Kebinatangan
608
post-template-default,single,single-post,postid-608,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Kebinatangan

Kebinatangan

assalaamu’alaikum wr. wb.

Di suatu pagi jelang Hari Raya Idul Adha 1437 H, saya mengantar anak saya keliling komplek. Belakangan ini perhatiannya tersita oleh kambing dan sapi yang muncul di mana-mana. Karena di komplek rumah kami tak ada peternakan kambing atau sapi, maka kedua hewan itu muncul dalam jumlah masif hanya di sekitar Idul Adha saja.

Ada sebuah lapangan di komplek kami yang salah satu sudutnya digunakan oleh pedagang sapi. Saya hitung, ada sekitar dua puluh ekor sapi yang tinggal di sana sejak sepekan sebelum Idul Adha. Anak saya senang menengok sapi-sapi ini, mungkin karena ukurannya yang besar, dan tentunya juga karena ia jarang melihat hewan itu.

Banyak pertanyaan yang ia ajukan. Ia bertanya mengapa sapi-sapi itu tidak berwarna hitam-putih seperti di gambar dan film-film kartun. Ia juga selalu penasaran mengapa sapi-sapi itu tidak diambil susunya. Tapi di antara sekian banyak pertanyaannya perihal sapi, ada sebuah diskusi yang cukup menarik.

“Abi, sapi itu pup, nggak?”

Ya, tentu saja sapi juga buang air besar. Saya jelaskan kepadanya bahwa semua hewan pasti makan dan pasti buang air besar. Sama seperti manusia.

Hal semacam ini rupa-rupanya cukup berat untuk ditanggung oleh benak seorang bocah balita. Setelah sekitar semenit dua menit mencernanya, tanya-jawab pun berlanjut.

“Sapi bobo juga, nggak?”

“Iya sayang, sapi juga bobo. Semua hewan juga perlu bobo.”

Bobonya di mana?”

“Ya di situ. Kan mereka diikat, jadi nggak bisa kemana-mana.”

“Kenapa mereka bobo di tempat pup-nya, Abi?”

Ini bukan pertanyaan biasa, namun entah bagaimana saya mendapat ilham bahwa ini adalah sebuah kesempatan langka bagi saya untuk menjelaskan adab. Ya, adab! Adab itu menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat, sesuai dengan hirarki yang berlaku bagi segala hal. Pezina tidak dimuliakan bagai ulama, dan ulama tidak boleh dihinakan bagai pezina. Demikian pula kucing tidak berlagak seperti harimau, dan harimau tidak sudi bersikap seperti kucing. Manusia harus paham adab, bukan hanya untuk menempatkan orang lain pada posisinya, tapi juga untuk menempatkan dirinya sendiri pada posisi yang benar.

“Ya itulah bedanya manusia dengan binatang, Nak! Manusia itu suka dengan yang bersih-bersih. Habis pup ya dibersihkan. Pup juga tidak di sembarang tempat, harus di toilet. Kalau sapi, kapan saja ingin pup ya pup saja. Tidak ada jijiknya, tidak ada malunya,” ujar saya menjelaskan.

“Binatang tidak membedakan antara tempat pup dengan tempat bobo. Habis pup, dia bobo. Di situ-situ juga. Padahal belum dibersihkan. Sementara manusia, maunya bobo di tempat yang bersih. Sudah bersih aja masih dibersihkan juga, apalagi kalau kotor, misalnya karena kena ompol,” lanjut saya.

Penjelasan itu lumayan ampuh. Kapan saja anak saya malas disuruh mandi, saya mengingatkan dia kepada para sapi yang tidak mandi-mandi sampai jelang Idul Adha. Secara naluriah, anak saya mampu membedakan dirinya dari sapi dan seluruh binatang lainnya. Tentu saja, anak saya tidak mau disamakan dengan binatang. Memangnya siapa yang mau?

Tapi rupa-rupanya asumsi saya yang terakhir itu keliru juga. Sebab, ada seseorang yang tanpa rasa malu menyatakan bahwa manusia itu bukan hanya sama dengan binatang, tapi juga seburuk-buruknya binatang adalah manusia.

Bagi yang menekuni dialektika pemikiran, niscaya argumennya tidak akan membuat kita terkejut. Tidak sedikit yang mengamini bahwa ketelanjangan itu manusiawi, karena toh manusia memang lahir tanpa pakaian. Oleh karena itu, ketelanjangan adalah kejujuran terhadap kemanusiaan, karena manusia pada hakikatnya sama saja dengan binatang yang juga tidak berpakaian. Dengan demikian, kita tak perlu menganggap ketelanjangan sebagai sebuah keburukan, apalagi kalau cuma sekedar membuka sebagian aurat.

Paparannya dilanjutkan dengan berbagai ekspresi kebenciannya kepada orang lain yang tidak sepaham. Yang tidak setuju disebut munafik, yang jujur hanya dia seorang. Pokoknya, ketelanjangan itu baik, dan manusia itu binatang! Titik!

Betapa dalam kedukaan saya menyaksikan seorang manusia menyatakan hal demikian. Ini adalah bencana bagi pendidikan nasional. Pendidikan, yang konon bertujuan menciptakan generasi manusia yang beriman dan ber-taqwa, ternyata gagal menghasilkan manusia yang menyadari bahwa dirinya adalah manusia, bukan binatang!

