Ramadhan Anti-Mainstream
720
post-template-default,single,single-post,postid-720,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Ramadhan Anti-Mainstream

Ramadhan Anti-Mainstream

30642113

assalaamu’alaikum wr. wb.

Anti-mainstream itu penting, sebab kebanyakan manusia adalah manusia yang biasa-biasa saja. Jika kita ingin memiliki kelebihan, maka kita harus siap melakukan hal-hal yang tak biasa, atau lebih tepatnya hal-hal yang orang biasa tak sanggup melakukannya. Tapi untuk menjaganya tetap dalam koridor akal sehat, tentu kita harus menarik batas tegas antara sikap ‘anti-mainstream’ dengan ‘asal beda’.

Batas tegas itu adalah kebenaran. Selama masih dalam koridor kebenaran, maka kita bebas berinovasi, melakukan hal-hal yang tak biasa demi mendapatkan kebaikan yang lebih besar. Kalau sudah menghalalkan segala cara, apalagi mencari sensasi atau sekedar ingin terkenal karena melakukan hal-hal konyol, ya bisa juga. Tapi itu norak. Bikin malu keluarga, bangsa dan agama.

Distribusi normal, teorinya, berlaku dalam segala hal. Membacanya sederhana saja. Sebagian besar populasi akan terletak di tengah, dan sebagian kecilnya ada pada nilai yang kecil, dan sebagian kecil lainnya di nilai yang besar. Misalnya, dalam kelas yang berisi 40 siswa, maka sangatlah wajar jika 25 di antaranya memiliki nilai matematika di kisaran 6-8. Hanya segelintir saja yang nilainya di bawah 6, dan hanya segelintir pula yang nilainya di atas 8.

Hal yang sama juga berlaku pada ibadah seperti shaum. Kebanyakan orang mampu melaksanakan ibadah shaum dengan benar. Artinya, insya Allah ibadah shaum-nya sah. Hanya sedikit saja yang tidak mampu melakukannya dengan benar, dan di sisi lain, hanya sedikit pula yang kualitas shaum-nya jauh di atas rata-rata. Ya, namanya juga distribusi normal. Normalnya ya begitu!

Kalau ingin mendapatkan hasil yang lebih, tentu kita tidak bisa berpuas diri dengan cara yang biasa-biasa saja. Jika Ramadhan yang sudah-sudah tidak bisa kita lalui dengan memuaskan, maka kita harus melakukan sesuatu yang tidak biasa.

Berikut ini adalah beberapa tips untuk menghadapi Bulan Suci Ramadhan dengan cara yang ‘anti-mainstream’. Tentu tidak dibatasi sampai di sini. Kalau artikel ini laku dibaca dan dipraktikkan, tentu ia akan jadi mainstream. Ketika saat itu tiba, kita harus membuat inovasi lagi. Tapi tak perlulah kita mengkhayalkan masa depan. Yang jelas, sekarang, di hadapan kita terbentang Ramadhan. Bisa jadi Ramadhan terakhir buat kita; siapa tahu?

Olah Raga
Kita memang diperintahkan untuk shaum, bukan sekedar puasa. Yang namanya puasa itu maknanya tidak lebih dari tidak makan dan minum, dan kedua hal ini sudah tidak lagi jadi masalah bagi orang yang sudah bertahun-tahun melaksanakan shaum. Wajar jika anak TK atau SD mengeluh lapar saat belajar shaum, tapi konyol sekali kalau keluhan yang sama muncul dari lisan anak SMA, mahasiswa, apalagi yang sudah lebih dewasa. Memangnya sudah berapa kali bertemu dengan Ramadhan?

Setelah bertahun-tahun melaksanakan ibadah shaum Ramadhan, tubuh kita pasti sudah terbiasa. Apalagi, di Indonesia, panjangnya shaum dari tahun ke tahun sama saja; jarak antara Subuh dan Maghrib tidak sampai empat belas jam. Maka, bicara lapar dan haus itu semestinya sudah tidak relevan lagi. Atau, sesuai dengan semangat artikel ini, lapar dan haus itu terlalu mainstream!

