Kontradiksi Dari Sebuah Kenyelenehan
1918
post-template-default,single,single-post,postid-1918,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.8.9,woocommerce-no-js,qode-page-transition-enabled,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-27.3,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.7.0,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-1780,elementor-page elementor-page-1918

Kontradiksi Dari Sebuah Kenyelenehan

Kontradiksi Dari Sebuah Kenyelenehan

20191008_155438

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Agama mengajari manusia caranya untuk berbuat baik. Penjelasan sederhana ini rasanya sudah cukup memuaskan bagi kebanyakan orang. Memang bisa jadi pula ada yang berpandangan bahwa apa yang dipandang baik belum tentu benar. Akan tetapi, justru di situlah nilai signifikan dari kehadiran agama. Supaya orang tidak salah paham membedakan mana yang baik dan yang buruk, maka Allah SWT menurunkan agama sebagai petunjuk.

Jika ada seorang teman kita yang mengkonsumsi narkoba, misalnya, bisa jadi kita akan merasa berada dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi, kita bisa saja berpura-pura bahwa tidak ada yang salah, demi memelihara persahabatan. Ada kekhawatiran, sekiranya kita menegur perilakunya tersebut, maka ia tak mau lagi berteman dengan kita. Di sisi lain, jika terus didiamkan, bisa jadi besok-besok kecanduannya akan semakin bertambah parah, dan bukan tidak mungkin kelak ia akan mati karena overdosis narkoba.

Agama mengajari kita untuk mencegah kemunkaran. Dalam salah satu hadits yang sangat dikenal luas, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa dari kalian melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)

Dalam fatwanya, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan bahwa mengingkari kemunkaran dengan hati bukan berarti berdiam diri. Menurut beliau, hati justru merupakan penggerak manusia. Oleh karena itu, mereka yang tidak bisa mencegah kemunkaran dengan tangan dan lisannya bukan berarti cuma bisa pasrah. Hanya karena mereka tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan kemunkaran, bukan berarti mereka tidak bisa melakukan apa-apa di belakangnya. Jika hati kita mengingkari kemunkaran — misalnya menyaksikan teman mengkonsumsi narkoba — maka wajah takkan tersenyum seolah tak terjadi apa-apa, dan kemungkinan kita takkan betah menyaksikan perbuatan tersebut, sehingga ada berbagai opsi yang terbentang, mulai dari berpaling, pergi menjauh, hingga merencanakan sesuatu untuk menolong teman kita tadi.

Pada kenyataannya, amar ma’ruf tidak pernah dipisah-pisahkan dari nahi munkar, dan keduanya bukanlah pilihan yang bisa diambil sesuai kesenangan pribadi saja. Al-Qur’an menyebut keduanya sebagai ‘syarat dan ketentuan yang berlaku’ apabila umat Muslim hendak memenuhi kapasitasnya sebagai umat yang terbaik, seraya memperbandingkannya dengan golongan Ahli Kitab. Dari pelajaran Sirah Nabawiyah kita menyaksikan bagaimana Rasulullah saw berinteraksi dengan orang-orang Yahudi di Madinah yang mengaku beriman kepada Allah SWT, para Rasul dan Kitab-kitab-Nya, namun mereka tidak mencegah kemunkaran, atau membedakan perlakuan bagi pelanggar hukum yang berasal dari golongan rakyat jelata dengan pelanggar dari golongan elit. Demikianlah Allah SWT berfirman:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq. (QS. Ali ‘Imran [3]: 110)

Sekiranya uraian di atas masih menyisakan ragu perihal tindakan yang tepat terhadap kawan kita si pemakai narkoba, maka ingatlah bahwa membiarkannya dalam kemaksiatan bukanlah perbuatan baik; justru menggagalkannya adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan untuknya. Rasulullah saw menyebut tindakan semacam ini sebagai pertolongan kepada saudara kita yang tengah berbuat zhalim, termasuk zhalim kepada dirinya sendiri, sebagaimana sabda beliau dalam salah satu hadits:

