Seimbang (Sebuah Catatan Singkat)
446
post-template-default,single,single-post,postid-446,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Seimbang (Sebuah Catatan Singkat)

Seimbang (Sebuah Catatan Singkat)

assalaamu’alaikum wr. wb.

Saya teringat sebuah diskusi bersama guru kami, Dr. Ugi Suharto, salah seorang tokoh pendiri Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) yang kini bermukim di Bahrain. Menurut beliau, ‘mengangkat kembali’ martabat umat Muslim dan menuntunnya untuk kembali menjadi umat yang digjaya memang bukan perkara mudah. Salah satu masalah yang harus dicamkan adalah bahwa kita harus selalu mengupayakan keseimbangan, dan ini tidaklah mudah.

Kita berbeda dengan bangsa-bangsa Barat yang kini boleh dibilang sedang menghegemoni di dunia ini. Mereka umumnya berpaham sekuler, dan karenanya, senantiasa berpikir dualis, apalagi soal agama. Walaupun sebagian besar di antara mereka masih menganggap dirinya beragama, namun pada hakikatnya mereka tak lagi ambil pusing dengan persoalan agama. Peradaban Barat sangat menitikberatkan pada rasio dan mengabaikan selainnya. Itulah penyebab kemajuan mereka, sekaligus juga pemicu ketidakseimbangan dalam hidup mereka. Sementara rasio berkembang terus, jiwa mereka sakit dan perlahan mati.

Peradaban Islam dituntut untuk berkembang mengikuti ajaran Islam yang mengutamakan keseimbangan. Kemajuan sains dan teknologi tidak dilarang, bahkan didukung penuh, namun wajib pula untuk terus menyelaraskannya dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam. Membuat film sekuler – dan laku – jauh lebih mudah daripada membuat film Islami. Jika ingin filmnya laku, selain mengandalkan ketajaman cerita, pemilihan aktor dan sebagainya, para sineas sekuler juga dapat menggunakan adegan panas sebagai ‘bumbu’, atau mengundang kontroversi dengan berbagai cara. Cara-cara semacam ini tak mungkin digunakan oleh para insan film yang benar-benar bertekad ingin menciptakan film Islami. Bagaimana pun, memuaskan hawa nafsu manusia memang lebih mudah daripada menuntunnya ke jalan yang benar.

Ranah politik pun tak jauh beda. Belum lama ini saya mendengar kisah seorang tokoh Muslimah yang sangat aktif menolong masyarakat di daerahnya. Ia mempelopori banyak kegiatan yang bermanfaat bagi warga, jauh sebelum ia ditunjuk menjadi caleg. Beberapa hari menjelang pemilihan, semua optimis bahwa masyarakat di daerahnya akan memenangkannya menjadi caleg, tentu karena integritasnya telah terbukti selama bertahun-tahun lamanya. Apa dinyana, pada H-1 daerah itu ‘diguyur’ dengan uang oleh beberapa caleg dari partai lain. Perolehan suara yang diestimasi hingga 250 tiba-tiba kenyataannya menjadi 34. Apa yang dapat kita lakukan untuk mengobati rakyat yang begitu pragmatis dan mudah lupa?

Sungguh mudah kiranya jika kita memutuskan untuk berpolitik dengan cara berpikir sekuler. Rakyat mudah saja memaafkan korupsi selama bertahun-tahun lamanya, asalkan ada uang lima puluh atau seratus ribu di hari menjelang pencoblosan, sekedar untuk memenuhi kebutuhan saat itu saja. Mereka tidak mau berpikir susah-susah, karena toh yang penting perut terisi. Kalau pilihannya salah, mereka dapat katakan pada diri sendiri: kami ini hanya rakyat kecil!

Politisi Islam, di lain pihak, tidak dibenarkan berbuat demikian. Mereka tidak boleh membeli suara, tapi wajib memenangkan hati, meskipun hati itulah yang sekarang susah sekali dicari. Konon, hati hanya bisa disentuh oleh hati. Tapi bagaimana membedakan siapa yang masih punya hati dan siapa yang sudah kehilangan?

