Kemenangan Akal Sehat
686
post-template-default,single,single-post,postid-686,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Kemenangan Akal Sehat

Kemenangan Akal Sehat

assalaamu’alaikum wr. wb.

Kemenangan pasangan Anies-Sandi dalam putaran kedua Pilkada DKI Jakarta disambut dengan gegap-gempita. Dalam pandangan sebagian orang, tim Anies-Sandi bagaikan kelompok mission impossible yang mampu melakukan sesuatu yang (nyaris) tak mungkin. Terbukti, Daud mampu mengalahkan Jaluth, atas pertolongan Allah.

Dengan dukungan partai-partai besar, dana tak terbatas dari para konglomerat dan sorotan tak henti dari media mainstream, awalnya Ahok-Djarot seolah tak punya lawan. Nyatanya, prosentase perolehan suara Anies-Sandi yang hampir 40% di putaran pertama malah melonjak hingga di atas 50% di putaran kedua. Sejak sore di hari pencoblosan (Rabu, 19/04/17), para pendukung Paslon No. 3 sudah mengklaim kemenangan, dan bahkan Ahok-Djarot sendiri sudah menyampaikan ucapan selamat kepada kompetitornya.

Ada banyak peristiwa di seputar Hari-H pencoblosan yang menarik dari sejumlah orang di lingkaran pertemanan saya. Ada seorang teman yang hampir seluruh keluarga besarnya merupakan pendukung Ahok, tapi entah kenapa pada saat pencoblosan justru ibunya beralih mencoblos nomor 3. Padahal, semalam sebelumnya beliau masih mendukung petahana. Ada juga beberapa teman saya yang sebelum putaran pertama masih die hard fans-nya Ahok, kemudian setelah putaran pertama tiba-tiba seolah kehilangan suara, dan di putaran kedua tiba-tiba mengaku memilih Anies-Sandi.

Di tempat lain, ada lingkungan masyarakat miskin yang sehari sebelumnya telah ‘dihujani’ dengan sembako oleh sejumlah oknum berbaju kotak-kotak. Apa dinyana, dalam penghitungan suara, Anies-Sandi malah menang mutlak di TPS sana. Beberapa kawan lain juga mengabarkan bahwa jika dulu Ahok-Djarot menang mutlak di TPS-nya pada putaran pertama, bahkan Anies-Sandi hanya dapat posisi ketiga, namun kini kondisinya malah berbalik seratus delapan puluh derajat.

Saya melihat sebuah ‘pemberontakan’ telah terjadi di Jakarta; bara api yang tadinya kecil, namun kini siap menyambar. Kepolisian terlihat menghalang-halangi kegiatan Tamasya Al-Ma’idah, namun sangat santai menyikapi Banser yang berkumpul dalam jumlah besar di Ragunan sejak H-1. Bahkan insiden mobil meledak di dekat massa yang tengah merayakan Isra’ Mi’raj dan pengepungan rumah salah seorang pimpinan FPI saja ditanggapi dingin. Aliran dana jelas tidak surut, sebab aksi tebar sembako terjadi hampir di seluruh wilayah Jakarta, sama sekali tidak luput dari pantauan warga yang umumnya sudah melek media sosial. Hasilnya, dapat ditemukan begitu banyak dokumentasi tebar sembako (yang semestinya tidak terjadi, karena di luar masa kampanye) itu di dunia maya, termasuk rekaman sejumlah intimidasi yang dilakukan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Adapun media mainstream, hingga Hari-H, nampaknya masih bersikap sama saja seperti di hari-hari lainnya. Di hadapan semua itu, warga Jakarta, dan juga Indonesia, akhirnya memberontak juga.

Kemenangan di Pilkada DKI kali ini, menurut saya, bukan hanya soal Anies-Sandi, sebab kita memang tak terbiasa (dan tak boleh terbiasa) menggantungkan nasib kepada satu-dua orang manusia. Tanpa dukungan media dan dana yang kuat, sang kuda hitam berhasil menaklukkan raksasa. Tentu saja, itu bukan karena kesaktian mereka yang figurnya terpampang di kertas suara saja, melainkan justru karena ada ‘raksasa tak terlihat’ di belakangnya. Mungkin ‘tak terlihat’ bukan frase yang tepat. Yang jelas, kehadirannya selama ini terabaikan begitu saja. Itulah rakyat.