Rasulullah saw bersabda, “Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim dan yang dizhalimi.” Kemudian seseorang yang bertanya kepada beliau tentang caranya menolong orang yang berbuat zhalim. Beliau menjawab, “Sekiranya engkau cegah dia dari perbuatan zhalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pembahasan di atas bisa jadi belum menyelesaikan semua masalah, tapi minimal telah menghapus sebuah dilema. Paling tidak, kita tahu bahwa membiarkan seorang teman dalam kemaksiatan adalah sebuah kejahatan, sedangkan mencegahnya adalah sebuah kebaikan. Apakah pencegahan itu bisa dilakukan dengan serta-merta atau harus menunggu momen yang tepat, dengan kata-kata yang keras atau dengan nasihat yang lembut, dilakukan sendirian atau dengan melibatkan orang-orang lain yang dapat memberikan bantuan; itu semua adalah persoalan berikutnya.

Dengan berpegang pada aturan-aturan agama, maka semestinya segala permasalahan hidup menjadi lebih sederhana, bukannya lebih rumit. Akan tetapi, adakalanya manusia sendiri yang membuat segalanya jadi lebih runyam. Bagi sekelompok orang di Tanah Air, kenyelenehan bahkan telah menjadi sebuah norma (temukan kontradiksinya!), sehingga selalu ada pembenaran bagi setiap kenyelenehan tersebut.

Jika ada pemuda yang rajin shalat, maka niscaya ia akan disebut sebagai pemuda nan shalih. Anehnya, ada juga orang yang jarang terlihat shalat, namun justru dipandang sebagai wali. Kenyataan bahwa ia jarang terlihat shalat disebut-sebut sebagai ‘kekhususannya’, malah tak sedikit yang kemudian berkilah, “Tubuhnya di sini, padahal ruhnya selalu shalat di Masjidil Haram!” Kalau ada yang mengajukan kritik, dikuncilah dengan kata-kata: “Kamu baru memahami dengan mata zhahir, belum dengan mata bathin. Kalau ada tindakannya yang kamu anggap salah, itu karena ilmumu belum nyampe!”

Logika berpikir semacam ini di satu sisi mirip dengan ramalan nasib melalui zodiak yang banyak ditemui di majalah-majalah perempuan dahulu. Ramalan-ramalan semacam itu mustahil diukur kebenarannya, karena sesungguhnya ia hanya bicara tentang hal-hal yang umum saja. Soal keuangan: “Biasakan hemat agar tabungan tidak habis sebelum akhir bulan”. Soal kesehatan: “Sediakan waktu untuk olah raga agar stamina tidak drop”. Soal asmara: “Jaga perasaan pasangan, ia sedang butuh diperhatikan.” Pertanyaannya, kapankah hal-hal yang disebutkan tadi tak relevan? Sudah barang tentu kita harus selalu hemat, harus berolah raga, dan harus menjaga perasaan pasangan; semua itu tak ada hubungannya dengan tanggal lahir kita dan di bulan apa kita hidup sekarang.

Kenyelenehan yang merebak di tengah-tengah masyarakat juga mustahil diuji karena ia dibungkus dengan berbagai ‘mitos’. Yang disebut ‘wali’ takkan salah, dan kalaupun kelihatan salah, maka itu hanya karena ilmu kita yang tidak mampu menggapai logikanya. Kalau kelihatannya dia menyimpang, itu hanya zhahir-nya saja, sedangkan bathin-nya tidak pernah salah. Bahkan jika tubuhnya bisa kita amati dan nilai perbuatannya, maka ruhnya adalah persoalan yang sama sekali berbeda. Jika argumen semacam ini terus yang digunakan, maka segala diskusi tak dibutuhkan lagi. Si fulan benar, dan pokoknya dia benar!

