Akmal Sjafril | Membayangkan Indonesia Tanpa Islam
1211
post-template-default,single,single-post,postid-1211,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-13.4,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Membayangkan Indonesia Tanpa Islam

Membayangkan Indonesia Tanpa Islam

IMG_20170210_150036assalaamu’alaikum wr. wb.

Betapa pun seisi dunia tahu bahwa mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam, namun masih banyak yang kebingungan mendudukkan keislaman dan ke-Indonesia-an; adakah keduanya sejalan, bertentangan, atau tak berhubungan sama sekali? Sebagian umat Muslim sendiri dilanda kebingungan, sebab begitu banyak yang menyuruh mereka ‘netral’. Bangsa ini terdiri dari penganut berbagai agama, dan karenanya, umat Islam tak memiliki keistimewaan dibanding yang lain. Akan tetapi, sebagaimana dalam banyak hal lainnya, salah satu pilihan terbaik yang dapat kita ambil adalah menengok sejarah.

Telah datang beberapa generasi yang gamang ketika diminta menjawab pertanyaan, “Apa kontribusi Islam bagi Indonesia?” Sebab, di sekolah, yang dibesarkan adalah Majapahit dan Sumpah Palapa, dan imej Indonesia di media-media massa diwakili oleh Borobudur, Prambanan, atau candi-candi lainnya. Tidak salah kiranya jika ada turis asing yang datang ke Indonesia dengan prasangka bahwa yang didatanginya itu adalah negeri yang mayoritas rakyatnya beragama Hindu atau Budha.

Akan tetapi, semegah-megahnya Borobudur, ada fakta yang menarik seputarnya, yaitu tentang ‘menghilangnya’ candi raksasa itu selama delapan abad. Susiyanto, dalam bukunya, Strategi Misi Kristen Memisahkan Islam dan Jawa, menguraikan permasalahan ini:

…Borobudur baru diketemukan kembali pada tahun 1814 setelah kira-kira delapan abad dilupakan orang dan terpendam di dalam tanah. Pada waktu diketemukan candi ini berada dalam keadaan menyedihkan. Candi ini telah berujud menjadi sebuah gunung kecil atau bukit yang ditutupi oleh semak belukar. Di gunung tersebut banyak ditemukan potongan-potongan arca oleh penduduk setempat yang pemberani. Sedangkan umumnya penduduk saat itu justru takut untuk datang ke gunung yang kemudian diketahui sebagai Borobudur. Penyebabnya, masyarakat era itu menganggap bahwa gunung tersebut sebagai tempat angker dan berbahaya. Hingga pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Britania Raya di Jawa, mendengar berita penemuan sejumlah potongan arca di gunung tersebut. Tahun 1815 atas perintah Raffles, opsir zeni Ir. H. C. Cornelius melakukan pembersihan terhadap badan candi yang telah tertutup tanah. Kaki candi sendiri telah terbenam ke dalam tanah sedalam 10 meter. Lebih dari 200 orang penduduk pribumi dipaksa melakukan kerja rodi selama 45 hari untuk membersihkan tanah, membabat belukar, dan menebangi pepohonan.

Setelah Inggris hengkang dari tanah Jawa, ekskavasi dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Proses ini masih terus berlangsung hingga lebih dari seabad sejak Borobudur ditemukan kembali. Sulitnya mengembalikan Borobudur pada kondisinya semula (tentu dengan sejumlah pertanyaan seputar akurasi pemugaran tersebut) terjadi karena candi megah itu memang telah benar-benar ditinggalkan oleh masyarakat Jawa hingga berabad-abad lamanya, dan telah mengalami kerusakan parah. Susiyanto menyimpulkan, “Hal ini menunjukkan bahwa ingatan publik masyarakat Jawa terhadap simbol kebesaran masa lalu berupa ajaran Budha ini tidak terlalu mendalam atau bahkan tidak ada. Hanya merupakan sapuan cat bagi sepotong kayu yang mudah terkelupas.”

Bagaimana pun, glorifikasi terhadap Borobudur, yang merupakan simbol kebesaran peradaban Budha di masa lampau, telah berhasil membuat generasi muda Muslim Indonesia mempertanyakan kontribusi Islam. Jika masyarakat Budha pernah membangun Borobudur, masyarakat Hindu pernah membangun Prambanan, lantas apa kontribusi masyarakat Muslim bagi Indonesia? Kurang lebih demikianlah pertanyaan yang menghantui pikiran mereka.

