Yang Penting Baik
658
post-template-default,single,single-post,postid-658,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.4.4,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,qode_popup_menu_push_text_top,qode-content-sidebar-responsive,columns-4,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-22.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.0,vc_responsive

Yang Penting Baik

Yang Penting Baik

assalaamu’alaikum wr. wb.

Di antara berbagai slogan yang bertebaran dalam kampanye pluralisme, terseliplah kata-kata “yang penting baik”. Jadi manusia itu yang penting baik. Nggak penting agamanya apa. Orang akan ingat kebaikan kita, bukan agama kita. Bahkan tidak beragama pun tak mengapa. Tidak perlu beragama untuk menjadi orang baik. Yang beragama tapi tidak baik pun tidak sedikit jumlahnya. Konon begitu.

Di kalangan yang agak akademis, berkumandang pula seruan yang sama dengan wajah berbeda. Pada tahun 2004 yang lalu, sekelompok mahasiswa senior dari UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, berhasil menarik perhatian publik, sayangnya bukan karena prestasi atau kebaikan, melainkan karena kelancangannya. Salah seorang di antara mereka yang mengaku berasal dari Jurusan Perbandingan Agama mengatakan bahwa di jurusannya itu agama-agama dipertentangkan, demi mendapatkan kebenaran yang tertinggi. Sebab, katanya, kebenaran itu tidak hanya bisa didapatkan dari Islam saja. Tapi ia mungkin lupa untuk membahas betapa janggalnya perkataan yang demikian di kampus yang sampai detik ini masih menggunakan nama ‘Islam’ — bukan agama lain, atau semua agama — sebagai identitasnya.

Yang jauh lebih akademis ketimbang para pluralis karbitan di tanah air adalah John Hick, yang berusaha mengubah paradigma orang-orang beragama dengan caranya sendiri. Menurutnya, agama telah dipahami dengan cara yang salah. Jika dahulu orang-orang berorientasi pada agama, maka kini saatnya mereka hidup berorientasi pada Tuhan. Dalam pandangan Hick, semua agama sesungguhnya menyembah Tuhan yang sama, hanya dengan nama dan detil peribadatan yang berbeda (baca tulisan saya yang lainnya: Tuhan yang Sama). Karena itu, tak perlu memperdebatkan agama mana yang benar, karena semuanya benar. Yang penting kita menyembah Tuhan. Di Indonesia, mereka yang mendengar seruan Hick ini pun berteriak lantang, “Saya menyembah Allah, bukan menyembah Islam!” Maka kontradiksi pun berjangkitan. Ada dosen filsafat yang mengaku mencintai Allah tapi menginjak Al-Qur’an, dan ada bejibun mahasiswa bingung yang mengaku Muslim tapi alergi para syari’at.

Bahasan pluralisme memang senantiasa dibuat gegap-gempita, meski sebenarnya tak pernah menyelami kedalaman agama itu sendiri. Melalui pembahasan yang hanya menyentuh permukaan masalah (namun dibungkus dengan bombastis), mereka tiba pada kesimpulan bahwa kebenaran itu di mana-mana sama saja, dan agama apa pun menjunjung tinggi kebenaran, bahkan yang tidak beragama pun bisa menjadi pembela kebenaran. Tapi mereka tak pernah menyajikan pembahasan komprehensif seputar standar kebenaran dari masing-masing agama itu sendiri. Dapat dipahami, karena di titik ini pastilah mereka menemukan jalan buntu.

Dalam sejumlah agama, kita menemukan jenjang kerahiban, yang umumnya juga disertai kewajiban untuk tidak menikah. Dalam Islam, baik kerahiban maupun bersengaja untuk tidak menikah itu sama-sama terlarang. Dalam salah satu hadits yang amat terkenal yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, Nabi saw menyebut pernikahan sebagai salah satu sunnah beliau, disertai penegasan bahwa mereka yang tidak menyukai sunnah beliau bukanlah bagian dari umat beliau. Dalam pernikahan ada banyak ibadah yang tidak dijumpai di tempat lain, antara lain menafkahi anak-istri, melayani suami, mendidik anak shalih, bahkan bersetubuhnya suami-istri pun dinilai sebagai kebaikan. Bukan hanya ia adalah sebuah kebaikan, namun juga merupakan fithrah manusia. Artinya, menikah adalah suatu hal yang normal bagi manusia, sedangkan sengaja meninggalkannya adalah perilaku abnormal yang sudah pasti akan menyebabkan ketidaknormalan pula pada jiwa. Mereka yang sengaja meninggalkannya bukan hanya mengabaikan apa yang boleh mereka lakukan, namun juga apa yang semestinya mereka lakukan. Singkatnya, mereka telah berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri. Padahal, pemilik diri mereka adalah Allah SWT. Dengan demikian, berbuat zhalim kepada diri sendiri pada hakikatnya adalah melanggar hak-hak Allah pula. Itulah sebabnya Rasulullah saw tidak memandang enteng permasalahan ini, karena ia melibatkan hak manusia dan juga hak Allah SWT.