Sementara itu, banyak saudara yang berkilah bahwa umat Muslim adalah mayoritas di negeri ini dan selayaknya memimpin. Tapi mereka lupa bahwa di antara umat Muslim itu banyak sekali yang berpikiran sekuler. Mereka berpikir secara materialistis dan tidak mempedulikan selainnya. Di satu sisi, saudara-saudara kita menginginkan kemenangan Islam dalam waktu dekat, namun di sisi lain, kenyataan menunjukkan bahwa PR dakwah di negeri ini masih sangat banyak.

Kita masih menemukan banyak orang shalih yang menanggung amanah di luar keahliannya. Padahal, Islam-lah yang menyatakan tegas-tegas bahwa setiap pekerjaan harus diserahkan kepada ahlinya. Mungkin tindakan ini bisa dibenarkan untuk jangka pendek dengan mengatakan bahwa jika jabatan itu diambil oleh orang yang tidak baik, maka akan terlahir banyak kemudharatan. Memang benar, kita pun pasti akan menyesal jika urusan umat ini dipegang oleh mereka yang ahli namun tidak shalih. Tapi bagaimana pun, dan apa pun alasannya, kita harus melahirkan pemimpin yang shalih dan ahli, sebab kita memperjuangkan keseimbangan.

Tentu saja ada dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk menciptakan SDM yang seperti demikian. Jika kita menginginkan SDM yang baik (shalih, jujur, bertanggung jawab dst) dan kuat (cerdas, profesional, ahli dst), maka kita bisa memperkuat orang-orang yang baik atau memperbaiki orang-orang yang kuat. Mereka yang sudah baik harus disuruh belajar lagi agar mampu menanggung beban, sedangkan mereka yang sudah kuat harus disuruh belajar lagi pula agar apa yang dikerjakannya membawa kebaikan pada orang banyak.

Di dunia sekuler, segala sesuatunya jauh lebih mudah. Mereka yang menganut dikotomi pikiran ala Barat dapat memilih jalannya sendiri: ingin jadi baik atau kuat? Mereka yang ingin baik dapat mendekam di rumah ibadahnya masing-masing dan menghindari masalah dunia sejauh-jauhnya; semakin terasing mereka, semakin baik. Adapun mereka yang ingin jadi kuat dapat bertarung di rimba belantara dunia yang tanpa aturan; semakin licik mereka bertarung, semakin dekatlah pada kemenangan. Tapi kita, sebagai Muslim, tak dapat berbuat demikian.

Selama ratusan tahun lamanya, Barat hidup di tengah kegelapan akal. Berbagai takhayul mendominasi hidup mereka. Bahkan agama mereka sendiri yang mempertentangkan antara akal dan agama, seolah-olah orang beragama tak boleh berakal. Ketika Islam datang dengan membawa cahaya tauhid, lenyaplah segala takhayul, dan ilmu pengetahuan segera berkembang, berbunga dan berbuah. Islam datang membawa harmoni antara wahyu dan akal. Akan tetapi, Barat hanya mengambil satu sisi darinya, yaitu sisi rasional, kemudian meminggirkan agamanya sendiri. Mereka maju pesat dengan mengorbankan keseimbangan. Kini, kita melihat tanda-tanda kejatuhan Barat yang sudah sangat dekat, justru karena ketidakseimbangan itu.

 

 

Mengusahakan keseimbangan memerlukan kerja yang dua kali lipat lebih sulit daripada mementingkan satu aspek belaka. Seperti berjalan di atas tali, ada kalanya berat badan terlalu ke kanan, ada kalanya terlalu ke kiri. Manakala keseimbangan bergeser ke kanan, tubuh pun menyesuaikan posisi ke kiri. Demikian pula sebaliknya. Tidak realistis bagi kita untuk berpikir bahwa kita akan mampu menjaga keseimbangan terus-menerus, apalagi kalau masih dalam tahap belajar. Lagipula, kehilangan keseimbangan sesaat saja tidak berarti kita langsung jatuh ke dalam jurang. Oleh karena itu, kita harus memiliki stok kesabaran yang sangat banyak dan kesediaan untuk terus-menerus memperbaiki diri. Perfeksionisme adalah musuh kita bersama.

wa’alaikumussalaam wr. wb.

 

Artikel ini pernah dimuat di sini.

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.