Akmal Sjafril | Mencetak Manusia yang Baik
796
post-template-default,single,single-post,postid-796,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-12.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.2,vc_responsive

Mencetak Manusia yang Baik

Mencetak Manusia yang Baik

 

IMG-20170506-WA0008

assalaamu’alaikum wr. wb.

Dulu, anak-anak disuruh berangkat ke sekolah dan belajar dengan giat, konon supaya pintar. Semua orang tua ingin anaknya menjadi pintar. Setidaknya, begitulah adanya, sampai ketika orang mulai memperdebatkan makna “pintar” yang sesungguhnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “pintar” itu bisa bermakna “pandai, cakap”, bisa pula “cerdik, banyak akal”, atau juga “mahir”. Nampaknya memang tersirat ada sejumlah ‘persoalan’ laten, sebab ternyata yang pintar itu belum tentu baik. Kalau dimaknai pandai dan cakap, maka ada orang yang kepandaian dan kecapakannya adalah dalam urusan mencuri. Kalau bicara soal cerdik dan banyak akal, banyak yang segera teringat akan sepak terjang Si Kancil yang kisahnya selalu diceritakan kepada anak-anak bangsa. Masalahnya, Si Kancil selalu berhasil memperdaya hewan-hewan lain. Memang itulah bukti bahwa Si Kancil memang cerdik dan banyak akal. Terakhir, kalau bicara soal kemahiran, ada juga yang mahir membobol rekening bank orang lain, misalnya. Nah, dengan demikian, yang pandai mencuri, cakap merekayasa, cerdik menipu, banyak akal mencari peluang korupsi dan mahir membobol, semua itu juga bisa disebut pintar.

Sekularisme yang membabi-buta telah menelan korban yang banyak karena melahirkan cara berpikir yang dualis dan pendidikan yang ambigu. Akal dan moral disuruh pisah jalan, sehingga orang tua, guru, sekolah dan keseluruhan institusi pendidikan di negeri ini berpacu untuk mencetak anak-anak yang pintar, itu pun terbatas pada mata pelajaran yang tercantum di rapor dan transkrip nilai, dan kemudian direduksi lagi menjadi kemampuan untuk memberikan jawaban yang diharapkan pada saat ujian. Untuk urusan moral, serahkan pada pelajaran agama yang umumnya hanya dua jam pelajaran setiap pekannya, dan akan lebih dipertajam lagi jika siswa mengikuti kegiatan rohis dan mahasiswa aktif dalam lembaga dakwah di kampusnya masing-masing. Tapi yang terakhir ini agak runyam juga, karena rohis dan dakwah kampus adalah pihak yang paling gampang untuk diberi stigma radikal.

Memisahkan akal dengan moral, mau tidak mau, melahirkan banyak masalah. Produk dari dualisme ini adalah munculnya manusia-manusia yang akalnya pintar tapi moralnya bobrok, atau yang moralnya baik namun akalnya pas-pasan. Yang belajar sains tak merasa perlu agama, yang belajar agama tak merasa perlu sains. Yang logikanya kuat merendahkan iman, yang (merasa) beriman merendahkan logika. Padahal, kita tahu bahwa ketimpangan semacam ini sangat berbahaya. Orang jahat yang pintar jauh lebih berbahaya daripada orang jahat yang bodoh. Sebaliknya, orang yang taat beribadah namun ilmunya lemah sudah lama memiliki nama dalam sejarah Islam; mereka itulah kaum Khawarij. Kelompok pertama menumpahkan darah karena kepintarannya, sedangkan yang kedua menumpahkan darah karena kebodohannya.

Ilmu adalah amanah. Semestinya, orang-orang jahat tidak boleh dibikin pintar. Tujuan pendidikan bukan hanya membuat orang menjadi pintar, melainkan menciptakan keseimbangan di dalam dirinya, sehingga segala kepintaran yang dimilikinya akan digunakan untuk kebaikan. Jika kita mewariskan ilmu kepada seseorang yang tak layak menerimanya, atau tidak memperhatikan keseimbangan dalam jiwanya, maka boleh jadi kita justru akan lebih banyak menciptakan kerusakan ketimbang perbaikan. Tapi, sekali lagi, apa mau dikata. Di negeri ini, pelajaran agama cukup dua jam pelajaran dalam sepekan, sedangkan rohis dan dakwah kampus dicap sebagai sumber radikalisme.

