Maya
576
post-template-default,single,single-post,postid-576,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Maya

Maya

 

assalaamu’alaikum wr. wb.

Ini bukan kisah tentang seorang perempuan. Bukan pula tentang sebuah bangsa yang pernah berjaya di salah satu sudut benua Amerika bagian Selatan. Ini adalah tentang sesuatu yang “hanya tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada” (http://kbbi.web.id/maya). Ini tentang sesuatu yang sepenuhnya berkebalikan dari kenyataan.

Dunia maya adalah ‘dunia di dalam dunia’. Ia telah menginvasi dunia nyata sejak awal milenium ketiga, dan kini dunia nyata sudah semakin terdesak. Dunia maya eksis di mana-mana. Jika dulu kebanyakan orang hanya bisa bertemu dengan internet di warnet, maka kini hampir semua ponsel sudah terhubung dengannya. Ada jam tangan yang juga terhubung ke internet, mencatat denyut jantung dan jumlah langkah penggunanya, dan tentu saja dengan jasa GPS juga bisa mencatat ke mana saja ia bepergian. Sekarang bahkan ada kulkas yang terhubung juga ke internet, dan sejumlah masjid menawarkan wi-fi gratis, sehingga yang datang ke masjid kini bukan hanya yang ingin beribadah, melainkan juga yang ingin online. Anda bisa menimbang fenomena ini dari perspektif ‘gelas setengah penuh’ atau ‘gelas setengah kosong’, tapi itu adalah perdebatan yang lain lagi.

Ramai orang ‘memindahkan’ dunianya dari kenyataan kepada kemayaan (silakan cek KBBI, “kemayaan” adalah sebuah kata yang valid!). Ratusan foto dijepret dan diunggah demi menangkap imej pribadi, meski kadang posenya itu-itu saja. Orang lain harus tahu kita siapa, kita maunya apa, dan kita di mana. Mau makan selfie, mau tidur selfie, bahkan mau buang air besar pun ada juga yang selfie. Semua bisa jadi orang penting di dunia maya!

Enaknya hidup di dunia maya adalah kita bisa berekspresi sesuka hati. Marah dan sedih itu complicated. Di dunia nyata, Anda harus baik-baik menata diri. Seringkali, ketika sedang marah, kita perlu memaksa diri untuk bijak, sebab yang bikin marah itu ada di depan mata. Tapi di dunia maya, marah itu cukup diwakilkan dengan sebuah emoticon. Demikian juga perasaan sedih, kadang tak bisa diekspresikan dengan lepas di dunia nyata. Tapi ada sebuah emoticon banjir air mata yang bisa Anda kirimkan ke seluruh dunia, dan sedetik sesudahnya Anda bebas untuk cengengesan menertawakan urusan yang lain lagi.

Di dunia yang penuh dengan kata-kata, sulit memisahkan mana yang benar dan mana yang palsu. Memang manusia sehari-hari lisannya meluncurkan kata-kata, namun sementara mulut berujar, bagian wajah yang lain ikut berbicara. Bahkan anggota tubuh yang lain pun punya bahasa. Segalanya begitu rumit. Tetapi jika Anda serahkan segala urusan pada tuts-tuts keyboard, maka orang hanya akan menangkap ekspresi sesuai yang Anda tuliskan. Tak ada yang perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi di ujung lain dari koneksi internet yang semrawut ini.

Diam-diam kebutuhan akan ekspresi tergantikan dengan kebutuhan akan update. Semuanya haus update. Semua butuh cepat. Berita harus cepat, karena tak ada yang mau ketinggalan. Masing-masing pun harus cepat meng-update kabar, agar orang lain tak ketinggalan. Jika dulu kita butuh waktu seharian untuk mencerna emosi yang begitu berat, maka kini ada setumpuk emosi yang kita tumpahkan di media sosial dalam waktu relatif singkat, baik emosi yang benar-benar kita rasakan atau yang sekedar kita ekspresikan karena menganggapnya sebagai sebuah kewajiban.

Peradaban modern ini berhutang begitu banyak kepada siapa pun yang telah mencetuskan konsep copy-paste, karena sekarang hidup yang sudah begitu simpel bisa disulap menjadi lebih simpel lagi. Lihat saja ketika di sebuah grup atau forum maya ada yang mengabari dirinya atau orang lain sedang sakit, akan segera muncul ungkapan keprihatinan semacam:

Syafakallaah… Semoga Allah segera mengangkat penyakitnya. Sabar-sabar ya…

Besar kemungkinan, pesan-pesan berikutnya akan berbunyi seperti ini:

Syafakallaah… Semoga Allah segera mengangkat penyakitnya. Sabar-sabar ya…

Syafakallaah… Semoga Allah segera mengangkat penyakitnya. Sabar-sabar ya…

Syafakallaah… Semoga Allah segera mengangkat penyakitnya. Sabar-sabar ya…

Syafakallaah… Semoga Allah segera mengangkat penyakitnya. Sabar-sabar ya…

Syafakallaah… Semoga Allah segera mengangkat penyakitnya. Sabar-sabar ya…

Demikian pula jika ada berita kematian, kemudian ada pelopor yang mengetik:

Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…

Maka dalam sekejap, muncullah pesan-pesan berikutnya:

Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…

Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…

Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…

Berbahagialah. Jika Anda sakit atau kena musibah, sekarang banyak yang mengirim ucapan. Tapi jangan terlalu berharap mereka akan datang menjenguk, sebab masih banyak urusan lain yang harus mereka tanggapi. Seberapa pun banyaknya emoticon, takkan pernah cukup untuk mengurusi segala perkara di dunia maya. Tapi selalu ada jalan untuk copy-paste!

Bagaimana pun maya adalah maya, nyata adalah nyata. Maya tidaklah nyata, dan dunia maya itu penuh kepalsuan. Banyak ‘macan bertaring tajam’ di dunia maya yang sebenarnya hanya ‘kucing pencuri ikan asin’ di dunia nyata. Orang bisa memilih kepribadiannya sendiri di dunia maya, dan banyak orang yang senang memilih sesuatu yang tidak dimilikinya.

Ada orang bicara soal jihad dan menyangka dirinya sudah resmi menjadi mujahid. Ada yang rajin berdebat soal fiqih dan menyangka dirinya benar-benar seorang yang faqih. Di Qur’an memang ada disebutkan sifat semacam ini, misalnya awal Surah Al-Baqarah yang bercerita tentang orang-orang yang ketika dilarang berbuat kerusakan malah mendabik dadanya sendiri dan berkata bahwa justru merekalah yang melakukan perbaikan. Orang-orang semacam ini, kata Al-Qur’an, ‘maa yakhda’uuna illaa anfusahum, wa maa yasy’uruun’ (tidak menipu siapa-siapa kecuali diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadari hal tersebut). Kabar buruknya, deskripsi ini diperuntukkan bagi orang-orang munafiq. Memang tidak ada yang aneh jika kemunafikan menjadi tren di dunia tak nyata yang penuh kepalsuan. Jika berawal dari kepalsuan, tentu akan sulit menemukan kesejatian.

Dunia maya mengajari manusia untuk merespon dengan serbacepat, meski harus mengorbankan emosi dan kesejatiannya. Padahal, dengan emosi itulah yang menggerakkan dirinya, dan dengan emosi itu pula ia merasakan hidup. Ketika emosi telah digantikan oleh emoticon, maka manusia tidak lagi benar-benar hidup. Atau mungkin dapat pula dikatakan: kehidupan mereka tidak lagi nyata.

Bertahun-tahun silam, ketika orang melihat foto anak-anak Palestina atau menonton video perjuangan para mujahidin, emosi itu begitu nyata. Tangan terkepal, lisan bertakbir, dan tak terasa air mata pun mengalir. Segeralah orang membuat barisan, berteriak lantang memprotes kezaliman dan kantung-kantung pun disebar untuk mengumpulkan donasi.

Kini, ketika anak-anak Suriah mati tenggelam dan bersimbah darah, banyak orang mencukupkan diri dengan ucapan: “Ya Allah, betapa berat penderitaan mereka. Ingin menangis rasanya. Saya hanya bisa berdoa.”

Tapi doa itu tak pernah benar-benar dipanjatkan, dan air mata itu tak benar-benar mengalir. Kemanusiaan mati perlahan, karena manusia sudah tidak lagi hidup di dunia nyata.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

 

Artikel ini pernah dimuat di sini.

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.