Penyelesaian Metodologis
1837
post-template-default,single,single-post,postid-1837,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.8.9,woocommerce-no-js,qode-page-transition-enabled,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-27.3,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.7.0,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-1780

Penyelesaian Metodologis

Penyelesaian Metodologis

assalaamu’alaikum wr. wb.

Sekira pada tahun 10 H, Rasulullah saw mengutus Mu’adz bin Jabal ra untuk berdakwah di daerah Yaman yang pada waktu itu masih didominasi oleh umat Nashrani. Dalam salah satu nasihatnya kepada Mu’adz ra, Rasulullah saw bertanya kepadanya perihal caranya untuk memutuskan sebuah perkara di sana. Mu’adz ra menjawab bahwa ia akan mencari jawabannya di dalam Kitabullah (Al-Qur’an). Jika tidak ditemukannya di sana, maka ia akan mencarinya di dalam As-Sunnah. Jika tidak pula ditemukannya di As-Sunnah, maka ia akan ber-ijtihad tanpa berlebih-lebihan. Rasulullah saw kemudian memuji Allah SWT dan menyatakan kepuasannya dengan jawaban Mu’adz ra.

IMG_20160830_094554Kisah di atas, yang dapat dijumpai dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, telah dikenal luas sebagai pijakan dasar atas dilakukannya ijtihad. Akan tetapi, ada hal lain yang tidak kalah menariknya dari hadits tersebut, yaitu bagaimana Rasulullah saw sangat mementingkan metode, bukan hasil akhirnya.

Rasulullah saw memulai pertanyaannya secara umum saja: “Bagaimana engkau akan memutuskan perkara yang diajukan orang kepadamu?” Memang tidak ada yang tahu perkara apa yang akan dihadapi Mu’adz ra di negeri Yaman, dan Rasulullah saw pun tidak memberi ‘bocoran’ soal itu dalam bentuk apapun. Jika persoalannya pun belum pasti, maka jawabannya lebih tidak pasti lagi. Siapa yang berani menjamin bahwa Mu’adz ra akan bisa memberikan jawaban yang benar untuk setiap persoalan? Kalau yang diminta adalah jaminan, maka Mu’adz ra pun takkan berani memberikannya. Akan tetapi, yang Rasulullah saw pertanyakan adalah metodenya, bukan jawaban atas persoalan-persoalan yang belum muncul. Mu’adz ra telah memberikan jawaban berupa metode yang benar, yaitu mencarikan jawabannya di Al-Qur’an, kemudian di As-Sunnah, dan kemudian ber-ijtihad, dengan catatan untuk menghindari sikap berlebihan.

Di sekolah-sekolah, terutama di pelajaran-pelajaran yang melibatkan perhitungan, pentingnya metode telah ditekankan sejak lama. Itulah sebabnya, misalnya, untuk menjawab soal-soal esai di pelajaran Matematika, kita perlu memperlihatkan proses perhitungan yang kita pergunakan, bukannya hanya memberikan jawaban akhirnya saja.

Metode ini sangat efektif untuk menguji pengetahuan siswa. Sebab, dengan memperlihatkan proses perhitungannya, maka dapat diketahui betul tingkat pemahaman siswa. Kalau cuma diminta memberikan jawaban akhirnya, bisa jadi jawaban itu diperoleh dengan menyontek. Setidaknya, dengan menuntut dituliskannya proses perhitungan, siswa tidak akan semudah itu menyontek jawaban temannya. Selain itu, dengan memperhatikan metode yang digunakannya, kita akan tahu apakah siswa mampu memberikan jawaban yang benar, dan bukannya hanya beruntung saja.

Kalau metode salah, maka kemungkinan besar jawaban akhirnya salah. Kalaupun mendapatkan jawaban yang benar, maka itu sekedar keberuntungan saja. Anda bisa saja melempar dadu atau koin untuk memilih jawaban, dan bisa saja kebetulan mendapatkan hasil yang benar. Tapi itulah keberuntungan; belum tentu bisa diulang untuk yang kedua kalinya. Karena itu, jika metodenya salah, biasanya jawaban akan tetap dianggap salah.

Pentingnya metode yang benar tidak hanya berlaku pada pelajaran Matematika, tentu saja. Misalnya Anda mengemudikan mobil, salah masuk jalan tol dan perlu berbalik arah. Metode yang benar, tentu saja, bersabar hingga bertemu dengan pintu tol berikutnya, keluar tol, kemudian masuk lagi ke pintu tol yang menuju arah berlawanan. Mungkin agak menyebalkan, tapi itulah risiko dari kesalahan sebelumnya. 