Demikianlah pernikahan, yang dalam suatu agama dianggap perlu ditinggalkan demi mendapatkan kebaikan, justru dianggap sebagai sumber kebaikan dalam agama Islam. Hubungan seks yang dianggap kotor justru dianggap sebagai amal shalih, asalkan dilakukan dengan pasangan yang sah. Janganlah lagi kita perbandingkan dengan kaum feminis yang menganggap melayani suami dan mengurus anak sebagai bentuk ‘kekalahan’ kaum perempuan; jelas cara berpikirnya sangat berbeda dengan umat Muslim. Demikian pula kaum sekuler yang memandang anak-anak sebagai beban finansial, tidaklah mungkin sejalan pemikirannya dengan umat Muslim yang memandang anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Adakah kebaikan itu sama bagi semua manusia, apa pun agama, ideologi dan worldview-nya? Pada titik ini, semestinya kita sudah bisa menjawab.

Barangkali sudah banyak yang lupa dengan tragedi hidupnya Malin Kundang. Tokoh yang satu ini dahulunya orang biasa saja yang kemudian pergi merantau dan berhasil menjadi orang sukses di tanah seberang. Setelah bertahun-tahun memendam rindu, Ibunda Malin pada akhirnya bisa menjumpai anaknya yang pulang ke kampung halaman. Akan tetapi bukannya kerinduan yang bersambut kerinduan, malah pengingkaran yang didapatkannya. Malin Kundang, yang kini sudah jadi orang hebat, malah tidak mengakui ibunya sendiri. Maka ia pun menjadi batu.

Di negeri seberang, bisa jadi Malin Kundang adalah orang jujur, baik, senang menolong orang, memberi makan orang miskin dan seterusnya. Tapi apalah artinya semua kebaikan itu, karena ia justru durhaka kepada insan yang paling menyayanginya, yang telah merawatnya sejak kecil, yang mengantarkannya pada kedewasaan, yang mengajarkannya segala hal yang perlu dipahaminya untuk menghadapi kerasnya hidup, yang tidak henti-hentinya memanjatkan doa untuk anaknya yang tak sudah lama tak dijumpainya. Buat apa bersikap baik kepada semua orang, tapi durhaka kepada Ibu sendiri?

Jika Anda mengakui Allah SWT sebagai Dzat yang telah menciptakan kita dengan penuh kesempurnaan, yang telah menempatkan kita di tengah-tengah keluarga dan lingkungan yang baik sehingga kita bisa tumbuh dewasa dengan baik, yang memenuhi kebutuhan kita dari masa ke masa, yang menolong kita di saat kita terpuruk, yang menjawab doa-doa lirih kita, dan yang tak pernah sekalipun berbuat zhalim kepada kita, maka tanyakanlah pada diri: seburuk apa manusia yang mengingkari-Nya?

Umat yang telah kehilangan jati diri dan akal sehatnya pun hingga kini masih kebingungan mencari jawaban. Apa salahnya seorang pemimpin yang membangun masjid walaupun tak pernah shalat? Duhai, betapa lembutnya kasih sayang ibunda; bukan harta yang diminta, bukan ganti rugi dari semua pengorbanan yang dicari, melainkan pengakuan dari anak-anaknya, itu sudah cukup. Duhai, betapa Allah SWT lebih lembut daripada ibumu sendiri. Allah tidak memintamu untuk membuat bangunan megah-megah, meskipun yang megah itu adalah masjid. Tapi Allah memintamu untuk tidak ingkar. Saksikanlah bahwa tiada Ilah selain Allah, saksikanlah bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kemudian dirikanlah shalat. Bersucilah, kemudian berbarislah bersama hamba-hamba Allah, bertakbirlah, ruku’-lah, bersujudlah, dan panjatkanlah doa kepada-Nya saja. Seandainya Allah meminta hamba-hamba-Nya untuk membangun masjid, tentu hanya sedikit yang mampu. Tapi Allah hanya meminta pengakuan darimu, mengapa engkau begitu kikir kepada-Nya?

Apalah artinya masjid megah yang dilandasi kemunafiqan. Apalah artinya membangun masjid tanpa pernah bersujud. Buat apa hidup di dekat Rumah Allah, sementara kakimu tak pernah kaulangkahkan ke sana, dan hatimu tak pernah tertambat kepada-Nya?

Manusia itu yang penting baik. Memang benar! Kebaikan itu harus dijunjung tinggi. Di antara semua kebaikan, yang paling mutlak adalah bersikap baik kepada Dia yang tak pernah berbuat zhalim kepadamu. Mengapa engkau masih mengingkari-Nya? Apakah itu yang namanya kebaikan?

wassalaamu’alaikum wr. wb.

1 Comment
  • masyeila
    Posted at 03:17h, 30 March Reply

    syukron jazaakallahu, Akmal. terima kasih atas tulisan2nya yang padat berisi.

Post A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.