Merdeka dengan Shaum
301
post-template-default,single,single-post,postid-301,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Merdeka dengan Shaum

Merdeka dengan Shaum

assalaamu’alaikum wr. wb.

Buya Hamka pernah bercerita tentang betapa khawatirnya penguasa feodal kepada Islam. Ketika pulau Jawa masih didominasi peradaban yang mewarisi tradisi Hindu-Budha, raja dan para penghuni keraton adalah makhluk setengah dewa yang kata-katanya tak boleh dibantah, namanya tak boleh disebut langsung, dan kalau menghadap raja tidak boleh langsung menghadapkan wajah padanya, melainkan harus ke bawah kakinya.

Kemudian masuklah Islam dengan damai, sedangkan ajaran hidup yang dibawanya adalah yang paling mudah untuk dicerna akal. Manusia diperintah untuk menyembah satu Tuhan, bukan banyak dewa atau manusia yang bersemedi hingga menjadi setengah dewa. Disuruhlah manusia menjauh dari minuman keras, berjudi, berzina, saling bunuh, berbuat curang dan dosa-dosa lainnya. Tidak boleh sujud atau ruku’ untuk menghormati orang lain, semulia apa pun garis keturunannya, bahkan berdiri untuk menghormati kedatangannya pun tidak perlu, karena Rasulullah saw. sendiri menolak perlakuan begitu.

Feodalisme secara resmi terancam. Akal sehat manusia yang melihat paduka raja sebagai manusia penuh yang hanya daging-tulang-darah ternyata bertepatan dengan ajaran Islam. Manusia bagaikan terbangun dari tidur panjang. Yang tadinya hanya warga kelas kambing yang hidup mengabdi pada manusia lain kini memerdekakan dirinya dengan sebuah ikrar suci untuk menghamba kepada dan hanya kepada Allah SWT.

Islam tidak disebarkan dengan kekerasan, tidak juga dengan semangat makar kepada para penguasa. Akan tetapi, para pemimpin yang sudah terbiasa dimabuk hormat dan sembah sujud pun tak urung merasa gerah. Rakyat tak lagi bersujud simpuh menyambut kedatangannya. Mereka sudah berani menegak kepala dan berdiri sejajar dengan Raja dan para kerabatnya.

Gayung pun bersambut. Pemimpin yang gila kuasa membuka pintu bagi para pendatang yang membawa sejuta provokasi. Dikatakannya, agama baru itu secara perlahan tapi pasti akan menggerogoti kekuasaan keraton. Sebentar lagi takkan ada rakyat yang mau mengabdi, karena agama baru ini mengajari manusia untuk beribadah saja. Jangankan kasta, tahta keraton pun tidak mereka anggap lagi kalau sudah mereka anggap zalim. Ketika dizalimi, mereka akan mengobarkan perlawanan dengan sangat kuat, karena mereka tahu cepat atau lambat dirinya akan mati, bahkan mereka ingin cepat mati, sebab mati itulah istirahatnya. Maka, daripada harus melawan raksasa di kemudian hari, bunuhlah selagi masih bayi!

Amangkurat I pun akhirnya bersepakat dengan Kompeni. Lebih dari enam ribu orang kyai dan santri dibunuh. Musnah sudah penghalang besar kewibawaan sang Raja. Amangkurat I sendiri di kemudian hari keluar dari istananya dengan pikiran yang kacau dan akhirnya mati dalam keadaan gila. Partnernya, para penjajah, meneruskan misinya untuk memisahkan rakyat Jawa sejauh-jauhnya dari ajaran Islam. Kisah-kisah Wali Songo pun dibumbui dengan berbagai cerita menakjubkan, sehingga yang tinggal dari mereka bukanlah kisah kelurusan aqidah-nya, melainkan legenda kesaktiannya. Legenda-legenda yang sudah ada sejak peradaban Hindu-Budha pun dihubung-hubungkan dengan Islam, sehingga menjadi kabur mana yang takhayul dan mana yang ajaran tauhid. Raja-raja Majapahit dihubung-hubungkan garis keturunannya dengan para Nabi, agar orang mau terus memuja para Raja tanpa harus merasa meninggalkan agamanya. Bagi yang terang-terangan membenci Islam, dibuatkanlah kitab Darmogandul dan Gatoloco, yang dikarang-karang sehingga mirip karya para pujangga jaman dahulu kala. Akan tetapi, berdasarkan penelitian terkini, yang juga sejalan dengan pendapat Hamka dan Prof. Rasjidi, kitab-kitab ini muncul setelah kedatangan Belanda ke tanah air, dan isinya sarat dengan puji-pujian terhadap konsep ajaran Kristen. Terbongkarlah sudah.

