Dokumentasi #1704
695
post-template-default,single,single-post,postid-695,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Dokumentasi #1704

Dokumentasi #1704

assalaamu’alaikum wr. wb.

Agenda saya di bulan April 2017 dibuka dengan kuliah Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung pada tanggal 1. Setelah itu, saya kembali hadir di SPI Jakarta pada tanggal 5, kembali ke SPI Bandung pada tanggal 22, dan lagi-lagi bersama SPI Jakarta pada tanggal 26. Alhamdulillaah, para peserta SPI di kedua kota terlihat begitu bersemangat, dan tanpa terasa semester satu sudah hampir selesai. Silakan ikuti perkembangan SPI melalui fanpagenya, dan daftarkan diri di angkatan berikutnya, ya! 🙂

 

SPI Bandung, 1 April 2017.

 

5 April 2017, SPI Jakarta.

 

22 April 2017, SPI Bandung.

 

SPI Jakarta, 26 April 2017.

 

Pada tanggal 7 April 2017, saya memenuhi undangan dari Sekolah Alam Algiva, Bogor. Kali ini, saya berdiskusi bersama para orang tua siswa dan sejumlah peserta dari lingkungan sekitar sekolah tentang bahaya ghazwul fikriyang mengancam keluarga. Memang persoalan ini patut menjadi perhatian setiap orang, terlebih lagi orang tua. Sebab, pendidikan anak dimulai dari keluarga. Ya, kan?

 

Di Sekolah Alam Algiva, Bogor.

 

Malam harinya, masih di tanggal yang sama, saya mendapat kehormatan untuk menyampaikan kajian tentang perkembangan Islam liberal dalam acara Mabit di Masjid Al-Hidayah, Bukit Cimanggu City, Bogor. Mabit ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan ‘#Spirit212’ yang diselenggarakan secara berkala di berbagai kota. Setelah subuh, di bagian akhir dari kegiatan ini, turut hadir Ustadz Bachtiar Natsir yang menggelorakan semangat warga Kota Hujan. Allaahu akbar!!!

 

 

 

 

Bersama ribuan orang lainnya, saya pun sangat antusias menghadiri kajian Dr. Zakir Naik di Bekasi. Itulah kajian paling ramai yang pernah saya ikuti, dan alhamdulillaah saya mendapatkan jatah tempat duduk VIP bersama sejumlah rekan dari #IndonesiaTanpaJIL (ITJ). Sebagai pengagum Syaikh Ahmad Deedat yang tak pernah berkesempatan untuk berjumpa dengan beliau, saya bersyukur mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan maestro kristologi penerus beliau. Dalam semalam saja, 17 orang mengucap syahadatain setelah mendengar ceramah beliau. Maasyaa Allaah, semoga Allah membalas amal shalih beliau dengan berlipat ganda. Aamiin…

 

Dari kursi VIP sekalipun, Dr. Zakir Naik hanya terlihat jelas di layar lebar ini 🙂

 

#IndonesiaTanpaJIL

 

Keesokan harinya, tanggal 9 April, saya kembali merapat bersama Ashabul Kahfi (AK) AQL untuk menghadiri kajian di AQL Center, Tebet. Kajian ini, selain diperuntukkan bagi seluruh anggota AK, juga dibuka untuk umum. Alhamdulillaah, kajian-kajian keislaman yang serius kini semakin diminati dan tak pernah sepi. Mungkin memang masyarakat kita sekarang sudah jenuh dengan kondisi yang ‘begini-begini saja’.

 

 

Saya berkesempatan mengunjungi Kota Subang untuk kedua kalinya pada 13 April 2017, kali ini mengunjungi SMAIT Asy-Syifa Boarding School. Pesantren yang satu ini sudah dikenal luas sebagai sekolah yang banyak berprestasi. Seperti di sekolah-sekolah lainnya, nampaknya kini ada kekhawatiran yang merata akan bahaya pemikiran menyimpang bagi para alumni dan juga siswa SMA. Karena itu, pembahasan seputar ghazwul fikri dianggap sangat urgen.

 

 

Pada tanggal 15 dan 22 April, untuk kesekian kalinya saya kembali untuk berdiskusi dengan rekan-rekan Relawan Siaga dalam Kuliah Peradaban-nya di Bandung. Seperti biasa, tema besar yang diamanahkan kepada saya adalah seputar ghazwul fikri.

 

Kuliah Peradaban, 15 April 2017.

 

Kuliah Peradaban, 22 April 2017.

