Dakwah ‘Berdasarkan Permintaan’
2216
wp-singular,post-template-default,single,single-post,postid-2216,single-format-standard,wp-theme-bridge,wp-child-theme-bridge-child,theme-bridge,bridge-core-3.3.4.2,woocommerce-no-js,qodef-qi--no-touch,qi-addons-for-elementor-1.9.3,qode-optimizer-1.0.4,qode-page-transition-enabled,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,qode-smooth-scroll-enabled,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-30.8.8.2,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-8.5,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-1780,elementor-page elementor-page-2216

Dakwah ‘Berdasarkan Permintaan’

Dakwah ‘Berdasarkan Permintaan’

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Mempertahankan gagasan di era medsos memang tidak selalu mudah. Alih-alih mengupayakan cara penyampaian yang lebih baik agar sebuah gagasan diterima oleh berbagai kalangan, sebagian orang terdorong untuk mengambil jalan pintas, yaitu mengemas ulang gagasan-gagasan orang lain yang sudah diterima dengan baik oleh kelompok audiens yang dibidik. Sementara jangkauan bertambah luas, tujuan awal dapat dengan mudah saja terlupakan.

Hal yang sama kadang terjadi juga ketika dakwah berupaya masuk ke kancah ‘pasar bebas’. Pada awalnya, pikiran dicurahkan untuk menemukan jalan terbaik agar dakwah itu disambut oleh sebanyak mungkin orang. Untuk itu, dilakukanlah proses ‘ATM’ (amati-tiru-modifikasi) yang sebenarnya meniscayakan sikap kritis dalam mengadopsi cara-cara orang lain. Hanya saja, yang awalnya meniru metode tidak jarang pada akhirnya mengambil mentah-mentah pemikiran yang datang bersamanya.

Saya pernah menemukan sebuah akun medsos yang berlabel ‘hijrah’. Akun tersebut menyampaikan dakwahnya dengan suguhan konten melalui gambar dan video yang memikat. Dakwah pun disampaikan dengan gaya dialog yang dianggap sesuai dengan kebutuhan anak-anak muda.

Sampai titik ini, semuanya bagus.

Masalah terlihat ketika akun tersebut, dalam salah satu kontennya, berbicara tentang fenomena curhat dalam pertemanan. Menurut konten tersebut, kalau ada teman yang curhat kepada kita, maka kita tidak usah menasihatinya. Orang yang curhat bukan membutuhkan nasihat, melainkan hanya ingin didengarkan. Setelah menumpahkan isi hatinya, maka ia akan merasa lega sendiri.

Betapa janggalnya melihat sebuah akun dakwah menasihati orang (notice the irony!) agar tidak menasihati orang! Terlebih lagi jika akun tersebut justru membidik kalangan anak muda yang baru mulai serius belajar agama (atau ‘baru hijrah’). Bukankah orang yang baru belajar justru sangat membutuhkan nasihat?

Seseorang tidak dipandang baik — bahkan ia dipastikan merugi — jika ia beriman dan beramal shalih namun tidak saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (lihat Surat Al-‘Ashr). Memberi dan menerima nasihat bukan suatu hal yang luar biasa, melainkan semestinya dipandang lumrah saja. Setiap manusia membutuhkan nasihat, karena manusia itu pelupa. Yang memberi nasihat bukan berarti lebih hebat, karena menemukan kekurangan dalam diri orang lain lebih mudah daripada menemukan kekurangan diri sendiri. Demikian pula yang menerima nasihat tidak menjadi rendah, karena ia memiliki kelemahan yang dimiliki juga oleh setiap manusia lainnya.

Salah satu tugas para da’i adalah menormalisasi nasihat, bukannya malah memvalidasi keinginan ego manusia sehingga menyulitkannya untuk menerima nasihat. Orang yang hanya ingin didengar dan tidak ingin dinasihati pastilah memandang dirinya sempurna tanpa cela. Karakter semacam itu, tentu saja, tidak sesuai dengan semangat hijrah. Apa yang disampaikan oleh ‘akun hijrah’ tadi keliru, namun sangat pas jika tujuannya sekadar ingin disukai oleh audiens dari kalangan anak muda.

Setiap manusia membutuhkan orang lain untuk menasihatinya, dan tidak ada generasi yang memiliki hak istimewa. Dalam buku Islam and Secularism, Prof. M. Naquib al-Attas memperingatkan salah satu karakter sekularisme yang menjadi pandangan hidup Barat adalah memandang generasi yang datang belakangan selalu lebih baik daripada yang sebelumnya. Orang sekuler percaya bahwa tidak ada kebenaran yang abadi; sesuatu yang hari ini dipandang sebagai kebenaran selalu bisa diperdebatkan ulang. Jika kesimpulan hari ini berbeda dengan kemarin, maka pendapat yang harus diambil adalah yang sekarang, sebab manusia zaman sekarang lebih pandai daripada para pendahulunya. Prinsip tersebut diberlakukan juga pada agama, sehingga lahirlah para pemikir yang mengaku Muslim tapi membela LGBT, menyebut diri santri tapi menyalahkan para ulama terkemuka, bahkan ada yang bersusah payah membuat disertasi demi menghalalkan zina. Yang lebih nekat di antara mereka bahkan mengatakan bahwa agama itu isinya cuma mitos untuk menakut-nakuti manusia primitif, sedangkan manusia modern sudah tidak perlu ditakut-takuti lagi dengan kisah soal setan dan Neraka.

