Agama Memberi Makna
393
post-template-default,single,single-post,postid-393,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Agama Memberi Makna

Agama Memberi Makna

assalaamu’alaikum wr. wb.

Mengawali uraian panjangnya dalam buku Pelajaran Agama Islam, Buya Hamka menjelaskan bahwa manusia sepanjang hidupnya akan senantiasa bertanya; tentang hakikat Tuhan, tentang hakikat dirinya, tentang hakikat hidupnya dan seterusnya.  Manusia takkan berhenti bertanya hingga akhirnya mereka sampai pada pertanyaan-pertanyaan yang tak sanggup dijawab oleh akalnya sendiri.  Untuk pertanyaan-pertanyaan inilah agama diturunkan; untuk menjawab apa-apa yang tak mampu akal menjawabnya.  Agama itu bukan hanya memberi petunjuk dan membimbing, tapi juga menyampaikan manusia pada akhir perjalanan intelektualnya sendiri-sendiri.

Jika dibiarkan bergulat dengan akalnya sendiri, belum tentu manusia bisa mencapai kebenaran meski sudah berpikir sepanjang hidupnya, bahkan jika umurnya dua kali lebih panjang daripada kebanyakan orang.  Hampir seribu tahun Nabi Nuh as. berdakwah, hanya segelintir saja yang menjawab seruannya.  Ratusan tahun umur manusia pada jamannya tidak cukup untuk membawa mereka pada kebenaran, kecuali sebagian kecil saja yang mendapatkan hidayah.

Kalau dibiarkan manusia itu menafsir-nafsirkan Tuhan semaunya, niscaya akan ada juga yang kebingungan seperti beberapa suku dari benua Amerika.  Saking besarnya rasa takut kepada tuhannya, mereka persembahkan segala hasil bumi.  Tidak cukup dengan hasil bumi, anak gadis yang lahir dari rahim keluarga mereka pun dikorbankan juga.  Mungkin dalam anggapan mereka, Tuhan menciptakan manusia sekedar untuk dibinasakan tidaklah lebih kontradiktif daripada bencana alam bikinan Tuhan yang juga membuat nyawa manusia melayang.

 

 

Ada juga orang yang menafsir-nafsirkan sendiri hidupnya, sehingga ia kira rejeki dan jodohnya tertulis di antara bintang-bintang.  Jika bintang yang satu ‘berpindah’ (meski Bumi pun sebenarnya berpindah), berubahlah peruntungannya.  Sebagian yang lain menafsirkan dari garis tangan, kartu, bahkan daun teh di dasar cangkirnya.  Betapa sibuk mereka menafsirkan rejeki dari hari ke hari, hingga akhirnya habislah hari-hari mereka itu.  Hidup terlanjur lewat, sedangkan tujuannya tak pernah sempat didefinisikan.

Andai manusia menafsir-nafsirkan dirinya sendiri, maka ada yang menjadi layaknya binatang.  Bahkan manusia itu sendiri yang menyebut dirinya binatang, yang hanya tergerak lantaran motif perut dan syahwat.  Setiap orang memperjuangkan kepentingannya sendiri, sedangkan kerja sama terjalin berdasarkan motif-motif politis yang tidak pernah diungkap terang-terangan.  Mereka hidup untuk diri sendiri dan hari ini, namun pada akhirnya diri dan hari itu pun menemui batasnya.  Maka diri pun lenyap bersama hari-harinya.  Eksistensi tiada berarti lagi, karena tak pernah memikirkan apa yang ada di seberang kematian.  Keesokan hari, mungkin orang akan mempertanyakan alasan dari air mata yang mengalir menangisi orang yang telah pergi, atau memperdebatkan perlu-tidaknya mengubur jenazah manusia, karena toh eksistensinya hanya sebatas umurnya saja.  Mereka yang telah pergi tak perlu diingat kembali, karena mereka sudah ditelan ketiadaan yang abadi.