Tentu ada pilihan lain. Daripada buang-buang waktu menunggu pintu tol berikutnya, lebih baik langsung saja banting setir dan menerobos pemisah jalan, langsung masuk ke lajur tol yang arahnya berlawanan. Kalau beruntung, Anda bisa saja selamat setelah melakukan tindakan ekstrem yang demikian. Akan tetapi, kalau harus diulang dua kali, hasilnya belum tentu sama. Anda bisa tertabrak, atau dipergoki petugas yang kebetulan lewat dan kemudian terpaksa singgah ke kantor polisi selama beberapa waktu. Jelaslah bahwa metode yang kedua ini tidak dapat dibenarkan.

Penghargaan Islam terhadap metode terlihat jelas dalam hadits lain yang juga kerap diperbincangkan manakala membahas tentang ijtihad:

Bila seorang hakim memutuskan suatu perkara, lalu dia ber-ijtihad dan benar ijtihad-nya, dia mendapat dua pahala. Dan bila dia salah, mendapat satu pahala. (HR. Abu Dawud)

Mengapa hakim yang ijtihad-nya salah masih mendapat satu pahala? Kalau Mu’adz bin Jabal ra saja, sahabat yang dikenal luas kecerdasannya, tidak bisa dituntut untuk benar melulu, apatah lagi manusia biasa di abad kelima belas Hijriah ini! Memang manusia tempatnya salah. Sekiranya Allah SWT mengharapkan kesempurnaan dari hamba-hamba-Nya, tentu semua manusia akan celaka, tak satupun yang selamat. Akan tetapi, sembarang bertindak juga tak dapat diterima. Karena itu, yang paling penting untuk diperhatikan adalah ditegakkannya metode yang benar. Kalau sudah ber-ijtihad, dan yang dilakukannya itu benar-benar ijtihad, bukan malah mengikuti hawa nafsu untuk menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah seperti yang dilakukan oleh kaum liberal, maka kekurangan yang muncul sesudahnya hanyalah konsekuensi dari ketidaksempurnaan manusia belaka.

Dalam masa-masa pandemi ini, selain krisis kesehatan, kita juga menjumpai krisis intelektual yang tidak kalah mengenaskannya. Di media sosial, misalnya, saya pernah mengkritisi bagaimana sebagian orang menjadikan pengalaman pribadinya sebagai hujjah. Yang satu bilang Covid-19 itu virus ringan semacam flu saja, karena beberapa pekan lalu ia pernah dinyatakan positif terkena virus tersebut, namun gejalanya hanya demam sedikit dan istirahat beberapa hari saja sudah sembuh, alhamdulillaah. Ada juga yang bilang bahwa untuk melawan virus ini cukup dengan mengkonsumsi jamu ini dan itu, dan ada juga yang bilang cukup memperbanyak dzikir saja.

Argumen-argumen semacam ini mengabaikan begitu saja fakta bahwa tubuh manusia itu beda-beda kondisinya, dan ini berlaku untuk penyakit apa saja. Anda bisa saja bilang bahwa asma itu penyakit yang umum dan pertolongan pada saat kambuhnya sudah diketahui banyak orang. Akan tetapi, sampai hari ini toh masih ada juga yang wafat karena asma. Demikian juga demam berdarah, banyak sekali yang sudah ‘mencicipinya’, dan ia dianggap penyakit biasa saja. Bagaimanapun, dalam beberapa kasus, bisa juga mengakibatkan korban jiwa. Karena itu, jika Anda sudah pernah terpapar Covid-19 tapi efeknya cuma pegal-pegal beberapa hari saja, maka bersyukurlah. Tidak semua orang akan mengalami hal yang sama.

Karena tubuh manusia beda-beda, maka reaksinya terhadap obat pun beda-beda juga. Meski penyakitnya sama — katakanlah flu biasa — tapi tidak semua orang akan sembuh dengan obat yang sama. Malahan ada orang yang alergi dengan obat-obat tertentu. Dalam salah satu hadits, Rasulullah saw pernah bersabda bahwa Habbatussauda’ adalah obat dari segala penyakit. Jika kita mau memaknainya sebagai jaminan bahwa semua penyakit akan sembuh dengan Habbatussauda’, maka tentu perkara Covid-19 ini akan mudah saja kita selesaikan. Nyatanya, ulamapun sejak dahulu tidak memaknai hadits tersebut sebagai jaminan mutlak atas keampuhannya. Untuk memahami lebih lanjut penafsiran yang benar tentang soal ini, silakan merujuk kepada penjelasan-penjelasan para ulama.