Belakangan ada seseorang yang disebut-sebut wali namun dikritisi orang karena adabnya yang kurang baik kepada seorang ulama yang usianya jauh lebih tua daripada dirinya. Memang wajar jika  ada yang bereaksi keras soal ini, sebab Islam senantiasa mengajari manusia untuk menghormati orang yang lebih tua. Dalam peristiwa Fathu Mekkah, ketika Rasulullah saw sedang berada di Masjidil Haram, datanglah Abu Bakar ra yang tengah menuntun ayahnya, Abu Quhafah, yang pada saat itu telah renta dan kedua matanya buta. Demi melihat kedatangan Abu Quhafah, ayah dari sahabat terdekatnya, Rasulullah saw pun bertanya, “Wahai Abu Bakar, mengapa tidak kau biarkan saja ayahmu di rumah dan aku saja yang datang menemuinya?” Akan tetapi, Abu Bakar ra merasa bahwa ayahnyalah yang lebih pantas mendatangi Rasulullah saw, bukan sebaliknya. Abu Bakar ra memperlihatkan adab yang luhur kepada Rasulullah saw, sedangkan Rasulullah saw memperlihatkan adab yang luhur pula kepada orang yang lebih tua, meskipun beliau adalah seorang Nabi.

Seketika, dunia mayapun diramaikan dengan perdebatan. Untuk menjawab tuduhan soal adab yang buruk tadi, para pengikut ‘sang wali’ mengajukan alasan bahwa sikap yang kelihatan tak beradab itu dilakukan demi menutupi kewaliannya. Sebab, seorang wali memang biasanya tak ingin dikenali sebagai seorang wali. Tapi bukankah itu adalah sebuah paradoks?

Memang benar, adakalanya orang-orang shalih menyembunyikan amal-amalnya demi menjaga kebersihan hati. Mereka ingin agar kebaikan-kebaikannya hanya disaksikan oleh Allah SWT semata, sehingga mereka mendapatkan keyakinan bahwa kelak amal-amal itu dapat dibanggakan di hadapan Allah SWT sebagai amal-amal shalih yang hanya dilandasi keikhlasan. Hanya saja, tidaklah mungkin seseorang bisa menyembunyikan semua amal shalih-nya, sebab ajaran Islam mencakup seluruh segi kehidupan manusia, dan Islam juga menyuruh kita untuk tidak hidup sendirian; oleh karena itu, meskipun seorang hamba nan shalih berusaha menyembunyikan kebaikannya, namun pasti ada saja kebaikannya yang disaksikan oleh orang-orang.

Masalahnya, jika sejak awal ‘seorang wali’ ingin menyembunyikan kewaliannya dengan adab yang buruk, maka bukankah kini — ketika banyak orang mempertanyakan kewaliannya — tujuannya telah tercapai? Lantas mengapa para pengikutnya harus merasa kegerahan dan seolah memiliki kewajiban untuk membuat semua orang mengakui kewaliannya? Kalau memang seorang wali harus berbuat nyeleneh agar tidak dikenali sebagai seorang wali, maka segala kritik dan hujatan justru merupakan tanda keberhasilannya, dan semestinya hal itu tidak memicu perdebatan lebih jauh lagi. Inilah kontradiksi yang dihasilkan dari sebuah kenyelenehan, yang justru semakin menegaskan bahwa sesuatu yang nyeleneh tidaklah dapat dijadikan sebagai sebuah norma. 

Orang yang memiliki maqam tinggi niscaya menjaga adabnya, sehingga semakin banyak hal yang tidak pantas untuk dilakukannya, meski jamak dilakukan oleh orang-orang awam. Para Wali Allah SWT yang sesungguhnya lebih kuat ibadahnya dan lebih indah akhlaq-nya ketimbang orang awam, dan bukan sebaliknya. Jika logika ini yang kita gunakan, maka semuanya akan jadi lebih sederhana dan masuk akal, sehingga kita tidak perlu berkubang dalam pemikiran yang penuh kontradiksi.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

4 Comments
  • Sjaiful
    Posted at 17:14h, 25 May Reply

    Sejuta persen setuju!
    Tak boleh ada orang yg (ingin) diakui “wali”, tapi berperilaku ” tidak syar’i……

  • rahmatullah
    Posted at 18:06h, 25 May Reply

    Semoga kita dijauhkan dari pemikiran nyeleneh seperti itu..

  • Rizamul Malik Akbar
    Posted at 19:03h, 25 May Reply

    Jazakumullohhu khoiron ustazdii

  • Anggi Permana
    Posted at 14:06h, 26 May Reply

    Jazakumullohu khairan katsiran

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.