Kemenangan kali ini adalah tentang akal sehat. Rakyat memperjuangkan kemerdekaan akal sehatnya sendiri yang selama ini telah dibelenggu dan disetir oleh begitu banyak kepentingan. Negeri tanpa akal sehat, tentu saja, tidak menemukan jalan kecuali menuju kehancuran.

Masyarakat Indonesia, bukan hanya yang Muslim, sudah lelah dengan isu yang dibuat-buat. Spanduk soal ‘kebhinnekaan’ bermunculan di setiap kelurahan, seolah Indonesia tengah berada dalam keadaan bahaya yang luar biasa. Pembicaraan soal ISIS didengungkan di mana-mana, seolah-olah mereka bersembunyi di setiap rumah. Kerukunan menjadi bahasan di mana-mana, padahal rakyat Indonesia secara umum tidak punya masalah kerukunan, kecuali jika ada provokatornya.

Begitu mudahnya cap radikal diberikan, sehingga orang sudah terlanjur muak mendengarnya. Aksi Super Damai #212 yang menghadirkan jutaan orang di ibukota menjadi saksi bahwa tak seorang pun yang menginginkan kekacauan di negeri ini. Pada hari itu, umat Muslim berbaris rapi, Shalat Jum’at di bawah guyuran hujan, tanpa ada keributan dan insiden secuil pun. Begitu damainya aksi sehingga Presiden pun hadir dan sempat berbicara sejenak. Bagi sebagian orang, Aksi #212 menyisakan kenangan yang tak terlupakan dalam hidupnya. Bisa dibayangkan betapa muaknya rakyat saat keesokan harinya membaca surat kabar yang di halaman depannya terpampang judul yang teramat sangat menyesatkan: “Makar Terbukti Ada”!

Begitu sulitkah memahami kemarahan rakyat yang sudah habis air matanya karena melihat anak-anak Suriah mati kehabisan napas akibat dibantai oleh penguasa negerinya sendiri, lantas tiba-tiba para ulama yang menyampaikan bantuan ke Suriah malah dicap radikal? Seolah-olah masyarakat Indonesia ini begitu buta, sehingga mengira bahwa apa yang terjadi di Suriah adalah perang melawan ISIS. Bahkan label ISIS itu pun begitu mudahnya disematkan kepada siapa saja, sehingga seorang kyai dalam sebuah ceramahnya ketika memperingati Isra’ Mi’raj tiba-tiba berbicara di luar konteks dan menyebut Ustadz Bachtiar Natsir telah menerima sekian miliar dari ISIS.

Apa yang Anda kira akan terjadi ketika masyarakat terus-menerus dibombardir dengan isu menyesatkan? Tiba-tiba saja ada bom berskala raksasa di dalam panci, tiba-tiba saja ada pemberontakan yang dimulai dari gorong-gorong. Umat Muslim dikriminalisasi, Islam dijadikan tertuduh, padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Jika mayoritas penduduk negeri ini memang radikal, apa bisa NKRI mencapai usia tujuh dekade lebih? Entah bagaimana, semua yang terlibat dalam Aksi #212 dikriminalisasi, dihancurkan nama baiknya, kalau perlu dengan hoax yang disebarkan secara kasar dan liar di dunia maya. Seolah Aksi #212 memang aksi makarnya kaum ekstremis. Padahal ada jutaan manusia yang hadir di sana, dan ada ratusan juta mata yang memandangnya dari kejauhan!

 

 

Rakyat sudah bosan dengan kebohongan. Umat Muslim dan Islam bukanlah sumber masalah di negeri ini. Tidak akan ada masalah kerukunan jika tak ada orang yang merusak kerukunan itu.

