mata. Seluruh dunia menjadi sebuah ‘desa besar’ tempat seluruh corak kehidupan manusia yang berbeda-beda menurut agama, kultur dan ideologinya bertemu dan saling bertukar pandangan. Dari perspektif lain, dapat kita katakan bahwa setiap harinya terjadi ‘pertarungan’ yang dahsyat; agama-agama dapat saling berargumen atau dapat juga bersinkretisasi, masing-masing kultur saling mendominasi atau dapat juga meleburkan diri satu sama lainnya, dan ideologi-ideologi pun terus berkembang menjadi semakin jauh dari ‘hitam-putih’-nya.

Di era informasi ini, komoditi utamanya adalah informasi itu sendiri. Informasi memiliki nilai jual tinggi, dan adakalanya juga bisa menjadi ‘alat tukar’. Dengan sedikit usaha saja, orang bisa mendapatkan informasi yang sangat banyak dari daerah yang nun jauh di sana. Setiap harinya kita disuguhi berbagai informasi, mulai dari berita tentang hal-hal yang sama sekali bukan urusan kita (si fulanah hamil di luar nikah, si fulan kedapatan selingkuh, dsb.), yang tidak bermanfaat (ada gaya joget baru yang mendunia, dsb.), dan juga yang murni hoax (“besok Jakarta akan jadi lautan!”, atau “besok kita akan memiliki dua bulan, karena Mars akan terlihat sebesar bulan!”). Begitu banyaknya informasi yang hadir ke hadapan kita, sehingga verifikasi menjadi masalah yang teramat urgen, namun pada saat yang bersamaan, terlalu sering diabaikan.

Dahulu, ketika mendengar ada seseorang meriwayatkan sebuah hadits Nabi saw, Imam Bukhari segera merencanakan perjalanan, berkemas dan melangkah ke negeri yang jauh. Kini, tak ada lagi yang mau repot. Semua informasi diterima dan disebarkan begitu saja tanpa perlu mengubah posisi duduk. Banyak yang lupa bahwa menulis berita bohong sama mudahnya dengan menulis berita jujur.

Dengan adanya kebebasan dalam arti sebebas-bebasnya, sekarang semua orang pun bisa menjadi penulis berita. Tidak perlu capek-capek mengejar sumber berita seperti wartawan, tidak perlu skill kepenulisan yang bagus-bagus amat, karena sekarang semua orang menerima berita apa saja. Apa saja! Mulai dari berita murahan (contoh judul: “Suami Selingkuh, Kepergok Istri, Lompat dari Pagar Tinggi, Jatuh ke Selokan, Kepala Duluan, Mati Deh!”) sampai kalimat di bawah 140 karakter, akan ada saja yang menganggapnya shahih.

Kemajuan teknologi memang memudahkan kita untuk mendapatkan berita, namun tidak selalu membantu kita untuk mendapatkan berita yang benar. Informasi paling shahih, tentu saja, bisa kita dapatkan dengan penanganan langsung ke lapangan, layaknya Imam Bukhari yang tidak berpuas diri dengan berita yang cuma “katanya, katanya…”

Globalisasi telah membuat kaki kita malas melangkah, karena kita merasa sudah cukup mendapatkan informasi dengan duduk bersama gadget masing-masing saja. Dalam situasi seperti ini, para pengendali berita akan menjadi pengendali dunia. Mereka mampu ‘menciptakan dunia’ di dalam kepala orang banyak. Ironisnya, dunia di dalam kepala itu sama sekali tidak terhubung dengan dunia yang sesungguhnya.

Itulah Sigmund Freud dengan teori-teorinya yang oleh Prof. Malik Badri, ahli psikologi Islam ternama, disebut sebagai ‘armchair thinking’. Freud banyak sekali merumuskan teori-teorinya dengan duduk-duduk dan berpikir saja, sehingga teori-teorinya sangat jauh dari realita. Demikian juga teori-teori Karl Marx yang sesungguhnya tak pernah diaplikasikan oleh sang perumusnya sendiri, sebab Marx hanyalah orang yang berkutat dengan meja kerjanya sendiri. Demikianlah komunisme yang selalu mengajak rakyat untuk hidup prihatin meski pemimpinnya selalu bergelimang harta, atau kapitalisme yang selalu menyuarakan kompetisi bebas meski kenyataannya tidak pernah sesederhana itu.

Masih segar ingatan tentang diskusi ringan saya bersama guru kami, ust. Suhairy Ilyas. Ketika itu, beliau baru saja kembali dari kampung halamannya di Sumatera Barat (Sumbar) yang baru saja mendapat musibah gempa bumi yang cukup dahsyat. Sejumlah gedung besar luluh lantak dan beberapa desa terisolir karena tanah longsor. “Rakyat Minang tidak hanya butuh bantuan dana dan material, tapi juga butuh dorongan moril,” demikian ungkap beliau saat itu.

