Logika Dekonstruksi, Dekonstruksi Logika
493
post-template-default,single,single-post,postid-493,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Logika Dekonstruksi, Dekonstruksi Logika

Logika Dekonstruksi, Dekonstruksi Logika

assalaamu’alaikum wr. wb.

Setelah SR, dosen IAIN Sunan Ampel, Surabaya, menginjak lafazh nama Allah di tahun 2006, kini MK, dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB), Padang, menuai sensasi setelah menginjak Al-Qur’an di hadapan para mahasiswanya. Sebelum menginjak lafazh Allah, konon SR berseru: “Sebagai budaya, posisi Al-Qur’an tidak berbeda dengan rumput!” Adapun MK menjelaskan setelah kejadian, “Sebenarnya saya ingin mengajak mereka (mahasiswa, pen.) untuk berpikir sedalam-dalamnya tentang Al-Qur’an.” MK sendiri tidak menampik bahwa dirinya telah menginjak Al-Qur’an. “Memang saya injak, tapi saya mengucapkan istighfar. Karena demi Tuhan, saya tak mau menghina, karena saya orang Islam.”

Laporan dari situs Republika memberikan informasi lebih banyak mengenai alasan penodaan kesucian terhadap Kitab Suci umat Muslim tersebut:

Ia ingin mengajak mahasiswa berpikir Islam-nya mereka. Apakah karena orang tua, atau Islam yang sebenar-benarnya. Dirinya ingin mencari tahu, jika seandainya orang tua dari para mahasiswa itu non-Islam bahkan sampai membenci Islam, bagaimana cara berpikir para mahasiswa tentang Islam.

Menurut para penganut logika dekonstruksi, segala sesuatu hanya bisa diuji kebenarannya dengan didekonstruksi. Untuk menguji sebuah prinsip, maka segala hal yang berkaitan dengannya mesti dipreteli, diragukan dan dipertanyakan. Jika ditemukan inkonsistensi, atau terungkapnya sebuah pertanyaan yang tak terjawab, maka prinsip itu pun ditinggalkan.

Dengan cara berpikir yang demikian, maka logika yang dilestarikan adalah skeptisisme. Segala hal dari A-Z dipertanyakan, termasuk soal-soal agama, Kitab Suci, Nabi, bahkan Tuhan sekalipun. Orang-orang skeptis menyanjung dirinya sendiri dengan mengatakan kepada para pengikutnya (atau calon pengikutnya) bahwa kunci kemajuan tidak lain adalah keraguan. Banyak mempertanyakan berarti banyak mencari jawaban. Oleh karena itu, pencarian kebenaran yang tak kunjung usai adalah ciri khas kaum yang kritis. There’s no comfort in the truth! Sebaliknya, kepada mereka yang terlanjur nyaman dengan keyakinannya, termasuk agamanya sendiri, mereka anggap tidak kritis, fanatik, bahkan apologetik.

Kita dapat melihat bagaimana Ulil Abshar Abdalla, salah seorang penggiat Islam liberal, mencemooh setiap orang yang beriman sepenuhnya kepada Kitab Suci:

Banyak hal dalam Quran yang bisa kita persoalkan secara “kritis”, kalau kita mau sebentar melepaskan diri dari sentimen keimanan sebagai seorang Muslim.

Menurut Ulil, seorang Muslim bersikap ‘apologetik’ dan ‘tidak kritis’ terhadap Al-Qur’an karena sudah terlanjur mengimaninya. Adapun mereka yang tidak beriman tidak memiliki ‘beban’ yang sama di pundaknya. Bahkan Ulil seolah-olah ingin mengatakan bahwa mereka yang masih mengimani Kitab Suci tidaklah menggunakan rasio, tidak modern, dan tidak lebih dari kanak-kanak:

Di hadapan rasio manusia modern yang skeptik, jelas Kitab-Kitab “Suci” itu tampak seperti dongeng anak-anak.

Persoalan dari logika dekonstruksi adalah dekonstruksi itu sendiri. Ketika seseorang mencari harta karun yang terkubur di suatu tempat di sebuah bukit, misalnya, ia tidak perlu sampai menggunakan nuklir untuk membongkar habis isi perut bukit tersebut. Jika hal itu ia lakukan, jangan-jangan tak ada lagi harta yang tersisa untuk dinikmati lantaran ikut hancur bersama sang bukit.