Ini adalah kemenangan akal sehat. Jika ada yang mengatakan bahwa kepala daerah tak mesti santun, maka itu bukanlah akal sehat yang berbicara. Seorang Steven tiba-tiba hadir seolah untuk membuktikan hal itu. Dengan arogannya, ia memaki-maki Tuan Guru Bajang KH. Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dikenal santun, ulama dan negarawan, juga tidak korupsi. Sekonyong-konyong, seisi Indonesia tahu arti kata “tiko”, dan tiba-tiba muncullah sekian banyak orang yang merasa selama ini kerap disebut ‘tiko’ tapi baru sekarang tahu maknanya apa. Itulah buruknya amarah. Amarah menghilangkan akal sehat, sehingga anak orang kaya yang biasa bepergian naik pesawat pun kehilangan kendali sedemikian rupa dan tak tahu ia berurusan dengan orang yang jauh lebih mulia darinya. Jika kemarahan yang sejenak saja bisa menghasilkan kezaliman sedemikian rupa, apa jadinya jika kepala daerah setiap hari dikuasai amarah? Mampukah ia bertindak adil? Kita, sebagai umat Muslim, tentu lebih percaya wasiat Rasulullah saw: “laa taghdhab!”.

Akal sehat rakyat Indonesia merasa terguncang ketika terus-menerus dicekoki klaim yang tak sesuai fakta. Mereka yang bicara kebhinnekaan justru sangat anti perbedaan, suka memaki dan menghina siapa pun yang tak sejalan dengannya. Mereka menyebut dirinya antikorupsi, tapi anehnya malah bergabung dalam barisan bersama partai-partai yang selama ini tak pernah sepi dari kasus korupsi. Mereka menunjuk orang lain radikal, padahal mereka sendiri selalu mengintimidasi orang lain, bahkan tak segan-segan bikin keributan. Mereka bilang dirinya pro rakyat kecil, padahal rakyat kecil selalu menderita karena ulahnya. Mereka bicara kejujuran, tapi di luar musim kampanye malah tebar sembako.

Berapa lama penyimpangan logika ini bisa bertahan? Kalau ingin mendapatkan ‘efek’ yang cepat, orang bisa disuap, diberangkatkan umrah bila perlu, agar tidak melihat kezaliman di sekitarnya. Kalau perlu masjid megah didirikan, agar bisa membual ke seluruh dunia bahwa orang kafir bisa membuatkan masjid bagi umat Muslim. Berapa lama sampai akhirnya orang-orang berpendidikan di negeri ini sadar bahwa masjid megah itu dibuat dengan uang rakyat, bukan kocek pribadi? Berapa lama kira-kira klaim itu bisa bertahan sebelum munculnya para da’i yang bercerita kepada umat tentang sejarah Masjid Dhirar?

Umat sudah muak dengan pertunjukan kejahatan yang begitu telanjang, sampai-sampai agama pun dijadikan olok-olokan. Ada orang yang tak tahu malu mengatakan bahwa nama Ahok berasal dari kata “Akhok” di dalam Qur’an yang artinya “saudaramu”. Orang ini lupa bahwa huruf “haa’” dan “khaa’” terdengar sangat berbeda bagi siapa pun yang sudah lulus dari kelas Tahsin dasar. Datang pula orang yang dahulu pernah mengusulkan agar ibadah Haji digelar di bulan-bulan lain, dan kini ia turut bersaksi bahwa Ahok tidak pernah menistakan Al-Qur’an. Semua terjadi begitu telanjang, seolah-olah para orang tua di tanah air ini tidak lagi mengajarkan malu kepada anak-anaknya.

Semua ini telah membuat akal sehat bangsa Indonesia terluka. Terlalu banyak penyesatan yang sudah terlalu lama dibiarkan. Islam bukan musuh. Umat Muslim bukan perusuh. Ulama bukan penjahat. Penjahat bukan ulama. Yang dituduh radikal adalah orang-orang yang gemar bermajelis dan ber-dzikir, sedangkan yang menuduh justru suka menakut-nakuti rakyat dan mengancam akan main potong. Yang dibilang suci dari korupsi, bahkan suci dan menyucikan bagai air hujan, ternyata malah tebar sembako dan berusaha membeli suara. Yang menyebut dirinya “anshar” (penolong) malah jauh dari umat, dan yang menggunakan Ka’bah sebagai ikon entah ada di mana hatinya. Tidak ada ganyang-ganyangan seperti yang dipertunjukkan dalam video kampanye yang provokatif, malahan video itulah yang membuat rakyat jadi resah. Adapun media mainstream, ia sudah lama menjadi bahan tertawaan masyarakat yang semakin cerdas.

