Remeh-Temeh
557
post-template-default,single,single-post,postid-557,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Remeh-Temeh

Remeh-Temeh

Suasana bedah buku

Suasana bedah buku “On Justice and The Nature of Man” karya Prof. M. Naquib al-Attas di Kuala Lumpur, Malaysia.

assalaamu’alaikum wr. wb.

Ini terjadi di sebuah masjid, di suatu subuh, di negeri jiran kita, Malaysia. Ketika itu, saya sudah siap melaksanakan shalat Subuh, dan mu’adzin sudah mengumandangkan iqamat. Dari arah belakang, majulah seorang lelaki paruh baya dengan tanda kehitaman pada dahinya, janggut panjang dan celana cingkrang. Secara otomatis, bagaikan refleks, saya berasumsi bahwa pagi ini takkan ada pembacaan doa Qunut. Qunut atau tidak, saya tidak punya masalah. Saya hanya berasumsi demikian, tidak lebih.

Tapi ternyata saya salah. Selepas shalat, langsunglah saya bertaubat. Istighfar berkali-kali. Betapa saya terlalu mudah menyimpulkan.

Mata dan hati saya — seperti banyak orang Indonesia lainnya, mungkin — adalah ‘produk lokal’ Indonesia. Di Indonesia, dahi kehitaman, jenggot panjang tak pernah dipotong dan celana cingkrang, adalah ciri dari kelompok tertentu; bukan selainnya. Demikian juga membaca Doa Qunut di dalam Shalat Subuh adalah ciri khas dari kelompok tertentu, bukan yang selainnya. Segera setelah melihat hal-hal yang kasat mata seperti di atas, kita sudah langsung membuat kesimpulan. Dan ya, kita ini memang bangsa yang terlatih untuk cepat berkesimpulan.

Saya sendiri menganggap diri saya cukup moderat, karena tidak sepenuhnya sepakat dengan batasan-batasan demikian. Hal-hal semacam itu saya anggap sebagai persoalan-persoalan furu’iyyah (cabang), bukan pokok dalam agama. Karena itu, ikhtilaf dalam masalah tersebut saya pandang biasa saja. Jika imam membaca Qunut, saya ikut mengaminkan, dan jika tidak, ya sudah tak mengapa. Jika ada orang mengenakan celana cingkrang (sedangkan saya tidak), ya tak mengapa juga. Di Barat, celana cingkrang malah jadi tren mode terbaru yang dengan penuh kesadaran dikenakan juga oleh masyarakat Non-Muslim. Tapi kini saya mulai meragukan apakah saya sudah cukup moderat atau tidak. Sebab, kalau memang hal-hal tadi saya anggap sebagai perkara furu’iyyah, maka semestinya saya tak perlu kaget jika ada yang melaksanakan semua. Ya, semua! Berjenggot panjang, bercelana cingkrang, tapi membaca Doa Qunut di dalam Shalat Subuh. Salahnya di mana?

Kejadian itu sudah berlalu beberapa bulan, namun sampai detik ini masih jadi bahan pemikiran saya. Betapa rumitnya menjadi seorang Muslim di Indonesia. Kita sudah demikian terbiasa dikotak-kotakkan, sehingga sudah tak lagi sadar bahwa hati dan akal kita berada di dalam kotak. Kita tidak ubahnya ikan yang hidup di dalam akuarium, menyangka bahwa akuariumnya adalah lautan samudera nan luas. Padahal, selokan saja masih lebih lapang.

Kita sudah begitu terlatih untuk membuat konklusi. Kalau celananya cingkrang, berarti kelompok situ. Kalau shalatnya pakai sarung, berarti kelompok sini. Masjid sini tarawihnya dua puluh rakaat, tak usah diikuti. Masjid sana tarawihnya cuma delapan rakaat, jadi tidak melelahkan. Ulama yang sana Habib, yang sini namanya aja kebetulan Habib. Masyarakat sana doyan ziarah ke makam, masyarakat sini nggak pernah ziarah ke makam.