Yang demikian itulah analogi manusia yang mendekonstruksi sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam jangkauan akalnya. Ia memperlakukan Allah seperti obyek penelitian sains, padahal masih begitu banyak ciptaan Allah yang belum mampu dijelaskan oleh sains. Ia bermain-main dengan logikanya sendiri, berasyik-masyuk membahas hal-hal yang rumit, padahal yang sederhana pun belum khatam dipelajarinya. Ia terus-menerus membenturkan diri kepada pertanyaan sulit seputar hakikat surga dan neraka, kemudian mengeluh karena dirinya tidak juga sampai kepada pemahaman yang sejati, seolah-olah agama tidak pernah memberikan pencerahan sedikit pun dalam hidupnya. Kemudian diragukannyalah agama, diragukannyalah Kitab Suci, bahkan diragukannya pula Allah SWT, semata-mata karena ada beberapa pertanyaan yang belum mampu dijawab. Ia tak ubahnya Fir’aun yang meminta dibangunkan bangunan tinggi agar bisa melihat Rabb-nya Musa as, dan setelah terbukti bahwa matanya tak mampu melihat-Nya, dibuatlah kesimpulan bahwa Allah itu tak ada, dan tak ada Tuhan selain dirinya sendiri! Padahal, jika memang ia Tuhan, tentu Fir’aun tak perlu membuat bangunan tinggi-tinggi hanya untuk membuktikan hal tersebut.

Manusia skeptis memuja akalnya sebagaimana Fir’aun tenggelam dalam kenarsisannya sendiri. Manusia skeptis begitu yakin bahwa di hadapan akalnya tak ada lagi misteri, dan semuanya dapat dijelaskan dengan sejelas-jelasnya, seterang cahaya mentari di pagi hari. Tapi coba tanyakanlah kepadanya soal mentari, barangkali tak banyak juga yang bisa ia ceritakan. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, namun mereka tidak menipu selain dirinya sendiri, di luar kesadarannya sendiri (QS. 2:9).

Mereka yang memutuskan untuk menjadi skeptis tidak pernah selesai membangun dirinya sendiri, apalagi peradaban. Segala yang mapan dihancurkannya hingga berkeping-keping. Sudah beriman, kemudian mempertanyakan kembali keimanannya. Terlahir sebagai Muslim, namun berandai-andai apa jadinya jika orang tuanya tidak Muslim. Setelah mereka ragu kepada dirinya sendiri, orang lain pun diajak untuk meragukan dirinya masing-masing. Sebab, tidak ragu itu berarti tidak kritis!

Suatu hari, mungkin mereka akan hidup berbahagia dengan anak-anaknya. Mungkin pula kelak anak-anak itu akan bergembira mendengar ayahnya berkata, “Besok kita main ke pantai! Malam ini tidur cepat, supaya besok badan segar ya!” Anak-anak itu, dengan pikirannya yang masih sederhana, tak perlu susah-susah berpikir soal anggaran liburan, bekal makanan untuk di perjalanan, atau urusan mengecek persediaan bensin di tangki dan kondisi ban yang kurang prima. Itu semua urusan orang tuanya. Dalam perjalanan menuju kedewasaannya, segala hal tersebut akan mereka pelajari dan pahami secara bertahap. Untuk sementara, mereka percayakan banyak hal kepada kedua orang tuanya. Toh, sejak hari-hari pertamanya di dunia, segala kebutuhannya telah mereka penuhi dengan baik. Mungkin, ketika anak-anaknya tertidur lelap dalam mimpi indahnya masing-masing, sang manusia skeptis pun menyadari bahwa masih ada hal-hal yang tidak ia pahami tentang Islam, Al-Qur’an dan Allah SWT, namun banyak pula pencerahan yang telah diterima dalam hidupnya lantaran Islam, Al-Qur’an dan Allah SWT. Lantas mengapa hatinya tak bisa tenteram? Tidak bisakah keimanan dan pencarian kebenaran itu berjalan beriringan?

Manusia yang mendekonstruksi iman seringkali terjebak dengan dekonstruksinya sendiri, ibarat menghancurkan rumah selagi dirinya berada di dalam rumah. Ia berusaha membuktikan keimanannya dengan mendekonstruksi keimanan. Tapi setelah segalanya usai, imannya sudah terlanjur hancur berkeping-keping sehingga tak bisa disusunnya kembali. Sama seperti orang yang beretorika bahwa Allah itu mulia namun justru menghinakan lafazh nama-Nya, atau orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu benar namun justru Al-Qur’an itu yang diinjaknya.

Duhai Tuan, apakah engkau mempelajari ilmu dengan meninggalkan adab? Adakah engkau mencatat pesan-pesan gurumu sambil meludahi pintu rumahnya? Tidakkah engkau melihat nasib orang-orang yang menipu diri?

Catatan: Tulisan Ulil Abshar Abdalla yang berjudul “Memahami Kitab-Kitab Suci Secara Non-Apologetik” bersumber dari sini, namun tautan aslinya tak ditemukan lagi. Meski demikian, tulisannya sudah disalin dan bisa dibaca di laman situs lain.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

 

Tulisan ini pernah dimuat di sini.

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.