Menyelamatkan Anak Negeri dari Khayalannya Sendiri
766
post-template-default,single,single-post,postid-766,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Menyelamatkan Anak Negeri dari Khayalannya Sendiri

Menyelamatkan Anak Negeri dari Khayalannya Sendiri

 

assalaamu’alaikum wr. wb.

Dunia fiksi memang sangat menarik, sebab ia memanjakan khayalan manusia. Manusia bisa berkhayal tentang apa saja yang ia kehendaki, menulis plot seideal apa pun yang ia mau. Mungkin hal ini dilakukan untuk mengekspresikan sebuah cita-cita, atau barangkali juga untuk melarikan diri dari kehidupan nyata yang tak pernah seindah dongeng.

Ada kisah tentang seorang upik abu yang menunggu kehadiran sang pangeran berkuda putih. Betapa idealnya, gadis yang baik hati berjodoh dengan seorang bangsawan yang berhati mulia. Di dunia nyata, kita disuguhi begitu banyak contoh nyata bangsawan yang manipulatif dan mempermainkan kehidupan rakyat jelata seenaknya. Di kutub manakah Anda berdiri; di kubu para pemimpi yang memperjuangkan sebuah idealisme, atau di kubu mereka yang hendak lari dari kenyataan?

Sampai detik ini, Hollywood dan Bollywood masih berjualan mimpi. Dunia hampir berakhir, tapi kiamat sekalipun bisa digagalkan. Dalam perlombaan kebaikan antarbangsa, Amerika Serikat selalu terdepan karena selalu memperjuangkan kebebasan, rasionalisme, dan menjunjung tinggi kesetaraan. Dia yang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia adalah lelaki tampan berambut pirang, bermata biru, populer sejak di bangku sekolah, cemerlang di bangku kuliah, jenius tanpa tanding, dan didambakan oleh kaum hawa. Bicara soal kaum hawa, sang lelaki penyelamat dunia juga hampir pasti didampingi oleh yang ‘sepadan’ dengannya; seorang perempuan tangguh, mandiri, dan jangan lupa juga harus cantik. Wajah dan tubuhnya sesuai standar fotomodel, namun ia mampu bertarung layaknya juara dunia.

Para penulis cerita kadang lupa bahwa sudah begitu banyak perempuan yang mengorbankan hidup dan kewarasannya hanya untuk mendapatkan tubuh ideal. Kompensasi dari senyum dan pose sempurna di hadapan kamera adalah memuntahkan semua makanan yang sudah dicernanya, depresi tak berujung hingga kekecewaan terdalam ketika kosmetik paling hebat sekalipun tak bisa mencegah terjadinya penuaan. Jika Anda ingin menyelamatkan dunia, kemungkinan besar Anda takkan memilih seorang supermodel sebagai tandem. Bicara soal menyelamatkan dunia, kemungkinan besar takkan bisa juga dilakukan oleh lelaki tampan tanpa cela yang umumnya hanya sibuk mempermainkan lawan jenis. Ada begitu banyak orang baik yang tidak berambut pirang dan bermata biru, dan ada terlalu banyak orang baik di luar Amerika Serikat. Jika Anda bertanya kepada warga Amerika tentang negerinya sendiri, jangan heran kalau akan banyak yang hanya bisa tersenyum kecut. Apalagi jika Anda bertanya kepada para penduduk negara lain, misalnya rakyat Irak. Soal kiamat, baik melalui skenario tabrakan dengan asteroid raksasa atau skenario-skenario lainnya, agaknya masih terlalu jauh di awang-awang. Sebab, menghadapi badai tahunan saja manusia masih kewalahan. Itu baru yang rutin.

Tapi manusia bebas mencintai mimpi-mimpinya, sebebas mereka mencintai kisah fiksi kesayangannya. Mereka bebas melepaskan diri dari dunia nyata sejauh-jauhnya, meski alam pikirannya tak kembali setelah kisah berakhir. Hidup di dunia fiksi memang sangat menggoda.

Masih ingatkah engkau tentang sebuah ‘sinetron Islam’ yang tokoh antagonisnya lebih monumental daripada karakter protagonisnya itu? Karakter itu digambarkan sangat rajin shalat. Tidak sekedar shalat, ia rajin shalat di masjid. Tidak hanya di masjid, ia pun hadir di masjid dengan pakaian terbaiknya, bukan pakaian apa pun yang dikenakannya saat adzan berkumandang. Tapi apa dinyana, shalat lima waktunya di masjid tidak mampu menyelamatkannya dari hampir semua penyakit hati. Lima kali ia datang ke masjid setiap harinya, namun waktu seharian dihabiskannya dengan riya’, takabbur, ghibah, hasad, fitnah dan seterusnya.

Para pemirsa terlalu jenius. Mereka pandai sekali mengambil kesimpulan. Setelah ratusan, bahkan ribuan episode, sampailah mereka pada konklusi: buat apa rajin beribadah tapi akhlaq-nya rusak. Lebih baik ibadah biasa-biasa saja, tapi akhlaq-nya baik. Buat apa rajin shalat padahal cuma riya’. Buat apa rajin ke masjid tapi jadi penjahat. Setelah ribuan episode, berkembanglah pemikiran yang lebih radikal: lebih baik kafir tapi baik, daripada muslim tapi jahat.