Ada beberapa ‘jebakan pemikiran’ di sini. Pertama, pada pemikiran bahwa candi-candi megah tersebut adalah prestasi besar yang dibangga-banggakan oleh masyarakat Nusantara di masa lampau. Susiyanto, masih dalam buku yang sama, menguraikan tuduhan sejumlah orientalis kepada Islam sebagai kekuatan yang menghancurkan kearifan lokal dan bangunan-bangunan megah yang dilahirkannya. Pendapat ini ditepis oleh Prof. Dr. Denys Lombard, seorang sarjana Perancis, yang menegaskan bahwa hampir tak ada monumen bersejarah yang dihancurkan atas prakarsa umat Muslim. Tuduhan kaum orientalis itu lebih banyak dilatari oleh kebencian dan prasangka belaka. Lagipula, di negeri-negeri di Semenanjung Indochina, yang hingga saat ini tidak didominasi Muslim, toh pembangunan candi-candi besar juga telah lama terhenti.

Susiyanto, mengutip keterangan Drs. R. Moh. Ali, Kepala Arsip Nasional dan Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Unpad), dari tulisan Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, menjelaskan bahwa kebudayaan candi justru telah menyebabkan eksodusnya penduduk kerajaan Budha dan Hindu menuju daerah pesisir. Sebab, ketika proyek pembangunan candi telah dicanangkan oleh penguasa, maka rakyat jelata pasti akan disuruh berkontribusi dalam bentuk kerja bakti (yang merupakan istilah yang diperhalus untuk ‘kerja paksa’).

Pemikiran materialistis telah mengarahkan kita untuk berpikir bahwa bangunan megah pastilah produk dari akal budi yang sangat tinggi. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Piramida-piramida di Mesir, betapa pun luar biasanya, faktanya hanya sebuah bangunan yang digunakan untuk mengubur seorang raja, yang sebenarnya hanya butuh lubang berukuran dua meter persegi saja. Demi membangunnya, tak terhitung banyaknya rakyat jelata dan budak belian yang harus mengorbankan waktu, tenaga, bahkan jiwanya. Demikian juga bangunan Colosseum yang begitu mengagumkan dan membuat banyak orang berkhayal tentang kebesaran bangsa Romawi, sesungguhnya adalah bangunan yang dirancang dan digunakan untuk menonton manusia berbunuh-bunuhan dengan sesama manusia, atau melawan binatang buas. Di gedung itu, rakyat Roma memperlihatkan kebuasannya, bersorak-sorai menyaksikan orang saling bunuh. Piramida di Amerika Selatan lebih mengerikan lagi, karena secara rutin menjadi saksi dari pengorbanan manusia yang menurut mereka merupakan tuntutan dari para dewa.

Oleh karena itu, kita pun dapat memahami mengapa Islam yang belakangan datang justru mampu mendominasi hingga menjadi agama mayoritas masyarakat Nusantara, mulai dari Sumatera, hingga ada pula suku-suku asli Papua yang telah memeluk Islam sejak ratusan tahun lampau. Di mata rakyat jelata, Islam memang memiliki daya tarik yang kuat, justru karena sifatnya yang jauh dari materialistis dan egaliter. Rumah ibadah umat Muslim, yaitu Masjid, tak pernah dianjurkan untuk dibangun megah-megah. Yang dibutuhkan hanyalah tanah lapang yang suci dari najis. Bahkan Masjid Nabawi pun ketika pertama kali didirikan dahulu tidak memiliki atap. Bangunan masjid yang begitu sederhana itulah yang justru telah memikat hati masyarakat Nusantara sehingga berpindah ke lain hati. Kesederhanaan ini juga terwujud dalam seluruh aspek dalam agama Islam, termasuk dalam menghapus sistem kasta yang terdapat dalam sistem sosial masyarakat Hindu. Ketika melangkah ke dalam masjid, semua status sosial dilepaskan. Shaf terdepan adalah milik mereka yang duluan datang, bukan milik kaum bangsawan atau ulama sekalipun. Untuk memilih imam shalat, kriteria utama yang diberikan bukanlah soal garis keturunan atau kekayaan, melainkan soal bagusnya bacaan Al-Qur’an.

Jebakan pemikiran kedua adalah pada pemahaman kita terhadap Indonesia itu sendiri. Banyak orang yang perlu diingatkan bahwa Indonesia itu sendiri baru diproklamasikan pada tahun 1945. Artinya, sebelum itu, belumlah ada Indonesia, kecuali dalam bentuk konsep belaka, misalnya seperti ‘Indonesia’ yang dibicarakan dalam Kongres Pemuda II tahun 1928. Oleh karena itu, Borobudur, Prambanan, dan berbagai peninggalan peradaban Budha dan Hindu, pada hakikatnya bukanlah kontribusi untuk Indonesia, karena saat itu Indonesia belum ada, bahkan belum lagi dibicarakan.