Agar manusia tidak kebingungan dengan pertanyaan-pertanyaannya sendiri, maka diturunkanlah ajaran agama itu.  Dijelaskannya hakikat Tuhan, sifat-sifat dan nama-nama-Nya.  Dimerdekakannya manusia dari penghambaan kepada segala sesuatu kecuali Dia, agar akal dan jiwanya bebas merdeka.  Manusia dibebaskan dari ketakutan akan tertimpa musibah, digantikan dengan sifat sabar dan pengenalan terhadap hakikat cobaan yang pasti akan menguji manusia.  Dibebaskannya juga manusia dari takhayul yang membuatnya terus merasa waswas akan hari esok, digantikan oleh kewajiban ber-ikhtiar dan tawakkal untuk mengobati hati.  Disampaikannya manusia pada ujung perjalanan hidupnya, sehingga sejak kanak-kanak ia telah diajar untuk waspada menghadapi ajal yang telah pasti kedatangannya.  Bahkan ajal itu tidak datang untuk dirinya sendiri, tapi untuk mengantar manusia pada kehidupan berikutnya.  Hanya dengan kehidupan sesudah mati itulah, kehidupan di dunia dan kematian menjadi berarti.

Agama mengajarkan manusia untuk meluaskan pandangan, membuka mata selebar-lebarnya, membaca pergerakan hidup dan mengambil hikmah sebanyak-banyaknya.  Maka Allah pun bersumpah dengan matahari dan bulan, agar manusia menyadari bahwa keduanya bukan sekedar penghias langit atau pemberi panas dan cahaya belaka.  Allah bersumpah dengan langit yang menaungi, agar manusia menjelajah batas-batasnya, bukan sekedar mengharap hujan darinya.  Allah bersumpah dengan bumi yang terhampar, agar manusia tidak hidup dalam kebekuan akal dari hari ke hari, sekedar mencari makan untuk bertahan hidup, tapi juga menjelajah dunia dan memanfaatkan sumber dayanya.

Manusia disuruh berpikir dan bekerja melebihi batas-batas dirinya sendiri.  Ia adalah khalifah di muka Bumi; bukan sekedar binatang melata yang hidup sejenak di wilayahnya sendiri, beranak-pinak, kemudian binasa.  Manusia diajari sifat-sifat mulia, sehingga orang berjuang untuk menjadi lebih kuat dan lebih mandiri agar bisa membantu saudara-saudaranya yang masih lemah dan perlu dibantu.  Mereka diajari untuk memiliki karakter tangguh dan jiwa pemberani, mampu menerobos segala rintangan dan menghadapi segala masalah. 

Ketangguhan jiwanya ini terus diasah hingga sampai pada suatu titik di mana ia berjuang untuk sebuah tujuan yang lebih besar daripada dirinya sendiri, lebih besar daripada hidupnya sendiri, bahkan lebih besar daripada umur bangsanya sendiri.  Mereka yang memahami tugas-tugas mulianya sebagai hamba Allah ini berlomba-lomba membangun peradaban tauhid yang perkasa di muka Bumi.  Semua berlomba menjadi batu-batu yang saling menopang, sehingga batu yang di bawah barangkali tak pernah sempat menyaksikan bangunan itu menggapai langit dengan megahnya.  Batu-batu itu ada yang kecil, ada yang besar, ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang mengkilap dan ada yang berjelaga; namun semuanya terjaga dalam agenda kerja yang sama dan tidur dengan mimpi yang sama.

Rasulullah saw. pun memerintahkan manusia untuk berziarah ke makam-makam untuk mengingat kematian.  Cukuplah kematian itu sebagai nasihat bagi semua manusia.  Jika hanya gundukan tanah yang kita lihat, maka betapa rendahnya derajat khalifah di muka bumi ini.  Jika hanya batu nisan yang kita pandang, maka betapa sedikitnya bekas kehidupan yang kita tinggalkan kelak.  Jika angka-angka pada batu nisan itu saja yang kita baca, maka betapa singkatnya hidup yang setiap hari kita perjuangkan ini.

Agamalah yang memberi makna pada kehidupan dan kematian; menyentuh kita dengan gundukan tanah, batu nisan dan angka-angka itu, memerintahkan kita untuk meninggalkan hal-hal yang lebih baik daripada sekedar gundukan tanah, batu nisan dan angka-angka.  Maka persiapkanlah diri untuk mimpi-mimpi yang lebih megah daripada kehidupanmu sendiri.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

 

Artikel ini pernah dimuat di sini.

No Comments

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.