Agama akan kehilangan ‘keutuhannya’ jika harus mengikuti keinginan manusia. Kepada mereka yang belum mampu melepaskan kecintaannya pada dunia, disampaikanlah bahwa Rasulullah saw dan Khadijah ra itu tajir melintir. Pada kenyataannya, pasangan yang mulia ini selalu hidup sederhana dan kekayaan keduanya justru terus berkurang sejak beliau menerima tugas kenabian. Bahkan Khadijah ra wafat dalam keadaan tidak kaya lagi, sebab seluruh hartanya habis digunakan untuk mendukung dakwah Rasulullah saw dan menghidupi Kaum Muslimin pada fase pemboikotan di Mekkah.

Para da’i dipaksa ‘jeli berstrategi’, merumuskan dakwah ‘berdasarkan permintaan’. Dalam pengajian bapak-bapak, ditekankanlah bahwa poligami itu tidak butuh izin istri pertama, tanpa perlu mempertimbangkan kewajiban untuk mempertahankan rumah tangga yang sudah dibangun sebelumnya. Ada yang berprinsip (bahkan sudah mempraktikkan) kalau sudah bosan dengan istri maka boleh diceraikan saja dan cari yang lain, atau kalau istri pertama menolak poligami yang langsung saja pisah tanpa diskusi lagi. Buat apa pikirkan nasib anak-anak? Kalau mereka belum bisa menerima, ya itu urusan mereka!

Di pengajian ibu-ibu, lain lagi caranya. Salah satu menu favorit adalah sebuah hadits dari ‘Aisyah ra yang mengisahkan bagaimana Rasulullah saw suka membantu pekerjaan rumah tangga manakala beliau sedang di rumah. Dengan sedikit lompatan logika, disimpulkanlah bahwa mengurusi rumah itu adalah pekerjaan suami (atau pembantu), bukan istri. Jadi selain harus mencari nafkah, para suami juga harus membereskan rumah, atau mengupah orang untuk melakukannya. Kalau ini dijadikan prinsip, maka nyaris tidak ada lelaki fresh graduate yang bisa menikah, karena mereka belum bisa membeli rumah, apalagi mempekerjakan pembantu. Hadits tersebut tidak salah, hanya saja pikiran kita yang terlalu liar. ‘Aisyah ra hanya mengatakan bahwa Rasulullah saw suka membantu pekerjaan rumah tangga, bukan menjadikannya sebagai agenda utama hariannya. Lagipula, Rasulullah saw tidak setiap hari di rumah ‘Aisyah ra, bahkan tidak setiap hari ada di Madinah. Ketika Rasulullah saw tidak tinggal di rumah istri-istrinya, apakah rumah-rumah itu dibiarkan berantakan tanpa ada yang mengurusi?

Salah satu bencana pada ilmu terjadi ketika para murid tidak lagi memiliki iradah (kehendak kuat) untuk belajar, sehingga pelajaran harus dimodifikasi untuk dirinya. Itulah belajar yang tidak lagi membuat pintar, dan berguru yang tidak menambah ilmu.

Wassalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Tags:
4 Comments
  • Atik Zulfiati
    Posted at 16:54h, 07 April Reply

    Miris ya.
    Memang di era informasi tak terbatas seperti saat ini harus pandai juga memilah mana yang harus diikuti.

    Makasih reminder nya Ustadz. Harus lebih jeli dan teliti saat menerima informasi.

  • Rojauna Zalfatthoriq
    Posted at 05:11h, 08 April Reply

    Saya, kok, memandangnya agak berbeda, ya, tadz. Saya menyadari kisah di awal adalah ustadz Felix dengan salah satu podcast-nya. Ketika beliau bilang ‘temen bercerita itu didengarkan aja’, saya menangkapnya adalah: “kadangkala” tak harus dinasehati saat itu juga.

    Sebagaimana saat ust. Akmal di Malnutrisi pernah bilang (di episode Jangan Sok Suci!, kalau nggak salah) bahwa menasehati itu memang perlu diperhatikan ‘seninya’, maka rasanya tak berlebihan bila kita berbaik sangka bahwa salah satu ‘seni’ tersebut (yang dipahami oleh ust. Felix, misalnya) adalah tidak ‘tergesa-gesa’ memberi nasehat, alias mempertimbangkan situasi-kondisi ‘target’ yang diberi nasehat.

    Toh, ust. Felix, faktanya, memiliki program dakwah di berbagai channel dengan pendekatan yang berbeda pula, dan beliau tidak berhenti berdakwah. Bukankah itu artinya beliau pun satu suara bahwa ‘hanya-mendengarkan’ itu tidak cukup; ya kalau cukup mendengarkan saja, ngapain bikin program podcast dimana-mana?

    Namun, seperti biasa, goresan malakmalakmal adalah yang selalu ditunggu-tunggu karena perspektif segarnya

    • malakmalakmal
      Posted at 06:42h, 08 April Reply

      Saya tidak mengomentari podcast ust Felix, karena belum nonton juga. Yang saya bahas itu akun yang pake nama “hijrah”, postingannya sudah agak lama.

  • Erwin
    Posted at 19:24h, 08 April Reply

    Beda emang KLO yg nulis adalah mereka fokus pada pemikiran sinting, bukan hanya sekedar bermodal pengetahuan agama, tapi pemilihan diksi diksi yg genit menggoda dan ingin mencubit keganjenan mereka.dlm berlogika yg sudah uzur dan basi…

    Lanjut Tadz

Post A Reply to Erwin Cancel Reply