 

Di pertengahan bulan, yaitu pada tanggal 16, saya kembali merapat bersama rekan-rekan YISC Al-Azhar. Sudah beberapa kali saya memberikan kajian untuk YISC, dan sudah cukup banyak alumni SPI yang berasal dari sana. Alhamdulillaah, saya memandang YISC punya potensi besar untuk berperan aktif dalam dakwah di kalangan anak muda. Aula SMP Al-Azhar yang nyaris penuh pun menjadi saksi.

 

 

Keesokan harinya, 17 April 2017, saya berkesempatan untuk mengkaji fenomena ghazwul fikri bersama segmen yang sangat berbeda dari hari sebelumnya. Kali ini, saya berjumpa dengan Majelis Ta’lim Masjid Ash-Shaff, BSD, yang tentu saja didominasi oleh kaum ibu. Meski demikian, seperti yang sudah-sudah, antusiasme dalam belajar agama memang sedang tinggi-tingginya, apalagi setelah melihat perkembangan di tanah air paska-212.

 

 

Walaupun sudah sejak kecil menjadi penduduk Bogor, namun saya justru jarang ‘tampil’ di kota ini. Karena itu, jika ada undangan di Kota Hujan, pasti akan saya prioritaskan. Kali ini, saya menghadiri undangan dari Gerakan Membaca dan Menghafal Al-Qur’an (GEMMA) Bogor. Luar biasa, ruangan di Masjid Alumni IPB, Baranangsiang, Bogor, penuh dengan peserta yang sangat antusias mengikuti setiap acara GEMMA. Selepas acara, saya sempat berdiskusi hangat dengan dua asatidz yang sangat bersemangat menggawangi GEMMA, yaitu ust. Eddy Zanur dan ust. M. Nadjib Soewarno.

Selain memiliki program rutin ta’lim dua kali sebulan, GEMMA juga membuka program tahsin dan tahfizh di berbagai tempat dan bekerja sama dengan berbagai instansi. Semoga masyarakat Bogor semakin dekat dengan Al-Qur’an! Aamiin…

 

Di Masjid Alumni IPB, Baranangsiang, Bogor.

 

Diskusi bersama ust. Eddy Zanur (kiri) dan ust. M. Nadjib (tengah).

 

Di akhir bulan, pada tanggal 25 April, saya kembali berdiskusi bersama rekan-rekan dari Majelis Inspirasi di Hotel Malaka, Bandung. Tema kajian kali ini adalah “Mengambil Pelajaran dari Kaum Nabi Musa as“. Seperti biasanya, majelis yang satu ini dipenuhi oleh para pemuda yang rela datang dari berbagai daerah di sekitar Kota Kembang. Saya bangga, karena meskipun turun hujan sejak sore, namun semangat para peserta kajian tidak luntur. Insya Allah majelis ini akan menjadi salah satu sumber perubahan yang baik di Bandung.

 

 

Pada tanggal  27 April, saya kembali merapat bersama adik-adik SMA, yang kali ini berasal dari SMAN 57 Jakarta. Kali ini, kehadiran saya benar-benar atas prakarsa siswa-siswi rohisnya (bukan atas undangan para guru). Tema yang diminta pun, menurut saya, cukup luar biasa untuk ukuran SMA, yaitu “Islamofobia“. Menurut saya, siswa-siswi SMA memang sudah bisa dianggap dewasa, 11-12 dengan mahasiswa. Mereka mampu berpikir secara mendalam, dan mereka sudah memahami persoalan di sekitar mereka dengan baik, termasuk juga permasalahan umat.

 

 

Di penghujung bulan April, tepat di tanggal 30, saya berkesempatan mampir ke Balai Kopi Jogokariyan, sebuah kedai kopi yang mungil namun memikat dan inspiratif. Tidak kalah inspiratifnya dengan suasana kedai, ada pula komunitas Read and Eat Society (RES) yang secara berkala mengadakan acara diskusi di sana. Kali ini, saya diminta RES untuk membedah buku saya, Islam Liberal: Ideologi Delusional. Meski peserta diskusi tidak banyak (karena memang kapasitas ruangan pun tidak terlalu luas), namun diskusi menjadi hidup karena semua yang hadir adalah para pembaca dan pembelajar tulen. Sebagai komunitas pembaca buku, maka dalam sesi tanya-jawab pun saya diminta menyebutkan lima buku yang mengubah hidup saya. Mau tahu jawaban saya? Hmm, mampir aja ke sini untuk melihat jawabannya, ya…  🙂

 

 

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.