Nah, karena lapar dan haus itu terlalu mainstream, maka sudah saatnya kita memberikan perlawanan. Kalau dulu, waktu masih kecil, kita merasa lemas saat shaum, apalagi menjelang waktu berbuka, maka kini kita harus bisa menantang diri kita lebih jauh lagi. Bukan hanya kuat shaum, tapi juga harus kuat berolah raga!

Ya, siapa bilang yang shaum tidak boleh berolah raga? Selama tidak melanggar undang-undang, ya lakukan saja! Shaum itu menyehatkan, dan Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk memulai pola hidup sehat. Daripada nongkrong dan sibuk memikirkan menu berbuka, lebih baik berolah raga di sore hari. Dijamin, badan akan terasa ringan, karena memang perutnya kosong. Yang penting manajemen waktunya harus pas. Sediakan jeda waktu untuk beristirahat dan mandi, supaya saat adzan Maghrib berkumandang kita sudah siap untuk berbuka dan segera mendirikan shalat.

Belanja Awal Bulan
Tidak ada yang salah dengan belanja. Tidak ada yang salah pula dengan belanja lebaran. Banyak orang yang cuma beli baju baru dalam rangka lebaran. Memang Idul Fitri adalah Hari Rayanya umat Muslim, dan yang namanya hari raya itu ya dirayakan. Jika pada Hari Jum’at saja kita diperintahkan untuk mengenakan pakaian yang bagus (tapi tidak identik dengan mahal), maka sangat manusiawi jika orang-orang ingin merayakan Idul Fitri dengan pakaian baru.

Yang selalu jadi masalah adalah belanjanya. Masalahnya, belanja lebaran ya selalu menjelang lebaran. Apalagi banyak diskon yang menggoda. Padahal, di akhir Ramadhan, kita justru diajarkan untuk semakin fokus dengan ibadah, bukan fokus berbelanja.

Kita hanya perlu mengubah kebiasaan ini. Memang ada pengorbanan, tapi bukankah hidup memang selalu butuh pengorbanan? Sekarang, marilah kita ubah tradisi belanja lebaran menjadi belanja di awal bulan, dalam hal ini adalah di awal bulan Ramadhan. Ya, mumpung masih di awal Ramadhan, pusat-pusat perbelanjaan belum diserbu orang, saat itulah kita berburu. OK, mungkin kita kehilangan kesempatan mendapatkan diskon, tapi di sisi lain, kita juga terhindar dari stres akibat macet, keramaian, panjangnya antrian, dan yang paling penting, terhindar dari gangguan ibadah di akhir Ramadhan.

Fokus Pada Tarawih
Ibadah paling utama di Bulan Ramadhan sudah pasti shaum, karena ia merupakan bagian dari Rukun Islam. Tapi ada dua hadits yang sangat mirip, yang satu menyebutkan “man shaama Ramadhaana” (barangsiapa yang melaksanakan shaum Ramadhan), yang satunya lagi “man qaama Ramadhaana” (barangsiapa mendirikan qiyamu Ramadhan, atau Tarawih). Sisa hadits itu sama persis, yaitu “…dengan iman dan penuh harap, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lampau”.

Dari kedua hadits ini, kita dapat melihat bahwa ada dua ibadah yang hanya ada di bulan Ramadhan, yaitu shaum dan Tarawih. Itulah keistimewaan Ramadhan. Di siang harinya kita shaum, di malam harinya (mestinya) kita Tarawih.

Karena kita sudah terbiasa melaksanakan shaum, maka sudah saatnya kita mulai fokus melaksanakan Tarawih. Tarawih bukan hanya rutinitas di masjid, karena ia tidak wajib dilakukan di masjid. Kita bisa melakukannya di rumah. Di masjid atau di rumah, yang penting Tarawih dilakukan dengan penuh kesungguhan, karena ia adalah ibadah khas di bulan Ramadhan.