Puluhan tahun setelah itu, Belanda masih terus menggunakan standar gandanya. Pemerintah kolonial membangun sekolah-sekolah yang tidak mengajarkan pendidikan agama. Alasannya: karena pemerintah kolonial tidak memihak satu agama tertentu. Akan tetapi mereka juga yang membiayai pembangunan sekolah-sekolah yang didirikan oleh kalangan misionaris. Jadilah umat Islam dimurtadkan, dan kalau tidak mau murtad, minimal disekulerkan.

Belanda tahu betul besarnya makna jihad, atau beratnya kalimat takbir di medan gerilya. Nama Allah-lah yang disebut-sebut oleh para inlander yang tak mau mengaku bahwa bangsanya berada di dasar akar pohon evolusi. Rasa takut yang mendalam kepada Allah membuat mereka tak lagi mengenal takut pada bedil dan peluru. Kisah-kisah Perang Badar dan Uhud membuat mereka berjubel mengantri hendak segera melihat wajah Tuhannya. Sejarah hijrah yang membuat warga Bandung lebih rela meninggalkan kampung halaman dilalap api ketimbang harus menyerahkannya pada bangsa pencuri. Pekik “Allaahu akbar!!!” itulah yang membuat lelaki lembut dan sederhana seperti Bung Tomo bisa menggerakkan begitu banyak orang untuk angkat senjata dan menantang maut. Masjid dan langgar-langgar adalah mimpi buruknya pemerintahan sekuler.

Bangsa-bangsa Eropa yang pernah menjajah Asia tahu betul bahayanya Islam.

Islam memerdekakan manusia dengan memastikan bahwa mereka tidak menerima perintah selain dari-Nya. Tidak dari Keraton, tidak dari penjajah. Islam-lah yang menyuruh mereka untuk tidak tinggal diam ketika dizalimi. Allah dan Rasul-Nya-lah yang mengajari manusia bahwa mereka punya hak untuk menuntut qishash, dan semua yang berjenis manusia tidaklah beda di hadapan hukum.

Manusia-manusia merdeka ini masih saja membuat heran banyak bangsa. Hingga kini, banyak orang tak habis pikir mengapa umat Islam melaksanakan shaum. Dalam pandangan mereka, tidak makan dan minum seharian adalah tindakan menyiksa diri. Tapi shaum bukan untuk menyiksa diri, karena jika ada shaum maka pasti ada berbukanya. Islam menerangi jalan menuju kemerdekaan hidup. Merdeka dari penindasan, merdeka dari ketakutan, merdeka dari kungkungan syahwat.

Beginilah umat yang ditakuti para penjajah sejak dahulu kala. Mereka makan dan minum, tapi tidak cemas kalau harus hidup prihatin. Mereka boleh menikmati hartanya, namun siap melarat demi nyawa, bangsa dan agama. Merekalah golongan yang meniru ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra. yang kaya raya namun siap miskin demi hidup bersama Nabi saw. Merekalah kaum yang mengikuti Mush’ab bin ‘Umair ra. yang tadinya pemuda parlente namun mencampakkan semuanya demi tugas dakwah. Mereka itulah para penerus Bilal bin Rabah ra. yang meski disiksa sekeras apa pun lisannya tetap memuji Allah.

Shaum dan kemerdekaan negeri ini memang memiliki ikatan yang erat. Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada bulan Ramadhan; ketika umat Islam berlatih sebulan penuh untuk memerdekakan dirinya dari hawa nafsu. Manusia hanya bisa merdeka jika ia menghamba kepada Allah, dan hanya kepada Allah. Islam-lah yang memerdekakan negeri ini, bukan ateisme dan sekularisme yang hanya muncul ketika keadaan sudah aman.

Shaum adalah sebuah pernyataan sikap bahwa manusia tidak mesti dipenjara oleh nasib, keadaan, bahkan dirinya sendiri. Ketika umat ini sudah tidak paham lagi makna shaum, lenyap sirnalah kewibawaannya. Jangankan mengusir penjajah, mengukur harga diri pun tak akan mampu.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

 

Artikel ini pernah dimuat di sini.

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.