Entah apa yang terjadi di negeri ini, sehingga banyak yang makan bangku sekolah malah menjadi begitu jahat. Baru saja kita dikejutkan oleh sebuah video yang memperlihatkan sejumlah mahasiswa mempermainkan dan merendahkan temannya yang konon berkebutuhan khusus (meski klaim ini kemudian ditolak oleh pihak keluarga), lengkap dengan para penonton yang ikut bersorak, menertawakan, atau minimal tidak menghentikan. Untuk inikah mereka disekolahkan tinggi-tinggi? Masih adakah harga dari nilai-nilai cemerlang di rapor jika pemiliknya bertindak sekeji ini? Masih tersisakah kebanggaan orang tua setelah melihat anaknya mempermainkan orang sedemikian rupa, atau menyaksikan anak-anaknya hanya berdiam diri dan ketawa-ketiwi ketika melihat hal semacam ini terjadi di depan matanya?

Baru saja masyarakat negeri ini menyampaikan kekecewaannya yang begitu besar demi menyaksikan kezaliman sekelompok mahasiswa itu, kini dikejutkan lagi dengan sebuah video lainnya yang menunjukkan bagaimana seorang siswi SMP menganiaya temannya yang sama-sama perempuan dengan menjambak rambut panjangnya ketika ia tergeletak di lantai. Adegan berganti, penjambakan dilanjutkan dengan oknum berbeda, yaitu seorang siswa (!!!) yang nampaknya tidak canggung lagi menjambak rambut perempuan. Kebiadaban belum benar-benar berakhir sebelum ia ditutup dengan disuruh bersujudnya sang korban di kaki kedua penganiayanya. Kejadian ini direkam dengan tenangnya oleh seseorang yang berada dalam kerumunan siswa-siswi lainnya yang asyik menonton. Pada satu titik, bahkan sebagian di antara mereka ikut mengarahkan gadget-nya masing-masing demi memperoleh foto dan rekaman dari penganiayaan itu.

Belum hilang dalam ingatan bagaimana, dalam video yang lain lagi, sejumlah siswa dan siswi SD memukuli teman perempuannya secara bertubi-tubi. Di satu sisi, memang terlihat adanya krisis lelaki yang berawal dari krisis ayah. Barangkali memang para ayah sudah lupa dengan fungsinya, sehingga banyak anak lelaki yang lupa dengan kelelakiannya. Dulu, anak laki-laki memukul anak perempuan itu aib besar. Kini, rupanya tidak lagi. Dulu, anak laki-laki dianggap hebat kalau bisa menolong orang yang disakiti, bahkan anak nakal pun tidak akan memilih korban yang lemah. Sekarang, rupanya prinsip itu tidak berlaku lagi. Sudah terlalu banyak lelaki yang kehilangan kejantanannya, dan itu karena para ayah lupa mengajari mereka caranya menjadi lelaki.

Memandang permasalahan ini secara komprehensif, kelihatannya krisis lelaki memang bukan satu-satunya faktor, sebab yang perempuan pun mengalami krisis. Kita dapat mengatakan bahwa pendidikan saat ini harus dievaluasi total, dan mereka yang benar-benar ahli dalam hal ini harus berembuk serius mendiskusikan apa yang salah dengan negeri ini. Sudah terlalu banyak orang jahat yang diproduksi di sekolah dan kampus. Kinilah saatnya mengembalikan pendidikan kepada tujuannya yang hakiki, yaitu menciptakan manusia yang baik. Tapi sebelum melakukannya, kita harus merombak pemikiran kita terlebih dahulu.

Semua yang terjadi sesungguhnya adalah akibat dari penerapan sekularisme dalam dunia pendidikan. Semua orang berpikir dualis, sehingga anak-anaknya dididik secara mendua. Mereka dipaksa untuk berlomba menjadi yang terpintar, lupa untuk menjadi manusia yang baik. Barangkali kesalahan ini pun dipelopori oleh orang tua, sejak mereka mendoakan anaknya yang masih di kandungan agar lahir dalam keadaan selamat, sehat, dan pintar, tapi lupa mendoakan keshalihannya. Kemudian anak-anak itu diajarkan segala keterampilan kecuali keshalihan, disekolahkan bukan untuk keshalihan, didoakan untuk segala kesuksesan kecuali keshalihannya, hingga akhirnya orang tua terkejut menyaksikan anak-anaknya yang sudah terlanjur jauh dari keshalihan.

Siklus yang sama terus berputar. Lahirlah generasi yang lebih lalai karena kelalaian para pendahulunya. Mereka lalai kepada Tuhan-nya, durhaka kepada orang tuanya, jahat kepada sesama, menjadi beban bagi semesta, dan zhalim kepada dirinya. Jika begini cara anak-anakmu menjalani hidup di dunia, dapatkah kau bayangkan bagaimana hidupnya kelak di akhirat?

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Comments

Post A Comment