Keadaan sudah semakin kacau, sehingga tak jelas lagi siapa yang menghakimi dan siapa yang dihakimi. Ada orang yang dianggap ulama bilang bahwa dirinya tidak suka pakai baju putih-putih seperti ulama lainnya, agar tidak dianggap punya ilmu tinggi. Ia lebih suka baju biasa-biasa saja. Lalu ramai orang menyanjungnya sebagai tokoh yang rendah hati dan tak suka menghakimi. Tapi kemudian para pengikut balik menghakimi orang yang berbaju koko atau bergamis dan bersorban. Entah dapat wangsit dari mana, sekarang ada kesimpulan baru: ulama yang berbaju demikian itu adalah ulama sombong yang menganggap dirinya suci. Karena itu, ikutilah yang tak berbaju koko, tak bergamis dan tak bersorban. Ikutilah yang pakai baju batik, karena batik itu kearifan lokal. Islam di Indonesia adalah yang menyatu dengan kearifan lokal, yaitu sebagaimana yang dicontohkan oleh para Wali Songo. Sayangnya, belum ada yang mengkonfirmasi ada-tidaknya Wali Songo yang berbaju batik.

Bahkan jidat pun bisa dijadikan bahan perdebatan. Kalau dulu orang simpati kepada mereka yang berjidat kehitaman — karena dianggapnya tanda tersebut adalah tanda orang banyak bersujud — maka kini sudah muncul arus baliknya. Sekarang, ada orang yang kemana-mana mengatakan bahwa yang jidatnya hitam itu riya’, karena hendak mempertunjukkan hasil ibadahnya, meski sekedar bekas-bekasnya saja. Malah ada yang serius sekali membikin tulisan seolah-olah orang yang jidatnya seperti itu berarti salah sujud, sebab sujud yang benar itu bertumpu pada tangan, bukan pada jidat. Mungkin dikiranya orang-orang ini sujud dengan posisi headstand, entahlah. Yang jelas, perdebatannya sangat seru!

Dibuatlah wacana ‘langgam kedaerahan’, hingga akhirnya Al-Qur’an dibacakan dengan ‘Langgam Jawa’ di Istana Merdeka. Muncul lagi isu kearifan lokal. Anehnya, wacana ini tidak ada tindak lanjutnya dari masyarakat awam. Orang Sunda tidak minta dibuatkan Langgam Sunda untuk tilawah Qur’an, orang Minang tidak mengarang Langgam Minang, dan orang Bugis juga tidak kelihatan tertarik dengan kemungkinan munculnya Langgam Bugis. Kalau dibilang kearifan lokal, kok masyarakat lokal tidak tertarik?

Tak lama berselang, diangkatlah isu ‘Islam Nusantara’, dan berbagai rasionalisasi dimunculkan. Makalah-makalah bermunculan, buku-buku dikarang, bahkan program studi pascasarjana pun sudah dibuat. Tapi kemudian apa? Di sana-sini, ketika orang bicara ‘Islam Nusantara’, ternyata gagasannya hanya sekedar diferensiasi dari apa yang mereka sebut sebagai ‘Islam Arab’. Pengejawantahannya malah lebih konyol lagi. Ada dosen yang bilang orang Islam Nusantara tak perlu meniru orang Islam Arab, tapi yang dibicarakan lagi-lagi tak jauh dari masalah pakaian. Katanya, Islam Arab itu yang pakai sorban dan gamis. Orang Indonesia tak perlu mengikuti. Sayangnya rasionalisasi semacam ini gagal di hadapan lukisan wajah Pangeran Diponegoro; Pangeran Jawa yang — dilihat dari gaya berpakaiannya — jika ia hidup di masa kini, niscaya akan disebut wahabi.

Di Malaysia, saya melihat nama Ibn Sina banyak diapresiasi. Banyak sekali buku yang membahas karya-karya tulis dan pemikiran beliau dari berbagai sisinya. Apalagi kalau karya ilmiah seperti tesis dan disertasi juga dihitung, entah berapa banyak. Beberapa karya tersebut saya baca-baca selintas lalu, dan ternyata di Malaysia banyak mahasiswa pascasarjana yang meneliti langsung karya beliau, bahkan ada yang terbang jauh ke negeri lain untuk membaca manuskrip aslinya. Betapa seriusnya mereka mempelajari pemikiran seorang tokoh di masa lampau. Ibn Sina hanya salah satunya.