Ketika bangsa-bangsa Barat berdatangan ke Nusantara, yang dijumpainya adalah peradaban Islam, bukan lagi Hindu dan Budha, apalagi animisme dan dinamisme, meskipun kesemuanya ini masih ada. Yang menjadi momok bagi kaum penjajah memang umat Muslim. Hal ini, menurut Buya Hamka, adalah karena begitu kuatnya ghirah (kecemburuan) yang dimiliki oleh umat Muslim, karena memang demikianlah yang diajarkan oleh agamanya. Kecemburuan, yang merupakan produk dari cinta dan harga diri, telah mendorong umat Muslim untuk mengobarkan perlawanan kepada kaum penjajah. Dalam bukunya, Ghirah: Cemburu Karena Allah, Hamka menggambarkan suasana hati umat Muslim ketika agamanya dihina dengan sebuah narasi yang menyentak:

Merasa tinggilah engkau! Namun agama kami jangan dihinakan, jangan disinggung perasaan kami, kalau kami tersinggung kami tidak tahu lagi apa yang kami mesti kerjakan, kami lupa kelemahan kami. Kami lupa tak bersenjata, kami mau mati tuan dan tuan boleh tembak!

Untuk melemahkan umat Muslim, digalakkanlah program sekularisasi, sambil terus membiarkan zending (misionarisme) Kristen menjalankan tugasnya. Umat Muslim disuruh ‘netral’, pendidikan agama dihapus dari sekolah-sekolah modern, sedangkan sekolah-sekolah Islam, madrasah dan pesantren, terus diawasi. Demikianlah cara-cara Belanda dahulu. Pasalnya, selama umat Muslim masih berpegang erat dengan agamanya, maka selama itu pula mereka akan terus melawan penjajahan dengan kuat.

Pada tahun 1905, H. Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI). Organisasi ini mengobarkan perlawanan ekonomi terhadap kezaliman penguasa Belanda yang selalu meminggirkan kaum pribumi. Tujuh tahun kemudian, di bawah kepempimpinan H.O.S. Cokroaminoto, SDI berubah menjadi Sarekat Islam (SI) yang kemudian memperluas lini perjuangannya hingga ke arena politik praktis. Cokroaminoto, yang merupakan seorang keturunan priyayi, memperjuangkan kepentingan rakyat jelata pribumi; sebuah gambaran kontras terhadap Budi Utomo, organisasi yang didirikan secara eksklusif untuk kepentingan Jawa priyayi dan bersikap kooperatif dengan Belanda. SI, yang telah membawa nama Islam, tidak lagi membeda-bedakan wilayah.

Tekad untuk tidak lagi membawa semangat kedaerahan dilanjutkan di Kongres Pemuda II pada tahun 1928. Kongres ini diikuti oleh Jong Java, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Sekar Rukun (Sunda), Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Pemuda Kaum Betawi, Jong Celebes (Sulawesi), dan Jong Islamieten Bond (JIB). Selepas kongres, JIB terus menggalang kekuatan umat Muslim Indonesia, dan pada tahun 1930, JIB telah menyatakan pembelaannya terhadap Palestina. Ironisnya, saat itu pun JIB telah dicibir karena dituduh tidak nasionalis lantara mengurusi persoalan di negeri lain. 

Uraian di atas menunjukkan bahwa memisahkan Islam dengan Indonesia memang perkara yang sangat absurd, karena kita tak mungkin dapat membayangkan Indonesia tanpa Islam. Ketika Indonesia masih berupa sebuah konsep yang dirumuskan dalam pikiran peserta Kongres Pemuda 1928, bahkan jauh sebelum itu, yaitu ketika bangsa-bangsa Barat pertama kali menjejakkan kakinya ke tanah air, mayoritas masyarakat yang mendiami Nusantara ini adalah Muslim. Sampai ketika tiba waktunya Republik Indonesia diproklamasikan, dan hingga Revolusi Fisik berakhir lima tahun sesudahnya, rakyat Indonesia yang berjuang adalah yang mayoritasnya Muslim itu. Karakter masyarakat Indonesia yang egaliter, sederhana, memiliki semangat juang yang tinggi dan seterusnya itu merupakan pertanda besarnya kontribusi Islam terhadap pembentukan bangsa ini, sedangkan karakter-karakter ini telah memberikan sumbangan bagi kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, kita pun dapat menyimpulkan bahwa kemerdekaan itulah kontribusi besar umat Muslim bagi bangsa.

Tidaklah adil jika kita melupakan kontribusi masyarakat di luar umat Muslim, dan ketidakadilan adalah pelanggaran serius terhadap ajaran Islam. Akan tetapi, jika mengingkari kontribusi yang dua puluh persen saja sudah keliru, tentu kita tak bisa membayangkan betapa konyolnya pengingkaran terhadap kontribusi yang delapan puluh persennya. Indonesia tanpa Islam adalah sebuah konsep yang terlampau sulit untuk dikhayalkan.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment