Akmal Sjafril | Bagaimana #IndonesiaTanpaJIL Memandang JIL
483
post-template-default,single,single-post,postid-483,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-13.4,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Bagaimana #IndonesiaTanpaJIL Memandang JIL

Bagaimana #IndonesiaTanpaJIL Memandang JIL

 

assalaamu’alaikum wr. wb.

Seorang teman pernah berseloroh, “Pertarungan paling seru dan tak ada habis-habisnya di jagad Twitter adalah antara ITJ dan JIL!” Pendapat itu murni miliknya pribadi, tanpa pernah saya pengaruhi, dan tidak mesti juga kita amini.

Pada kenyataannya, memang pertentangan antara kedua kutub ini sudah seru dari sononya. Saya selalu menolak jika ada yang mengatakan bahwa saya atau orang lain adalah pendiri #IndonesiaTanpaJIL (ITJ). Sebenarnya, di ITJ tidak pernah ada istilah ‘pendiri’, ‘penggagas’ atau ‘inisiator’, bahkan tidak ada pula yang pernah memastikan siapa yang paling pertama menggunakan hashtag #IndonesiaTanpaJIL.

Sejak saya aktif di jagad Twitter sekitar tahun 2010 (saya memiliki akun Twitter sekitar setahun sebelumnya, namun awalnya tidak aktif diguanakan), polarisasi di antara kedua kutub – sebutlah kubu JIL dan anti-JIL – sudah demikian kuat. Karena sebelumnya sudah sangat sering mengulas penyimpangan Islam liberal di Multiply, maka ketika saya mulai melakukan hal yang sama di Twitter, tiba-tiba saya dikelilingi oleh teman-teman yang sepaham. Setelah itu, semuanya berlangsung secara alamiah.

Ketika para pengikut JIL mencaci lawan-lawan debatnya sebagai ‘bigot’, maka kubu anti-JIL malah menyambut sebutan itu dan mengubahnya menjadi hal yang ‘baik’. Muncullah perkataan, “Kalau sudah disebut bigot oleh orang-orang dan pengikut JIL, berarti ‘aqidah kita sudah lurus!” Iseng-iseng berhadiah, ada yang berinisiatif membentuk sebuah perkumpulan bernama Keluarga Besar Bigot Indonesia (KBBI). Sampai sekarang perkumpulan informal ini masih ada, sekedar untuk berbagi info di kalangan anggotanya.

Momentum besar terjadi ketika pada tahun 2012 muncul hashtag #IndonesiaTanpaJIL. Tanpa komando apa pun, tiba-tiba saja hashtag ini digunakan di mana-mana, dan kami pun ‘saling mengidentifikasi diri’ dengannya. Singkat cerita, logo ITJ dibuat sesederhana mungkin, kaos ITJ yang juga sangat sederhana itu dirilis tanpa hak cipta, dan para pendukung ITJ di sekitar Jabodetabek berkumpul untuk pertama kalinya di bulan Maret 2012, dalam sebuah aksi demonstrasi di Bundaran HI yang diorganisir oleh Forum Umat Islam (FUI). Dalam kurun waktu beberapa bulan saja, sejumlah kepengurusan ‘chapter’ didirikan di berbagai kota. Sekarang, ITJ sudah berusia hampir tiga tahun dan sudah mengadakan Silaturrahim Nasional (Silatnas) sebanyak dua kali. Demikianlah sejarah singkat tentang ITJ.

Meski nampak bombastis di kalangan para aktivisnya, pada kenyataannya masih banyak yang belum memahami betul hakikat dan jati diri ITJ. Dalam sebuah forum maya terbatas bersama para aktivis dari gerakan lainnya, saya pernah bercanda dan mengatakan bahwa positioning ITJ ini memang lain sendiri. Jika gerakan-gerakan lainnya mengidentifikasi diri dengan amalan-amalan terbaiknya, maka kami memulai dengan mengidentifikasi musuhnya. Sementara gerakan-gerakan lain menimbulkan perasaan ‘damai’, maka ITJ justru secara konstan berada dalam suasana perang, meski hanya perang pemikiran. Banyak yang masih ‘alergi’ dengan posisi yang ofensif seperti ini. Tantangannya sangat terasa manakala kami berusaha mencari sumber dana atau ekspos media. Bahkan media pun sampai saat ini masih banyak yang pura-pura tidak tahu dengan keberadaan ITJ.

Bukan maksud saya untuk mengundang perdebatan. Tidak masalah orang hendak bergabung dengan gerakan mana pun, selama mengajak pada kebaikan. Ini hanya sebuah penjelasan agar semua orang – terutama aktivis ITJ sendiri – memahami realita yang dihadapinya di lapangan.

Sebelumnya saya mengatakan bahwa ITJ memulai perjuangannya dengan mengidentifikasi musuhnya. Hal ini tercermin dari namanya sendiri. Ya, ITJ memang merupakan antitesis dari JIL, atau dari Islam liberal itu sendiri. Pandangan seperti ini pun pada akhirnya menimbulkan masalah lainnya, yang sama sekali tidak baru. Pertanyaan yang mengemuka adalah: Mengapa hanya JIL?

Ketika ITJ baru berusia beberapa pekan saja, pertanyaan di atas sudah muncul. Banyak yang ‘menuntut’ agar yang dilawan bukan hanya JIL, melainkan juga Syi’ah. Tapi setiap garis perjuangan memang membutuhkan fokus tersendiri. Hanya karena ITJ memfokuskan diri pada JIL, bukan berarti kami tidak peduli pada bahaya Syi’ah. Selain itu, ITJ sebenarnya juga bisa menyentuh permasalahan Syi’ah, jika dikaitkan dengan pemikiran yang disebarluaskan oleh Islam liberal. Hal ini akan diperjelas pada bagian selanjutnya.

Bagi mereka yang belum pernah berinteraksi dengan ITJ, saya memahami dan berusaha husnuzhzhan jika mereka menganggap bahwa ITJ ‘terlalu kecil’. Ini kritik yang dapat kami terima dengan lapang dada. Walaupun, tentu saja, kritik itu pun bisa dikritisi balik. Jika JIL dianggap sebagai ‘masalah kecil’, lantas mengapa setelah belasan tahun kita belum bisa menghapuskannya? Akan tetapi, kunci permasalahannya sebenarnya adalah pada bagaimana cara kita memandang JIL itu sendiri.

Jika Anda memandang JIL sebagai sekumpulan orang yang bermarkas di Utan Kayu dan sesekali berkumpul juga di Salihara, maka persoalannya memang akan terlihat kecil. Jumlah mereka sedikit saja. Akan tetapi jika Anda melihat kiprah mereka yang mendapat dukungan sangat besar dari media mainstream dan dukungan dana dari berbagai pihak, maka masalahnya akan terlihat lebih kompleks. Lihat juga bagaimana kaderisasi Islam liberal terjadi dengan begitu gamblang di perguruan-perguruan tinggi Islam. Apakah masalah ini masih terlihat kecil?

Jika masalah ini sudah mulai terlihat besar bagi Anda, maka ketahuilah bahwa yang sudah saya paparkan di atas sebenarnya hanya puncak dari sebuah gunung es. It’s only the tip of the iceberg!

Masalah JIL bukan hanya seputar sebuah organisasi yang terdiri dari segelintir orang, atau sejumlah karya tulis yang terus-menerus dimuat di media massa mainstream, atau kaderisasi masif di kampus-kampus perguruan tinggi Islam. Semua kerumitan ini terjadi karena rusaknya tradisi ilmu di tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia secara khusus, dan seluruh peradaban Islam secara umumnya.

Jika ada mahasiswa semester akhir yang sesumbar mengatakan bahwa semua agama sama, itu adalah bukti dari kerusakan ilmu. Sumber permasalahannya dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  • Ia kurang mengenal Islam.
  • Ia kurang mengenal agama-agama lain.
  • Ia tidak memahami perbedaan fundamental antara Islam dengan agama-agama lainnya.
  • Ia tidak memiliki kebanggaan sebagai seorang Muslim.
  • Ia memiliki keinginan untuk ‘memuaskan semua orang’ dengan mengatakan bahwa semua agama itu sama.
  • Ia memiliki rasa rendah diri yang sangat parah.
  • Ia kemungkinan besar hanya mengulangi kata-kata dosennya tanpa bersikap kritis.
  • Ia melakukan kebohongan akademis, karena kalau pun ia melakukan riset sepanjang masa kuliahnya (8 semester), tak mungkin ia dapat mempelajari semua agama hingga sampai pada kesimpulan bahwa semua agama itu sama. Hal yang demikian tidak mungkin dilakukan selama 8 semester.

Mematahkan argumen bahwa semua agama sama itu terlampau mudah. Yang sulit adalah memformat ulang cara berpikir seseorang (apalagi masyarakat) yang menggiringnya kepada pendapat bahwa semua agama itu sama. Daftar di atas pun masih sangat mungkin diperpanjang, dan siapa pun boleh menambahkan hal-hal lain ke dalamnya.

Bagi kami di ITJ, JIL adalah representasi dari kerusakan cara berpikir umat. Jika umat Muslim di Indonesia mampu berpikir dengan benar, tentu takkan ada Islam liberal. Setiap penyakit harus dicarikan obatnya, dan dokter yang baik tentu tidak mengobati gejalanya saja, melainkan mencari sumber penyakitnya. Oleh karena itu, membantah pemikiran tokoh-tokoh JIL seperti Ulil Abshar Abdalla memang perlu dilakukan, tapi itu hanya sebagian kecil dari pekerjaan rumah kita.

ITJ baru saja menyelesaikan program Sekolah Pemikiran Islam (SPI) angkatan pertama untuk wilayah Jabodetabek. Program ini digelar selama tiga bulan, berupa perkuliahan sekali sepekan dengan diikuti oleh peserta dari para aktivis dakwah kampus di sekitar Jabodetabek dan dari chapter-chapter ITJ di wilayah tersebut. Program ini diawali dengan sesi kuliah yang membahas tentang the worldview of Islam dan diakhiri dengan pembahasan tema the golden age of Islam. Tema pertama dibutuhkan untuk menjelaskan bahwa cara berpikir kita perlu diformat ulang, sedangkan tema terakhir diberikan untuk menanamkan cita-cita besar kepada seluruh peserta SPI untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam yang pernah terwujud di masa silam. Topik-topik pembahasan lainnya adalah tentang konsep kesetaraan gender, Syi’ah, dan sebagainya, sebab Islam liberal juga kerap menebar kerancuan dalam masalah-masalah ini. Yang mungkin tidak disangka-sangka oleh banyak orang adalah bahwa dalam perkuliahan SPI ini justru tidak ada sesi kuliah khusus yang membahas JIL. Ya, karena JIL hanya bagian kecil dari permasalahan yang sesungguhnya!

Jika amal-amal kami ini dipandang kecil, maka sesungguhnya kami pun berpendapat demikian. Sejauh ini, hanya sedemikian inilah yang dapat ITJ sumbangkan kepada umat. Untuk itu, ITJ terus belajar dan berkembang secara alamiah. Meski dengan kemampuan sangat terbatas, setidaknya kami bertekad agar kelak di hadapan Allah SWT dapat berkata mantap, “Ya Allah, kami telah melakukan sebisanya!”

wassalaamu’alaikum wr. wb.

 

Tulisan ini pernah dimuat di sini.

2 Comments
  • Reza
    Posted at 17:38h, 24 January Reply

    Sip! Sejak awal muncul #IndonesiaTanpaJIL saya udah dukung gerakan ini. Mencerahkan!

  • Desy
    Posted at 20:52h, 25 January Reply

    I am in.. #indonesiatanpajil

Post A Comment