Yang membuat saya sedih, ketika kembali ke tanah air, saya menjumpai begitu banyak orang yang berdebat kusir tentang Ibn Sina. Bukan debatnya yang disesali, melainkan karena ternyata perdebatan terjadi akibat beredarnya sebuah pesan broadcast di antara para pengguna aplikasi Whatsapp. Rupanya, berdasarkan sebuah broadcast saja, banyak orang yang sudah (merasa) paham betul tentang kondisi ‘aqidah seorang tokoh yang hidup berabad lampau. Sebagian bilang Ibn Sina itu Syi’ah, sebagian lagi bahkan bilang beliau ateis. Dr. Syamsuddin Arif, pemilik dua gelar doktor yang disertasi pertamanya membahas Ibn Sina, ketika dikonfrontasi dengan polemik seputar Ibn Sina, menjawab dengan sederhana saja. Intinya, menurut beliau, orang yang menganggap Ibn Sina adalah seorang fuqaha, mufassir, apalagi Nabi, jelas salah. Tapi mereka yang menganggap Ibn Sina adalah seorang ateis juga berlebihan. Kita harus mendudukkan setiap tokoh dalam sejarah pada posisinya yang tepat. Jika seorang dokter kita hakimi dengan kriteria yang hanya tepat diberikan kepada para ulama, bisa jadi kita akan ceroboh dan menjatuhkan dakwaan sesat atau bahkan murtad kepadanya. Karena itu, bijaklah!

Memang begitulah kita di Indonesia. Madzhab yang kini berkembang pesat adalah Madzhab Broadcastiyyah; apa saja yang beredar di dunia maya pastilah benar. Semua hal bisa jadi bahan perdebatan, hingga masalah transliterasi yang benar untuk bacaan “insyaa Allaah”. Kelompok yang benar hanyalah jama’ah pengajian saya saja, sedangkan yang lain tak punya kebaikan sama sekali. Hanya kami yang sunnah, selebihnya bid’ah. Dan kita pun sibuk dengan kajian remeh-temeh, sekedar untuk menentukan mana yang lebih baik di antara peci dan sorban, antara sarung dan gamis, antara jenggot dan kumis, antara Qunut dan tidak Qunut, antara delapan dan dua puluh rakaat, antara demo dan tak demo. Ketika para penguasa negeri Barat mulai khawatir karena mereka ditekan oleh masyarakat Muslim secara demografis, umat Muslim di negeri ini malah berbusa-busa mulutnya mencarikan alasan agar orang kafir boleh menjadi penguasa, dan supaya di Hari Natal setiap Muslim ikut memberi ucapan selamat. Tentu saja, sebagian yang lain masih asyik juga membahas masalah sorban, janggut, Qunut, jumlah rakaat Tarawih dan semacamnya.

Di negeri lain, masyarakat Muslim sedang sibuk mempersiapkan kembalinya kejayaan Islam dengan membangun tradisi ilmu. Mereka sibuk membaca, meneliti manuskrip, tenggelam dalam diskusi dan tumpukan buku di perpustakaan, dan menuangkan pemikirannya sendiri dalam makalah-makalah ilmiah, buku dan segala media yang dimungkinkan. Haruskah kita berada di gerbong paling belakang dalam gerakan kebangkitan ini?

wassalaamu’alaikum wr. wb.

 

Artikel ini pernah dimuat di sini.

2 Comments
  • Yusvandi Priyonggo
    Posted at 00:38h, 03 June Reply

    Sangat membuka sekat-sekat pemikiran bang Sjafril, mencerahkan, Akhirnya menemukan literasi yg cerdas tentang kondisi ummat.

    • malakmalakmal
      Posted at 10:37h, 04 June Reply

      Maasyaa Allaah, semoga bermanfaat!

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.