Seandainya saja orang-orang bisa memandang binatang seperti anak saya memandang hewan-hewan qurban itu, tentu takkan ada manusia yang mau menyamakan dirinya dengan binatang. Memang orang kalau bicara soal ketelanjangan biasanya pikirannya serba sensual, serba erotis. Seperti masyarakat Yunani kuno yang begitu memuja ketelanjangan, sehingga mereka membuat patung dan lukisan orang-orang telanjang, atau minimal minim pakaian. Kebiasaan itu berlanjut hingga Abad Pertengahan di Eropa. Persoalannya, binatang bukan hanya telanjang, tapi juga jarang mandi, tidak bersuci, tidak membedakan tempat tidur dan buang air, dan seterusnya. Demi kembali pada tabiat ‘kebinatangannya’, apakah manusia harus melakukan semua hal itu?

Baru selang beberapa hari yang lalu saya termangu-mangu di ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK). Seorang lelaki bertoga yang saya yakin paham betul akan hukum berbicara panjang lebar tentang harkat dan martabat manusia, yang salah satunya ditunjukkan dengan adanya hak-hak privat dirinya yang tak boleh dilanggar oleh orang lain. Masalah jadi runyam ketika ia mengatakan bahwa aktivitas seksual seseorang dengan siapa saja, asalkan suka sama suka, adalah urusan privat.

Bagi saya, ada missing link yang begitu jelas dalam paparannya. Awalnya ia berbicara tentang harkat dan martabat manusia, tapi kemudian membela zina. Apakah dengan demikian zina itu termasuk perkara yang sejalan dengan harkat dan martabat manusia?

Saya pun teringat pula oleh seseorang di media sosial yang membela homoseksualitas dengan begitu berapi-api. Ketika ada orang yang mengatakan bahwa hubungan seks sesama jenis tak punya tujuan yang jelas lantaran tak mungkin menghasilkan keturunan, ia sigap menangkis dengan mengatakan bahwa seks memang bukan hanya untuk reproduksi, melainkan juga untuk rekreasi.

Sosok apakah gerangan yang tampak di cermin ketika mereka berada di hadapannya? Begitu terasingnyakah diri mereka, sehingga mereka tak mengenali kemanusiaan dalam dirinya sendiri?

Bagi binatang, kawin memang hanya perkara jadwal. Kalau sudah musim kawin, ya kawin. Binatang yang mencapai musim kawin tapi tak kawin bisa sangat agresif. Banyak jenis binatang yang jenis jantannya bertarung hanya demi memperebutkan hak untuk kawin. Tiada ampun bagi yang kalah, terpaksa menyingkir dari kawanan.

Prosesi kawin di dunia binatang pun bermacam-macam. Tidak bisa dikatakan mereka melakukan hal itu untuk bereproduksi, karena binatang hanya berbuat sesuai instingnya saja. Sesuai instingnya pula, banyak jenis binatang yang sesudah kawin segera berpisah jalan. Yang jantan pergi, sedangkan yang betina memelihara janin, melahirkan anak-anaknya dan membesarkannya. Tidak ada ikatan perkawinan, tidak ada pula hubungan antara anak-anak binatang dan induknya. Pada usia tertentu, anak-anak harus meninggalkan pengasuhan induknya. Jangan tanya ke mana perginya ayah mereka!

Bagi manusia, seks memiliki tempatnya yang khusus, yaitu dalam bingkai pernikahan. Pernikahan itu pun bukan sekedar mengikuti jadwal hormon, melainkan dengan penuh perencanaan. Masing-masing manusia mencari jodoh yang tepat bagi dirinya, menimbang-nimbang lawan jenis yang terbaik bagi dirinya, dan tentu juga dengan memperbaiki diri sehingga bisa mendapatkan jodoh yang baik pula. Kalau sudah bertemu dengan calon yang potensial, tetap saja tidak bisa seenaknya. Harus ada hubungan yang baik di antara dua keluarga, dan kemudian diikatlah perjanjian yang teguh di hadapan para saksi, agar tidak terjadi fitnah. Kalau sudah berikrar, tidak boleh mudah bercerai. Setelah menikah, manusia berumah tangga, membangun keluarga, melahirkan dan membesarkan anak, mendidiknya, bahkan kemudian menganyam cita-cita kebersamaan hingga di akhirat.

Tidak ada binatang yang berpikir dan berbuat sejauh itu.

Insyaflah saya akan kenyataan bahwa manusia adalah manusia. Memang manusia itu teramat mulia, namun mereka juga pelupa. Begitu pelupanya manusia, sehingga mereka pun terkadang lupa akan kemanusiaannya. Tanpa petunjuk Allah, kemanusiaan menjadi begitu sulit untuk dipahami, dan manusia menjadi lebih buruk daripada binatang. Parahnya lagi, manusia yang dimabuk kebinatangan ini malah menuduh manusia lain sebagai binatang, atau sama binatangnya dengan dirinya.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

Artikel ini pernah dimuat di sini.

1 Comment
  • Muhammad
    Posted at 10:36h, 16 March Reply

    Alhamdulillah semakin tercerahkan, manusia diciptakan sebaik bentuk, dan dikembalikan ke tempat yang serendahnya, kecuali orang beriman

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.