Simplistis
1682
post-template-default,single,single-post,postid-1682,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Simplistis

Simplistis

photo_2020-02-09 20.00.58

 

assalaamu’alaikum wr. wb.

Jika kita membayangkan peta dunia di akhir abad ke-11 Masehi, yaitu pada masa-masa menjelang Perang Salib, maka terbentanglah kejayaan peradaban Islam di hadapan kita. Memang benar, pada masa itu, kekhalifahan tidak satu lagi. Ada Daulah ‘Abbasiyyah yang wilayahnya paling luas, dengan ibukotanya yang megah di Baghdad, ada pula Daulah Fathimiyyah yang berhaluan Syi’ah yang menguasai wilayah sekitar Mesir, dan Daulah ‘Umawiyyah yang masih tegar berdiri di Al-Andalus, Maghrib (Maroko) dan sekitarnya.

Pada tahun 1099, terjadilah bencana itu. Pasukan Salib yang memenuhi seruan dari Paus datang berbondong-bondong dan merebut Al-Quds dalam peristiwa berdarah yang sulit dicari bandingannya dalam sejarah peradaban manusia. Meski Khalifah di Baghdad tidak dipertanyakan kekuasaannya, namun tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Al-Quds pun terus dikuasai oleh Pasukan Salib hingga nyaris seabad sesudahnya, sampai akhirnya Shalahuddin al-Ayyubi bersama pasukannya menyelesaikan apa yang telah dimulai oleh Nuruddin Zanki sejak pasukannya berangkat dari Halab (Aleppo).

Marilah arahkan perhatian kita pada sebuah fakta ‘kecil’: selama sembilan dekade, yang dikuasai Pasukan Salib adalah Al-Quds, dan hanya Al-Quds! Yang menarik dari fakta ini adalah kemiripannya yang sangat besar dengan kondisi pada masa ini.

Memang kekhalifahan sudah tak ada lagi, baik Daulah ‘Abbasiyyah maupun ‘Umawiyyah. Akan tetapi, negeri-negeri yang dulu menjadi bagian darinya itu sampai sekarang masih merupakan negeri-negeri Muslim. Dari keseluruhan wilayah Timur Tengah itu, yang statusnya sedang dijajah oleh pihak lain hanya Palestina, persis kondisi sepuluh abad yang lampau.

Jika ada yang berargumen bahwa ini semua akibat perpecahan di antara negeri-negeri Muslim, maka analisis itu ada benarnya juga. Dan untuk poin ini pun kita dapat bercermin pada kondisi Perang Salib pertama dahulu itu. Karena, meskipun dinaungi oleh kekuasaan Daulah ‘Abbasiyyah, namun pada kenyataannya pada masa itu pun umat Muslim tidak bersatu. Itulah sebabnya kontribusi Nuruddin Zanki menjadi sangat berarti, sebab beliaulah yang mempersatukan wilayah-wilayah Muslim di wilayah Syam dan sekitarnya sehingga mereka mau kompak menggalang kekuatan untuk merebut kembali Al-Quds. Ketika Pasukan Salib datang untuk merampas Al-Quds, umat Muslim di sekitarnya bukan hanya enggan untuk saling membantu, melainkan di antara mereka sendiri sering terjadi pertikaian dan pertumpahan darah.

Ketika Shalahuddin al-Ayyubi datang dan merebut kembali Al-Quds, ia membawa pasukan dari wilayah-wilayah di sekitar Syam. Kalau Khalifah yang di Baghdad mau (dan memiliki wibawa yang cukup), ia bisa saja menggalang pasukan yang jauh lebih besar, dengan mengerahkan pasukan dari seantero wilayahnya, dari Iraq sampai Hijaz. Akan tetapi, Shalahuddin-lah yang pada akhirnya menerima kehormatan itu. Dan ia mampu melakukannya hanya dengan pasukan dari sekitar wilayah Syam.

Dapatkah kita mengambil pelajaran dari masa lalu? Saat ini, sebagian besar wilayah Palestina dikuasai oleh kaum zionis. Mereka, yang tadinya hanya pendatang di Palestina, bahkan kini bisa seenaknya mengusir penduduk asli, mendesaknya ke pengungsian, bahkan kini mereka mendirikan ibukotanya sendiri di tanah milik orang lain. Tak usahlah meminta raja-raja dan pemimpin Arab untuk menundukkan diri mereka di bawah pemerintahan satu khalifah. Seandainya saja — kalaulah boleh berandai-andai — mereka sepakat untuk menghujani Tel Aviv dengan roket dan rudal dalam semalam, adakah negara palsu kaum zionis itu akan bertahan hingga waktu Subuh? Sayangnya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, negeri-negeri Islam ini pun kini punya masalah sendiri-sendiri. Saudi punya hubungan diplomatik dengan Israel, Amerika Serikat, dan juga sedang berkonflik dengan Yaman. Iraq bisa dibilang masih dikuasai oleh AS. Iran, sebagai kiblatnya Syi’ah dunia, punya kepentingan sendiri, meski selalu mencitrakan diri sebagai pembela Palestina. Di Mesir, satu-satunya presiden yang membuka perbatasan dengan Palestina (yaitu Mursi) malah dikudeta. Rakyat Suriah sudah bertahun-tahun menderita karena dibombardir oleh pemerintahnya sendiri. Daftar ini bisa semakin panjang jika dilanjutkan terus.