Orang baik tidak kasar, orang kasar tidak baik. Yang curang di awal, niscaya korupsi setelah menang. Yang halalkan segala cara pastilah tak akan peduli pada rakyat. Yang jauh dari agama tidaklah layak memimpin di negeri yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, dan orang yang tidak bisa menjaga lisannya takkan mampu menjaga persatuan. Tidak ada masalah kebhinnekaan, tidak ada masalah dengan non-Muslim, tidak ada masalah rasisme. Yang ada hanya masalah kebohongan. 

Tidak usah mencari rasionalisasi terlalu rumit atas kekalahan. Rakyat sudah muak, itu saja. Kami ingin akal sehat hadir kembali di negeri ini!

wassalaamu’alaikum wr. wb.

Tags:
20 Comments
  • puti
    Posted at 16:10h, 21 April Reply

    luar biasa, ustadz…tak ada lagi yg dapat saya katakan, selain: SETUJU dg pemikiran ustadz

  • djunaidi
    Posted at 17:29h, 21 April Reply

    rek nulis naon nyah …. geus we lah dibaca jeng disebar GO GO GO

  • gatot
    Posted at 17:43h, 21 April Reply

    izin share boleh ustad?

    • malakmalakmal
      Posted at 18:08h, 21 April Reply

      Boleh banget atuh 😀

  • @bangsaid
    Posted at 20:49h, 21 April Reply

    Saya pendukung Koh Ahok bukan karena berasal dari daerah yang sama, tapi juga karena tahu kerja beliau dulu. Karena tahu terbukanya beliau bagi seluruh lapisan masyarakat.

    Tapi bener kata Bang Akmal. Ini kemenangan akal sehat.

    Akal sehat saya berkata kalau, keutamaan seorang pemimpin adalah akhlaknya. Pemimpin adalah teladan.

    Akal sehat saya berujar, apa yang keluar dari mulut seseorang adalah isi kepalanya.

    Sehingga di pilkada DKI ini meskipun tidak ikut turun memilih, saya berdoa di depan Ka’bah, semoga Allah menganugerahkan pemimpin shaleh untuk Jakarta, untuk Indonesia.

  • Deenk
    Posted at 22:14h, 21 April Reply

    Siiip laah banget setuju…. Ulasan nya hmm

  • Hendra Hermawan
    Posted at 05:46h, 22 April Reply

    Ustadz, tulisan ini benar-benar menggambarkan jeritan hati saya, dan jutaan ummat Islam yang hanya bisa merintih dalam hati. Kenapa pemerintah tidak pernah bisa adil kepada ummat Islam yang mayoritas. Elit2 pimpinan Ormas Islam terbesar yang diharapkan bisa mewakili kepentingan ummat, justru lebih sering membela non muslim.

    Izin share Ustadz.

  • Januar Susanto
    Posted at 06:12h, 22 April Reply

    Keren om Mom,

  • Zainuddin
    Posted at 06:51h, 22 April Reply

    Tulisan yang luar biasa…sangat mudah dipahani bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat.

  • Sunaji
    Posted at 08:22h, 22 April Reply

    Masyarakat di pelosok banyak yg masih blm sadar dalam menyalurkan aspirasi politiknya, PDIP masih menjadi harapan besar mereka walau kenyataannya mempunyai daya rusak yg sangat luar biasa.