Setelah saya menyampaikan argumen saya tentang bahayanya menjadikan pengalaman pribadi sebagai hujjah, muncullah sebuah sanggahan yang sangat menggelitik: “Kalau begitu, mau sampai kapan kita terus begini?”

Sanggahan ini sangat mengganggu, saking menggemaskannya. Sementara saya berupaya mengajukan kritik secara metodologis, ia malah memaksa saya untuk memberikan jawaban akhir. Padahal justru di situlah persoalannya: bagaimana mungkin Anda akan sampai pada jawaban akhir yang benar, kalau sejak awal menempuh metode yang salah?

Saya tahu, ia hanya ingin pandemi segera berakhir. Siapa yang tidak? Tapi untuk menemukan solusi dari persoalan berat ini, kita harus menghadapinya secara metodologis. Artinya, kita harus menempuh metode yang benar dulu, barulah berharap akan menemukan jawabannya. Ibarat sedang menyelesaikan sebuah soal matematika, saat ini kita sedang berada di tengah-tengah proses, belum siap memberikan jawaban yang pasti!

Adakah vaksin merupakan jawabannya? Ataukah ada cara lain yang lebih efektif? Kita belum tahu. Yang pasti, jawabannya bukan dari pengalaman pribadi. Sebab, jika jalan itu yang kita tempuh, maka dari 7 miliar manusia, bisa jadi ada 7 miliar jawaban yang berbeda pula. Kalau Anda mengatakan bahwa Covid-19 itu penyakit ringan, maka seorang dokter atau perawat bisa menyanggah dengan pengalamannya juga, sebab mereka setiap harinya melayani sekian pasien. Dapat dipastikan, jawaban seorang dokter atau perawat itu lebih dapat dijadikan sebagai pegangan ketimbang satu orang yang hanya bersandar pada pengalaman pribadinya sendiri.

Banyak orang yang sudah memahami bahayanya Islam liberal. Kesalahan mereka, sesungguhnya, ada pada tataran metodologis. Ambillah contohnya Saidiman Ahmad dengan pembelaannya terhadap perilaku homoseksual dalam artikel Para Penghina Islam. Menurutnya, kaum Nabi Luth as bukan diadzab karena perilaku homoseks, melainkan karena mereka menyodomi malaikat yang diutus Allah SWT kepada Nabi Luth as. Kesimpulan akhir Saidiman yang absurd itu tentu ada sebabnya. Sebagaimana yang dijelaskannya sendiri di dalam artikel tersebut di atas, pemahaman itu bersumber dari penjelasan Ioanes Rakhmat, yang memang tidak beragama Islam. Membuat kesimpulan tentang ajaran Islam berdasarkan teori seorang Non-Muslim; itulah metode menyimpang yang telah ditempuh oleh Saidiman, yang mengantarkannya pada kesimpulan yang menyimpang pula.

Setelah memahami bagaimana Islam liberal melakukan kesalahan secara metodologis, maka seorang Muslim yang taat hendaknya menyelisihi mereka bukan hanya dalam pendapat-pendapatnya, tapi juga secara metodologis. Jika kalangan liberalis terbiasa mengambil fatwa beragama dari orang-orang yang tidak otoritatif, maka aneh sekali kiranya jika saat ini kita mengambil sikap untuk menghadapi pandemi dengan merujuk kepada sebuah akun anonim di media sosial, misalnya. Di berbagai daerah, banyak terdengar asatidz yang dalam ceramahnya malah melarang shalat dengan mematuhi protokol kesehatan, padahal Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memperbolehkannya. Apa bedanya dengan para artis yang bertanya soal Covid-19 kepada seorang dokter hewan di awal masa pandemi dahulu? Mungkin jawaban akhirnya berbeda, namun secara metodologis semuanya sama saja; sama-sama mengabaikan otoritas.

Rasulullah saw seorang Nabi yang paling mulia, namun beliau meninggalkan kita dengan petunjuk-petunjuk untuk berpikir secara metodologis. Jika beliau mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah SWT, apalah susahnya mendapatkan jawaban. Akan tetapi, beliau selalu menunjukkan penghargaannya terhadap keahlian para sahabat. Beliau tidak menolak usul untuk mengambil posisi di dekat mata air di Perang Badar, sebagaimana beliau menerima usul pembuatan parit di Perang Khandaq. Penerimaan yang baik itu menunjukkan bahwa beliau menghargai keahlian para sahabat di bidangnya masing-masing.