Hasil akhir dari kontradiksi antara fakta dan fiksi ini adalah keresahan tak berakhir. Pada kenyataannya, yang akhlaq-nya rusak adalah yang ibadahnya lemah. Yang shalat karena riya’ tak mungkin konsisten, karena pencitraan cuma tahan sebentar saja. Memang di negeri kita banyak penjahat, tapi penjahat umumnya jauh dari masjid. Kadang manusia ingin agar khayalannya menjadi nyata. Sayangnya, khayalan tetaplah khayalan. Ia tidak menjadi kenyataan meski manusia lebih suka hidup di dalamnya.

Bertahun-tahun silam, kaum liberalis menumpahkan ambisinya ke dalam sebuah film. Hal pertama yang harus dilakukan adalah meyakinkan penonton bahwa telah terjadi tirani mayoritas di negeri ini. Maka dibuatlah adegan pertama yang begitu menegangkan: seorang pendeta ditikam di depan gerejanya. Apa hubungannya dengan keseluruhan cerita, atau setidaknya pada adegan berikutnya? Tidak ada. Yang penting, pesan tersampaikan: (1) ada masalah di negeri ini, (2) korbannya adalah minoritas, (3) tersangkanya kemungkinan besar adalah mayoritas.

Pemilihan karakter dilakukan dengan begitu apik. Ada seorang aktor Muslim yang hidupnya berantakan, hingga akhirnya hidupnya membaik setelah mau memerankan Yesus dalam sebuah drama di gereja. Ada muslimah berjilbab yang amat simpatik, bekerja di restoran masakan cina yang menyediakan hidangan dari daging babi. Pemilik restoran, yang seorang warga keturunan, tak kalah simpatiknya. Demi memfasilitasi pegawainya yang beragama Islam, maka alat masak untuk daging babi dipisahkannya dengan masakan yang lain. Tambahan lagi, setiap datang waktu shalat, ia mengingatkan pegawainya untuk shalat. Betapa indahnya toleransi.

Seperti biasanya, ada juga karakter lelaki shalih yang kebetulan suami sang muslimah tadi. Ia rajin shalat di masjid, bahkan kadang tidur di masjid. Tapi kehidupannya kacau balau, ia tidak mampu memberi nafkah yang cukup kepada keluarga, dan sehari-harinya cuma bisa marah-marah kepada sang istri. Suatu hari ia dapat ‘pencerahan’ untuk melindungi keamanan gereja, dan kemudian ia menemukan sebuah bom dan mengorbankan jiwanya demi keselamatan gereja dan seluruh jemaatnya. Indahnya pluralisme.

Kenyataannya, tentu saja seratus persen kebalikan dari dongeng. Muslimah yang baik tak bekerja di restoran yang menghidangkan daging babi, dan ada terlalu banyak majikan jahat yang bahkan tak memperbolehkan pegawainya berjilbab atau shalat lima waktu. Lelaki shalih berpasangan dengan perempuan shalihah, dan rumah tangganya umumnya baik-baik saja, tanpa perlu ada kontradiksi antara ibadah dan akhlaq, apalagi sampai harus mati memeluk bom. Tapi kenyataan memang seringkali tidak semenarik khayalan. Bahkan film berlatar belakang sejarah pun ada juga unsur fiksinya. 

Janganlah heran jika kini imajinasi kotor para pembenci itu makin lama makin liar. Begitu liarnya sehingga dibuatlah sebuah film pendek yang dua ratus persen fiksi hanya untuk mendiskreditkan umat Muslim. Dalam film itu, ada ambulans yang dilarang lewat hanya karena pasiennya bukan Muslim. Siapa yang melarang? Ya pasti Muslim, siapa lagi? Padahal, setiap harinya ada ribuan ambulans hilir-mudik di seluruh negeri, dan tak ada satu pun yang ditanya sedang mengantar pasien beragama apa. Begitu sirene menyala, orang sigap memberi jalan. Entah mengapa, di film itu tidak terjadi yang demikian!

Barangkali Badan Pusat Statistik (BPS) perlu merilis data statistik baru yang dapat menunjukkan ada berapa pasien non-Muslim yang diantar oleh ambulans setiap tahunnya dan melewati pemukiman umat Muslim tanpa halangan, sekedar untuk membangunkan orang-orang ini dari mimpi jahatnya. Barangkali saudara-saudara kita yang tidak beragama Islam perlu angkat suara agar mereka yang sudah terlalu jauh dari alam nyata ini sadar bahwa toleransi di negeri ini sejak dahulu masih baik-baik saja, meski pluralisme agama telah difatwakan sebagai pemikiran menyimpang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak 2005 silam.

Negeri ini harus diselamatkan dari para pembohong.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

1 Comment
  • Ahmad Marzuki
    Posted at 00:10h, 04 July Reply

    Saya suka banget dengan tulisan sampeyan. Cara penyampainnya yang sangat lugas dan tanpa tedeng aling aling tentang bahayanya pemikiran sepilis mengingatkan saya pd ceramahnya Dr. Adian Husaini…moga Allah berikan kekuatan dan keberkahan kepada Anda dan siapapun yg peduli dengan nasib kaum muslimin dan terus melahirkan karya terbaik

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.