  • Fahryl Rizani
    Posted at 08:41h, 22 April Reply

    Kemenangan pak anis dan bang sandi menjadi momen bagi masyarakat Jakarta, akankah melek politik seterusnya, atau hanya pelampiasan akibat penggusuran saja

    Semoga amanah hingga akhir masa jabatan
    Selamat memimpin Jakarta

  • Eri setyowati
    Posted at 09:43h, 22 April Reply

    Hari ini saya juga nulis tentang ucapan2 rasis yg masih mereka ganungkan stadz, membaca tulisan antum menjadi semangat lagi bahwa msh ada orang2 yg berpikiran waras dan melihat kebohongan2 ini, semoga Alloh selalu menjaga kita

  • Gunawan
    Posted at 09:46h, 22 April Reply

    Kemenangan akal sehat yg dicapai dgn pemberian pemahaman masyarakat, bukan penggiringan opini dgn fakta menyesatkan. Salut buat bang sandi yg udh 18bln mensosialisasi program kerjanya, bkn hal mudah menawarkan gagasan. Salut jg buat bang Anies yg punya kemampuan mengorganisir jaringan sehingga bs menyentuh sampai ke level rt rw. Sy termasuk yg tdk percaya kemenangan ini didapat hanya dr blunder di hari2 terakhir. Itu hanya menguatkan dan menegaskan kemenangan dgn margin dua digit.

  • TEGUHBAS
    Posted at 13:47h, 22 April Reply

    Yang pasti, kita sudah teruji kesabaran, sehingga situasi masih terkendali…..walaupun sering menahan memuakkan itu sendiri.

  • Abadi Aulia
    Posted at 17:04h, 22 April Reply

    Cerdas, ini kemenangan yang dijanjikan oleh Allah Umat hanyalah wasilah dari sebuah ikhtiar serta doa.Namun perjuangan Umat jangan berhenti ini merupakan ujian berikutnya, mari lebih giat ikhtiar serta doa untuk mencapai derajat yg lebih tinggi.Selagi masih diberikan hidup maka saya pribadi akan berjihad di Jalan Allah

  • ikhtaria
    Posted at 09:07h, 23 April Reply

    Ditulis dengan bahasa yg mudah difahami dan objektif…semoga yg membaca bisa memahami dan mendapat hidayah…aamiin

  • dani
    Posted at 17:35h, 23 April Reply

    Meskipun bukan warga jakarta saya bersyukur pd Allah Ta’ala atas hasil pilgub di ibukota ini. Semoga manusia2 indonesia mjd lebih cerdas beneran dan semoga gubernur baru jakarta menjadi pemimpin yg adil dan amanah menjaga hak2 umat Islam maupun warga jakarta lainnya.

  • bagasaulia
    Posted at 14:26h, 24 April Reply

    Sekadar meluruskan bagian partai ka’bah, keputusan dukungan mereka sudah merupakan keputusan terbaik. Para petingginya memang ‘mendukung’ Ahok secara formalitas, tetapi elemen-elemen di bawahnya (DPC, DPW, dll) sudah diarahkan untuk mendukung Anies. Ini dilakukan mengingat Ahok dkk. sudah memegang ‘kartu truf’ dari para petinggi tsb. (terkait kasus-kasus pribadi para petinggi di masa lampau) yang apabila mereka pindah dukungan ke pihak Anies, maka ‘kartu truf’ tsb. akan dibuka semuanya, dan jelas itu bukan hanya merugikan para petinggi secara personal, tetapi juga merugikan nama partai dan islam. Wallahu a’lam.

    • malakmalakmal
      Posted at 17:13h, 24 April Reply

      Saya agak meragukan bahwa situasinya diatur seperti itu, karena cukup banyak kader dan ulama PPP yg menyatakan kecewa, bahkan keluar dari PPP karena dukungan thd Ahok-Djarot. Selain itu, kalau memang tersandera masalah pribadi, ya baiknya mundur saja, daripada jadi beban umat. Bagaimana pun ini bahan evaluasi untuk PPP.

  • Ma'ruf Abah Ghazy
    Posted at 06:04h, 20 May Reply

    Setelah membacan tulisan yang sarat makna ini, akal kita insya Alloh akan makin menjadi sehat jadinya.

    Syukron wajazakallahu khoiron atas taujihnya, ustadz…

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.