Apa yang membuat kita begitu curiga dengan otoritas di masa kini? Padahal, jika ada ilmunya, maka pasti ada ahlinya. Jangankan urusan pandemi yang bisa menyangkut perkara hidup-mati bagi sebagian orang, saat genting rumah bocor pun adakalanya kita meminta bantuan orang lain, yaitu tukang bangunan yang memang lebih ahli dalam urusan itu ketimbang kita. Bertanya kepada ahlinya adalah metode yang benar, dan ini bukan perkara yang terlampau pelik untuk dipahami.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

4 Comments
  • Abu Kirana Al-Ibrahimi
    Posted at 18:18h, 28 June Reply

    Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh..

    Ijin memberi tanggapan sekaligus masukan.

    Di satu sisi, riwayat Mu’adz tersebut tidak sahih. Sanadnya mursal dan perawinya ada yang majhul, sebagaimana menurut Imam Al-Bukhari (dalam Tarikh al-Kabir), Imam Tirmidzi (dalam Sunan-nya), Ibn Hazm (dalam Al-Muhalla) dan lain-lain. Matannya pun cacat, karena yang benar adalah Al-Qur’an dan Sunnah harus dibaca bersama-sama. Andaikata Al-Qur’an dihabiskan dulu lalu nunggu ada yang tidak terjawab baru cek di Sunnah, maka ijtihad semua ulama mazhab dari zaman ke zaman telah salah semua.

    Sebagai contoh kasus, metode seperti ini akan membuat orang kafir dapat menerima waris dari pewaris Muslim karena Al-Qur’an sudah menjawab porsi-porsi anak dalam faraid. Pengecualian orang kafir dari ahli waris terdapat dalam sunnah rasul, yang tidak akan dilihat karena Al-Qur’an sudah “menjawab”. Padahal kedua dalil harus dibaca bersama-sama secara khas-‘aam, dan justru dalam kasus ahli waris kafir yang harus ‘diutamakan’ adalah sunnah karena takshish.

    Akan tetapi, makna yang diambil yaitu soal keutamaan penyelesaian metodologis saya sangat setuju.. terlepas apa yang disampaikan sebelumnya, inshaAllah makna ini banyak ditunjang oleh dalil-dalil lain sebagaimana yang jenengan jelaskan selanjutnya.

    Mudah-mudahan dakwah, ilmu, dan jihad jenengan selalu diberkahi Allah.. barakallaahu fiik

    • malakmalakmal
      Posted at 18:21h, 28 June Reply

      Jazaakumullaah khayran katsiiran, saya dapat banyak ilmu. Mohon terus jaga saya dengan nasihat dan doa.

  • The Shadowbringer
    Posted at 10:12h, 29 June Reply

    “Apa yang membuat kita begitu curiga dengan otoritas di masa kini?”

    Bisa dilihat di jawaban “trus sampai kapan mau begini terus?”

    Lo mungkin cuma ada satu orang yang bilang begitu, gw ada 15, dan ada satu komplek yang gak mau divaksin karena “ah buktinya masih kena juga”

    Salah satu tanda kelelahan mental, berujung pada apatisme, akhirnya intinya bosen sama hidup yang trus menerus ga pasti, trus ya lo tau hasil akhirnya, everything surrounds them drives them crazy, dari info virus yang simpang siur, info peraturan dan vaksin yang juga kadang ga jelas, hiperinformation dari socmed dan orang2, berusaha menggapai sebuah kepastian yang ga ada trus akhirnya bikin kepastian sendiri: “virusnya kagak ada, kita semua diboongin, ini semua konspirasi, yyyaaaarrrgghhhhh29283u2uejdwhqjdhxhsh!!!!”

    Ya gw salut sama orang2 Palestina, their invader wants to kill them all, half the world wants them dead while the other only watches, there are shortage of waters, foods, and there’s the virus now, everything seemed ugly and somehow they managed to STAY SANE, while the world itself tried to drive them crazy

    Kita baru dikenain virus baru aja langsung bilang virusnya ga ada,

    Our mental condition need to be taken care of first, if not berapapun bukti yang lo lemparkan, berapapun kebenaran yang lo sampaikan, ga akan ada yang masuk

    • malakmalakmal
      Posted at 16:12h, 29 June Reply

      Interesting that you mentioned about the Palestinians.

      Di sini ada orang2 yg gak mau bahas Covid karena menurut mereka itu bikin takut aja dan bikin imun turun. Kebayang kalo orang Palestina bilang “Udah deh jangan bahas perang mulu, capek gua!” Padahal dia mau bahas atau nggak, kenyataannya ya sama aja: Perang itu ada! 😀

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.