Dorongan moril yang dimaksud adalah nasihat dari para ulama, yang sebagiannya berupa ajakan untuk introspeksi diri. Pada saat itu, para ulama menyerukan rakyat Sumbar untuk sama-sama ber-muhasabah, memperhitungkan dosa-dosa kita bersama, sehingga dapat mengambil hikmah dari musibah yang telah terjadi. Masyarakat Sumbar, yang memang religius dan selalu memiliki hubungan solid dengan para ulama, menerima nasihat tersebut dengan lapang dada.

Akan tetapi, realita di media massa – apalagi dunia maya – bisa sangat berlainan dengan situasi di lapangan. Saya menyaksikan sendiri betapa banyak orang dari kelompok sekuler-liberal yang justru mencemooh nasihat para ulama Sumbar tersebut. Kata mereka, rakyat saat itu butuh pertolongan, bukan malah dipersalahkan. Lagipula, mereka pun tidak percaya sama sekali bahwa musibah terjadi sebagai teguran dari Yang Maha Kuasa. Muncullah kesan bahwa para ulama ini bisanya hanya menyalah-nyalahkan, bikin fatwa dan bicara soal neraka.

Para ‘komentator’ itu bukanlah rakyat Sumbar yang dengan hati lapang menerima nasihat para ulama. Mereka pun bukan para ulama yang turut serta merasakan penderitaan rakyat. Bahkan mereka tidak termasuk di antara kelompok-kelompok yang turun tangan secara langsung meringankan penderitaan korban musibah. Mereka hanya sekedar berkomentar. Itulah sebabnya komentar-komentar mereka hanya berhasil membuat ‘ricuh’ di wilayahnya sendiri. Adapun di Sumbar, gaungnya tak pernah terdengar.

Setiap jelang Idul Adha, terjadi polemik di dunia maya. Kata sebagian orang, yang terjadi adalah pembantaian hewan demi nafsu makan manusia. Bahkan ada yang menyebutnya mubadzir, sebab orang-orang miskin sesungguhnya tidak butuh daging lezat selama beberapa hari saja, melainkan butuh uang tunai, pakaian, tempat tinggal yang layak, modal usaha, dan beasiswa untuk anak-anaknya. Umat Muslim dan – terutama – para ulamanya dihujat lantaran menganggap bahwa menyembelih hewan kurban lebih penting daripada hal-hal tersebut. Padahal, di hari-hari lain, mereka yang dihujat itulah yang menyantuni orang-orang miskin dengan berbagai cara, sedangkan mereka yang menghujat dari hari ke hari hanya bergelut dengan keyboard dan monitor masing-masing.

Hal yang sama terjadi kini. Ketika banjir hebat melanda DKI Jakarta dan sekitarnya, para ‘pelahap informasi’ yang hanya duduk manis di belakang meja pun sibuk memperdebatkan hal-hal yang tidak relevan. Ramai mereka memperbincangkan seputar partai-partai yang menolong korban banjir dengan atribut lengkap, seolah-olah beratribut itu sama dengan kampanye. Padahal, korban banjir tidak mempermasalahkan hal tersebut, bahkan sebaliknya, relawan justru dianggap bermasalah kalau tidak mengenakan atribut, sebab identitasnya tidak jelas. Siapa yang mau membongkar perabotan rumahnya bersama relawan yang tidak jelas asal-usulnya? Bagaimana membedakan antara relawan dengan perampok yang ingin memanfaatkan keadaan? Kalau ada relawan tak beratribut yang hanyut diseret arus banjir bandang, harus lapor ke mana? Sebenarnya, pemakaian atribut lengkap justru telah lama menjadi prosedur standar bagi semua relawan dari organisasi mana pun. Tambahan lagi, sesungguhnya tidak sedikit rakyat yang justru bertanya-tanya ke mana perginya partai-partai yang dulu mengemis suara dari rakyat; mengapa mereka justru tak ada saat dibutuhkan?

Terlalu lama ‘berpetualang’ di dunia maya bisa membuat kita kehilangan kontak dengan dunia nyata. Sekedar menyampaikan sebaris kalimat simpatik kepada korban musibah tentu tidak sama dengan yang terjun langsung memberi bantuan. Adakalanya, yang hanya mengetikkan kata-kata di keyboard merasa lebih paham, lebih pintar dan lebih berjasa ketimbang mereka yang bersimbah peluh di medan perjuangan yang sesungguhnya.

Sehebat apa pun ilusi yang diciptakan oleh globalisasi ini, ia tidak akan mengubah tabiat manusia. Manusia yang sesungguhnya hidup di dunia nyata, berhadapan dengan realita, dan bukannya di dunia maya bersama delusi yang diciptakannya sendiri. Betapa malangnya manusia yang dimabuk informasi dalam keterasingannya, sebab ia tak pernah menyadari betapa jauhnya ia dari kaumnya sendiri.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

 

Artikel ini pernah dimuat di sini.

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.