Hal yang paling mengganggu, di samping kenyataan bahwa mewujudkan persatuan itu begitu sulitnya, adalah analisis yang begitu simplistis terhadap permasalahan-permasalahan umat masa kini. Melihat rakyat Palestina menderita, ringan saja bagi sebagian orang untuk berkata dengan lantangnya: solusinya adalah hijrah! Solusinya adalah khilafah! Padahal, problematika Palestina tidak sama dengan yang dihadapi Rasulullah saw saat mulai berdakwah di Mekkah dahulu. Empat belas abad yang lampau, solusi hijrah memang masuk akal, sebab tak ada yang bisa melindungi dan membela dakwah Islam di dalam Kota Mekkah dan di sekitarnya. Tapi dalam kasus Palestina kini, seperti juga kasus Al-Quds di masa Perang Salib, yang bisa melindungi banyak. Hanya saja, mereka tidak mau!

Karena masalahnya bukan ketidakmampuan, melainkan ketidakmauan, maka fokus utama semestinya bukanlah memindahkan begitu saja rakyat Palestina dari negerinya sendiri. Yang harus menjadi garapan para da’i di seluruh dunia adalah mempersatukan umat Muslim agar mereka sudi membela saudara-saudaranya. Tak mesti pula mempersatukan negara-negaranya. Mempersatukan hatinya pun sudah cukup.

Bahaya dari pemikiran yang serba simplistis ini adalah menjadikan umat terbiasa untuk berpikir simplistis, padahal permasalahannya tidak sederhana. Akibatnya, tentu saja, solusi yang dicari-cari itu tak kunjung ditemukan. Penderitaan umat bertambah, sedangkan sebagian Muslim pada akhirnya merasa putus asa dan kehilangan keyakinan pada agamanya sendiri.

Di tengah-tengah krisis kepemimpinan, banyak yang merindukan pemimpin sekelas Amirul Mu’minin ‘Umar bin Khaththab ra. Sebuah kerinduan yang sangat beralasan. Betapa indahnya memiliki pemimpin yang sudi berkeliling kota di tengah larutnya malam, hanya untuk memeriksa keadaan rakyatnya. Dengan demikian, yang lapar bisa diberi makan, yang miskin disantuni, yang terzhalimi dibela.

Dengan pemikiran yang demikian, tidak heranlah jika masyarakat kemudian merindukan pemimpin yang selalu blusukan. Dalam setiap permasalahan, ia turun ke lapangan. Saat jalanan macet, ia merangkap sebagai polisi lalu lintas. Saat ada masalah birokrasi, ia datang dan memarahi anak buahnya. Bahkan saat selokan mampet, ia pun masuk ke dalamnya.

Yang luput dari pemikiran banyak orang adalah kenyataan bahwa kehidupan di masa kini jauh lebih kompleks daripada jamannya Amirul Mu’minin. Pada masa ‘Umar ra bisa dikatakan tak ada masalah lalu lintas, karena orang kesana-kemari menggunakan hewan tunggangan, dan perjalanan dengan hewan-hewan itu tak dibatasi oleh lebarnya jalan. Perdagangan pada masa itu juga sangat simpel; tidak ada bank, tidak ada bursa saham, tidak ada money laundry, dan sebagainya. Urusan militer, pemerintahan, pendidikan, semuanya jauh lebih sederhana ketimbang sekarang. Karena itu, jangan kaget kalau ‘Umar ra, yang jabatannya adalah sebagai Khalifah, punya kesempatan berkeliling kota di malam hari. Lagipula, Kota Madinah pada jaman itu hanya sedikit saja bedanya dengan luas Masjid Nabawi sekarang (hingga batas pagarnya). Dengan kata lain: bisa dikelilingi dalam semalam. Jika ‘Umar ra masih hidup di jaman sekarang, tentu beliau takkan blusukan ke sudut-sudut Kota Madinah. Selain karena waktunya takkan cukup untuk berkeliling kota dalam semalam, juga beliau takkan sempat karena banyak masalah besar lainnya yang harus diselesaikan.

Fungsi pemimpin masa kini, bahkan pada level kelurahan sekalipun, harus lebih banyak pada sisi koordinatifnya. Jika di suatu kota ada masalah lalu lintas, misalnya, maka tak perlu walikota yang turun ke jalanan. Ada dinas dan kepolisian yang bisa menangani persoalan itu. Cukup dengan satu-dua kali menelpon dan berkoordinasi, masalah harusnya sudah bisa teratasi. Untuk masalah sampah, ada dinas kebersihan. Demikian juga urusan-urusan lainnya. Pada level kepemimpinan seperti ini, jika pemimpin disibukkan dengan persoalan teknis, maka pasti ia tidak punya waktu untuk tugas-tugas koordinatif. Dan itu artinya: lebih banyak lagi persoalan yang tak bisa tertangani.

Dalam kondisi yang serba tak menentu, di masa-masa ketika umat Muslim sedang terpuruk, memang banyak godaan untuk bersandar pada solusi-solusi yang simplistis. Dalam hal ini, akal menerima karena hati ingin meyakini. Sayangnya, jika kita pikirkan dengan akal yang jernih, kita pun pasti akan memahami bahwa persoalan umat ini sebenarnya tidak sederhana, bukan?

Inilah sisi lain dari tugas dakwah para da’i. Tugas mereka bukan hanya membersamai umat dan memberi jawaban atas persoalan-persoalan sederhana dalam hidup, melainkan juga menanamkan keberanian kepada umat agar mereka mau keluar dari zona nyaman mereka dan mencari solusi dari permasalahan yang sesungguhnya, bukan permasalahan yang dimudah-mudahkan demi menghibur diri sendiri.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

1 Comment
  • Arif Fadillah
    Posted at 16:31h, 14 February Reply

    Pemimpin yang terjebak dalam pekerjaan teknis boleh jadi karena tidak punya kemampuan berpikir strategis dan solutif.

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.