Memang ada saja yang doyan memperdebatkan antara 8 rakaat dan 20 rakaat, tapi kita tidak perlu menceburkan diri ke dalam kericuhan itu. Yang perlu diwaspadai di negeri ini justru tindakan-tindakan yang meremehkan Tarawih, terutama dengan melaksanakannya secepat kilat, alias dengan sangat cepat. Kalau masjid di dekat rumah Anda melaksanakan yang seperti ini, maka shalat di rumah bisa jadi lebih baik.

Janganlah malas mendirikan Shalat Tarawih. Begitu adzan Maghrib 1 Syawal berkumandang, ia takkan ada lagi sampai tahun depan. Kita hanya akan melaksanakannya sebanyak 29 atau 30 kali dalam setahun. Sudah saatnya kita berhenti memandang Tarawih dengan sebelah mata!

Hal-hal Kecil
Banyak sahabat Rasulullah saw yang mendapat keutamaan karena ‘hal-hal kecil’. Yang mereka lakukan mungkin terlihat kecil, namun amal yang kecil pun bisa menjadi raksasa jika ia dilakukan secara konsisten.

Bilal bin Rabah ra, misalnya, telah Rasulullah saw tegaskan akan masuk surga. Di antara amal-amal hariannya, satu hal yang senantiasa dipeliharanya adalah wudhu’. Kapan pun Bilal ra ber-hadats, maka ia akan kembali bersuci. Tentu saja wudhu’ adalah urusan gampang; anak SD pun rata-rata sudah mahir melakukannya. Akan tetapi, hanya Bilal ra seorang saja yang memelihara wudhu’-nya hingga sedemikian rupa, dan karena itu, ia menjadi istimewa.

Allah SWT senantiasa melipatgandakan amal shalih hamba-hamba-Nya, terlebih lagi di Bulan Ramadhan. Karena itu, Ramadhan adalah saat yang tepat untuk memulai kebiasaan-kebiasaan baru yang kecil, namun kita tekuni dengan sungguh-sungguh. Kita bisa konsisten bersedekah seribu-dua ribu rupiah per hari, atau belajar untuk selalu mengucapkan salam kepada tukang parkir yang setiap hari kita jumpai. Jangan remehkan amal-amal kecil ini. Siapa tahu, ia akan menjadi pendorong utama Anda untuk masuk surga!

Mudik Belakangan
Siapa sih yang tidak ingin pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga tercinta? Bagi para perantau, mudik adalah pengalaman yang mengerikan namun selalu dirindukan. Akan tetapi, sebagaimana tradisi belanja lebaran, tradisi yang satu ini juga bisa mengganggu fokus kita di akhir Ramadhan.

Kalau memang harus mudik, bolehlah kita mencoba melakukannya setelah berlebaran. Biasanya, kemacetan mudik mencapai puncaknya pada H-1. Jika kita berangkat H+1, atau setidaknya sesudah melaksanakan Shalat Idul Fitri, maka akan sangat terasa bedanya. Tidak perlu merasa terlalu merugi lantaran belum di kampung halaman pada Hari-H, sebab silaturrahim dengan tetangga juga teramat penting dalam agama. Jadi, nikmati Hari Raya, silaturrahim dengan para tetangga, kemudian tenang-tenanglah berangkat ke kampung halaman.

Semua tips ‘anti-mainstream’ ini dibuat, sekali lagi, bukan untuk asal beda. Tujuan akhirnya adalah agar kita bisa melaksanakan ibadah dengan penuh kesungguhan. Memang kita harus berimprovisasi untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan jaman. Banyak masalah di jaman sekarang yang belum ada di jaman Rasulullah saw. Karena itu, jangan takut untuk berpikir out of the box! Yang penting, bukan asal beda!

wassalaamu’alaikum wr. wb.

1 Comment
  • Zulaikha
    Posted at 16:20h, 29 May Reply

    Selalu suka tulisan2 Ustadz, anti-mainstream! Barakallahu, ustadz.

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.